Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 7 – Tak ingin rugi


__ADS_3

“Perkenalkan, nama saya Fir,” ujar Fir memperkenalkan dirinya dengan senyum tipis yang memabukkan.


“Fir, nama yang sangat indah,” ujar Tante Anna dengan suara yang di buat mendesah.


Uli dan Lola menatap jijik kepada wanita setengah uzur itu.


“Dengar, saya tidak ingin membuang waktu lagi. Jadi, saya akan langsung kepada intinya saja,” ujar Firdaus kepada lima wanita yang ada di hadapannya saat ini.


“Ya, katakan saja. Tante sudah tak tahan ingin mendengarnya,” ujar Tante Anna dengan bergerak gelisah.


Firdaus menggerakkan sudut bibirnya untuk mencoba tersenyum, tetapi tetap saja dia merasa jijik dengan perlakuan wanita paru baya tersebut.


“Jadi, berapa uang yang kalian keluarkan untuk membeli nomor saya?” tanya Firdaus.


“Kami tidak membelinya, kami mendapatkannya di koran,” ujar Tante Anna.


“Jangan berbohong, karena jika kalian berbohong, maka saya akan melaporkan kalian semua ke polisi,” ancam Firdaus yang mana membuat lima wanita itu merasa ketakutan.


“Tampan Fir, dengar. Kami tidak melakukan kesalahan apapun. Kami hanya ingin berkenalan saja, itu saja,” ujar Tante Anna membela diri.


“Tetap saja, kalian telah mengganggu privasi saya,” ujar Firdaus dengan geram.


“Baiklah, kami minta maaf atas ketidak nyamanannya. Jadi, apakah kita bisa berkenalan?” ujar Loli yang bosan harus membahas tentang nomor telepon.


“Dengar, saya bukan pria sembarangan seperti yang kalian pikirkan. Jadi, saya ingin mengetahui dari mana kalian mendapatkan nomor saya,” ujar Firdaus.


“Seperti yang saya katakan tadi, Saya mengambil acak nomor Anda di counter pulsa,” ujar Uli.


“Saya membelinya secara online,” ujar Lola.


“Kami juga,” ujar dua wanita lainnya.


“Saya hanya menebak-nebak saja,” ujar Tante Anna sambil mengibas rambutnya dengan manja.


“Baiklah, jika kalian tidak ada yang ingin memberi tahu, baiklah,” ujar Firdaus sambil memanggil asistennya untuk membawa papan kertas.


“Apa kalian mengenali cewek ini?” tanya Firdaus sambil menunjukkan lukisan wajah Milea.


Kelima wanita itu pun membelalakkan matanya dan menutup mulutnya yang terbuka. Mereka sangat terkejut


di saat melihat lukisan wajah Milea di sana. Melihat ekspresi dari kelima wanita itu, Firdaus sudah bisa menebak jika mereka mengenali wanita yang ada di lukisan itu.


“Tidak,” jawab Loli yang pertama.


“Aku juga tidak,” jawab Uli.

__ADS_1


“Aku juga tidak,” jawab dua wanita lainnya.


“Duh, Tante juga gak kenal tuh sama tuh cewek,” ujar Tante Anna yang juga berpura-pura tak mengenal Milea.


“Benarkah kalian tak mengenalinya?” tanya Firdaus.


“Ya, kami tidak mengenalinya,” ujar kelima wanita tersebut.


“Hmm, baiklah jika kalian tak mengenalnya. Kalau begitu, silahkan hubungi pengacara kalian sekarang,” ujar Firdaus dengan geram dan menghubungi seseorang.


“Tunggu, apa salah kami?” tanya Loli yang mencoba merampas telepon genggam milik Firdaus.


“Itu karena kalian telah berbohong. Semua ekspresi kalian telah terekam oleh cctv, jadi saya akan menyuruh pakarnya untuk membuktikan jika kalian berbohong,” ujar Firdaus dan kembali menekan-nekan ponselnya.


“Dengar Tuan,” ujar Loli. “Kami minta maaf jika telah mengganggu privasi Anda. Tapi kami tidak bisa memberi tahu siapa wanita itu,” ujar Loli tanpa takut.


“Kenapa?” tanya Firdaus.


“Karena dia bukan wanita biasa,” jawab Loli. “Jika kamu memberi tahu siapa dia, maka kami akan terkena sial. Kami gak mau terkena sial karena sumpahnya,” ujar Loli sambil merinding.


