
Milea mendorong gagang infusnya menuju toserba yang ada di dalam kantin rumah sakit. Uang yang ada di
dalam kantongnya hanya bisa di gunakan untuk membayar roti yang cukup ternama di negara +62.
“Kenapa belanja sendiri? Kenapa gak suruh keluarganya aja yang beliin roti?” tanya si penjaga toserba.
“Keluarga saya gak di sini,” jawab Milea sambil tersenyum tipis.
“Oh, kenapa gak minta tolong perawat saja untuk membeli roti?” tanya penjaga itu lagi.
“Lagi pergantian sift, makanya semua perawat wajib stand by dulu di tempat masing-masing,” jawab Milea.
“Hmm, ya sudah kalau gitu. Mau Ibu temani untuk kembali ke dalam ruangan?” tawar penjaga toserba.
“Gak papa, Buk. Lagian saya mau duduk di taman itu. Berhubung anginya segar,” tolak Milea.
“Jangan lama-lama kena angin malam. Kamu kan lagi kurang enak badan,” nasehat ibu penjaga toserba.
“Iya, Buk. Terima kasih banyak,” ujar Milea dengan tersenyum manis.
Milea pun berlalu keluar dari toserba menuju taman rumah sakit. Wanita itu pun memilih tempat duduk yang menyuguhkan pemandangan gedung-gedung bertingkat yang ada di sekita rumah sakit tersebut.
“Hah, indah banget lampu-lampu di gedung itu,” lirih Milea sambil membuka bungkusan plastik pada roti.
Milea pun menggigit roti isi coklat itu hingga memenuhi mulutnya, Wanita itu mengunyah dengan pelan sambil menatap lampu-lampu yang berkerlap kerlip di salah satu gedung tinggi tersebut.
“Kapan ya gue bisa tinggal di tempat mewah begitu?” lirih Milea. “Hmm, jangan mimpi deh, Lea. Sadar diri gih. Hutang-hutang lo itu banyak banget. Jadi lo harus ngumpulin duit untuk membayar semua hutang-hutang lo,” lirih Milea berbicara kepada dirinya sendiri.
“Andai saja kecelakan itu gak pernah terjadi, mungkin hidup gue gak sesusah ini,” gumamnya lagi sambil menatap roti yang ada di tangannya saat ini.
*
Firdaus baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran. Hari sudah gelap, pria itu pun bergegas masuk ke dalam rumah sakit dan menuju bad Milea.
Sreeet ...
Terdengar suara tirai yang di buka, sehingga menampilkan bad yang di tiduri oleh Milea tadi.
“Ke mana dia?” gumam Firdaus dengan napas yang memburu.
__ADS_1
Firdaus pun menghampiri meja perawat dan bertanya ke mana wanita itu pergi.
“Wanita? Saya rasa tidak ada. Karena saat kami berganti tugas, bad itu sudah kosong,” ujar perawat yang bertugas malam.
“Namanya Milea, biaya perawatannya juga belum saya bayar. Masa iya kalian sudah mengisinkannya untuk
pulang?” pekik Firdaus dengan kesal.
“Tunggu sebentar,” ujar perawat tersebut dan mengecek komputer yang ada di sana.
“Anda benar, Pak. Di sini tertulis pasien bernama Milea. Beliau juga belum terdaftar keluar dari rumah sakit ini,” ujar perawat tersebut memberi tahu.
“Lalu? Ke mana dia sekarang?” tanya Firdaus yang sudah merasa sangat kesal jika harus kehilangan wanita yang bernama Milea itu lagi.
“Sebentar, saya tanya perawat yang bertugas tadi siang,” ujar perawat tersebut dan menghubungi temannya yang berganti sift dengannya.
“Halo, Say. Tadi ada pasien bernama Milea Syaputri. Pas kita ganti sift, pasien tersebut memang gak ada di bad-nya kan?” ujar perawat tersebut berbicara dengan temannya melalu telepon.
“Oh iya, lupa gue. Dia pergi ke toserba beli roti. Lapar katanya,” ujar perawat yang lain.
