Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 18 – Baca Doa


__ADS_3

“Keadaan Nona Milea baik-baik saja, Nona bisa pulang setelah membayar semua administrasinya,” ujar Dokter memberi tahu.


“Hah? Bayar? Bukannya bisa pakai kartu jaminan kesehatan ya, Dok?” tanya Milea.


“Coba tanyakan kepada perawat, kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Dokter dan meninggalkan Milea, Firdaus, dan Anton.


Milea pun bergegas ingin turun dari tempat tidurnya.


“Mau ke mana kamu?” tegur Firdaus.


“Mau jumpai perawat, mau tanya bisa bayar dengan kartu jaminan kesehatan atau tidak,” ujar Milea.


“Saya yang akan membayar semua biaya rumah sakitnya,” ucap Firdaus memberi tahu.


“Eh, jangan. Pasti biayanya mahal. Lagi pula, gaji saya setiap bulan kan sudah di potong untuk membayar jaminan kesehatan, jadi ya sayang aja gitu kalau gak di gunakan,” ujar Milea.


“Udah, kamu tenang aja.” Firdaus pun menyuruh Anton untuk mengurus semua biaya administrasinya.


“Maaf,” lirih Milea sambil menundukkan kepalanya yang mana membuat Firdaus mengernyitkan keningnya. “Dan terima kasih,” lirihnya lagi.


“Terima kasih untuk?” tanya Firdaus.


Belum lagi Milea menjawab, ponsel Firdaus pun kembali berdering dan menampilkan nama sang kakek.


“Halo, Kek,” sapa Firdaus.


“Di mana kamu? Anak nakal?” tanya sang kakek.


“Fir sedang ada urusan penting saat ini. Apa ada hal penting yang ingin kakek bicarakan?” tanya Firdaus.


“Ya, nanti malam kamu harus makan malam dengan Kakek,” ujar Kakek Bastian.


“Hmm, baiklah. Kirim saja waktu dan tempatnya. Fir akan datang nanti,” ujar Firdaus. “Kalau begitu Fir tutup dulu teleponnya, karena Fir harus pergi,” ujar Firdaus dan memutuskan panggilannya secara sepihak.


“Sudah beres?” tanya Firdaus saat melihat kedatangan Anton.


“Ya, Tuan,” jawab Firdaus.


“Baiklah kalau begitu. Ayo,” ajak Firdaus kepada Milea.

__ADS_1


“Terima kasih banyak, Pak.” ujar Milea dengan senyuman yang manis.


“Hmm,” jawab Firdaus dengan cuek.


Milea pun turun dari tempat tidur dan mengikuti Firdaus yang sudah berjalan di depannya.


“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Dan saya juga minta maaf karena telah telah membuat Bapak merasa terganggu dengan perbuatan saya yang telah menjual nomor telepon Bapak,” ujar Milea kepada Firdaus saat mereka telah berada di lobi rumah sakit.


Firdaus masih memperhatikan wanita yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dan meminta maaf kepadanya.


“Sekarang, apa saya bisa mendapatkan dompet saya kembali?” pinta Milea.


Firdaus tersenyum miring, pria itu pun memajukan selangkah kakinya semakin dekat dengan Milea.


“Gak segampang itu mendapatkan maaf dari saya,” ujar Firdaus. “Kamu harus mendapatkan hukuman atas


perbuatan kamu,” ancam Firdaus kepada Milea.


“Jangan pecat saya, saya mohon,” pekik Milea sambil menangkup kedua tangannya di depan hadapan Firdaus.


“Jangan pecat saya, Pak. Ini adalah perkerjaan yang sangat saya mimpi-mimpikan,” lirih Milea dengan mata berkaca-kaca.


“Saya tidak akan memecat kamu, jika kamu melakukan pekerjaan untuk saya,” ujar Firdaus dengan berbisik tepat di depan wajah Milea.


“Pe-pekerjaan? Pekerjaan apa?” tanya Milea dengan gugup.


Firdaus pun menegakkan tubuhnya. “Ikut saya,” ujar Firdaus yang mana langsung menarik tangan Milea.


