Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 30 – Malu


__ADS_3

“Tu-tunggu.” Milea kembali menahan tubuhnya di pintu.


“Apa lagi?” tanya Firdaus dengan kesal.


“Sa-saya ambil pakaian saya dulu, Pak. Kalau gak ada pakaian, gimana besok saya mau ganti baju setelah  mandi?” ujar Milea yang mana membuat Firdaus menghela napasnya dengan pelan.


“Hmm, baiklah. Cepat kamu packing semua baju-baju yang kamu perlukan,” ujar Firdaus dan melepaskan


tangan Milea. “Saya kasih kamu waktu lima menit.”


“Hah? Lima menit? Cepat amat, Pak? Sejam ya,” pinta Milea.


“Lima menit atau saya langsung seret kamu sekarang juga,” ujar Firdaus dengan dingin.


“Iya .. iya .. lima menit. Wait,” ujar Milea dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Milea pun mengambil tas dan langsung memasukkan baju-bajunya. Lagi pula, di dalam lemari pun baju-baju Milea tak begitu banyak, jadi gadis itu pun memasukkan semua bajunya ke dalam tas tenteng berukuran lumayan besar dan mampu menampung seluruh baju-bajunya yang ada di dalam lemari. Berhubung bajunya tak banyak, hal itu pun tak memakan waktu banyak baginya untuk mempacking semua pakaiannya.


“Oke, selesai,” lirih Milea. “Eh, ganti baju gak ya?” ujarnya dan menatap tampilan dirinya yang memakai pakaian rumahan saja.


“Hmm, pakai rok aja deh, masa iya masuk ke gedung mewah pakai celana pendek gini. Bajunya gak usah


ganti, lagian sampai apartemen, langsung tidur juga,” ujar Milea dan langsung mengenakan rok panjang untuk menutupi kaki putih mulusnya.


“Lea---,”


“Ya, Pak, saya sudah siap,” ujar Milea dan keluar dari kamar.


Firdaus menatap tampilan Milea dari atas hingga ke bawah.

__ADS_1


“Kamu gak ganti pakaian dengan yang lebih baik?” tanya Firdaus.


“Gak usah, Pak. Lagian sampai apartemen, saya langsung tidur juga kan?” ujar Milea.


“Kamu yakin gak mau ganti pakaian lain yang lebih bagus?” tanya Firdaus.


“Gak papa, Pak. Gak ada yang peduli juga kok dengan saya,” jawab Milea lagi.


“Saya belum makan, jadi kita pergi makan dulu di restoran. Kamu yakin pakai pakaian seperti itu?”


“Udah malem juga, Pak. Siapa yang peduli juga dengan pakaian saya begini. Lagian bakal gak ada yang perhatiin juga,” jawab Milea dengan keras kepalanya. Dalam pikiran Milea, pastinya Firdaus akan membawanya ke restoran biasa, bukan restoran mewah. Lagi pula, ngapain bosnya itu membawa dirinya makan ke restoran mewah.


“Hmm, baiklah. Jangan menyesal kamu nanti,” lirih Firdaus dan melangkah pergi keluar dari rumah kumuh yang di tempati oleh Milea.


Milea pun mengikuti sang bos dengan membawa tasnya yang berat itu. Sedikit pun Firdaus tidak menawarkan bantuan untuk mengangkat tasnya yang terlihat berat. Tapi ya sudah lah, itu bukanlah hal yang perlu di permasalahkan oleh Milea.


Firdaus membuka bagasi mobilnya, menyuruh Milea memasukkan tas milik gadis itu di sana.


“Gak bisa, lagian saya gak punya mobil, jadi mana mungkin saya bisa nyetir,” jawab Milea.


“Hmm, baiklah kalau begitu, mulai besok kamu akan saya daftarkan ke kelas mengemudi,” ujar Firdaus dan masuk ke dalam mobil.


“Hah? Kelas mengemudi?” lirih Milea.


Milea pun menyusul Firdaus untuk masuk ke dalam mobil. “Bapak mau mendaftarkan saya ke kelas mengemudi? Buat apa? Mending gak usah deh, Pak. Lagian saya gak berniat untuk membeli mobil. Bayar pajaknya mahal. Lagi pula, kelas mengemudi itu bukannya murah, kasihan aja gitu kalau saya harus menghabis-habiskan uang untuk hal yang tidak penting begitu,” cibir Milea.


“Emangnya saya ada bilang kalau kamu yang akan membayar biaya kelas mengemudi?” tanya Firdaus menoleh ke arah Milea.


“Lalu?”

__ADS_1


“Saya mau kamu belajar mengemudi, karena saya tidak suka menyetir pada malam hari. Jadi, kamu perlu bisa menyetir mobil untuk keperluan saya,” ujar Firdaus dan mulai menjalankan mobilnya.


“Bapak kan bisa bayar supir!” ujar Mila.


“Saya gak suka orang asing mengetahui kehidupan pribadi saya,” ujar Firdaus.


“Saya kan ornag asing, Pak,” jawab Milea yang mana membuat Firdaus menoleh sekilas.


“Kamu itu punya perjanjian dengan saya. Itu jelas berbeda dengan supir. Kamu paham?” tanya Firdaus yang di jawab gelengan oleh Milea.


“Enggak paham.”


“Huff, ya sudah kalau gak paham. Diam saja kamu di situ dan jangan banyak bicara,” ujar Firdaus yang di angguki oleh Milea.


Tak berapa lama mereka pun tiba di sebuah restoran mewah dan berbintang.


“Bapak yakin makan di sini?” tanya Milea.


“Kenapa? Kamu pikir saya gak punya uang untuk membayar makanan di restoran ini?” ketus Firdaus.


“Bukan gitu, saya pikir Bapak akan makan di restoran biasa aja gitu,” lirih Milea.


“Sudah, cepat turun. Lagi pula saya sudah memperingatkan kamu sedari tadi.”


“Apa sebaiknya saya tunggu Bapak di mobil aja?” tawar Milea.


“Kenapa memangnya kalau kamu turun? Malu?” tanya Firdaus dengan tersenyum miring.


“Saya sih gak malu dengan penampilan saya, Pak. Tapi, saya takutnya Bapak yang malu membawa saya,” ujar Milea. “Bapak makan sendirian aja di dalam, saya tunggu di mobil aja.”

__ADS_1


Firdaus pun terlihat berpikir, apa yang di katakan oleh Milea ada benarnya juga. Bukannya Milea yang merasa malu, tetapi dirinya lah yang akan merasa malu dengan penampilan Milea.


“Ya sudah kalau begitu, kita take away aja.”


__ADS_2