Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 17 – tas


__ADS_3

“Ka-kalau begitu saya permisi ke kamar mandi dulu,” ujar Milea dan turun dari tempat tidur, kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa tasnya.


Firdaus menatap kepergian Milea hingga tubuh wanita itu menghilang ke balik pintu kamar mandi. Tak berapa lama ponsel pria itu pun kembali berdering dan menampilkan nama sang asisten.


“Ya, halo,” jawab Firdaus saat sambungan telepon sudah tersambung.


“Saya di depan, Tuan,” ujar Anton.


“Ya, saya ke sana.” Firdaus pun bangkit dari duduknya dan menghampiri sang asisten.


Firdaus melihat pria yang mengenakan jaket hoody dan menghampirinya.


“Mana barang-barang saya?” tanya Firdaus saat sudah berada di sebelah sang asisten.


“Oh, ini Tuan,” ujar Anton sambil memberikan paper bag berisi pakaian ganti milik Firdaus.


“Tuan yakin mau tunggui wanita itu sendirian? Atau mau saya yang gantiin jaga?” tanya Anton.


“Kamu pulang aja, biar saya yang tungguin dia,” ujar Firdaus. “Saya gak mau kehilangan wanita itu dan cepat-cepat menyelesaikan masalah ini,” sambungnya lagi yang di angguki oleh Anton.


“Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Anton.


Firdaus pun kembali masuk ke dalam UGD  dan masuk ke dalam bed yang di tempati oleh Milea.


“Apa dia belum selesai? Atau sudah kabur?” lirih Firdaus saat tak mendapati Milea di bed-nya. Firdaus pun menghampiri kamar mandi dan mengetuk pintunya.


Tok .. tok .. tok ..


“Sebentar,” pekik Milea dari dalam kamar mandi.


Firdaus pun menghela napasnya pelan, ketakutannya ternyata tidak terbukti. Tak berapa lama Milea pun keluar dari dalam kamar mandi.


“Bapak mau ke kamar mandi?” tanya Milea saat mendapati sang bos berada di depan pintu kamar mandi.


“Tidak, saya hanya mau mastiin kalau kamu tidak kabur,” ujar Firdaus dengan menatap tajam ke arah Milea yang menolak untuk memandang ke arahnya.


Milea pun mengendikkan bahunya dan berjalan kembali menuju bed-nya. Wanita itu pun naik ke atas tempat


tidur dan langsung membaringkan tubuhnya serta menutup mata.


“Saya duluan tidur ya, Pak. Selamat tidur,” ujar Milea.


“Hmm,” jawab Firdaus yang masih memandang ke arah Milea.


Firdaus duduk di kursi yang tersedia di samping bed milik Milea, pria itu pun meraih ponselnya untuk menghilangkan rasa kebosanan dan juga rasa suntuknya.


*

__ADS_1


Pagi telah menyapa, Firdaus yang ketiduran sambil memeluk tubuhnya pun mengerjapkan matanya di saat


mendengar suara seorang office boy yang meinta maaf kepada keluarga pasien karena ingin membersihkan ruangan tersebut.


“Mana dia?” lirih Firdaus dengan terkejut saat tak menemukan Milea di atas tempat tidur.


Firdaus pun bergegas bangkit dari duduknya untuk memeriksa kamar mandi. Firdaus pun melihat jika pintu kamar mandi sedikit terbuka, itu menandakan jika tak ada orang di dalam sana.


“Di mana dia?” geram Firdaus dan berniat untuk bertanya kepada perawat.


“Bapak udah bangun?” tegur Milea yang berpas-pasan dengan Firdaus


“Dari mana kamu?” tanya Firdaus dengan tajam.


“Beli ini, Bapak mau?” tawar Milea sambil menunjukkan teh yang berada di dalam plastik.


“Enggak,” tolak Firdaus dan membiarkan Milea berjalan kembali menuju bad-nya.


“Dari mana kamu uang?” tanya Firdaus.


“Tas saya kan ada uangnya, Pak. Jadi saya beli dengan sisa uang yang ada di dalam tas saya,” jawab Milea sambil menuangkan teh tersebut ke dalam gelas plastik untuk sekali pakai yang dia minta dari kantin.


“Bapak yakin gak mau minum teh?” tawar Milea lagi.


