Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
BAB. 26 – Ayam madu


__ADS_3

“Ayam madu?” ulang Firdaus sambil melihat makanan cepat saji yang ada di tangan Milea saat ini.


“Iya.”


“Ini? Ini kapan kamu ambilnya? Bukannya saya sudah bilang untuk gak mengambilnya?” ujar Firdaus dengan kesal.


“Kalau Bapak gak mau makan, ya biar saya aja yang makan. Dari pada makan rumput, mending makan ini,” ujar Milea sambil mendorong tubuh Firdaus pelan dan berjalan menuju kompor.


“Untung beli minyak tadi ya, Pak,” kekeh Milea, tanpa wanita itu tahu jika saat ini Firdaus sudah geram dengannya.


Milea pun sibuk mencari kuali untuk menggoreng ayamnya, tanpa dia sadari jika Firdaus sudah berdiri di belakangnya.


“Pak, kuali mana?” tanya Milea sambil menengok ke bawah meja kitchen set.


Tak ada jawaban dari Firdaus, Milea pun menegakkan kembali tubuhnya dan berbalik.


“Astagfirullah,” lirih Milea saat melihat jarak antara dirinya dan Firdaus sangatlah dekat.


“Siapa yang ngizinin kamu masak itu di dapur saya?” tanya Firdaus menatap tajam ke arah Milea.


Kruuukkk ..


Lagi, perut Milea pun berbunyi dengan sangat keras.


“Perut saya, Pak,” jawab Milea.


“Hah? Apa kamu bilang?”

__ADS_1


“Perut saya lapar. Saya punya riwayat penyakit maag, kalau saya semakin lama menunda makannya, maka  penyakit saya akan semakin parah, Pak,” ujar Milea.


“Ya sudah, karena kamu punya penyakit maag, makan makanan yang vegetarian itu sangat baik. Bukan yang


berlemak dan berminyak seperti ini,” ketus Firdaus.


“Gak mau ah, saya tetap mau makan ini.” Milea pun tak mau kalah dengan keinginannya.


“Dasar keras kepala,” ketus Firdaus dan merebut makanan cepat saji yang ada di tangan Milea.


“Eh, balikin, Pak. Saya lapar, saya mau makan itu,” rengek Milea sambil berusaha mengambil kembali bungkusan ayam madunya.


“Gak boleh, sebaiknya kamu makan salad aja,” tegas Firdaus.


“Gak mau .. gak mau .. Saya mau ayam madu.” Milea pun terus berusaha merebut bungkusan tersebut, hingga tanpa sengaja dia menyenggol minyak wijen yang ada di atas meja kitchen set dan menumpahkannya ke lantai.


lantai, sehingga membuat kakinya tergelincir.


“Aaaammpp ...”


Bruuk ....


“Awww ...” ringisnya sambil mengusap bokongnya yang sakit.


“Kamu gak papa?” tanya Firdaus dan berjongkok ke dekat Milea.


“Ini salah, Bapak. Kalau Bapak kasih ayam itu ke saya, semua ini gak akan terjadi. Kalau Bapak gak izinin saya masak di sini, saya mau pulang aja,” rengek Milea dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


“Loh, kok kamu nangis?” tanya Firdaus panik.


“Sakit tau, hiks .. Mana lapar lagi,” ketus Milea sambil mengusap perutnya yang kembali berbunyi.


“Enak aja salahin saya. Salah kamu sendiri lah yang gak hati-hati. Siapa suruh tumpahi minyak wijen saya. Kamu tau itu harganya berapa? Itu minyak harganya mahal ya, karena saya belinya yang bukan sembarang minyak,” ujar Firdaus.


Milea mengusap air matanya. Dia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. “Mana saya tau. Lagian Bapak udah kayak emak-emak aja yang ributin minyak mahal. Padahal rokoknya lebih mahal dari minyak,” ketus Milea.


“Saya gak merokok.” jawab Firdaus.


“Terserah,” cibir Milea. “Ini mau di bantuin bangun gak?” tanya Milea dengan sedikit ketus.


Firdaus pun menghela napasnya pelan dan membantu Milea berdiri.


“Lain kali hati-hati,” ujar Firdaus saat Milea telah berdiri tegak.


“Hmm, makasih,” jawab Milea, kemudian mengambil semua bungkusan ayam madu itu dan memeluknya.


Milea pun berjalan sambil menahan rasa sakit di bokongnya.


“Mau ke mana kamu?” tanya Firdaus.


“Mau pulang, mau masak di rumah aja. Lapar,” jawab Milea sambil berjalan tertatih.


Firdaus pun menghadang Milea, sehingga membuat wanita itu pun menghentikan langkahnya.


“Sini, biar saya yang masak,” ujar Firdaus sambil mengambil satu bungkus ayam madu yang ada di dalam pelukan Milea.

__ADS_1


__ADS_2