Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 19 – Congklak


__ADS_3

“Bapak mau bawa saya ke mana?” tanya Milea lagi dengan sediit panik saat melihat Firdaus sedang memasukkan password pada pintu apartemennya.


Klik ..


Pintu terbuka, Firdaus pun langsung mendorong tubuh Milea untuk masuk.


“Pak,” pekik Milea dengan takut.


Firdaus menutup pintu apartemen dan terus melangkah maju ke arah Milea.


“Ba-bapak mau apa?” tanya Milea dengan takut dan sudah memundurkan langkahnya menjauh dari Firdaus.


“Menurut kamu, apa yang di lakukan oleh seorang pria dan wanita di tempat yang tertutup dan tak ada seorang pun di sini,” tanya Firdaus balik dengan tersenyum miring.


‘Mampus gue. Masa iya dia mau ngajakin gue andehoy? Kan udah gue kasih lima cewek dalam versi berbeda,’ batin Milea berkata sambil terus memutar otaknya untuk mencari jawaban agar dapat menyelamatkan hidupnya.


“Main Congklak,” jawab Milea dengan cepat.


Firdaus menghentikan langkahnya dan menatap Milea dengan kening mengkerut.


“Main Congklak?” tanya Firdaus yang di angguki oleh Milea. “Apa itu Congklak?” tanya Firdaus.


Milea mengerjapkan matanya. “Bapak gak tahu?” tanya Milea balik.


“Enggak,” jawab Firdaus.


Milea menghela napasnya pelan dan mengeluarkan ponselnya. Wanita itu pun membuka situs dunia dan mencari foto yang berhubungan dengan permainan Congklak.


“Ini, Pak,” tunjuk Milea pada Firdaus.


Firdaus pun melihat layar ponsel Milea yang menunjukkan sebuah benda berbentuk persegi panjang yang ujung-ujung setiap sisinya berbentuk lonjong dan terdapat satu lubang besar di setiap sisinya, kemudian di setiap panjang sisi terdapat lubang tertutup dengan ukuran yang sama di setiap sisinya.


“Apa ini?” tanya Firdaus lagi.


“Ini yang namanya Congklak, Pak. Permainan ini sangat populer di kampung saya,” ujar Milea dengan tersenyum.


“Apa di kampung kamu, permainan ini di mainkan dengan dua jenis kelamin berbeda dan di tempat tertutup?” tanya Firdaus dengan alis yang terangkat sebelah.


“Eng, ituu--- bisa jadi bisa gak sih, Pak. tergantung siapa yang main,” jawab Milea dengan tersenyum kikuk.

__ADS_1


“Jadi, kamu pikir saya akan mengajak kamu bermain congklak?” tanya Firdaus.


“Ya gak tau sih, kan tadi Bapak tanya sama saya. Ya saya jawab sesuai yang saya tahu dong,” jawab Milea dengan tersenyum kikuk.


“Hmm, tapi sayangnya tebakan kamu salah,” ujar Firdaus.


Fridaus pun kembali berjalan mendekati Milea, sehingga membuat wanita itu sigap memundurkan langkahnya. Namun sayangnya jarak mereka yang tadi sangat dekat membuat Milea tak bisa kabur dari kungkungan Firdaus saat ini yang sudah mengurungnya di antara lengan pria itu. Milea pun tak bisa lagi memundurkan langkahnya karena sudah mentok pada lemari hias yang menjadi sekat antara ruang tamu dan juga dapur.


“Ap-apa yang akan Bapak lakukan?” tanya Milea dengan gugup.


Firdaus memperhatikan keseluruhan penampilan Milea dari atas hingga bawah, membuat wanita itu pun menjadi risih.


“Kamu harus jadi pacar saya,” ujar Firdaus yang mana membuat Milea membelalakkan matanya.


“APA?” pekik Milea dengan terkejut.


*


Milea memperhatikan Firdaus yang tengah fokus pada laptopnya. Pria itu sedang mengetik sebuah surat perjanjian di antara mereka berdua.


Kreeek .. kreek ... kreek ...


Terdengar suara mesin print yang sedang mengeluarkan sebuah kertas yang bertuliskan tinta hitam. Firdaus pun bangkit dan mengambil kertas tersebut.


