
“Baiklah kalau begitu. Saya makan ya,” izin Milea.
“Hmm, ya ..” jawab Firdaus lagi dengan gumaman.
Kruukkk ....
Milea melirik ke arah Firdaus, sehingga membuat pria itu salah tingkah.
“Bukan suara perut saya,” elak Firdaus bersamaan dengan suara perutnya yang kembali berbunyi.
Milea pun terkekeh dan menyodorkan nasi goreng tersebut ke arah Firdaus.
“Bapak makan aja, lagian saya baru satu suap kok. Tenang aja, bagian yang sudah saya sentuh udah saya pinggirin,” ujar Milea dengan mengulum senyumnya.
“Gak, kamu makan aja. Nanti saya bisa beli yang lain,” tolak Firdaus.
“Bapak yakin?” tanya Milea. “Ini enak banget loh,” ujarnya lagi sambil menyendokkan nasi goreng tersebut.
“Hmm, kamu makan aja terus sampai habis,” tolak Firdaus.
“Gak mau coba sesuap aja?” tanya Milea sambil menyendokkan nasi goreng tersebut dan mengarahkannya
ke arah Firdaus.
Firdaus menelan ludahnya dengan kasar, pria itu pun mulai tergoda dan ragu-ragu untuk membuka mulutnya atau tidak.
“Ayo, aaaaa ... buka mulutnya,” ujar Milea sambil mendekatkan sesendok nasi goreng ke arah mulut Firdaus.
Seolah terhipnotis dengan suara Milea, Firdaus pun membuka mulutnya dan membiarkan nasi goreng tersebut masuk ke dalam mulutnya.
“Pinter,” puji Milea dan kembali menyuapi Firdaus.
Bagaikan anak kecil yang nurut pada ibunya, Firdaus pun kembali membuka mulutnya dan membiarkan Milea menyuapinya. Tanpa Firdaus sadari, jika saat ini nasi goreng yang ada di pangkuan Milea sudah hampir habis olehnya.
Drrt .. Drrt ...
Uhukk .. Uhuk ..
Firdaus pun keselek nasi goreng saat dia terkejut bunyi suara ponselnya. Pria itu pun meredakan tenggorokannya dengan berdehem beberapa kali. Sialnya, tak ada air putih untuknya saat ini yang bisa membantunya meredakan rasa sedikit pedas pada nasi goreng yang pria itu makan.
“Saya keluar dulu cair air minum,” lirih Firdaus dan bergegas keluar.
Firdaus pun langsung berlari menuju toserba untuk membeli air mineral. Sesampainya di toserba, pria itu pun langsung mengambil air mineral, membuka tutupnya dengan terburu-buru dan meneguk isinya hingga tinggal sedikit lagi.
“Haus banget, ya,” ucap penjaga toserba.
Firdaus hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan penjaga toserba. “Berapa ini satu?” tanyanya.
“Lima ribu,” jawab si penjaga toserba.
“Saya ambil empat,” ujar Firdaus sambil menyodorkan empat botol air mineral berukuran sedang kepada
__ADS_1
si penjaga toserba.
“Totalnya dua puluh ribu,” ujar si penjual.
Firdaus pun membayar dengan uang pas. Tanpa mengucapkan terima kasih, pria itu mengambil belanjaannya dan berjalan keluar dari toko toserba.
“Duh, ganteng-ganteng kok sombong amat ya,” gerutu penjaga toserba.
Drrt ... Drrtt ...
Suara ponsel Firdaus kembali berbunyi, pria itu pun mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya dan langsung menggeser tombol hijau di saat melihat siapa yang sedang menghubunginya.
“Ya?” jawab Firdaus saat sambungan telepon itu telah tersambung.
“Tuan, Anda di mana?” tanya Anton yang memang sedari tadi pria itu mencari keberadaan sang bos dan
juga sudah menghubungi pria itu berkali-kali, tetapi tak tersambung-sambung.
“Saya di rumah sakit,” jawab Firdaus.
“Apa? Rumah sakit?” pekik Anton. “Tuan kenapa? Apa yang sakit?” tanya Anton dengan panik.
“Bukan saya yang sakit. Tapi wanita si penjual nomor ponsel,” jawab Firdaus.
“Hah? Milea?” tanya Anton lagi dari seberang panggilan.