“Oh, oke lah kalau begitu. Suaminya cariin ini. Dah ya, gue tutup dulu.”
Firdaus pun menggerutu kesal. Dia sudah susah payah membeli nasi goreng, tapi wanita menyebalkan itu
malah membeli roti. Tanpa mengucapkan terima kasih, Firdaus pun bergegas menyusuli Milea, karena takut jika wanita itu akan melarikan diri secara diam-diam.
Sesampainya di toserba, Firdaus melihat ke seluruh ruangan kecil yang penuh dengan makanan cemilan
tersebut.
“Ada yang bisa di bantu?” tanya ibu penjaga toserba.
“Saya sedang mencari wanita yang tingginya segini,” ujar Firdaus sambil menunjukkan tinggi Milea yang sebatas dadanya.
Kemudian pria itu mengeluarkan sebuah lukisan kecil yang ada di dalam dompetnya. Pria itu pun tak tahu kenapa dia bisa menyimpan lukisan tangannya yang bergambar wajah Milea di dalam dompetnya.
“Ini, wanita ini,” ujar Firdaus sambil menunjukkan lukisan wajah Milea.
“Oh, gadis ini,” lirih ibu penjaga toserba. Wanita paruh baya itu pun menatap ke arah Firdaus dari ujung kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
“Anda ini siapanya?” tanya ibu tersebut.
“Saya ....” Firdaus tiba-tiba saja bingung harus mengatakan siapa dirinya di dalam kehidupan Milea.
“Pasti oomnya gadis manis itu kan?” ujar ibu penjaga toserba tersebut.
‘Hah? Oom?’ batin Firdaus. ‘Umur aku sama wanita itu kan cuma selisih empat tahun, masa iya setua itu wajah aku?’ batinnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin yang ada di balik rak kosmetik.
“Kalau mencari keponakannya, tadi gadis itu menuju ke arah taman,” ujar ibu penjaga toserba tersebut.
Firdaus pun menatap ke arah tunjuk ibu penjaga toserba tersebut, tanpa mengucapkan kata terima kasih, dia langsung berlari keluar dari toserba menuju ke taman rumah sakit.
“Dasar, anak muda jaman sekarang gak ada etikanya,” gerutu ibu penjaga toserba sambil menatap kesal ke
arah Firdaus.
Firdaus mencari di setiap kursi taman yag di duduki oleh pengunjung rumah sakit dan juga pasien, tetapi pria itu belum menemukan keberadaan Milea.
“Di mana wanita menyebalkan itu? Sungguh menyusahkan,” geram Firdaus sambil mencari.
Firdaus pun menatap ke arah satu wanita yang duduk sendirian menghadap gedung pencakar langit.
“Ternyata di situ dia,” lirih Firdaus dengan menghela napasnya lega.
“Kenapa kamu di sini?” tanya Firdaus yang mana membuat Milea terkejut.
“Oh, Bapak. Saya kirain siapa,” ujar Milea dan kembali menyantap roti yang ada di tangannya.
“Kenapa makan roti? Tadi kamu kan pesan nasi goreng sama saya.” Firdaus benar-benar kesal dengan wanita yang berada di sampingnya saat ini.
“Bapak kelamaan. Beli nasi goreng aja sampai berjam-jam. Keburu mati kelaparan saya, Pak,” ujar Milea dengan sedikit kesal.
“Kenapa kamu jadi kesal sama saya? Yang pesan nasi goreng pakai rendang siapa coba? Ini saya belinya jauh ya,” ketus Firdaus dengan kesal.
“Emangnya ke mana Bapak beli? Ke Hongkong?” ledek Milea dan kembali menggigit rotinya.
“Saya beli ini di restoran ya. Pokoknya saya gak mau tau, kamu harus habiskan nasi goreng ini,” titah Firdaus tak ingin di bantah sambil memberikan bungkusan nasi goreng kepada Milea.
“Pak, saya minta jusnya dulu ya. Haus. Udah keselek ini, gak ada minum,” lirih Milea yang sudah tercekik karena tenggorokannya terlalu kering.
__ADS_1