Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 18: Pernikahan Dan Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Beri selamat pada pernikahan kaisar!"


"Beri selamat pada permaisuri!"


Di aula utama terdapat beratus-ratus orang yang bekerja di istana, termasuk para menteri, prajurit, dan pelayan. Mereka semua sujud di alas yang berada di atas jalan aula utama. Beberapa menit yang lalu upacara pernikahan sekaligus pelantikan Wei sebagai permaisuri baru telah dilaksanakan dengan lancar.


Pada akhirnya Wei tidak bisa kabur atau menolak. Dia sudah terikat di istana sehingga tidak bisa berpikir untuk kemana-mana. Dia bisa saja melompat ke danau tadi jika saja Nui tidak datang ke kediaman permaisuri kemudian menceritakan masa lalu pada Wei.


Wei menatap Fengying yang duduk di sampingnya. Meskipun ini hari pernikahan, tapi wajah itu tidak terlihat hangat sama sekali. Wei seolah melihat sisi lain dari Fengying. Pria seperti itulah yang telah menjadi suaminya saat ini.


Beberapa detik kemudian Wei mengalihkan pandangan ke arah kedua orang tuanya yang duduk di kursi khusus keluarga kerajaan. Dia tersenyum karena melihat Jiang dan Yihan memakai pakaian yang layak. Setidaknya dia telah mengangkat derajat kedua orang tuanya. Bukankah tidak apa menderita sedikit demi derajat keluarganya?


Fengying segera berdiri dari duduknya saat tiba-tiba sebuah panah menancap tepat di tiang kayu samping Wei. Semua orang sekarang panik dan segera berdiri dari duduk mereka. Para prajurit telah berhamburan untuk menangkap orang yang telah menembakkan anak panah ke dekat Wei.


"Kau tidak apa-apa?" ujar Fengying sambil memeriksa lengan Wei. Terlihat kepanikan dari matanya yang membuat Wei tidak bisa berkata-kata.


Fengying menemukan gulungan kertas yang terikat di anak panah. Dia segera mengambil dan mulai membacanya. Apa yang tertulis yang di kertas itu membuat kemarahannya seketika meledak.


"Kurang ajar sekali! Orang yang menembakkan anak panah ini pasti musuhku! Dia mengancam akan membunuh permaisuri, berani sekali dia! Cepat cari orang ini dan bawa ke hadapanku!" perintah Wei dengan kilatan mata tajam membuat prajurit yang tersisa di aula utama segera bergerak.


Istana benar-benar kacau karena kedatangan tamu tak di undang ini. Para keluarga kerajaan satu persatu mulai keluar dari aula utama, terlihat jelas mereka takut akan menjadi sasaran musuh Fengying dan berakhir terbunuh sia-sia.


Jiang dan Yihan segera menghampiri Wei yang masih duduk di singgasana dengan raut wajah terkejut.


Yihan mengusap pelan lengan Wei membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. "Kau baik-baik saja, permaisuri?"

__ADS_1


"Aku..." belum sempat Wei menyelesaikan ucapannya, Fengying lebih dulu memotong.


"Bawa permaisuri ke kediamannya. Tidak aman jika permaisuri disini, orang itu pasti akan memanahnya lagi." ujar Fengying yang membuat Jiang dan Yihan segera menundukkan kepala.


"Baik, kaisar."


Saat Fengying akan menuruni anak tangga, Wei menarik tangannya. "Berhati-hatilah, kaisar." mereka berdua saling tatap sebentar, kemudian Fengying menganggukkan kepalanya.


Tangan Wei terlepas saat Fengying berjalan menuruni anak tangga. Wei seolah melupakan kejadian semalam dimana Fengying berkata akan membuat hidupnya hancur. Pandangannya kini tidak terlepas dari Fengying yang baru saja menghilang dibalik gerbang aula utama bersama prajurit di belakangnya. Dia merasa khawatir, takut Fengying akan membunuh orang yang telah menembakkan anak panah dengan surat di anak panah tersebut. Melihat bagaimana marahnya Fengying, pasti pria itu tidak akan segan untuk membunuh siapa pun.


Ruyin dan Tzuran datang menghampiri Wei dengan raut wajah cemas. Hal itu membuat Jiang dan Yihan menganggukkan kepala seolah berkata bahwa Wei baik-baik saja.


"Kami akan mengantarkan ke kediaman permaisuri." Ruyin menundukkan kepala menghadap Jiang dan Yihan yang diikuti oleh Tzuran.


