
“Baiklah, kita lakukan apapun yang kalian inginkan, kecuali bersentuhan. Kita akan melakukannya bersamaan sekaligus.” ujar Firdaus.
“Maksudnya?” tanya Loli.
“Kita akan berkencan bersama sekaligus dalam tiga hari,” ujar Firdaus.
“Bukan hanya ada kita berdua?” tanya Uli.
“Tidak, tapi kita semua, termasuk asisten saya juga ikut,” ujar Firdaus sambil menunjuk asistennya yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Bagaimana? kalian setuju? Jika tidak maka lupakan saja,” ujar Firdaus dan hendak berdiri.
“Baiklah, kami setuju,” ujar Tante Anna dengan cepat.
“Baiklah, sampai jumpa besok,” uajr Firdaus dan kali ini benar-benar berdiri dari duduknya.
“Ah ya, kalian silahkan nikmati hidangan yang telah saya pesankan,” ujar Firdaus dan benar-benar pergi meninggalkan ke lima wanita yang berbeda usia itu
*
Milea baru saja menyelesaikan pekerjaannya, wanita yang bertubuh mungil dan berwajah imut itu pun berjalan sambil mengutak atik ponselnya untuk memesan ojek online.
“Lea, gue duluan ya,” ujar Lani yang sudah di jemput oleh pacarnya.
“Iya, hati-hati ya,” ujar Milea sambil melambaikan tangannya.
Tak berapa lama ojek pesanan Milea pun tiba, wanita bertubuh mungil itu pun bergegas naik ke atas motor kang ojek. Saat motor kang ojek yang di tumpangi oleh Milea mulai meninggalkan perkarangan kantornya, bersamaan dengan itu mobil yang di kendarai oleh Anton berselisih dengan motor kang ojek.
“Jadi ini perusahaannya?” tanya Firdaus kepada Anton.
“Iya, Tuan. Ini kantornya,” ujar Anton memberi tahu.
“Hmm, lumayan juga,” ujar Firdaus.
Anton hanya tersenyum mendengar ucapan Firdaus. Dia tau, jika perusahaan yang berada di Paris lebih
besar dari pada di Indonesia. Tapi bisakah Firdaus tidak membanding-bandingkannya?
“Ya sudah kalau begitu, kita pergi,” titah Firdaus yang di angguki oleh Anton.
*
Milea tertawa terbahak-bahak saat Uli menghubunginya dan mengatakan jika pria yang bernama Fir itu menerima tawaran mereka untuk berkencan.
“Jadi, apa gue akan berjodoh dengan Fir?” tanya Uli.
__ADS_1
“Hmm, entah lah. Gue juga gak berani bilang. Karena gue bukan Tuhan. Sebaiknya lo berdoa saja agar bisa berjodoh dengan pria yang bernama Fir itu” ujar Alya.
“Hah, gue berharap berjodoh dengan Fir. Tapi apa Tuhan mau mendengarkan doa gue? Secara gue kan banyak dosanya,” lirih Uli.
“Berarti itu tandanya lo sekarang harus tobat,” ujar Milea. “Ya sudah kalau gitu, gue matiin ya telponnya, gue capek banget, mau tidur,” ujar Milea dan memutuskan panggilannya secara sepihak.
Milea pun mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil, kemudian melemparnya asal sehingga handuk
tersebut terjatuh ke lantai, setelahnya dia berbaring di atas kasur dan menggesek-gesekkan tangannya ke atas dan ke bawah, mencari posisi ternyaman untuknya tidur.
Tak butuh waktu lama bagi Milea untuk terlelap dalam tidurnya. Gadis itu pun langsung mendengkur halus menandakan jika dirinya telah terlelap ke alam mimpi.
Di tempat lain, Firdaus yang tengah tertidur dengan lelap, kembali terjaga di saat dia bermimpi gadis yang selalu hadir ke dalam mimpinya. Gadis di masa kecilnya dulu.
“Di mana kamu, kucing?” lirih Firdaus sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Tak bisa lagi melanjutkan tidur, Firdaus pun memilih untuk pergi ke kamar galeri lukisannya, di mana terdapat banyak canvas dan juga lukisan-lukisan hasil karyanya. Dia memandangi satu persatu lukisan miliknya, di mana semuanya adalah gambar dari seorang wanita yang memiliki warna mata berbeda. Mata yang berbeda yang mirip
dengan mata kucing. Tapi, lukisan-lukisan itu hanya di gambar di bagian matanya saja, sedangkan wajahnya masih tertutup dengan cadar.
