
"Posisi permaisuri tidak boleh terlalu lama kosong. Di antara menteri sudah ada yang merencanakan untuk mengganti kaisar, tidak mungkin jika hanya mengganti kaisar saja. Kau yang belum memiliki kedudukan di istana ini akan menjadi sasaran empuk semua menteri." jelas Fengying menjawab kepanikan Wei.
Wei jelas saja panik karena kemarin Fengying berkata mereka akan menikah bulan depan tapi sekarang berkata akan menikah minggu depan. Semua sudah berada di depan matanya saat ini, siap atau tidak dia harus tetap menjalaninya.
"Kau tenang saja, aku akan melindungimu." Fengying mengusap rambut Wei membuat jantung si pemilik rambut kembali berdetak dengan cepat.
"Yang kaisar katakan tadi bahwa menteri berencana untuk mengganti kaisar, apakah mereka benci dengan pemerintahan kaisar?" tanya Wei karena dia lebih penasaran sehingga mengabaikan jantungnya yang berdetak dengan cepat.
Fengying terdiam cukup lama seperti sedang mencari kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Wei. Dia tidak ingin memberitahukan asal-usulnya kepada Wei meskipun nantinya gadis itu akan tahu dari mulut selir atau menteri. Jika Wei tahu sekarang, dia takut gadis itu akan menolak untuk menjadi permaisuri. Saat ini dia tidak boleh sama sekali kehilangan permaisuri lagi.
"Mohon maaf karena aku lancang bertanya kepada kaisar," Wei menundukkan kepalanya saat tidak mendapatkan jawaban dari Fengying. Sudah dua kali dia tidak mendapat jawaban tentang pemerintahan. Sudahlah, mungkin semuanya benar-benar rumit.
Kaisar Fengying hanya tersenyum, dalam hati bersorak senang karena tidak harus menjawab pertanyaan Wei. "Saat menjadi permaisuri kau akan mengerti bagaimana rasanya," Wei hanya menganggukkan kepala.
Dari luar kamar terdengar teriakan kasim. "Kaisar, ibu suri memohon izin untuk menemui calon permaisuri!"
Terlihat jelas raut wajah Fengying yang panik. Dia ragu untuk membiarkan neneknya masuk atau tidak, dia sangat kebingungan. Hal itu membuat Wei mengerutkan dahinya.
"Ada apa, kaisar?" ujarnya yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Fengying.
"Biarkan ibu suri masuk!" perintah Fengying setelah bergelut dengan pikirannya.
__ADS_1
Pintu kamar dibuka oleh pengawal, memperlihatkan seorang wanita tua dengan rambut memutih yang disanggul. Itu adalah Nui, ibu suri, ibu dari kaisar sebelumnya sekaligus nenek Fengying. Nui memakai gaun warna hijau tua dengan sulaman bunga anggrek di bagian roknya. Dia berjalan dengan anggun tanpa meninggalkan kesan yang tegas.
Wei segera berdiri untuk memberi hormat kepada Nui. "Hamba memberi hormat untuk ibu suri," ucap Wei.
"Duduklah, kau harus banyak istirahat." Nui mendudukkan Wei ke tepian ranjang, bahkan dia mengisyaratkan Fengying untuk mundur ke belakang agar memberi ruang untuknya dan Wei.
Saat Fengying sudah sedikit jauh dari ranjang, Nui segera duduk di samping Wei. Dia berdecak berkali-kali saat melihat kepala dan tangan kiri Wei yang di perban. Wajahnya yang sudah berkeriput itu meringis saat melihat kapas dengan noda darah di atas nampan dekat ranjang.
"Bagaimana kau memilih pelayan untuk melayani permaisuri? Belum sampai sehari dia disini tapi sudah terluka. Apa kau ingin kehilangan permaisuri lagi?" tanya Nui sambil menatap Fengying yang berdiri di hadapannya. Kata-kata yang keluar dari mulut Nui sangat melukai hati Fengying sehingga kini dia berlutut di hadapannya. Hal itu membuat Wei terkejut, dia langsung berjalan mendekati Fengying dan ikut berlutut di sampingnya.
"Ini bukan kesalahan kaisar, ibu suri. Mohon jangan menyalahkan kaisar," pinta Wei yang membuat Fengying langsung menatapnya.
