Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 34: Mimpi Buruk


__ADS_3

Zhuan berlari keluar istana, namun ia dikepung oleh pasukan dengan Xian yang memimpin.


"Bawa selir pertama ke penjara bawah tanah!"


"Tidak! Aku tidak bersalah!" teriak Zhuan, namun dia tetap dibawa ke penjara bawah tanah.


"Perketat penjagaan istana di dalam dan luar. Tambah lebih banyak pasukan di kediaman permaisuri!" perintah Xian pada anak buahnya.


Pria itu menatap langit yang menurunkan salju. "Apa peperangan akan terjadi malam ini?" gumamnya.


"Kami menerima surat dari Kerajaan Taoming yang meminta bantuan untuk mengirim pasukan. Istana sudah kami kepung, di bagian depan istana biarlah pasukan Taoming yang mengepung." ucap seorang pengawal dari Kerajaan Goching yang tiba-tiba sampai di hadapan Xian.


"Terima kasih, kami sangat memerlukan bantuan kalian."


Keadaan istana sangat kalut saat para pengawal mengepung istana. Semua anggota keluarga kerajaan bersembunyi di kediaman mereka masing-masing, sedangkan kediaman menteri sudah di periksa oleh para pengawal. Seluruh keluarga Ruan telah dikumpulkan dan dibawa ke penjara bawah tanah.


Memang pemberontakkan yang direncanakan Ruan sangatlah gegabah dan tidak memikirkan akibatnya. Dia berpikir tidak akan ada yang tahu, tapi karena Zhuan yang juga sama gegabah seperti Ruan itu membuka jalan bagi Wei untuk memberi tahu Fengying. Ayah dan anak sama saja, saling menghancurkan diri demi kekuasaan dan cinta.


Di sisi lain Ruan dan pasukannya tiba di depan istana. Dia terkejut begitu mendapati banyak pasukan mengepung depan istana. Pasukan Taoming ditambah Goching itu tentu saja lebih banyak dibanding pasukan yang dia bawa.


"Ah, ternyata benar menteri politik akan melakukan pemberontakkan malam ini." ucap Xian saat Ruan turun dari kuda yang ia tunggangi.


"Seluruh keluargamu telah dibawa ke penjara bawah tanah. Apa kau yakin ingin melanjutkan pemberontakkan, menteri politik?"


Ruan mengeratkan genggaman pada pedang yang ada di tangannya, dia sudah merencanakan ini jauh-jauh hari dan dia tidak akan mungkin mundur begitu saja.


"Kau hanya bawahan kaisar, lancang sekali bicaramu!" bentak Ruan pada Xian.


"Apa kau masih pantas untuk di hormati?"


Tanpa berkata lagi, Ruan langsung mengerahkan pasukannya untuk memasuki istana. Pertumpahan darah terjadi. Salju putih yang menutupi tanah kini telah memerah bercampur darah.


Ruan mengambil kesempatan untuk masuk ke istana. Yang ada di pikirannya saat ini adalah membunuh Fengying. Itu adalah tujuannya sejak awal merencanakan pemberontakkan.


Langkah Ruan terhenti saat Fengying keluar dari aula utama dengan wajah merah padam. Di tangannya terdapat pedang yang siap untuk ia mainkan.


"Kau hebat sekali menteri politik. Kau pasti mempersiapkan pemberontakkan ini dengan susah payah, bukan?" dingin Fengying begitu sampai di hadapan Ruan.


"Sayang sekali, padahal kau masih mertuaku dan aku menghormatimu. Tapi setelah ini aku akan melenyapkanmu dan seluruh keluargamu!"

__ADS_1


"Sebelum kau melakukan itu, aku akan lebih dulu menghabisi nyawamu!"


Fengying tersenyum sinis. "Lakukan saja semaumu karena kematianmu sudah di depan mata!"


