
Di paviliun kediaman para selir, terdapat Quolin dan Baoyi yang sedang menulis. Hari ini adalah jadwal mereka berdua yang menulis dokumen untuk di serahkan kepada kaisar. Biasa mereka akan berloma menulis, siapa cepat dialah yang akan menemui kaisar.
Tapi kali ini mereka menulis dengan tidak bersemangat sama sekali karena dokumen itu nantinya akan di serahkan oleh permaisuri. Kehadiran Wei sebagai permaisuri membuat jarak kaisar dan para selir terasa semakin menjauh. Zhuan kerap kali terus terang pada selir yang lain untuk menggulingkan Wei dari posisi permaisuri. Sebenci itu mereka pada Wei yang berhasil mengambil alih semuanya dalam semalam.
Baoyi meletakkan kuas ke dalam tempat tinta, dia kemudian menatap Quolin yang masih menulis. "Apa kau belum selesai, selir kedua?" tanyanya yang membuat kegiatan Quolin terhenti.
"Hm, belum. Kau cepat sekali, selir ketiga. Apa kau lupa jika dokumen ini akan diserahkan langsung oleh permaisuri?"
"Tentu saja aku mengingatnya! Aku cepat menyelesaikan dokumen ini karena lapar. Lihatlah kue ini, dia sangat menggodaku dari tadi!" Baoyi mengambil kue berbentuk bulat warna hijau di dalam piring yang ada di atas mejanya.
Setelah mendengar ucapan Baoyi, Quolin terkekeh kecil. Dia dan Baoyi memiliki selera yang sama. Soal makanan mereka berdua tidak terkalahkan. Begitu juga dengan pakaian dan pernak-pernik di tubuh mereka.
"Ah, sudah lama aku tidak bertemu dengan kaisar. Aku sangat merindukannya, apa kau juga begitu, selir kedua?" ujar Baoyi setelah menelan kue yang tadi di makannya.
"Tentu saja aku merindukannya. Tapi kita hanya selir yang di anggap rendah, kaisah sudah pasti mementingkan permaisuri meskipun hanya menjadikannya alat untuk mencapai kekuasaan." sahut Quolin sambil lanjut menulis dokumen.
Baoyi membaringkan tubuhnya di atas lantai paviliun. Matanya menatap ke arah atap seraya makan kue. Hal itu membuat Quolin menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Sudah berapa kali aku memberitahumu untuk tidak makan sambil berbaring? Kau memang susah sekali untuk mendengar nasehatku, selir ketiga." ketus Quolin seraya menatap Baoyi yang sangat santai berbaring sambil makan kue.
__ADS_1
Tidak ada respon dari Baoyi. Dia sangat menikmati kue yang di makannya saat ini.
"Apa kita akan berakhir sama seperti selir terdahulu? Mati di penjara dingin dan tidak akan mendapatkan penghormatan terakhir." ujar Baoyi tiba-tiba sambil duduk kembali. Matanya menatap Quolin dengan serius seolah pertanyaan itu memang sangat penting.
"Tergantung bagaimana kau membawa dirimu di istana ini dengan status selir. Jika kau melakukan kejahatan yang menghancurkan anggota keluarga, kau tentu akan mati di penjara dingin tanpa mendapatkan penghormatan terakhir. Budak saja masih mendapatkan penghormatan terakhir dari keluarganya." Quolin meletakkan kuas ke dalam tempat tinta, kemudian dia mengangkat kertas yang tadi dia isi dengan tulisan.
Terpancar senyum manisnya, kedua pipinya bersemu merah saat membaca tulisannya sendiri. Hal itu mengundang perhatian Baoyi, dia kemudian merebut kertas tersebut dari tangan Quolin.
"Hei, kembalikan kertasku, selir ketiga!" teriak Quolin sambil berusaha merebut kembali kertasnya dari tangan Baoyi.
Baoyi menggeleng-gelengkan kepala setelah membaca kertas tersebut. Dia memukul kepala Quolin yang membuat Quolin mengerutkan dahinya. "Apa kau tidak takut pada selir pertama jika dia membaca suratmu untuk kaisar ini? Aku juga tidak ingin mematahkan harapanmu, tapi surat-surat kita tidak ada satu pun yang di balas."
Ya, Quolin menulis surat untuk kaisar yang meminta kaisar datang ke kamarnya. Dia sudah beberapa kali menulis surat, tidak hanya dia, tapi semua selir. Satu pun tidak ada yang di balas oleh Fengying. Dia bahkan tidak pernah mengunjungi kediaman selir.
