
Firdaus meraih ponselnya yang berdering, pria itu memasang headfree yang sudah tersambung ke ponselnya.
“Ada apa?” tanya Firdaus dengan orang yang berada di seberang panggilan.
“Bos, wanita itu muncul di gerai ponsel pinggir jalan saat ini,” ujar orang suruhan Firdaus.
Mendengar kabar baik, Firdaus langsung membanting setirnya ke arah tujuan di mana gerai ponsel itu berada.
“Ikuti terus wanita itu, jangan sampai kehilangan jejaknya,” titah Firdaus.
“Baik, Bos,” ujar orang suruhan Firdaus.
Firdaus menekan pedal mobilnya sehingga membuat mobil itu melaju sangat kencang sekali. Melewati kendaraan-kendaraan yang lain, bahkan pria itu tak peduli mendapatkan umpatan kasar pengendara lainnya. Yang ada di dalam pikiran Firdaus saat ini adalah segera menangkap Milea, sebelum wanita itu melarikan diri kembali.
*
“Lea, gue ke wc dulu ya, lo tolong jagain counter benar,” titah Andin.
“Gaya lo counter. Sana pergi, bau banget kentut lo, bau parbus, paret busuk,” ledek Milea sambil menutup hidungnya.
“Sialan lo,” cibir Andin dan berlari menuju toilet yang tak jauh dari tempatnya berjualan. Wanita itu benar-benar tak tahan lagi untuk membuang kotorannya.
Milea mengeluarkan ponselnya, wanita itu pun membuka sosial medianya untuk menghilangkan kebosanan
yang melanda. Sudah sepuluh menit Andin belum juga kembali dari buang hajatnya, sehingga wanita itu pun perlahan merasa kantuk, apa lagi angin bertiup dengan sepoi-sepoi.
“Akhirnya aku mendapatkan kamu.”
Baru saja Milea menutup matanya, wanita itu pun terpaksa membuka kembali matanya saat mendengar suara
pria asing yang saat ini sudah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Mata Milea pun terbelalak saat menyadari siapa pria yang ada di dekatnya saat ini.
“Eeeem, ma-maaf, orang yang menjual pulsanya sedang kebelakang,” ujar Milea dengan gugup dan perlahan
bangkit dari duduknya. “Saya akan memanggilnya segera, tunggu sebentar,” ujar Milea lagi dan henda kabur dari pria yang berstatus bosnya itu.
Firdaus dengan cepat menahan lengan Milea yang hendak pergi meninggalkannya. “Mau ke mana kamu,
Hah?” tanya Firdaus dengan geram.
“Hah? Sa-saya mau manggil yang punya counter,” lirih Milea dengan jantung yang berdebar.
“Tidak perlu, karena yang saya butuhkan saat ini ada di sini,” ujar Firdaus dengan tersenyum miring menatap wajah Milea.
Milea pun menelan ludahnya dengan kasar, wanita itu benar-benar tak bisa lagi kabur kali ini.
__ADS_1
“Ayo ikut saya,” paksa Firdaus dan menarik lengan Milea dengan sedikit kasar.
“Aww, sakit,” lirih Milea yang tak di pedulikan oleh Firdaus.
Pria itu terus memaksa Milea untuk ikut bersamanya dan membuka pintu mobil untuk memasukkan wanita
yang sudah menjual nomor ponselnya dengan harga yang tak masuk di akal.
“Ayo masuk,” titah Firdaus.
“Ba-bapak mau bawa saya ke mana?” tanya Milea dengan takut.
Firdaus pun tersenyum miring, sehingga menunjukkan smirk iblis pada wajah tampannya. “Kita akan bersenang-senang, sayang,” ujar Firdaus yang mana membuat Milea menelan ludahnya dengan kasar.
Milea memutar otaknya untuk berpikir, agar wanita itu bisa lepas dari pegangan sang bos.
‘Setiap orang kaya pasti selalu takut sama kecoa,’ batin Milea. ‘Ya, aku akan berteriak dan mengatakan jika ada kecoa di dekat kakinya,’ sambungnya lagi dalam hati dengan tersenyum samar.
“Kecoa,” pekik Milea sambil menunjuk ke dekat kaki sang bos besar, yang mana ternyata rencananya itu
benar-benar gagal total.
“Kamu pikir saya takut sama kecoa?” ujar Firdaus dengan tersenyum miring.
