
Entah dosa apa yang Milea lakukan di masa lalu, sehingga membuatnya seperti seakan hidup dalam perbudakan. Terbiasa hidup bebas membuat Milea merasa sengsara di suruh-suruh ini itu dengan bosnya saat ini.
Dengan terpaksa, Milea mengeringkan piring yang sudah dia cuci dan menyimpannya ke dalam rak piring.
"Kamu tau, piring yang di cuci dan di biarkan mengering sendiri akan meninggalkan jejak kerak kotoran air. Saya gak suka dan merasa jijik melihatnya," ujar Firdaus.
"Oh," lirih Milea pelan. "Gak tanya," cibirnya halus sekali.
"Hmm? Kamu bilang apa?" tanya Firdaus.
"Gak papa."
Detik selanjutnya, Milea mengernyitkan keningnya di saat melihat anak kecil yang kasat mata itu memandang ke arah foto yang terletak di sana.
Terlihat wajah sedih pada anak kecil tersebut.
"Ada apa?" tanay Firdaus merasa kembali bulu kuduknya berdiri, pria itu pun melihat ke belakang, ke arah mata Milea memandang.
"Hah? Gak papa," jawab Milea yang tak ingin membuat Firdaus kembali ketakutan.
Bisa repot urusannya jika Firdaus ketakutan dan menahannya di sini semalaman, Masa iya dia tidur di apartemen pria? Duh, gak-gak, takutnya Firdaus khilaf dan malah melakukan hal yang tidak-tidak dengannya.
__ADS_1
"Pekerjaan saya sudah selesai, kalau gitu permisi," pamit Milea.
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Firdaus.
"Iya, Pak. Saya mau pulang sekarang. Badan saya capek banget ini," rengek Milea.
"Tidur di sini aja, temani saya malam ini," ujar Firdaus yang mana membuat Milea menyilangkan tangannya di dada.
"Bapak jangan macem-macem, ya," ancam Milea.
Melihat gestur tubuh Milea yang menyilangkan tangannya di depan dada, membuat alis Firdaus pun terangkat sebelah. "Kamu pikir saya selera dengan badan kamu yang kecil begitu?" ejek Firdaus.
Milea mengerjapkan matanya, tetapi gadis itu tetap pada pendiriannya untuk berpikiran buruk terhadap bosnya itu.
"Apa? Kamu pikir saya mau memperkosa kamu?" kesal Firdaus.
"Siapa yang tau, Pak. Kalau sudah setan yang berbisik. Bisa aja terjadi, apa lagi sepertinya iman Bapak gak kuat," ujar Milea yang mana membuat Firdaus tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kalau begitu saya permisi, Bye," pamit Milea dan bergegas keluar dari apartemen Firdaus.
"Eh, tunggu.." Pintu tertutup rapat sehingga membuat Firdaus pun terdiam. Pria itu menoleh kebelakang dan menatap keseluruhan apartemennya yang baru semingguan ini dia tempati.
__ADS_1
"Masa iya ada penghuninya? Tapi, kemarin-kemarin aman-aman aja kok. Ah, ini pasti kerjaan Lea aja," lirih Firdaus dan berjalan pelan serta hati-hati menuju kamarnya sambil memeluk tubuhnya.
Di dalam kamar, Firdaus berusaha untuk menutup matanya dan tertidur, akan tetapi rasa kantuk tak kunjung datang dan selalu membuat matanya terjaga dan merasa was-was.
"Kalau Lea bener ini apartemen ada penghuninya, duh, bisa-bisa gue nanti di ganggu gimana?" ujarnya sendiri.
"Gak .. Gak.. Gue butuh tidur malam ini. Besok ada meeting, gue harus bangun dengan keadaan segar."
Firdaus pun bangkit dari tempat tidurnya, mengambil selimut serta bantal, kemudian membawanya keluar kamar.
Eits, bukan ruang tamu atau living room yang menjadi tempat tujuan Firdaus, melainkan kamar apartemen Milea.
Dengan membawa selimut serta bantal, Firdaus pun keluar apartemen dan masuk ke dalam apartemen Milea. Untungnga, gadis itu tidak mengganti password apartemennya.
Firdaus bernapas lega, di saat pintu apartemen terbuka, pria itu dengan cepat berjalan masuk dan menuju living room.
"Di sini lebih baik, dari pada harus tidur sendirian di apartemen," lirih Firdaus.
Pria itu meletakkan bantal di atas sofa, kemudian merebahkan tubuhnya dan tak lupa menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Hmm, setidaknya jika ada yang mengganggu, ada Milea yang akan menemani," lirihnya dan tak butuh waktu lama dia pun terlelap ke alam mimpi.
__ADS_1
"Dasar penakut" cibiri anak kecil yang kasat mata itu sambil menatap wajah Firdaus penuh dengan kerinduan.