Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 10: Mempercepat Pernikahan


__ADS_3

Wei membuka kedua matanya perlahan saat merasakan ada benda cair di dahi dan tangan kirinya. Saat ini Wei sangat terkejut tatkala melihat ke arah lantai dimana terdapat para pelayan dan wanita berpakaian putih sedang bersujud menghadap dirinya yang masih berbaring.


Seseorang tabib menyadari jika Wei sadar dari pingsannya yang kurang lebih sudah hampir 4 jam. Mereka semua langsung memohon ampunan pada Wei, berkali-kali sampai gadis itu beranjak untuk duduk.


Wei sedikit meringis saat merasakan dahi dan tangan kirinya nyeri. Dia mengingat kejadian sebelumnya, saat ingat Wei lantas menghela napasnya.


"Ini semua bukan salah kalian, aku sekarang sudah baik-baik saja." tutur lembutnya yang menyejukkan hati. Dalam hati Wei juga membenarkan bahwa dia terluka adalah karena kesalahannya sendiri.


"Bagaimana mungkin itu kesalahan calon permaisuri? Kami yang bersalah karena tidak menjaga calon permaisuri dengan baik. Bunuh saja kami, calon permaisuri, kami pantas untuk mati!" seru seorang pelayan di barisan paling belakang.


Gadis di atas ranjang itu menundukkan kepala sebentar, membuat semua yang ada disana bergetar ketakutan karena tidak mendapatkan jawaban.


"Apa hidup kalian tidak berharga? Aku memang anak dari budak miskin tapi jika aku tidak bersalah maka aku tidak akan meminta ampunan untuk nyawaku atau memohon agar di bunuh. Kalian tahu kenapa? Karena hidupku adalah yang paling berharga dan tidak akan pernah bisa dinilai. Apa kalian merasa takut atau merasa tidak mempunyai kekuatan untuk membela diri sendiri?" ujar Wei dengan bijaksananya seraya menatap satu-persatu perempuan yang sujud di hadapannya.


Ya, Wei memang gadis seperti itu. Jika dia tidak bersalah maka dia akan dengan tegas memperjuangkan keadilan. Tidak peduli perbedaan status mereka sejauh apa, dia akan tetap mencari keadilan. Karena itu Jiang dan Yihan kerap kali melarangnya untuk keluar dari hutan apa lagi pergi ke tempat keramaian agar Wei tidak membuat masalah dengan bangsawan.


Semua pelayan dan tabib semakin menunduk, namun dalam kepala berusaha mencerna ucapan Wei.


"Ketakutan akan menghancurkan semuanya. Jika kalian takut, kalian tidak akan bisa mendapatkan kekuatan apa lagi memperjuangkan keadilan." tambah Wei seraya mengalihkan pandangan ke arah lukisan bunga krisan di dekat jendela.


"Mohon maaf jika hamba lancang, calon permaisuri, tapi kami memang salah karena tidak menjaga calon permaisuri dengan baik. Kami tidak bisa membenarkan diri kami setelah kekacauan terjadi hari ini." kali ini pelayan yang ada di barisan tengah berbicara.

__ADS_1


"Sudah aku katakan jika itu bukan kesalahan kalian. Apa kalian benar-benar ingin disalahkan?" tanya Wei dengan dada turun naik merasa kesal dengan pelayan yang ada di istana. Apa semua pelayan disini selalu melimpahkan kesalahan ke diri mereka padahal mereka tidak bersalah? Hal itu benar-benar membuat Wei muak meskipun dia belum sampai sehari berada di istana.


"Mohon ampuni kami, calon permaisuri!"


Hening sesaat karena Wei berusaha mengatur emosinya. Gadis itu entah kenapa ingin sekali merubah pola pikir pelayan yang ada di istana. Dia hanya ingin orang-orang lebih menghargai diri sendiri daripada harus memohon ampunan untuk kesalahan yang tidak mereka perbuat.


Saat Wei akan berkata lagi, tiba-tiba kasim kaisar berteriak dari luar rumah. "Beri hormat untuk kaisar!"


Pintu kamar dibuka oleh Xian, menampilkan Fengying yang berdiri di depan pintu dengan gagahnya. Wajahnya tidak semarah tadi, kini dia tampak lebih tenang.