“Lalu, kenapa kalian membeli nomor itu? Dengan harga yang tak masuk akal,” geram Firdaus.


“Itu karena setiap wanita yang membeli nomor telepon dari wanita itu, maka salah satu dari mereka akan menjadi jodohnya,” jawab Uli.


“Iya, karena sudah terbukti berkali-kali,” ujar Tante Anna.


“Lalu, kenapa Anda belum menemukan jodoh?” tanya Firdaus kepada Tante Anna.


“Itu karena mereka tak mau sama saya,” lirih Tante Anna.


“Lalu?”


“Sebenarnya yang menjadi korban di sini bukan hanya Anda, Fir. Tapi kami juga,” ujar Loli.


“Apa maksudnya,” tanya Firdaus.


Loli pun menghela napasnya panjang dan kasar. “Kami juga di tipu. Dia berkata jika akan menjual nomor telepon ini kepada satu orang saja. Tapi kenyataannya? Dia menjual kepada lima wanita,” ujar Loli sambil menunjuk ke arah empat wanita lainnya.


“Kami juga korban di sini Fir,” ujar Loli sambil ingin menyentuh tangan Firdaus yang ada di atas meja, akan tetapi pria itu dengan cepat menariknya sehingga membuat Loli menjadi kesal.


“Dengar, saya tidak peduli mau kalian korban atau tidak. Yang terpenting di sini adalah, saya ingin tahu siapa wanita ini dan di mana dia bekerja,” ujar Firdaus kepada lima wanita yang ada di hadapannya saat itu.


“Hmm, gimana ya? Kami juga gak bisa mengatakannya tanpa mendapatkan imbalan yang setimpal,” ujar Tante Anna.


“Apa maksud Anda?” tanya  Firdaus.

__ADS_1


“Maksud saya sudah jelas. Saya ingin berkencan dengan kamu, tampan,” ujar Tante Anna dengan mengedipkan matanya sebelah. “Kalau kamu mau berkencan dengan saya selama seminggu, maka saya akan memberi tahu siapa gadis itu,” ujar Tante Anna sambil menggoyangkan dadanya.


Firdaus menatap jijik dan kesal kepada wanita paruh baya itu.


“Tidak mau,” tolak Firdaus dengan cepat.


“Terserah jika tidak mau, kami juga gak akan memberi informasi apapun tentang gadis itu, iya kan ladies,” ujar Tante Anna kepada yang lainnya.


“Iya, Aku setuju dengan Tante Anna. Mari kita berkencan,” ujar Loli.


“Kencan dengan yang satu, maka harus kencan dengan yang lainnya,” ujar Uli tak mau kalau.


“Iya, kami juga gak mau rugi. Kami juga ingin berkencan dengan kamu, tampan,” ujar dua wanita lainnya yang mana membuat Firdaus semakin sakit kepala.


Tak ada cara lain untuk mencari tau siapa gadis yang ada di lukisan tersebut. Pria itu pun akhirnya


menyetujui permintaan kelima wanita itu.


“Baiklah, tapi hanya satu hari,” ujar Firdaus.


“Seminggu,” ujar kelima wanita itu dengan serentak.


“Tiga hari, jika tidak mau ya sudah, saya bisa mencari tahunya sendiri,” ujar Firdaus.


“Oke, tiga hari,” jawab Loli dengan cepat karena tak ingin kehilangan kesempatan itu.


“Baiklah, kencan seperti apa yang kalian inginkan? Asal tidak untuk bersentuhan,” ujar Firdaus.


“Aku ingin makan malam romantis,” ujar salah satu wanita.


“Oke,” jawab Firdaus.


“Aku ingin berdansa,” ujar wanita lainnya.


“Di tolak. Aku tidak ingin ada sentuhan apapun,” ujar Firdaus.


“Aku ingin nonton bioskop sehabis makan malam romantis,” ujar Loli.


“Aku ingin makan siang dan makan malam yang romantis, kemudian berjalan-jalan di taman,” ujar Uli.


“Aku ingin melajukan kencan yang begitu sempurna,” ujar Tante Anna.


Firdaus pun memicit kepalanya yang terasa berdenyut saat mendengar permintaan yang tak masuk akal dari wanita-wanita berbagai rupa di hadaannya saaat ini.


“Baiklah, kita lakukan apapun yang kalian inginkan, kecuali bersentuhan. Kita akan melakukannya bersamaan sekaligus.” ujar Firdaus.

__ADS_1


__ADS_2