“Sebenarnya siapa kamu?” lirih Firdaus sambil menatap lukisan-lukisan tersebut.
Pria itu mendesah pelan, kemudian dia mengambil pensil dan mulai mencoret kertas putih dan bersih itu. Entah apa yang Firdaus pikirkan, sehingga tanpa sadar dia melukis sebuah wajah yang saat ini sangat dia benci.
“Kenapa aku bisa melukisnya?” tanya Firdaus pada dirinya sendiri. “Ah, mungkin ini efek karena aku berusaha keras untuk menemukannya. Ya, aku akan menemukan kamu,” geram Firdaus sambil menatap tajam ke arah lukisan gadis penjual nomor ponsel.
*
“Pagi Tuan,” sapa Anton yang baru saja menyiapkan sarapan pagi untuk bosnya itu.
“Pagi,” jawab Firdaus dan duduk di kursi.
“Apa kamu sudah menemukan gadis itu?” tanya Firdaus.
“Belum ada tanda-tanda, Tuan. Saya sudah menyuruh seseorang untuk memantau counter pulsa itu,” ujar Firdaus.
“Pokoknya kamu harus segera mendapatkan siapa gadis itu secepatnya,” ujar Firdaus.
“Baik, Tuan,” jawab Anton.
“Apa jadwal saya hari ini?” tanya Firdaus.
“Pagi ini Tuan harus bertemu dengan Tuan Besar Sebastian,” ujar Anton. “Kemudian berkencan makan siang bersama ke lima wanita-wanita itu,” sambung Anton membacakan jadwal Firdaus hari ini.
“Sungguh menyebalkan,” gerutu Firdaus dengan kesal.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Firdaus pun bergegas untuk menemui sang kakek, di mana pria tua itu sudah bisa di pastikan akan memaksanya kembali untuk berkencan dengan pewaris perusahaan lain.
“Apa kamu sudah selidiki wanita mana saja yang akan di jodohkan dengan saya?” tanya Firdaus.
“Sudah Tuan, ini ada beberapa laporan tentang wanita yang akan di jodohkan dengan Tuan,” ujar Anton sambil memberikan Ipad-nya kepada Firdaus.
Firdaus meraih Ipad tersebut dan mengecek satu persatu wanita yang akan di jodohkan dengannya.
“Apa tidak ada kandidat yang lain gitu? Kenapa harus yang menor-menor begini?” gerutu Firdaus yang memang tak menyukai wanita yang berdandan tebal.
“Saya juga kurang tau, Tuan,” ujar Anton.
“Hah, membosankan. Mereka semua taunya hanya bisa menghabiskan uang dengan berfoya-foya tak jelas.
Kalau tidak, mereka pasti akan sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan keluarganya,” cibir Firdaus.
“Lalu, kenapa Tuan tak mencari pasangan dengan pilihan Tuan sendiri?” tanya Anton.
“Kalau saya sudah menemukannya, pasti saya akan membawanya kehadapan kamu, bahkan kehadapan kakek
juga,” geram Firdaus.
“Apa Tuan masih kepikiran dengan gadis bermata kucing?” tanya Anton.
Firdaus hanya terdiam dan mengunyah makananya. Pria itu juga tak tahu, kenapa setiap wanita yang muncul
di kehidupannya, selalu tak ada yang membuatnya tertarik sama sekali. Dia hanya menginginkan gadis bermata kucing yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya.
*
“Cucuku,” ujar Kakek Bastian dan memeluk Firdaus.
“Kakek apa kabar?” tanya Firdaus saat setelah merelai pelukan mereka.
“Kakek baik, kamu gimana?” tanya Kakek lagi,
“Seperti yang kakek lihat,” ujar Firdaus dengan tersenyum.
“Ha .. ha .. Kakek senang kamu memilih kembali untuk memimpin perusahaan kita,” ujar Kakek Bastian.
“Ya, itu juga karena ancaman dari Kakek,” jawab Firdaus dengan terkekeh.
“Kamu ini. Emangnya salah apa kalau Kakek ingin kamu menemani Kakek di sisa-sisa umur Kakek?” tanya
Kakek Bastian yang mana membuat Firdaus merasa bersalah dan juga kesal secara bersamaan.
__ADS_1