"Ya, dia memang suamimu. Ah, aku bahkan tidak bisa untuk jatuh cinta padanya karena sikap dinginnya. Sepertinya aku akan memilih menyerah untuk berjuang. Aku akan mendukung kau, selir pertama, dan selir keempat untuk mendapatkan hati kaisar." ucap Baoyi dengan santainya.
Quolin hanya mengangkat bahu pertanda dia tidak peduli. Toh, tidak mungkin Baoyi akan menyerah berjuang begitu saja. Semua selir tahu jika Baoyi diam-diam mengirim makanan ke kediaman kaisar tapi tidak pernah dimakan oleh kaisar. Begitulah mereka di mata kaisar. Ada tapi tidak disapa dan dilupakan seolah tidak pernah ada.
"Saat di paviliun kediaman permaisuri tadi, apa kau menyadari jika permaisuri bukan orang biasa? Aku tidak mengatakan dia anak bangsawan yang terpelajar, tapi lihatlah cara dia berpikir tadi. Putri Xiahe bahkan tidak bisa berkata-kata." ucap Baoyi yang membuat Quolin terkekeh kecil.
__ADS_1
"Pemikiran permaisuri memang menyelamatkan rakyat miskin, tapi akan membuat para bangsawan membencinya. Sekarang aku tanya, siapa yang lebih berpengaruh pada negeri ini? Rakyat miskin atau para bangsawan?" ucapan Quolin barusan membuat pikiran Baoyi terbuka. Dia tersenyum bahagia dengan mata berbinar.
"Ah, aku mengerti sekarang!" seru Baoyi.
Quolin merapikan mejanya, setelah itu dia mengambil kue di atas meja Baoyi dan memakannya. "Aku yakin permaisuri tidak akan bertahan lama membayangkan bagaimana sikap para bangsawan terhadapnya nanti. Aku tidak sabar menunggu hari itu!"
Dari jembatan, terlihat Annchi yang berjalan ke arah paviliun dengan wajah kesal. Di tangannya terdapat beberapa buku bersampul putih. Quolin dan Baoyi yang melihatnya tertawa dengan keras membuat raut wajah Annchi semakin kesal.
Annchi segera menaiki paviliun lantai satu dimana terdapat Quolin dan Annchi. Dia menghempaskan buku tersebut ke lantai yang membuat tawa Quolin dan Baoyi semakin keras.
"Aku benar-benar membenci putri Xiahe! Dia memerintahkanku untuk membuat laporan tentang pengeluaran selir di bulan lalu, aku berkata sudah memberikan laporan itu. Kalian ingat, kan bagaimana susahnya aku membuat laporan itu bulan lalu? Tapi apa kalian tahu respon putri Xiahe? Dia berkata bahwa aku tidak pernah memberikan laporan itu padanya!" keluh Annchi dengan dada turun naik, terlihat bahwa gadis itu sangat marah.
Annchi duduk di samping Baoyi dan langsung meminum segelas air putih di samping piring kue. Setelah itu dia mengatur napasnya. "Dia kemudian menyuruhku membuat ulang laporan itu dan menulis permintaan maaf sebanyak satu buku! Aku tahu dia marah karena pertemuan di kediaman permaisuri tadi, tapi tidak seharusnya dia melampiaskan kemarahan padaku!"
Quolin mengambil buku-buku yang dibawa Annchi, kemudian memberikannya kepada Annchi. "Sayang sekali kami tidak bisa membantumu mengerjakan semuanya. Jadi, kali ini kau harus mengerjakannya sendirian." ucap Quolin yang membuat bahu Annchi merosot turun.
"Kenapa tidak ada dayang pribadi untuk selir? Seandainya ada, pasti aku tidak perlu kesusahan seperti ini. Menyebalkan sekali!" Annchi membaringkan kepalanya di meja dengan posisi miring menghadap tumpukkan meja.
Baoyi mengusap bahu Annchi. "Selir di minta untuk mandiri mengerjakan semuanya tanpa bantuan dayang. Kita harus menerima aturan itu, selir keempat."
__ADS_1
Mereka sama-sama menghela napas panjang. Membicarakan bagaimana penderitaan selir memang tidak akan ada habisnya. Tapi begitulah takdir yang harus mereka jalani. Semarah apa pun mereka, tidak akan bisa membuat semuanya berubah.
"Beri hormat untuk putri Xiahe!"