Mereka kemudian menuju kediaman permaisuri. Mereka berjalan tidak terlalu jauh karena aula utama dekat dengan kediaman permaisuri dan kediaman kaisar.


"Apa kau senang tinggal di istana, permaisuri?" tanya Jiang saat mereka sudah sampai di kediaman permaisuri.


Wei belum menjawab sampai mereka masuk ke dalam rumah. Wei menyuruh Ruyin dan Tzuran untuk menyiapkan meja beserta kudapan di ruang tengah, setelah itu dia duduk di lantai diikuti oleh Jiang dan Yihan.


"Aku senang tinggal di istana!" Wei tersenyum lebar berusaha membohongi kedua orang tuanya.


Jiang mengembuskan napas kasar. "Jangan berpura-pura bahagia, ayah tahu kau berbohong. Seharusnya waktu itu ayah bisa membuatmu kabur."


"Pasti kau sangat menderita di istana ini, anakku yang malang..." Yihan mengusap kedua pipi Wei dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Suasana hati Wei kembali dilanda kesedihan. Dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Kedua orang tuanya memang tahu jika dia berbohong, karena itu Wei selalu saja gagal untuk membohongi.


"Ayah, ibu, aku akan baik-baik saja di istana ini. Aku akan berusaha untuk tidak menderita, aku akan lebih berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan. Kalian tidak perlu memikirkan aku, anggap saja aku hidup bahagia di istana ini." Wei menatap kedua orang tuanya yang sudah beruraian air mata.


"Bagaimana kami tidak memikirkanmu? Kejadian tadi pasti akan terulang lagi. Ayah takut tiba-tiba mendengar kabar bahwa kau terbunuh di istana!" seru Jiang sambil menyeka air mata di kedua pipinya. Dia menatap putri kesayangannya yang kini telah resmi menjadi permaisuri Kerajaan Taoming.


Rasanya baru kemarin mereka masak bersama sepulang bekerja seharian. Kenangan itu tidak akan pernah bisa mereka rasakan lagi. Hidup tenang juga tidak akan pernah bisa mereka rasakan. Sungguh, ramalan benar-benar mengubah hidup mereka. Dilihat meninggikan derajat tapi sebenarnya itu adalah titik awal kehancuran untuk mereka. Lebih baik hidup dengan derajat rendah daripada harus dengan derajat tinggi tapi tidak akan pernah bisa bersama lagi.


"Selagi kita membahasnya, bagaimana jika kau kabur hari ini? Ayah dan ibumu akan membantumu untuk kabur dan memastikan kamu aman di luar sana." ucap Jiang tiba-tiba setelah terdiam cukup lama.


Terdengar helaan napas Wei. "Aku tidak akan kabur, tempatku memang disini." ucap Wei terdengar lembut namun memberikan kesan tegas.


Setelah melihat kejadian hari ini, Wei bertekad tidak akan pernah pergi dari sisi Fengying apa pun yang terjadi. Sekasar atau sedingin apa sikap Fengying nantinya, Wei akan berusaha untuk bertahan. Melihat bagaimana Fengying mengkhawatirkannya tadi, membuat Wei berpikir jika sebenarnya pria itu memiliki sedikit kepedulian.


"Jika aku kabur, itu sama saja dengan aku menyalahi takdir. Aku menerima takdirku yang menjadi permaisuri negeri ini. Aku mohon dukung tindakanku, jangan memintaku untuk kabur lagi." lanjut Wei yang membuat kedua orang tuanya tidak mampu berkata-kata lagi.


Wei berdiri dari duduknya. "Tunggulah disini, ada yang ingin aku berikan pada ayah dan ibu." setelah mengatakan itu, Wei segera berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Wei mengerutkan dahi saat tidak menemukan lilin yang hidup. Biasanya pelayan akan menyalakan lilin jika jendela kamar tidak dibuka. Kamarnya hanya di terangi dengan cahaya yang menyusup masuk dari celah-celah jendela membuat Wei sulit melihat.


Saat Wei akan menyalakan lilin, tiba-tiba kegiatannya terhenti setelah mendengar derap langkah pelan dari belakang. Dapat dia dengar dengan jelas suara pisau yang diambil dari tempatnya dengan gerakan cepat.


Wei menoleh ke belakang dengan cepat dan refleks langsung memundurkan langkah saat melihat seorang pria memakai jubah hitam, topi lebar warna hitam, dan penutup mulut warna hitam sedang mengarahkan pisau ke arah lehernya.


"Bagaimana rasanya menjadi permaisuri yang akan mati sebentar lagi?"

__ADS_1


__ADS_2