
"Kau siapa?" ujar Wei sambil terus memundurkan langkahnya.
Pria itu menahan tangan Wei dan langsung mendekatkan pisau ke leher Wei. "Jika kau berteriak, aku akan langsung menyayat lehermu!" ancamnya yang membuat Wei meneguk salivanya.
Wei tidak pernah menyangka pria itu akan datang ke kediaman permaisuri dan mengancam untuk membunuhnya. Entah kenapa pria itu sangat ingin membunuhnya, mungkinkah benar jika dia musuh kaisar?
"Apa yang kau inginkan?" Wei memberanikan diri untuk menatap mata pria di hadapannya.
"Aku akan membawamu sebagai jaminan agar kaisar turun dari posisinya!"
Mendengar hal itu membuat Wei mengerti maksud pria itu memberikan surat ancaman lewat anak panah tadi. Musuh Fengying sangat menginginkannya turun.
Wei mencengkram kuat tangan pria itu yang mengarahkan pisau ke lehernya. Dengan sekuat tenaga dia menarik tangan pria itu agar semakin mendekat ke lehernya. Pria itu tentu saja terkejut dan berusaha menarik tangannya kembali.
Saat pisau itu sedikit lagi akan mengenai leher Wei, gadis itu berhenti. Dia tersenyum saat mendapati wajah pria itu panik meskipun tertutupi setengah. "Kematianku bahkan lebih baik daripada harus membiarkan kaisar turun dari posisinya." tukas tajam Wei dengan raut wajah yang sangat tenang.
"Tapi aku tidak akan mati begitu saja. Orang-orang sepertimu telah merusak negeri ini dan aku tidak akan tinggal diam. Kau hanya tahu aku berasal dari keluarga yang rendahan, kan?" ujar Wei yang dengan gerakan cepat menahan tangan kiri pria itu dan tangan kanan pria itu yang memegang pisau dia balikkan ke arah leher pria tersebut.
Sekuat tenaga pria itu berusaha lepas tapi tenaga Wei lebih besar. Ada kilatan kemarahan di kedua bola matanya menatap dalam ke kedua mata pria tersebut.
"Apa kau kira musuh kaisar hanya aku saja? Kami bahkan lebih banyak dari yang kau kira!" pria itu berusaha sekuat tenaga untuk lepas, tapi Wei semakin menahannya.
Ada rasa panik bercampur malu yang dirasakan pria itu. Dia terlalu yakin bahwa Wei adalah gadis lemah seperti yang lainnya, tapi dia tidak menyangka gadis yang dia kira lemah itu ternyata bisa ilmu bela diri.
"Setidaknya aku bisa menghabisi kalian satu persatu."
"Dayang! Tzuran!" teriak Wei tiba-tiba yang membuat pria itu terkejut bukan main.
__ADS_1
Kaki kanannya menendang kaki kiri Wei dengan sekuat tenaga. Wei yang tidak siap langsung terjatuh membuat tangannya terlepas dari pria tersebut. Mendengar pintu kamar akan dibuka, pria itu berlari menuju jendela kamar dan mendobraknya.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk kabur!" teriak Wei saat pria itu berhasil membuka jendela.
Pria itu melompat ke bawah dan segera berlari lewat pintu belakang yang terhubung ke jalan setapak mengarah ke gunung. Wei hanya melihat pria itu saja tanpa berusaha mengejarnya. Barusan dia terlalu berani untuk melawan musuh kaisar, dia bahkan membahayakan nyawanya sendiri.
Ruyin, Tzuran, Jiang, dan Yihan berlari menghampiri Wei yang berdiri menghadap jendela.
"Lengan permaisuri terluka!" pekik Tzuran saat mendapati lengan gaun Wei tersayat dengan darah yang mengalir turun ke bawah.
Wei menatap lengan kanannya yang terdapat luka sayatan. Pria itu benar-benar tidak ingin pergi dengan tangan kosong. Dalam waktu singkat dia bahkan menyempatkan untuk memberi minum pisaunya.
"Katakan pada kaisar jika orang itu kabur ke arah gunung sana." ucap Wei sambil menunjuk ke arah gunung yang ada di atas.
Tzuran menganggukkan kepalanya, setelah itu dia segera berlari keluar kamar.
