
“Hai, Milea,” sapa Popo. “Siap bekerja dengan giat hari ini?” ujar pria yang bergerak dengan gerakan kemayu atau lebih ke perempuanan.
“Siap, Bos,” ujar Milea dengan tersenyum lebar.
“Good, kalau begitu persiapkan diri kamu untuk bertemu pemilik perusahaan ini,” ujar Popo memberi tahu kepada Milea yang datang ke studio paling awal dari yang lainnya.
“Mak-maksudnya bos besar? Pemilik perusahaan ini?” tanya Milea dengan gagap.
“Iya, hari ini beliau akan datang ke sini dan melihat kinerja kerja kita semua. Jadi, kamu harus fokus dan tunjukkan pekerjaan terbaik kamu,” ujar Popo kepada pegawai kesarayangannya itu.
“Siap, bos,” ujar Milea dengan memberi hormat.
Tak berapa lama ruangan studio itu pun sudah di hadiri oleh tim yang bekerja dengan Popo, sehingga membuat pria yang berperawakan kemayu itu pun menyuruh seluruh anak buahnya untuk berkumpul.
Popo pun memberi tahu, jika hari ini mereka akan kedatangan tamu yang sangat istimewa. Jadi, mereka semua harus bekerja dengan sempurna dan menunjukkan bakat-bakat terbaik mereka masing-masing.
“Duh, gue kok gugup ya?” bisik Lani kepada Milea .
Milea hanya tersenyum menanggapi ucapan sang sahabat. Menurutnya, mana mungkin sang petinggi seperti
bos besarnya itu memperhatikan satu persatu karyawan yang bekerja saat itu. Palingan juga bos besar mereka itu hanya memperhatikan model dan hasil jepretan saja.
“Lo kok malah senyum-senyum sih? Lo gak gugup gitu?” tanya Lani.
Milea kembali terkekeh. “Ya gak lah, lagi pula ngapain gue gugup?” ujar Milea masih dengan tawa yang menghiasi nada bicaranya. “Nih, ya gue bilangin ke lo. Lagian kalau bos besar itu datang ke sini dan melihat kinerja kerja kita semua, itu palingan yang di lihat cuma model dan hasil jepretan doang aja. Mana mungkinlah bos besar mau repot-repot memperhatikan pekerja remehan seperti kita,” ujar Milea yang di angguki oleh Lani.
“Lo bener juga sih, mana mungkin bos besar sampai memperhatikan pekerjaan kita,” ujar Lani yang menyetujui ucapan Milea.
“Makanya, nyantai aja dan jangan panik. Oke,” ujar Milea menyemangati sang sahabat.
“Oke,” jawab Lani sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“Yuk kerja, biar keluarin keringat dan membakar lemak,” ujar Milea sambil terkekeh.
“Lo enak, makan banyak tetap aja kurus. Lah gue? Jangankan makan, hidur oksigen aja langsung jadi lemak,” cibir Lani yang mana membuat Milea tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Di tempat lain, Firdaus sedang memperhatikan penampilannya saat ini. Dia ingin terlihat sempurna di depan seluruh karyawananya, karena hari ini adalah hari di mana dia akan memperlihatkan jati dirinya di setelah kembali dari luar negeri.
“Waaah, Pak Fir ganteng banget,” puji Anton sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Firdaus hanya tersenyum miring menanggai ucapan asistennya itu. “Bawaan lahir,” jawab Firdaus dengan pedenya.
Anton hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan ucapan sang bos.
“Jadi bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan berita tentang wanita penjual nomor ponsel?” tanya Firdaus yang tak ingin membuang-buang waktunya untuk berkencan dengan kelima wanita yang sangat mengganggunya saat ini.
“Belum, kelima wanita itu masih bungkam. Begitu pun dengan suami istri yang memiliki gerai ponsel di pinggir jalan itu,” ujar Anton memberi tahu.
Firdaus pun menghela napasnya dengan pelan. Pria itu benar-benar kesal, karena sudah dua hari dia mencari tau tentang si penjual ponsel tersebut.
“Haruskah aku menunjukkan lukisannya di siaran televisi atau surat kabar?” cetus Firdaus.