“Eh,” Milea pun terkejut dan terpaksa mengikuti Firdaus yang sudah menarik lengannya.


Anton hanya bisa diam dan menatap kepergian sang bos dan juga wanita yang baru saja membuatnya tertarik. Anton menghela napasnya pelan dan mengikuti kedua orang yang sudah berjalan di hadapannya.


“Kamu kembali lah bekerja, ini urusan saya dengan wanita ini,” ujar Firdaus kepada sang asisten saat sudah berada di parkiran mobil.


“Baik, Tuan,” jawab Anton sambil menundukkan sedikit kepalanya.


Firdaus membukakan pintu untuk Milea dan membiarkan wanita itu masuk ke dalamnya. Kemudian pria itu


beralih ke pintu yang lainnya. Tanpa membunyikan klakson kepada Anton, Firdaus langsung melajukan mobilnya menjauh dari rumah sakit.

__ADS_1


Di dalam mobil, Milea sedikit takut jika Firdaus akan kembali melajukan mobilnya dengan cepat.


“Pak, jangan kencang-kencang ya bawa mobilnya, saya takut,” ujar Milea kepada Firdaus.


Firdaus pun menoleh sekilas ke arah Milea, pria itu mengingat dengan sangat jelas akan kejadian kemarin, di mana wanita itu memohon untuk menghentikan mobilnya, tetapi Firdaus malah semakin melajukan mobilnya dengan kencang, yang mana membuat Milea tak sadarkan diri.


Firdaus pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, agar tak membuat Milea kembali takut dan pingsan.


“Kita mau ke mana?” tanya Milea saat melihat Firdaus melajukan mobilnya menuju gedung-gedung yang tinggi. Gedung yang di katakan oleh Milea sangat cantik dan menarik.


‘Gak mungkin kan dia mau kasih kejutan buat gue? Karena gue bilang suka sama gedung ini?’ ujar Milea dalam hati.


‘Atau, dia mau lempar gue dari atap gedung ini?’ batinnya lagi dengan menatap horor ke arah Firdaus.


“Pak, Bapak gak niatan buat lempar saya dari atap gedung ini kan?” tanya Milea dengan bulu kuduk yang merinding.


Firdaus kembali menoleh ke arah Milea, pria itu pun tersenyum miring seolah mengiyakan apa yang wanita itu katakan.


“Ya Allah, lindungilah hamba,” doa Milea yang mana di sambung dengan membaca Alfatihah dan ayat kursi.


“Kamu pikir saya setan apa? Harus di bacain begituan?” ketus Firdaus.


“Saya gak lagi ngusir setan, tapi saya sedang berdoa meminta perlindungan dari sang maha pencipta. Kalau Bapak merasa kepanasan mendengar ayat-ayat yang saya bacakan tadi, itu tandanya Bapak memang setan,” lirih Milea pelan di akhir kalimatnya yang masih di dengar jelas oleh Firdaus.


“Apa kamu bilang?” tanya Firdaus.


“Gak ada,” jawab Milea dan mengalihkan pandanganya ke arah luar jendela.


Tak berapa lama mobil yang di kendarai oleh Firdaus pun memasuki halaman gedung apartemen di mana tempatnya tinggal. Firdaus memarkirkan mobilnya di parkiran VIP.


“Turun,” titah Firdaus yang langsung di angguki oleh Milea.


“Bapak kenapa bawa saya ke sini?” tanya Milea lagi.


Firdaus tak menjawab pertanyaan Milea, akan tetapi pria itu malah menarik tangan wanita itu untuk mengikutinya. Milea pun menghela napasnya pelan dan terpaska mengikuti sang bos yang sedari tadi tak menjawab pertanyaannya.


“Kita gak ke atap gedung kan, Pak?” tanya Milea yang mulai was-was.


Firdaus hanya melirik ke arah Milea dan mengabaikan semua pertanyaan wanita itu.

__ADS_1


“Nih orang budek atau gimana ya?” gumam Milea pelan yang mana sebenarnya masih di dengar oleh Firdaus.


__ADS_2