“Panjang amat, Pak?” protes Milea saat melihat betapa banyaknya persyaratan yang ingin di ajukan oleh Firdaus.


“Kamu baca saja dulu, saya mau mandi, gerah,” ujar Firdaus.


“Loh, tadi di rumah sakit Bapak gak jadi mandi?” tanya Milea.


“Gak, saya gak bisa mandi di tempat umum seperti itu,” ujar Firdaus dan menghilang ke dalam kamarnya.


“Hmm, gue pikir cuma kalangan bawah aja yang suka foto copy, ternyata orang kaya juga,” cibir Milea dan mulai


membaca point-point pada persyaratan yang di ajukan oleh Firdaus.


“Banyak banget, nih orang maunya apa sih? Ini sih gue udah di bilang jadi budaknya dia.” cibir Milea yang membaca setiap point yang tertulis di sana.


Milea mengambil pena yang ada di dekat mesin print, wanita itu pun mulai mencoreti satu persatu point yang di rasanya terlalu berat untuk di jalani. Tiga puluh menit pun berlalu, Milea telah selesai dengan persyaratan yang telah di revisi, begitu pun dengan Firdaus yang sudah rapi dengan setelan jasnya.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Firdaus saat melihat Milea mencoret-coret kertas perjanjian yang telah dia buat.


“Oh, ini. Saya hanya ingin merubah point-point yang memberatkan saya,” ujar Milea dengan santai sambil memberikan kertas tersebut kepada Firdaus.


Firdaus meraih kertas itu dan membaca setiap point yang telah di coret-coret oleh Milea.


“Apa ini? Kamu tidak bisa memasak?” tanya Firdaus.


“Hmm, saya tidak bisa memasak,” jawab Milea.


“Lalu, selama ini apa yang kamu makan?” tanya Firdaus.


“Saya selalu makan makanan cepat saji, atau pun memesan rantangan harian,” jawab Milea. “Kalau di kantor, saya selalu makan bersama teman-teman, malamnya terkadang juga begitu,” jawab Milea.


“Lalu, bagaimana dengan sarapan pagi kamu?” tanya Firdaus.


“Kadang saya gak makan, kadang hanya memakan roti saja, tapi kalau terlalu lapar, saya akan membeli lontong di saat perjalanan ke kantor,” jawab Milea.


Firdaus menghela napasnya pelan. pria itu pun mengambil pulpen bertinta merah dan mencoret penolakan Milea untuk memasakkannya sarapan pagi dan juga malam.


“Saya menolak penolakan kamu. Saya tetap ingin sarapan dan makan malam saya tersajikan. Bagaimana pun,


kamu harus memasaknya,” putus Firdaus tanpa ingin ada penolakan lagi.


“Ini apa? Apa kamu tidak pernah membereskan rumah?” tanya Firdaus saat melihat coretan Milea yang kembali menolak untuk membersihkan rumahnya setiap hari.


“Pak,saya itu kerja dari pagi hingga malam, jadi gak ada waktu bagi saya untuk membersihkan rumah, kecuali hari minggu dan libur. Itu pun kalau ada libur,” gumam Milea di akhir kalimatnya. “Jadi, saya jarang bersihi rumah karena memang saya jarang berada di rumah,” jelas Milea.


“Baiklah, kalau begitu seminggu dua kali, kamu harus membersihkan rumah saya,” putus Firdaus lagi yang tak ingin mendengar keluhan Milea.


Firdaus menaikkan pandangannya menatap Milea.”Ini apa?” tanya Firdaus pada point di mana Milea harus menjadi pacar pura-puranya demi menggagalkan rencana sang kakek untuk menjodohkannya dengan wanita lain.


“Oh, kan saya hanya pacar pura-pura Bapak. Jadi saya tidak mau ada sentuhan yang berlebihan,” ujar Milea.


“Di situ sudah saya tulis dengan jelas, apa saja yang tidak boleh.”


Ya, Milea menolak untuk adanya adegan pelukan, ciuman, dan adegan romantis lainnya selain hanya pegangan


tangan saja.

__ADS_1


“Baiklah, saya pun tidak berniat untuk memeluk atau pun mencium kamu. Tapi ...” ujar Firdaus sambil menggantung ucapannya.


“Tapi apa?” tanya Milea penasaran.


__ADS_2