Gadis Bermata Kucing

Gadis Bermata Kucing
Bab. 12 – Dia bukan Istri saya


__ADS_3

“Bapak bisa menunggu di sini. Dokter akan memeriksa keadaan istri Bapak,” ujar perawat saat Firdaus ingin masuk ke ruang perawatan.


“Istri? Dia bukan istri saya,” pekik Firdaus saat perawat membawa masuk Milea ke dalam ruang tindakan.


“Enak aja bilang dia istri aku, gak level banget sama cewek gak jelas gitu,” gerutu Firdaus dan mengisi formulir pendaftaran pasien.


“Siapa nama wanita itu?” lirih Firdaus, kemudian pria itu mengingat jika tas milik Milea berada di dalam mobilnya.


Firdaus pun mengambil tas milik Milea yang berada di dalam mobilnya. Pria itu merogoh tas tersebut untuk mencari tanda pengenal dari si pemilik tas.


“Ketemu,” lirihnya pelan. Di bacanya nama Milea secara lirih. “Milea Syaputri. Hmm, lumayan bagus namanya.”


Firdaus bergegas kembali ke dalam rumah sakit untuk mengisi kembali data lengkap Milea. Setelah mengisi formulir, pria itu pun memilih duduk di kursi tunggu. Tak berapa lama, perawat keluar dan memanggil Firdaus untuk menjenguk Milea.


“Bapak Firdaus,” panggil perawat.


“Ya, saya,” jawab Firdaus dan berdiri menghampiri sang perawat.


“Silahkan temui Dokter dan melihat keadaan istri Bapak,” ujar perawat tersebut.


“Dia bukan istri saya,” geram Firdaus yang mana membuat perawat tersebut mengendikkan bahunya.


Dengan perasaan kesal, Firdaus masuk ke ruang tindakan untuk menemui Dokter.


“Bapak Firdaus? Suami dari Nyonya Milea?” tanya Dokter.


“Ya, saya Firdaus. Tapi sa---“


“Jadi begini, Pak. Nyonya Milea saat ini sedang tidak sadarkan diri karena pasokan oksigen yang tak sampai ke pembuluh darah otaknya. Maka dari itu, beliau kehilangan kesadarannya,” ujar Dokter menjelaskan.


“Sebelumnya saya ingin bertanya, apa Nyonya Milea mengalami trauma sebelumnya?” tanya dokter.


“Saya gak tau,” jawab Firdaus dengan kesal.


“Hmm, sebaiknya Pak Firdaus ini harus lebih perhatian kepada istrinya. Hal sekecil apa pun sebaiknya di perhatikan,” ujar Dokter yang mana membuat Firdaus semakin kesal.


“Saya buk---,”


Lagi, ucapan Firdaus pun kembali terpotong oleh dokter. “Baiklah kalau begitu, hanya ini yang ingin saya sampaikan. Malam ini biarkan Nyonya Milea bermalam di sini hingga beliau sadar. Tolong di jaga dengan penuh cinta istrinya ya, Pak,” ujar Dokter dan berlalu meninggalkan Firdaus yang masih terbengong menatap punggung sang dokter yang semakin menjauh darinya.


“Istri? Dia bukan istri saya,” pekik Firdaus dengan kesal sehingga membuat beberapa pasien, suster, dan dokter yang berada di ruang darurat itu menoleh ke arahnya. Firdaus pun menarik tirai pemisah karena merasa kesal dengan tatapan dari semua orang.

__ADS_1


“Aneh, istri sendiri gak di akui. Padahal waktu pertama datang paniknya luar biasa,” bisik perawat di balik tirai.


“Iya, atau jangan-jangan mereka masih pacaran kali’ ujar perawat yang lainnya.


“Mungkin juga sih.”


Firdaus yang mendengar bisik-bisik tersebut pun merasa gerah. Dia pun berniat untuk keluar dari ruangan tersebut. Namun, saat dia menarik tirai, semua mata langsung tertuju kepadanya, sehingga membuat dirinya mengurungkan niat untuk keluar dari ruang tindakan Milea.


“Dasar merepotkan,” gerutu Firdaus sambil menatap kesal wajah Milea yang pucat dengan mata yang tertutup.


*


Milea menggerakkan tangannya, perlahan wanita itu membuka matanya dan menutupnya kembali di saat melihat silau lampu yang menyorot tepat ke arah matanya.