“Jangan, Bos. Itu akan membahayakan nama baik bos, juga akan menimbulkan skandal baru,” ujar Anton menolak usulan dari sang bos.
“Hmm, kamu benar,” lirih Firdaus sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Lalu harus ke mana lagi aku harus mencarinya dan memberikan hukuman yang berat untuk wanita itu,” geram Firdaus dengan frustasi.
*
Milea pun segera mengambil strika uap, kemudian berjongkok di hadapan model yang saat ini tengah mengambil gambar untuk sebuah iklan makanan ringan. Milea merapikan bagian belakang rok model tersebut yang kusut akibat bekas dudukan.
Di saat yang bersamaan,
terdengar suara krusak krusuk yang berasal dari pintu masuk. Popo pun menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk dan betapa terkejutnya di saat melihat bos besar mereka telah tiba.
“Tuan Fir, Anda sudah datang,” ujar Popo dengan suara kemayunya yang di buat semakin manja.
Firdaus pun hanya tersenyum tipis, kemudian dia memperhatikan satu persatu pekerja yang sedang memberi hormat kepadanya.
“Apa saat ini sedang ada pemotretan?” tanya Firdaus kepada Popo.
“Iya, Tuan. Hari ini kami sedang mengambil gambar untuk di jadikan kemasan sebuah produk makanan
__ADS_1
ringan,” ujar Popo memberi tahu.
“Hmm, baiklah. Saya akan melihat cara kerja kalian sekarang,” ujar Firdaus dan duduk di kursi yang langsung di sediakan oleh tim Popo.
“Selesai,” seru Milea sambil menepuk pelan rok yang di pakai oleh model tersebut.
Firdaus menoleh ke sumber suara, pria itu pun langsung menyipitkan matanya di saat melihat wajah yang tak asing di matanya.
“Kerja bagus, Milea,” puji Popo yang mana membuat Milea menoleh ke arah sumber suara.
“Terima kasih, Popo,” jawab Milea dengan tersenyum lebar, kemudian wanita itu menoleh ke arah pria yang berada di samping Popo.
“Got you,” lirih Firdaus dengan tersenyum sinis.
Milea langsung membelalakkan matanya di saat mengenali siapa pria yang sedang menatapnya dengan tersenyum
miring. Wanita itu pun seketika gugup dan rasanya ingin menghilang melalui pintu doraemon. Sayangnya pintu tersebut hanya ada di dunia Nobita saja.
“Ah ya, Milea, Tuan Muda ini adalah Tuan Fir, pemilik perusahaan ini,” ujar Popo memberi tahu kepada Milea.
Firdaus masih memandang Milea dengan tajam dan senyuman miring yang terlihat sangat mengerikan di mata
wanita itu. Dengan gugup, Milea pun membungkukkan sedikit tubuhnya untuk memberi hormat, tak lupa wanita itu menurunkan seluruh rambutnya untuk menutupi seluruh wajahnya.
“Sa-saya harus mengembalikan setrika uap ini,” cicit Milea dan bergegas lari dari hadapan Firdaus.
‘Mau lari kemana kamu?’ batin Firdaus dan langsung berdiri dari duduknya untuk mengejar gadis yang telah menjual nomor ponselnya.
“Pak, ada telepon dari Tuan Besar,” ujar Anton yang mana menghentikan pergerakan Firdaus.
‘Sial,’ maki Firdaus dalam hati, kemudian pria itu tersenyum miring sambil menatap ke arah mana Milea berlari. ‘Lihat saja, mulai saat ini kamu tidak akan bisa lari dan bersembunyi lagi dari aku,’ ujarnya dalam hati dan meraih ponsel Anton.
“Ya, Kek?”
*
__ADS_1
Milea memegangi jantungnya yang berdebar dengan cepat saat ini. Sekarang, dia sedang bersembunyi di dalam toilet, dengan masih memegang setrika uap yang ada di tangannya.
“Gimana ini? Apa dia mengenali gue?” lirih Milea dengan kaki yang di goyang-goyangkan untuk menghilangkan rasa gugupnya. “Semoga aja enggak,” lirihnya lagi dengan gugup. “Tapi, kata Andin pria itu menunjukkan wajah gue dari lukisan tangannya. Gimana ini?” gumamnya dengan panik dan frustasi.