
Milea menatap betapa mahirnya sang bos memotong sayuran. Bahkan dirinya saja tak bisa seperti itu. Ehm, maksudnya ya memang Milea tidak bisa masak. Ada rasa malu pada diri sendiri, karena dia sendiri saja tak bisa setipis itu dalam mengiris bawang dan memegang pisau.
"Bapak ikut kursus memasak?" tanya Milea penasaran.
"Enggak, kenapa?"
"Kok bisa mahir gitu ngerajangnya?" tanya Milea sambil memandang pergerakan tangan Firdaus.
"Oh, saya terbiasa masak sendiri saat di Amerika," jawab Firdaus.
"Benarkah?? Waah, Bapak luar biasa," puji Milea. “Padahal Bapak kan banyak uang, bisa tinggal beli lauk, makan di restoran, atau bisa juga rantangan,” ujar Milea dengan tersenyum menampilkan giginya.
“Rantangan?” tanya Firdaus dengan menghentikan pergerakan tangannya memotong wortel.
“Hmm, Bapak gak tau?” tanya Milea yang di jawab dengan gelengan oleh Firdaus.
“Itu loh, Pak, usaha ibu rumah tangga, di mana nantinya kita pesan menu masakan rumahan, terus nanti lauknya itu di masukin deh ke dalam rantang. Ada yang tiga susun dan ada yang empat susun. tergantung berapa susun rantang yang di pesan. Tau?” tanya Milea lagi.
Firdaus terlihat berpikir, kemudian pria itu pun menggelengkan kepalanya. “Enggak. Lagian saya gak tahu rantangan itu bentuknya seperti apa.”
Milea pun menepuk jidadnya sendiri. “Susah emang kalau ngomong sama bule yang bukan bule,” lirih Milea.
“Kamu bilang apa?” tanya Firdaus.
“Hah? Gak bilang apa-apa,” ujar Milea sambil mengeluarkan ponselnya dan mencari gambar rantang di sana.
Milea bangkit dari duduknya dan menunjukkan hasil pencariannya itu kepada Firdaus.
__ADS_1
“Ini loh, Pak, yang namanya rantang.” ujar Milea sambil menunjukkan ponselnya.
Firdaus pun menoleh ke layar ponsel Milea dan mengernyitkan keningnya. “Itu apa?” tanya Firdaus.
“Huff ... Ini loh yang namanya rantang,” ujar Milea dengan menampilkan giginya yang rapi.
“Rantang?” ulang Firdaus lagi.
“Duh, susah jelasinnya kalau gak ngerti,” cibir Milea dan menyimpan kembali ponselnya.
“Bapak mau saya bantu masak?” tanya Milea mengalihkan pembicaraan.
“Emang kamu bisa masak?” tanya Firdaus.
“Bisa.”
“Masak nasi sama mie instan,” jawab Milea sambil tersenyum yang mana membuat Firdaus menoleh ke arahnya.
“Masak nasi?”
“Hmm, masak nasi. Bapak tau nasi kan?” tanya Milea sambil sedikit memajukan tubuhnya.
“Ya tau lah,” jawab Firdaus. “Tapi, di apartemen saya gak ada beras,” ujarnya kemudian.
“Hah? Jadi Bapak selama ini gak makan nasi?” tanya Milea.
“Makan, tapi saya kan baru beberapa hari di sini. Jadi, selama di sini, saya belum ada memasak nasi di rumah. Kamu lihat sendiri kan kalau saya banyak membeli bahan makanan, itu karena saya memang belum menyetoknya di kulkas.” ujar Firdaus kepada Milea.
__ADS_1
“Jadi saya makan apa dong sekarang?” tanya Milea.
“Ini,” ujar Firdaus sambil menunjukkan sayur-sayuran yang akan di buat salad.
“Ya Allah, emang saya kambing apa makan rumput,” cibir Milea dengan kesal.
“Ini bukan rumput, tapi sayur. Bego banget sih kamu,” desis Firdaus.
“Bapak tau arti bego?” tanya Milea.
“Tau lah, itu artinya bodoh,” jawab Firdaus sambil mengaduk sayuran yang sudah di campur dengan mayones, lada, dan teman-temannya yang lain untuk membuat sebuah salad yang enak.
“Di mata saya sama aja, Pak. Hijau tanpa ada warna lain, ya namanya rumput,” cibir Milea.
“Kamu buta warna ya? Ini kol warnanya ungu, wortel warnanya orange, apa kamu gak bisa lihat?” ujar Firdaus.
“Sama aja, rumput,” cibir Milea lagi.
“Dasar kamu ini. Sudah, jangan banyak maunya, makan saja salad ini, rasanya enak kok, sehat lagi. Percaya
sama saya,” ujar Firdaus.
“Males, ah. Saya makan ayam madu aja,” ujar Milea dan berjalan menuju ke arah kantung plastik belanjaan yang belum di bongkar oleh Firdaus dan dirinya tadi.
“Kamu cari apa?” tanya Firdaus.
“Ayam madu,” jawab Milea dengan mata yang berbinar saat mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1