“Kamu sudah sadar?” tanya suara bariton yang mana membuat Milea memaksa membuka matanya dengan


cepat.


“Akkh ... “ ringis Milea sambil memegangi kepalanya.


“Saya panggilkan dokter dulu,” ujar Firdaus dan meninggalkan Milea.


“Aku kenapa bisa di rumahsakit?” lirih Milea bertanya kepada dirinya sendiri saat melihat keadaan sekitarnya, di tambah lagi aroma obat –obatan yang sangat menyengat dalam hidungnya.


telah sadar.


“Bagaimana? Apa masih terasa sesak?” tanya dokter kepada Milea.


Milea pun refleks menarik napasnya dan merasakan pasokan udara yang masuk ke dalam paru-parunya. “Udah lumayan gak, Dok,” jawab Milea.


“Baiklah, ini oksigennya di pakai saja dulu selama dua jam. Nanti baru akan kita lepas ya,” ujar Dokter memberi tahu yang mana membuat Milea menganggukkan kepalanya.


“Atau ada kendala lain? Pusing?” tanya Dokter.


“Gak dok, saya cuma lapar aja saat ini,” ujar Milea sambil menyengir dan saat yang bersamaan, perutnya pun berbunyi, menandakan jika dirinya tak sedang berbohong.


Dokter dan perawat pun mengulum senyumnya di saat mendengar suara perut Milea yang sangat besar.


“Pak Fir, sebaiknya Bapak mencari makanan untuk istrinya. Kasihan dia kelaparan,” ujar Dokter sambil mengulum senyumnya.


“Bukankah sudah saya katakan, jika dia bukan istri saya?” kesal Firdaus.

__ADS_1


“Entah lah, tapi di mata saya kalian terlihat seperti pasangan suami istri yang sangat serasi sekali,” kekeh Dokter yang mana membuat Firdaus semakin kesal.


“Saya bukan istrinya, Dok,” ujar Milea memberi tahu.


“Benarkah?” tanya sang dokter yang di angguki oleh Milea.


“Syukurlah, jika Anda istrinya, maka saya merasa iba sekali karena suami anda ini tidak peka terhadap kehidupan sang istri,” ujar Dokter sambil terkekeh.


“Sudah selesai meledek saya, Dok?” tanya Firdaus dengan kesal.


“Maaf, saya hanya bercanda saja,” ujar dokter dan pamit undur diri dari hadapan Milea dan Firdaus.


Setelah kepergian dokter, Milea menatap wajah sang bos yang saat ini malah duduk santai di kursi sambil menatap layar ponselnya.


“Pak,” panggil Milea.


“Hmm?” jawab Firdaus dengan gumaman.


“Bapak gak niat beliin saya makanan?” tanya Milea yang merasa jika perutnya saat ini sudah terasa sangat perih sekali.


Firdaus menatap Milea dengan tajam, sehingga pria itu berdiri dan mendkati gadis yang tengah terbaring di atas brankar dengan menatapnya polos.


“Kamu pikir kamu siapa, hah?” ujar Firdaus dengan suara yang tertahan.


“Sa-saya Milea, Pak, karyawan Bapak di kantor,” jawab Milea.


“Bagus kalau kamu sadar jika kamu hanya karyawan saya. Jadi kamu tidak punya hak untuk memerintahkan


saya,” geram Firdaus dan kembali duduk di kursinya.


Milea mencibir pelan sambil menatap kesal sang bos. Saat ini perutnya benar-benar lapar sekali. Wanita itu pun menyentuh perutnya yang kembali keroncongan. Milea kembali melirik ke arah Firdaus yang saat ini tengah fokus menatap ponselnya. Wanita itu benar-benar geram kepada bos yang tak memiliki hati nurani sedikit pun di


saat dirinya benar-benar kelaparan.


“Hmm, gimana ya kalau orang-orang pada tau? Jika ada bos yang membuat karyawannya kelaparan hingga


meninggal dunia,” lirih Milea sambil melirik ke arah Firdaus.


Terdengar suara berdecak dari sang bos, yang mana pria itu langsung mengangkat wajahnya dan menatap wajah Milea.


“Kamu mau makan apa?” tanya Firdaus yang tak ingin nama baiknya tercoreng karena hal sepele.

__ADS_1


Milea pun tersenyum dengan lebar. “Saya mau nasi goreng pake rendang,” ujar Milea dengan senyum yang merekah.


__ADS_2