Para pelayan memberi jalan untuk Fengying sambil bersujud. "Kami memberi hormat untuk kaisar!"


Saat Fengying berjalan mendekatinya, Wei segera berdiri dan membungkukkan badan untuk memberi hormat. Mulutnya dibuat bungkam saat Fengying tiba-tiba memeluknya dengan erat seolah takut kehilangan.


Wei benar-benar tidak mengerti kenapa Fengying memeluk dirinya dan kenapa saat ini jantungnya berdetak dengan cepat. Mungkinkah dia telah jatuh cinta pada calon suaminya? Atau... ah, gadis itu sangat tidak paham. Tubuhnya seolah mati rasa sehingga kini dia tidak membalas pelukan Fengying.


Fengying mengusap rambut lurus Wei yang tergerai. "Aku pikir aku akan kehilangan permaisuri lagi. Aku benar-benar ketakutan sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih."


Pria itu melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah Wei dengan kedua tangannya. Dia memperhatikan wajah yang ada dalam genggamannya dengan tatapan lega bercampur khawatir. Itu membuat gadis di depannya seketika di serang rasa malu yang luar biasa. Kedua pipinya sudah memerah yang kembali membuat Fengying khawatir.


"Kau jangan membuatku khawatir lagi, Wei. Jantungku hampir terlepas dari tempatnya saat melihat kau terbaring lemah di atas tempat tidurmu. Aku mohon jangan seperti itu lagi,"

__ADS_1


Wei membulatkan kedua matanya, secepatnya dia langsung membungkukkan badan. "Mohon maafkan aku karena sudah membuat kaisar khawatir. Aku tadi hanya ingin memetik buah pir tapi tanpa sengaja aku terjatuh ke kolam ikan dan pingsan. Aku memohon sepenuh hati pada kaisar untuk memaafkan aku!"


Fengying mendudukkan Wei di tepian ranjang dengan dirinya duduk di hadapan Wei. Mereka terdiam cukup lama karena Fengying fokus menatap wajah Wei. Dia mengembuskan napas kasar saat melihat ada darah di perban yang terikat di kepala Wei. Dia tidak suka melihat Wei terluka karena gadis itu sangat berharga untuknya. Fengying mendekatkan wajahnya ke wajah Wei membuat gadis itu refleks segera menjauh.


Namun Fengying menarik pinggangnya sehingga dia tidak bisa kemana-mana. Wajah mereka hanya berjarak lima centimeter saja saat ini. Fengying menatap mata Wei dengan tatapan hangat dan lembut namun membuat Wei menahan gejolak di dadanya setengah mati. Jantung Wei berdetak dengan sangat cepat seolah akan terlepas dari tempatnya sebentar lagi. Perasaan aneh yang dirasakan Wei itu seketika membuatnya tersihir dengan ketampanan wajah Kaisar Fengying.


"Apa kau sangat ingin memakan buah pir?" ujar Fengying. "Jika kau sangat ingin memakannya, katakan saja padaku. Aku akan mendatangkan buah pir terbaik di negeri ini agar kau tidak perlu memetiknya sendirian."


Wei tidak mampu berkata-kata. Bagaimana dia mampu bicara saat jarak mereka hanya beberapa centimeter saja? Bahkan untuk bernapas saja Wei kesusahan.


"Aku..." Wei menggantung ucapannya saat Fengying menatapnya semakin dalam. Dia langsung meneguk saliva karena merasakan gugup dan malu yang bercampur aduk.


Fengying yang paham seketika langsung tersenyum, setelah itu dia menjauhkan tubuhnya dari Wei membuat gadis itu bernapas lega.


"Aku akan memerintahkan pelayan untuk membawakan buah pir ke kediamanmu, jangan sampai aku mendengar kau terluka lagi karena memetik buah pir." peringat Fengying yang langsung di angguki kepala oleh Wei.


"Baik, kaisar. Aku mengucapkan terima kasih karena kemurahan hati kaisar." sahut Wei dengan kepala menunduk.


"Aku juga akan mempercepat pernikahan dan pelantikanmu sebagai permaisuri. Minggu depan kita akan menikah."


Wei terkejut bukan main. Tenggorokannya mengering seketika yang membuatnya batuk beberapa kali. "Minggu depan?"

__ADS_1


__ADS_2