Nui kembali berdecak kesal. "Ku beri tahu kau permaisuri, kaisar telah kehilangan dua permaisuri karena kelalaiannya dalam menjaga. Jika kau juga meninggal di kediaman permaisuri, aku bersumpah akan menurunkan kaisar dan menjadikannya budak!" tekan Nui dengan tegasnya.
Fengying mengembuskan napas dengan kasar. Dia ingin segera keluar dari sana, dadanya sangat sesak. Tapi saat melihat wajah Nui, dia tidak akan bisa keluar dari sana.
"Biar aku yang menjagamu, kau tidak boleh terluka lagi karena kau ditakdirkan menjadi permaisuri negeri ini. Jika mengharapkan kaisar bodoh ini, aku bisa menjamin hidupmu tidak akan bertahan lama." ucapan Nui bagaikan ribuan pedang tajam yang menancap di tubuh Fengying.
Pria itu mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Wajahnya memerah pertanda saat ini dia sedang menahan amarah. Wei menyadari hal itu dan dia merasa tidak enak sekaligus bingung dengan sikap Nui kepada Fengying. Bukankah mereka adalah keluarga? Tapi kenapa Wei seolah merasakan ada konflik antara Fengying dan Nui?
"Maafkan aku, ibu suri karena telah bersikap bodoh. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Fengying yang membuat Nui menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
"Kau sama saja seperti ibumu, kaisar. Kehilangan permaisuri dan tidak mendapatkan anak adalah karma dari perbuatan ibumu."
"Apa kau sudah tahu tentang asal-usul calon suamimu ini?" mata Nui beralih ke Wei yang masih menundukkan kepalanya.
Wei dengan cepat menggelengkan kepalanya karena memang dia tidak tahu sama sekali. Mendengar gelak tawa Nui membuat Wei merinding. Tawa itu terdengar sangat mengerikan, Wei memberanikan diri untuk melihat wajah Nui. Dapat dia lihat kedua mata Nui saat ini berkaca-kaca. Ada kesedihan mendalam di matanya yang menyatu dengan kemarahan.
Wei juga menatap wajah Fengying di sampingnya yang terlihat sedikit tegang dan ada kemarahan di kedua matanya.
"Apa kau takut dia akan meninggalkanmu saat tahu tentang asal-usulmu, kaisar? Karena aku sudah disini, aku sendiri yang akan menceritakannya pada permaisuri." ucap Nui setelah dia selesai tertawa.
Fengying semakin mengepalkan kedua tangannya, sungguh dia ingin pergi dari sana sekarang juga. Seolah ada api yang sedang membakar hatinya saat ini.
"Beberapa tahun lalu aku menyaksikan bagaimana kejinya perbuatan seorang selir rendahan kepada permaisuri. Guinying, selir kaisar terdahulu yang merupakan ibu kandung kaisar di sampingmu itu telah melakukan dosa yang tidak bisa diampuni." ujar Nui sambil menerawang ke masa lalu.
Mendengar Nui mulai bercerita, Fengying tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Dia hendak berdiri, namun Wei menahan tangannya sambil menggelengkan kepala. Entah kenapa pada saat itu dia luluh dan menuruti Wei. Dia memilih untuk memejamkan kedua matanya dan menulikan telinga meskipun itu sulit untuknya.
"Guinying membunuh putra permaisuri agar posisi putra mahkota jatuh ke tangan anaknya. Dia juga membunuh permaisuri yang membuat kaisar terdahulu kehilangan akal sehatnya. Anakku, putra kesayanganku meninggal setelah menuruti permintaan Guinying yang mengatakan bahwa anaknya harus menjadi kaisar di masa depan. Di sampingmu itu adalah anak dari selir pembunuh. Apa kau yakin ingin menikah dengan anak pembunuh? Sewaktu-waktu dia bisa saja membunuhmu seperti ibunya di masa lalu."
Wei tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia baru mendengar sejarah kelam di masa lalu daan saat ini berada di tengah-tengah antara kemarahan ibu suri dan kesedihan Fengying.
Sangat lama Wei terdiam dengan kepala tertunduk seperti masih mencerna ucapan Nui yang memberatkan pikirannya. Tapi kemudian Wei duduk tegak sambil menggenggam tangan kanan Fengying membuat si pemilik tangan mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Hamba..."