Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 27 – Kambing


__ADS_3

Milea menatap ayam madu goreng yang ada di hadapannya saat ini dengan mata yang berbinar. Wanita itu


sudah tak sabar ingin merasakan betapa nikmat dan gurihnya ayam goreng madu tersebut di dalam mulutnya.


“Waaah! Dari wanginya aja udah terasa banget enaknya,” seru Milea.


Firdaus meletakkan sepiring ayam madu goreng di depan hadapan Milea.


“Nih, makan.”


“Makasih, Pak,” ujar Milea dan langsung menyantap ayam tersebut.


“Aww, panas!” rintihnya sambil mengipas-ngipas bibirnya.


“Makanya, kalau makan itu baca doa dulu,” ujar Firdaus sambil mendengus lucu.


Milea meniup ayam madu tersebut dan kembali memasukkannya ke dalam mulut. Pastinya setelah mengucapkan


kata bismillah.


“Emm, enak banget. Bapak mau?” tawar Milea.

__ADS_1


“Gak, itu makanan gak sehat,” tolak Firdaus.


“Iih, belum tau aja Bapak rasanya gimana ini. Rasanya benar-benar enak banget tau, Pak. Rasa gurih dan manisnya itu bercampur menjadi satu ... beeuuh .... mantap banget lah pokoknya,” seru Milea dengan mengecup jari telunjuk dan juga jempolnya secara bersamaan.


“Gak tertarik saya,” tolak Firdaus lagi. “Coba kamu makan ini. Ini juga enak dan sangat bergisi,” ujar Firdaus sambil menyodorkan sepiring salad sayur ke hadapan Milea.


“Ih, gak mau ah. Nanti ngembek pula saya habis makan rumput,” tolak Milea sambil mendorong kembali piring tersebut.


“Apa itu ngembek?” tanya Firdaus.


“Mbeek ... mbeek .. “ ujar Milea sambil menirukan suara kambing. “Tau? Mbeek ... suara kambing, Pak. Mbeek ..” serunya lagi dengan menirukan suara kambing.


“Nah kan, gak makan sayur aja kamu udah kayak kambing. Udah, sebaiknya kamu memang harus makan sayur biar gak mbek gitu lagi. Nih.” Firdaus pun kembali menyodorkan sepiring salad ke hadapan Milea.


“Tapi kamu cocok jadi kambing. Nanti, kalau ada iklan susu kambing, kamu aja yang jadi pengisi suara kambingnya. Atau sekalian aja kamu yang jadi kambingnya, gimana?”


“Enak aja. Bapak aja yang jadi kambingnya, kan bapak suka makan rumput. Nanti biar saya yang jadi pengisi suaranya, gimana?” ujar Milea sambil menaik turunkan alisnya.


“Enak aja kamu suruh saya jadi kambing. Kamu tuh yang kambing, suaranya juga sudah mirip kambing, apa lagi kamu belum mandi pagi ini kan?” ujar Firdaus yang mana membuat Milea membesarkan bola matanya.


“Salah siapa saya belum mandi? Kan Bapak yang paksa saya untuk ke sini dan tinggal di apartemen sebelah?” ujar Milea.

__ADS_1


“Ya sih. Tapi kenapa kamu gak mandi?” tanya Firdaus.


“Emangnya dari tadi Bapak kasih saya kesempatan untuk mandi? Bahkan sarapan pagi aja Bapak gak kasih kesempatan,” ketus Milea sambil memasukkan ayam madu goreng ke dalam mulutnya.


“Itu karena saya terbiasa makan makanan yang fresh dan gak sembarangan.”


“Itu tandanya Bapak egosi. Seharusnya Bapak mikirin saya juga dong, saya belum makan sejak keluar dari rumah sakit. Padahal di rumah sakit tadi sudah menyiapkan makanan, tapi Bapak---?”


“Stop, jangan pernah kamu menyalahkan saya. Oke?” ujar Firdaus sambil mengangkat tangannya ke arah wajah Milea.


“Dasar manusia egois,” cibir Milea sambil memasukkan kembali ayam goreng madu ke dalam mulutnya dengan


perasaan kesal.


“Siapa dia beraninya menyalahkan aku?” batin Firdaus dengan kesal.


Tak ada obrolan lagi antara Milea dan Firdaus, hanya terdengar suara kunyahan dan juga dentingan sendok dengan piring yang beradu.


“Kalau sudah makan, sebaiknya kamu mandi. Kamu bau kambing,” ujar Firdaus sambil bangkit dari duduknya.


“Dih, kambing teriak kambing,” lirih Milea dengan kesal.

__ADS_1


“Jangan lupa cuci piringnya,” pekik Firdaus yang sudah berlalu menuju ruangan yang entah apa pun itu, Milea tak tahu. Yang jelas, ruangan tersebut berbeda dengan ruangan di mana Firdaus keluar saat setelah selesai mandi.


__ADS_2