“Tidak,” jawab Firdaus dengan tersenyum penuh kemenangan.
Milea menggerutu kesal, sehingga membuat wanita itu pun terpaksa masuk ke dalam mobil sang bos.
‘Gue bakal lari saat dia berjalan menuju kursinya,’ batin Milea yang sudah tersenyum miring tanpa di ketahui oleh sang bos.
Tap .. Ceklek ..
Setelah menutup pintu mobil, Firdaus pun memutar untuk masuk ke dalam mobil melalu pintu yang lainnya. Saat itu lah Milea berusaha membuka pintu mobil, namun usahanya kembali sia-sia.
“Sialan,” geramnya pelan saat tak menemukan cantolan untuk membuka kunci pintu mobil.
Ceklek ..
Milea menoleh ke arah kanan, di mana saat ini Firdaus baru saja memasuki mobil dan duduk di balik kemudi.
“Jangan pikir kamu bisa lari lagi, wanita penjual nomor ponsel,” geram Firdaus sambil menatap tajam ke arah Milea.
Milea yang di tatap tajam oleh Firdaus pun, menelan ludahnya dengan kasar. Wanita itu benar-benar mati kutu saat ini juga.
Firdaus mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat Milea merasa panik dan tak bisa bernapas.
__ADS_1
“Pa-Pak, bisakah Anda pelankan sedikit laju mobilnya?” pinta Milea dengan suara tertahan.
“Tidak,” jawab Firdaus tanpa repot-repot ingin menoleh ke arah Milea.
Milea pun menyentuh lehernya yang terasa tercekik, kemudian wanita berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak.
“P-pak, saya mo-hon, berhen-ti,” pinta Milea yang sudah mengulurkan tangannya menyentuh lengan Firdaus.
“Kamu pikir bisa membodohi saya, Hah?” pekik Firdaus dan menoleh ke arah Milea.
“Sa-ya mohon,” lirih Milea lagi dengan napas yang semakin tercekat.
Firdaus mengernyitkan keningnya di saat melihat wanita yang berada di sebelahnya itu terlihat seakan kesusahan dalam bernapas. Hingga akhirnya dia memelankan laju mobilnya dan memilih menepi.
“Apa yang terjadi?” tanya Firdaus kepada Milea.
“Sa-saya tidak bi-bisa napas,” lirih Milea yang sudah megap-megap sendiri bagaikan ikan yang sedang menghadapi ajalnya.
“Hei, apa yang terjadi sama kamu?” pekik Firdaus dengan panik, hingga akhirnya Milea kehilangan kesadaraannya karena merasa kekurangan oksigen.
Melihat Milea yang tak sadarkan diri, Firdaus pun memberanikan diri untuk menyentuh tangan Milea.
“Hei, bangun,” ujar Firdaus. “Jangan main-main, ini gak lucu,” ujarnya lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Milea.
Firdaus menelan ludahnya dengan kasar, kemudian pria itu mengangkat tangan Milea dan menjatuhkannya, sehingga tangan gadis itu pun terjatuh lemas di atas pangkuanya sendiri.
“Hei,” panggil Firdaus lagi dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
Dengan tangan yang bergetar, Firdaus mengulurkan tangannya ke bawah hidung Milea. Mengecek apakah wanita itu masih bernapas atau tidak.
“Masih bernapas, itu tandanya dia belum meninggal,” lirih Firdaus dengan pelan.
Pria itu pun membuka aplikasi yang ada di ponselnya dan mencari jalan terdekat menuju rumah sakit yang paling dekat dengan posisi mereka saat ini.
“Sungguh merepotkan,” geram Firdaus dan kembali melajukan mobilnya dengan kencang.
Firdaus bergegas turun dari mobil dan menggendong tubuh Milea. Di bawanya Milea berlari masuk ke dalam
rumah sakit menuju unit gawat darurat.
“Tolong, siapa saja,” pekik Firdaus sambil menggendong tubuh Milea.
Pihak rumah sakit yang saat ini bertugas pun langsung mendorong brangkar dan menyuruh Firdaus meletakkan Milea ke atasnya.
“Bapak bisa menunggu di sini. Dokter akan memeriksa keadaan istri Bapak,” ujar perawat saat Firdaus ingin masuk ke ruang perawatan.
__ADS_1