
Annchi menghampiri tiga selir yang sedang tertawa di paviliun mereka. Wajahnya yang masam mengundang perhatian ketiga selir yang sedang tertawa tersebut.
"Selir kedua dan selir ketiga sudah bisa tertawa, ya? Apa luka kalian sudah sembuh dalam waktu semalam?" tanyanya setelah bergabung dengan tiga selir tersebut.
Baoyi terkekeh kecil. "Kau pikir kami lemah? Tamparan putri Xiahe tidak terasa sakit sama sekali."
"Yang benar saja? Aku akan membuat kalian berhenti tertawa."
"Ada apa selir keempat? Kenapa wajahmu masam sekali?" tanya Quolin dengan lembut.
"Kaisar dan gadis miskin itu menghabiskan malam bersama! Pelayan di kediaman kaisar yang memberitahuku tadi. Kabar buruk lainnya adalah kaisar membatalkan rapat dengan alasan permaisuri sakit! Apa gadis miskin itu lebih penting daripada rapat?!"
Zhuan, Quolin, dan Baoyi tidak bisa berkata-kata. Mereka saling diam seraya mengembus napas kasar.
"Aku tidak bisa membiarkan hal ini!"
"Bagaimana jika gadis miskin itu hamil anak kaisar?!"
"Jangan bodoh selir keempat! Apa kau pikir hamil semudah itu?!"
Zhuan berdiri dari duduknya. "Aku akan pergi ke kediaman kaisar."
"Lalu apa? Kau ingin marah disana? Aku yakin jika kaisar akan mengusirmu dan melarangmu kesana lagi." ucap Quolin yang membuat Zhuan kembali duduk dengan wajah masam.
"Aku benci status selir. Kita bahkan tidak pernah menghabiskan malam bersama kaisar, disentuh saja tidak! Kita tidak lain hanyalah alat bagi kaisar untuk memperluas kekuasaannya." Baoyi menopang dagunya dengan wajah sedih.
"Aku hanya bingung kenapa kaisar bisa luluh pada Wei. Gadis itu tidak mempunyai kekuasaan apa-apa, bukan? Apa yang dimilikinya sehingga kaisar bisa luluh?" pertanyaan Quolin mengundang kebingungan pada tiga selir yang lain.
Yang dimiliki Wei mungkin saja jauh lebih berharga dari apa yang mereka miliki. Wei memang tidak memiliki kekuasaan seperti selir yang lain, tapi ada hal selain kekuasaan yang membuatnya berharga di mata Fengying.
......*****......
Wei membuka kedua matanya. Ia berada di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Wei akan bergerak, namun ia meringis saat merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia teringat kejadian semalam, refleks dia langsung mengangkat sedikit selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aku pasti sudah gila!" monolog Wei saat mendapati dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun.
Matanya menjelajah ke sekeliling, namun tidak menemukan Fengying. Dia kemudian berusaha untuk turun dari tempat tidur dan menjadikan selimut untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Ceklek
"Aaaa!"
Brakkk
Fengying yang baru saja membuka pintu kamar itu terkejut begitu mendapati Wei ambruk di hadapannya. "Kau kenapa?" tanyanya seraya membantu Wei untuk berdiri, namun wanita itu menolak dan semakin mengeratkan selimut di tubuhnya.
Pria itu berdehem dan membiarkan Wei berdiri sendiri. "Apa yang kau tutupi? Aku sudah melihat semuanya."
"Kaisar!" teriak Wei dengan kedua pipi memerah. Teriakan tersebut berhasil membuat Fengying terkejut karena memang ini pertama kali ia diteriaki seseorang.
Menyadari raut wajah Fengying, Wei langsung menundukkan kepala. "Maafkan aku, kaisar. Aku tidak bermaksud berteriak pada kaisar."
"Aku akan membiarkanmu kali ini."
"Masuklah!"
Setelah Fengying berteriak, dayang dan pelayan dari kediaman permaisuri segera masuk dengan membawa gaun.
"Layani permaisuri di kediamanku untuk hari ini!" perintah Fengying.
Wei dituntun untuk berdiri dan berjalan. Namun saat akan melangkahkan kaki, wanita itu meringis kesakitan. Fengying yang melihat itu merasa kasihan. Dia menyuruh semua pelayan keluar dari kamarnya yang membuat Wei kebingungan.
"Biar aku yang memandikanmu."