“Gak,” jawab Firdaus sambil memandang ke arah penampilan Milea yang sudah terlihat segar.


“Belum, saya cuma foto copy aja,” jawab Milea sambil menyengir.


“Foto copy? Maksudnya?” tanya Firdaus dengan bingung.


Milea pun terkekeh pelan. “Cuma cuci muka aja, terus pakai bedak dikit sama lipstik,” jawab Milea.


Firdaus memperhatikan penampilan Milea, pria itu baru menyadari jika di pergelangan tangan Milea sudah tak tertancap lagi selang infus.


“Kapan di buka infusnya?” tanya Firdaus.


“Sebelum subuh,” jawab Milea sambil meniup pelan tehnya.


“Kenapa gak bangunin saya?” tanya Firdaus lagi.


“Bapak tidurnya nyenyak banget. Ponsel jatuh aja sampai gak sadar,” ujar Milea memberi tahu.


“Hah?”  Firdaus pun langsung memerika ponselnya. Benar saja, ada sedikit lecet pada pinggiran ponselnya yang mana membuktikan jika Milea berkata jujur.


“Bapak yakin nih gak mau minum teh?” tanya Milea.


“Ya” jawab Firdaus.

__ADS_1


Sebenarnya pria itu saat ini sedang menahan hasrat untuk pipis. Namun, dia takut meninggalkan Milea, yang mana membuat wanita itu bisa saja kabur darinya. Firdaus pun mencari nomor sang asisten dan menghubungi pria itu.


“Di mana kamu?” tanya Firdaus saat panggilan teleponnya telah tersambung.


“Di parkiran rumah sakit, Tuan” jawab Anton.


“Parkiran rumah sakit?” tanya Firdaus. “Kamu gak pulang?” tebak Firdaus.


“Iya, Tuan. Saya sengaja menunggu di mobil. Takut jika Tuan membutuhkan saya tengah malam,” ujar Anton memberi tahu.


“Hmm, baguslah. Sekarang kamu datang ke UGD, saya tunggu,” ujar Firdaus dan memutuskan panggilannya.


Anton yang berada di parkiran pun bergegas turun dari mobil dan menghampiri sang bos yang berada di


dalam UGD. Tak sulit bagi Anton untuk menemukan keberadaan sang bos, karena setiap pagi, tirai pembatas pada setiap bed pun di buka agar mempermudah pekerjaan office boy membersihkan ruangan tersebut.


“Tuan,” sapa Anton sambil memberi hormat.


“Hmm, kamu tunggui dia di sini. Pastikan jika wanita ini tidak akan ke mana-mana,” titah Firdaus dan meninggalkan Milea bersama Anton.


Milea pun menatap bingung ke arah Anton, kemudian memperhatikan punggung Firdaus yang semakin menjauh.


“Nona baik-baik saja?” tanya Anton untuk menyapa Milea.


“Ya,” jawab Milea dengan tersenyum.


Melihat wajah Milea yang cantik dan imut, pria itu pun langsung tertarik kepada wanita yang saat ini berada di hadapan sang bos.


“Nona sudah sarapan?” tanya Anton.


“Belum,” jawab Milea kembali dengan tersenyum. “Duduk saja, kenapa harus berdiri?” tanya Milea.


“Tidak apa-apa, saya sudah biasa berdiri lama,” jawab Anton. “Ah ya, perkenalkan nama saya Anton,” ujar Anton sambil memperkenalkan dirinya.


“Milea,” balasnya sambil menerima uluran tangan Anton.


“Nama yang cantik,” puji Anton.


“Terima kasih,” jawab Milea dengan tersenyum tipis.


Tak berapa lama Firdaus pun keluar dari dalam kamar mandi dan kembali bergabung bersama Milea dan Anton.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Firdaus saat melihat Anton dan Milea tertawa bersama.


“Tidak ada, Tuan. Hanya percakapan kecil saja,” ujar Anton memberi tahu.


Firdaus pun menghela napasnya pelan, pria itu pun langsung menyuruh Anton untuk menanyakan kapan Milea bisa pulang. Anton pun bergegas menghampiri perawat untuk bertanya, tak berapa lama pria itu pun kembali untuk menyampaikan apa yang ingin di ketahui oleh Firdaus.

__ADS_1


“Tunggu dokter datang dan memerika Nona Milea,” uajr Anton memberi tahu.


__ADS_2