Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 6 – Mencari tahu


__ADS_3

 “Kamu tidak mengenalinya? Ini Milea,” ujar Ando kepada sang istri.


“Hah? Ah? Benarkah?” ujar Andin sambil tertawa pelan. “Aku tidak mengenalinya, wajahnya putih dan hitam, tidak seperi Milea,” uajr Andin sambil melirik takut ke arah Firdaus.


“Sayang, gambar ini sangat mirip dengan Milea, adik sepupu kamu. Masa kamu gak tanda sih,” ujar Ando kepada sang istri.


“Ha .. ha .. ha .. Mana bisa aku tanda jika gambarnya seperti ini,” ujar Andin kepada sang suami.


“Jadi, di mana dia sekarang?” tanya Firdaus mengambil alih perhatian Andin dan Ando.


“Dia sedang bekerja,” ujar Ando.


Andin sudah menarik lengan sang suami untuk tak mengatakan hal lebih banyak tentang Milea.


“Kerja? Di mana? Siapa namanya?” tanya Firdaus bertubi-tubi.


“Dia sibuk, dia tidak bisa di jumpai saat bekerja,” ujar Andin cepat sebelum sang suami menjawab pertanyaan pria yang masih menggunakan masker tersebut.


“Ya kan sayang,” ujar Andin sambil melototkan matanya ke arah sang suami, seolah mengatakan untuk tidak memberitahu apa-apa lagi tentang Milea.


“Siapa namanya dan di mana dia bekerja?” tanya Firdaus dengan membuka kaca mata hitamnya dan menatap


tajam ke arah Ando dan Andin.


“Untuk apa Anda mencarinya? Tak bisakah Anda lebih sopan untuk bertanya?” tanya Ando yang tak suka dengan cara Firdaus bertanya kepada mereka.


Firdaus terkekeh pelan, pria itu menggelengkan kepalanya seolah dirinya lah yang salah.


“Anda tau, dia telah menjual nomor telpon saya ke beberapa perempuan. Dan hari ini sudah ada lima perempuan yang menelpon saya untuk mengajak bertemu,” ujar Firdaus.


“Oh ya? Lalu letak salahnya di mana? Di sini kami memang menjual nomor telepon, mungkin Anda salah satu pembeli nomor telepon celular yang kami jual,” ujar Ando.


Firdaus pun merasa geram, pria itu pun menggenggam erat kaca matanya.


“Dengar, beberapa hari lalu saya mengisi pulsa di sini. Dan saya yakin jika wanita yang ada di gambar ini telah mengambil nomor saya dan menjualnya ke sembarang perempuan,” geram Firdaus.


“Oh ya? Mana buktinya?” tanya Ando.


Firdaus pun menarik buku yang tadi di pakainya untuk melukis sketsa wajah Milea, pria itu mencari lembaran di mana dia menulis nomor teleponnya.


“Tidak ada,” gumam Firdaus sambil membolak-balikkan lembaran kertas tersebut.


“Ada?” tanya Ando.


Firdaus pun menghentikan pergerakan tangannya untuk membolak balik kertas tersebut. “Tidak ada,” ujarnya

__ADS_1


kepada Ando.


“Anda yakin mengisi pulsa di sini? Pulsa berapa yang Anda isi?” tanya Ando.


“Pulsa seratus ribu, tapi saya menggunakan voucher,” ujar Firdaus kemudian.


Ando pun tertawa pelan. “Tuan, kalau Anda mengisi voucher, pastinya Anda tak perlu menulis nomor ponsel


Anda di sini,” ujar Ando.


“Tapi, waktu pengisiannya saya meminta tolong dengan cewek yang ada di sketsa ini,” ujar Firdaus.


“Lalu? Apa dia ada membuat panggilan keluar?” tanya Ando.


Firdaus pun langsung memeriksa ponselnya. Pria itu mencari apakah ada panggilan keluar pada hari dan tanggal saat dia mengisi pulsa atau tidak.


“Bagaimana? Ada?” tanya Ando.


Lagi, Firdaus menghela napasnya pelan. “Tidak ada,” ujarnya pelan.


“Jadi, lain kali tolong jangan menuduh orang lain, Tuan. Itu pencemaran nama baik namanya,” ujar Ando.


Firdaus tak bisa berkata apa-apa lagi, dia tak memiliki bukti jika memang cewek yang di dalam sketsa lah yang telah menjual nomor ponselnya.


