
Urusan tanda tangan telah selesai, Milea pun harus kembali bergegas untuk pergi bekerja. Dia sudah sangat terlambat dan bisa di pastikan jika Popo akan memarahinya.
"Kalau begitu saya permisi ya, Pak. Berhubung urusan kita sudah selesai dan jelas," ujar Milea.
"Mau ke mana kamu buru-buru?" tanya Firdaus.
Milea memutar bola matanya malas. Ya kerja lah, Pak. Masa mau tidur," cibir Milea.
"Hari ini kamu libur. Saya sudah menyuruh Anton untuk membuat surat sakit," terang Firdaus.
"Hah? Serius, Pak?? Alhamdulillah," seru Milea pelan di akhir kalimatnya.
"Kenapa? Senang banget kamu libur," tanya Firdaus.
"Iya, Pak. Saya belum istirahat sejak dua hari ini. Lembur terus dan pulangnya larut malam, terus pagi-pagi harus kembali ke studio. Capek, Pak. Jadi ya hari ini saya bisa istirahat," ujar Milea.
"Siapa bilang kamu bisa istirahat?" tanya Firdaus.
"Lah, kan saya libur, Pak. Baru keluar dari rumah sakit juga kan?" ujar Milea dengan memberikan alasan yang sangat tepat sekali.
"Ya, kamu memang libur dan baru keluar dari rumah sakit. Tapi, hari ini kamu harus bergegas untuk berpindah tempat tinggal," titah Firdaus.
"Apa???" pekik Milea dengan terkejut.
__ADS_1
"Aduuh, Pak. Saya masih kurang enak badan ini, jadi saya masih butuh istirahat," keluh Milea dengan membuat suara dan tubuhnya seolah-olah lemas.
Firdaus berdiri, kemudian pria itu berjalan mendekat ke arah Milea.
"Kalau kamu lah, maka tidurlah," bisik Firdaus. "Dan saat kamu terbangun sudah berada di atas ranjang saya tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh kamu, kamu jangan salahkan saya," ujar Firdaus sambil membelai rambut Milea.
Milea mengerjapkan matanya, wanita itu dengan cepat mendorong tubuh sang bos dan berdiri dengan tegap.
"Ha.. ha.. ha.. tiba-tiba saja saya sudah baikkan," ujar Milea sambil tertawa. "Baiklah, kapan kita akan berberes tempat tinggal yang baru?" tanya Milea.
*
Milea menatap apartemen yang terlihat rapi dan bersih. Wanita itu sampai bingung harus melakukan apa.
"Waah, ini bagus banget, Pak." seru Milea dengan tersenyum lebar.
"Baiklah. Apartemen kamu dan apartemen saya hanya berbeda tiga lantai. Jadi, ini tidak sulit bagi kamu untuk datang setiap pagi dan memasakkan sarapan untuk saya kan?" tanya Firdaus.
"Iya, Pak." jawab Milea.
"Eng, ngomong-ngomong soal sarapan, saya jadi lapar, Pak," kekeh Milea.
Firdaus baru menyadari jika mereka belum sarapan pagi ini, sedangkan Milea hanya meminum teh hangat saat mau keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kamu sudah bisa mulai memasak pagi ini untuk saya," titah Firdaus.
"Hah? Sekarang? Gak boleh mulai besok aja, Pak?" tanya Milea.
"Jangan membantah, cepat masak," titah Firdaus dan mendudukkan dirinya di sofa.
Milea mengerutu kesal, wanita itu pun berjalan menuju dapur dan membuka lemari pendingin.
"Pak," panggil Milea.
"Ya?" jawab Firdaus tanpa menoleh ke arah wanita yang memanggilnya.
"Kulkasnya kosong," ujar Milea.
Firdaus menghentikan gerakan tangannya yang sedang berselancar di layar pilihnya itu, pria itu pun melirik ke arah Milea yang masih berdiam diri di depan lemari pendingin.
"Hmm, baiklah. Mari kita belanja," ajak Firdaus.
"Apa? Belanja?"
Milea benar-benar terkejut, saat ini perutnya sudah sangat terasa lapar. Dia tak ingin jika maagnya kembali kambuh karena terlambat makan, itu bisa mengakibatkan semua pekerjaannya menjadi terganggu. Di tambah lagi, Popo akan memarahinya karena tak menjaga kesehatan. Padahal bos kemayunya itu sudah memberikan obat maag yang sangat paten, agar Milea tak kembali sakit.
Dengan terpaksa, Milea pun mengikuti perintah sang bos anehnya itu. Mereka pergi berbelanja ke supermarket yang ada di apartemen tersebut. Tak lupa, Milea menggunakan maskernya agar tak ada yang melihat dirinya bersama sang bos.
__ADS_1