"Kaisar!" Wei kembali berteriak saat Fengying tiba-tiba menggendongnya dan membawanya ke kolam pemandian.
"Diamlah! Berani sekali kau melawan kebaikan hatiku!"
Kebaikan hati katanya? Wei ingin memukul kepalanya jika saja Fengying bukan seorang kaisar. Setelah kekejaman yang dia lakukan, lalu sekarang dia bersikap manis dan menggoyahkan hati Wei. Bagaimana bisa Wei menerima perilaku semena-mena yang diberikan Fengying padanya?
Fengying melepas selimut di tubuh Wei, kemudian dia memasukkan Wei ke kolam pemandian. Air itu sangat bening sehingga Wei bersusah payah menutupi tubuhnya.
Namun, apa yang dilakukan Fengying membuat hati Wei berdegup kencang. Pria itu membalikkan tubuhnya dan membiarkan Wei mandi sendiri.
"Cepatlah atau aku akan berubah pikiran."
__ADS_1
Mendengar hal itu Wei mempercepat aktivitasnya. Dia tidak ingin Fengying melakukan hal aneh pada tubuhnya, seperti semalam.
Kurang lebih sepuluh menit Wei telah selesai mandi. "Aku sudah selesai." ucapnya setelah keluar dari kolam pemandian.
Fengying menatap Wei yang sudah mengenakan jubah mandinya. Dia akan menggendong Wei, namun wanita itu menolak. "Aku bisa berjalan sendiri, kaisar."
Wei kembali ke kamar dan mengambil gaun warna putih dengan hiasan burung phoenix yang diberi warna emas. Dia akan mengenakan gaun tersebut, namun perhatian Fengying mengurungkan niatnya. "Maaf, apa kaisar bisa berbalik badan sebentar?" tanyanya ragu-ragu yang langsung disetujui oleh Fengying.
Suasana di antara mereka memang sedikit canggung. Kejadian semalam berjalan begitu saja tanpa hambatan apa pun. Fengying bahkan tidak tahu kenapa dia bisa melakukan hal tersebut padahal membenci Wei dengan sepenuh hatinya.
"Hanya karena kejadian semalam, bukan berarti aku milikmu. Aku hanya mabuk dan terbawa suasana, jangan berharap lebih!" tekan Fengying memberikan sedikit luka pada hati Wei.
Wei yang telah selesai mengenakan gaun itu menatap Fengying yang masih membelakanginya. "Aku tidak bisa berharap apa-apa pada kaisar karena kebencian yang masih tertanam di hati kaisar. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai istri sah kaisar, tidak lebih."
"Lebih baik kau tidak berharap apa-apa. Aku bahkan bisa membuangmu kapan saja." mata dingin itu bertemu dengan mata sendu Wei.
"Aku tahu. Karena aku bisa dibuang kapan saja, aku akan menjadi apa yang tidak akan pernah bisa kaisar lupakan meskipun kaisar telah membuangku."
"Apa itu sebuah ancaman?"
Wei menggelengkan kepalanya. "Tidak, kaisar. Aku hanya ingin menjadi apa yang selalu kaisar pikirkan."
Fengying terkekeh kecil. "Jangan bermimpi, permaisuri!"
"Tidak sekarang, kaisar. Tapi nanti, entah beberapa tahun lagi. Menjadi apa yang selalu kaisar pikirkan adalah impianku sejak menjadi istri kaisar."
"Impianmu sangat bodoh dan tidak bernilai."
Wei hanya tersenyum. Berbicara dengan Fengying hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam. Dia memilih diam dan menatap lukisan naga di dinding.
Fengying mengikuti arah pandang Wei. "Kau menyukai lukisan itu?" tanyanya yang membuat Wei langsung menggelengkan kepala.
"Tidak, aku hanya kasihan pada naga tersebut."
"Kenapa? Itu hanya lukisan."
"Karena naga saat ini hanyalah lukisan, sudah punah karena kerakusan manusia yang menginginkan naga dengan berbagai cara agar kekuasaan mereka bertambah. Padahal jika tidak diburu, naga pasti masih ada sampai sekarang dan menjaga negeri dengan baik." ucap Wei seraya menatap Fengying kembali.
__ADS_1
Fengying kagum dengan pengetahuan Wei. "Itu sudah menjadi takdir naga."
"Apa takdirku akan sama seperti naga, kaisar? Punah karena kerakusan manusia yang menginginkan kekuasaan lebih."