‘Tunggu, aku menulis nomor yang berbeda. Jadi, jika bukan wanita yang ada di sketsa? Siapa?’ batinnya.


“Dasar orang kaya gak sopan,” geram Andin.


Setelah kepergian Firdaus, Ando menatap sang istri dengan tajam. Andin yang di tatap pun hanya bisa menyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Apa Melia berulah lagi?” tanya Ando.


“A-aku gak tau, sayang. Lagi pula Melia kan hanya menjual voucher. Pastinya dia tak akan tahu berapa nomor telepon pria itu,” ujar Andin dengan takut-takut.


Ando menghela napasnya pelan, pria itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tinggah adik


sepupu istrinya itu.


Di tempat lain, Firdaus menelepon satu persatu wanita yang hari ini telah menghubunginya dan mengajak


bertemu. Pastinya wanita-wanita itu sungguh sangat senang sekali bertemu dengan pria tampan bak malaikat.


“Anda yakin, Tuan?” tanya Anton.


“Ya, kenapa memangnya?” ujar Firdaus menatap sang asisten.

__ADS_1


“Bukan begitu, Tuan. Tapi__”


“Sudahlah, lagi pula saya harus tau siapa yang bernai menjual nomor ponselnya saya. Bagaimana bisa dia menjual nomor ponsel saya seharga lima juta,” geram Firdaus.


“Saya yakin, jika cewek itu pasti sangat mengetahui tentang saya. Jadi, saya harus memberinya pelajaran,” geram Firdaus sambil mengepalkan tangannya.


Cafe untuk pertemuan antara dirinya dan beberapa wanita yang pagi ini menghubunginya pun akhirnya


telah di reservasi oleh Firdaus. Dia tak ingin menjadi pusat perhatian dari pengunjung yang lainnya.


Satu persatu wanita yang menggunakan gaun seksi dan juga berwarna mencolok serta norak pun datang untuk bertemu dengan pangeran pujaan hati mereka.


“Nona-nona ini ingin bertemu dengan teman kencan butanya kan?” ujar Anton kepada lima wanita yang


terlihat berbeda usaianya, bahkan ada yang berkisaran empat puluh tahun.


“Iya, di mana pangeran itu? Apa kamu orangnya?” tanya soerang wanita yang berumur empat puluh tahun


dan menggunakan pakaian merah serta seksi. Sungguh mencolok dan norak sekali.


“Bukan saya, beliau sudah menunggu kedatangan Nona-nona sekalian,” ujar Anton dan mempersilahkan


mereka untuk masuk ke dalam cafe dan bertemu dengan bosnya.


“Milea sialan, katanya cuma sama gue dia jual tuh nomor,” geram Lola yang juga ikut datang ke cafe.


“Di tipu lagi gue sama Milea,” geram Uli di saat mengetahui jika bukan hanya dirinya saja yang mendapatkan nomor telepon pria tampan bak malaikat tersebut.


“Silahkan duduk, Nanti Bos saya akan menemui Nona-nona sekalian,” ujar Anton mempersilahkan lima wanita berbeda usia itu untuk duduk.


“Ingat, jangan ada yang membocorkan identitas Milea,” ujar Uli mengingatkan.


“Tentu saja. Kami tidak ingin mendapatkan sial jika wanita itu sudah menyumpahi,” ujar wanita yang berumur empat puluh tahun itu.


Firdaus pun menghampiri lima wanita yang menghubunginya hari ini. Dia tersenyum tipis kepada lima wanita yang berbeda-beda usianya itu.


“Hai, kita ketemu lagi,” ujar Lola sambil mengulurkan tangannya dengan manja.


“Kita juga,” ujar Uli yang ikut mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pangeran impiannya.


“Hai, aku Anna, panggil saja Tante Anna,” ujar wanita yang berumur empat puluh tahun itu tak mau kalah dari Uli dan juga Lola.


“Silahkan duduk,” jar Firdaus tanpa ingin menerima uluran tangan dari tiga wanita yang mengulurkan tangan kepadanya.


Lima wanita itu pun duduk dan mulai tersenyum malu kepada Firdaus.

__ADS_1


“Perkenalkan, nama saya Fir,” ujar Fir memperkenalkan dirinya dengan senyum tipis yang memabukkan.


__ADS_2