“Hmm, ya.”
“Kenapa dia? Lalu? Kenapa Tuan bisa bersama dengan dia?” tanya Anton penasaran.
Firdaus pun kembali ke dalam UGD, pria itu pun melihat Milea yang sedang sibuk mencari sesuatu di
dekat dirinya.
“Apa ada yang hilang? Atau mencari sesuatu?” tanya Firdaus yang mana mengagetkan Milea.
“Oh, Syukurlah Bapak sudah kembali,” jawab Milea.
“Kenapa? Kamu perlu sesuatu?” tanya Firdaus lagi.
“Tas saya mana, Pak?” tanya Milea.
“Tas?” ulang Firdaus.
“Hmm, Tas saya. Saya perlu tas saya,” jawab Milea.
“Kamu mau cari ponsel kamu? Mau hubungi seseorang?” tanya Firdaus.
“Bukan, tapi, ya juga sih. Tas saya mana?” tanya Milea lagi.
“Tas kamu di mobil saya,” jawab Firdaus.
__ADS_1
“Bisa tolong Bapak ambilkan? Saya butuh tas saya,” ujar Milea.
“Untuk apa?” tanya Firdaus.
“Duh, pake nanya pula lagi,” geram Milea. “Saya butuh tas saya, Pak. Ada sesuatu yang saya perlukan di sana,” jawab Milea sambil memelas.
“Besok saja, saya takut kalau kamu bakal kabur jika saya sudah memberikan tas kamu,” ujar Firdaus.
“Ya ampun, saya gak bakal kabur deh, Pak. Janji,” ujar Milea sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
“Saya gak percaya sama kamu,” jawab Firdaus.
“Ya Allah, ni orang ngeselin bange sih? Gak tau gue udah ngantuk apa?” gumam Milea pelan sambil menatap kesal ke arah Firdaus.
“Apa?” tanya Firdaus saat Milea menatapnya dengan tajam.
“Pak Fir yang baik hati, tampan, dan juga tidak sombong. Saya mohon, tolong ambilkan tas saya. Saya perlu pembalut yang ada di dalam tas saya,” ujar Milea dengan memohon.
“Pembalut?” tanya Firdaus dan detik selanjutnya langsung mengerti ke mana arah maksud dari Milea. Milea pun mengaggukkan kepalanya.
“Ya sudah kalau gitu, saya ambilin tas kamu dulu,” ujarnya dan berlalu keluar lagi dari UGD.
Tak berapa lama Firdaus pun kembali dengan membawa tas milik Milea.
“Ini,” ujar Firdaus sambil memberikan tas kepada Milea.
“Terima kasih, Pak,” ucap Milea dengan tersenyum.
“Sebagai jaminan agar kamu tidak lari, saya menahan dompet kamu,” ujar Firdaus yang mana membuat Milea membelalakkan matanya.
“Kok dompet saya di tahan?” tanya Milea.
“Biar kamu gak kabur saat saya tertidur nanti,” jawab Firdaus dengan menaikkan alisnya sebelah menatap ke arah Milea.
“Hmm, tapi nanti bakal Bapak kembalikan kan dompet saya?” tanya Milea.
“Iya, setelah urusan kita selesai,” jawab Milea.
“Hah? Urusan yang mana?” tanya Milea dengan bingung.
Firdaus menatap wajah Milea yang terlihat polos, kemudian pria itu bangkit dari duduknya dan mendekati Milea.
“Permasalahan kita hanya satu, yaitu kamu telah menjual nomor ponsel saya dengan orang lain. Dan hal itu sangat menggangu privasi saya,” ujar Firdaus yang sudah mencondongkan tubuhnya ke arah Milea.
Melihat tubuh Firdaus yang semakin mendekat ke arahnya, Milea pun memundurkan tubuhnya hingga dirinya
pun hampir berbaring kembali di tempat tidur.
“Kamu mengerti sekarang kan urusan kita yang mana?” ujar Firdaus dan kembali menegakkan tubuhnya.
“I-iya, mengerti,” jawab Milea dengan gugup.
__ADS_1
“Bagus.”
“Ka-kalau begitu saya permisi ke kamar mandi dulu,” ujar Milea dan turun dari tempat tidur, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa tasnya.