"Seharusnya kau berteriak, permaisuri. Kenapa kau diam saja sehingga terluka seperti ini?" ujar Yihan sambil mendudukkan Wei ke sisi ranjang.
Wei menggenggam tangan kanan Yihan seraya tersenyum dengan hangat. "Ibu, aku bisa mengatasinya sendiri. Jika aku berteriak, orang tadi pasti akan langsung membunuhku. Ah, sayang sekali gaun pemberian ibu suri menjadi seperti ini." Wei kemudian mengangkat sedikit lengan gaunnya yang tersayat.
"Apa itu lebih penting daripada keselamatanmu?" tanya Yihan yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Wei.
"Dayang, tolong bawakan obat dan perban. Ibuku tidak akan tenang jika lukaku ini belum di obati." perintah Wei sambil menatap Ruyin yang berdiri tidak jauh darinya.
Ruyin menundukkan kepalanya sebentar. "Baik, permaisuri."
****
__ADS_1
Setelah mendapat kabar dari Tzuran tadi, Fengying dan para prajuritnya segera menuju ke arah Gunung Jiri yang ada di belakang kediaman permaisuri dan kediaman kaisar.
Kurang lebih setengah jam perjalanan mereka akhirnya menemukan pria yang menembakkan anak panah tadi di istana. Pria itu tergeletak di tanah dengan panah di dekatnya dan pisau kecil yang masih digenggamnya. Wajahnya penuh luka sayatan sehingga tidak berwujud lagi.
Fengying paham jika ada orang lain yang membunuh pria itu. Wajahnya di penuhi dengan sayatan agar dia tidak di kenali oleh orang lain. Jika pria itu tertangkap, musuhnya yang lain takut jika pria itu membocorkan rahasia mereka sehingga mereka memilih untuk membunuhnya.
"Dia sudah mati, kaisar." jelas seorang prajurit yang tadi memeriksa denyut nadi pria itu.
Kedua tangan Fengying terkepal. Dia benar-benar sangat marah karena selalu gagal menangkap musuhnya. "Tidak berguna sekali! Kenapa kalian selalu gagal menangkap musuhku!" bentaknya yang membuat para prajurit menundukkan kepala.
"Setiap saat mereka datang mengancam untuk membunuh orang-orang yang ada di dekatku. Siapa yang sangat ingin melihat aku turun dari posisi kaisar?!"
"Mereka bahkan tidak lebih baik dariku!"
Xian yang berada di belakang Fengying mulai berbicara yang membuat Fengying terdiam. "Kaisar, pria ini telah melukai lengan permaisuri di kediamannya tadi."
"Aku dan Xian akan kembali ke istana! Kalian tetaplah mencari musuhku di gunung ini, jangan kembali ke istana dengan tangan kosong atau aku akan memenggal kepala kalian!" teriak Fengying bak petir di siang hari.
"Baik, kaisar!"
Fengying dan Xian berjalan menuruni gunung lewat jalan setapak yang tadi mereka lewati. Sepanjangan perjalanan mereka hanya diam dengan Fengying yang berusaha meredakan amarahnya. Berendam di kolam pemandian dengan air dingin saat ini mungkin bisa meredakan panas di hatinya, tapi dia urungkan karena harus melihat kondisi Wei terlebih dahulu.
"Kenapa pria tadi tidak langsung membunuh permaisuri?" ujar Fengying tiba-tiba seolah mengharapkan Wei dibunuh.
Xian berdehem merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang di lontarkan Fengying padanya. "Hamba mendengar kabar dari pelayan pribadi permaisuri jika permaisuri mungkin melawan pria itu sehingga pria itu tidak bisa membunuh permaisuri. Hamba meyakini jika permaisuri bisa ilmu bela diri."
"Bela diri?" gumam Fengying sambil menghentikan langkahnya. Sebentar lagi dia akan sampai di kediaman permaisuri, namun ucapan Xian sangat menarik perhatiannya.
__ADS_1
Sulit baginya untuk menerima ucapan Xian tapi itu sangat menarik perhatian. Jika gadis miskin yang pernah dia puji seperti berlian itu bisa ilmu bela diri, pasti sewaktu-waktu gadis itu bisa dia gunakan untuk memperluas kekuasaannya.