Jlebbb


Sebuah pedang menembus perut Ruan dari belakang. Darah segar membasahi ujung pedang hingga bertetesan ke tanah. Ya, yang menghunuskan pedang tersebut adalah Xian.


"Aku bahkan tidak perlu membuang tenaga untuk bertarung denganmu. Lihatlah, kekuasaanku lebih besar darimu, kau bukanlah tandingan yang setara denganku!"


"Ayah!" teriak Zhuan sambil berlari menghampiri Ruan. Entah darimana wanita itu bisa kabur padahal telah dibawa ke penjara bawah tanah.


"Kenapa kaisar tega membunuh ayahku?!" Zhuan menangis sambil menatap Fengying.


"Itu akibat karena kau berusaha meracuniku. Karena ulahmu aku kehilangan anak yang bahkan tidak aku ketahui kehadirannya!" teriak Fengying dengan rahang mengeras.


Zhuan berdiri dan kini ia berhadapan dengan Fengying. "Jika kaisar telah kehilangan anak, itu karena kaisar sendiri! Apa kaisar lupa berapa tahun aku tinggal di istana sebagai selir?! Aku hanya ingin mendapatkan cinta kaisar, tapi aku kalah dengan gadis rendahan yang belum sampai setahun tinggal di istana! Posisi permaisuri, itu posisi yang aku inginkan tapi direbut oleh gadis rendahan itu!"


"Aku bahkan berharap dia mati! Kenapa dia masih hidup?!"


"Jaga bicaramu!" teriak Fengying yang membuat napas Zhuan turun naik menahan amarah.


Zhuan mengeluarkan botol kecil dari balik gaunnya. "Aku akan menyusul ayahku!" setelah mengatakan hal itu, Zhuan langsung meneguk air dalam botol kecil tersebut sampai habis tak bersisa. Itu adalah racun yang ia gunakan untuk meracuni Fengying.


Beberapa saat racun mulai bereaksi di tubuh Zhuan. Wanita itu terduduk di tanah dengan darah segar yang keluar dari mulutnya. Tangannya berusaha menggapai tangan Fengying yang membuat pria itu jongkok di hadapannya.


"Kenapa, apa kau berharap untuk ku tolong seperti permaisuri?"


"Pergilah ke neraka bersama ayahmu. Tidak, lebih tepatnya dengan seluruh keluargamu. Kalian berdua adalah manusia terbodoh yang tersingkir dengan sendirinya dari jalanku!"


"Bawa mayat mereka dan seluruh keluarga mereka di depan istana, ikat mereka disana dan sampaikan kejahatan yang mereka lakukan. Seluruh rakyatku harus tahu kebodohan yang mereka lakukan!"


"Baik, kaisar!"


...****************...


Sudah seminggu setelah pemberontakkan, keadaan istana kembali normal. Berita pemberontakkan itu bahkan telah tersebar ke seluruh kerajaan lain dan menjadi bahan tertawaan. Dibalik itu semua Fengying masih merasakan kekosongan karena Wei tak kunjung sadar.


Ia masih memimpin negeri seperti biasanya, tapi setiap hari dia selalu menghabiskan waktu untuk memikirkan keadaan Wei. Dia bahkan berjaga sepanjang malam untuk menunggu Wei sadar.

__ADS_1


Wei masih dalam masa pemulihan. Racun di tubuhnya telah habis tak bersisa karena salah satu janinnya menyelamatkan nyawa Wei. Meskipun Wei tak sadarkan diri, tapi janin yang masih ada di dalam rahimnya bertahan dengan kuat. Seolah memberi kekuatan kepada Wei agar tetap bernapas.


"Kaisar, apa yang kaisar pikirkan?" Fengying tersadar dari lamunannya dan terkejut saat mendapati Wei duduk di hadapannya.


"Permaisuriku, kau sudah sadar?" tanyanya tak percaya.


"Memangnya aku kenapa, kaisar? Aku baik-baik saja."


Fengying tersenyum dan langsung memeluk Wei dengan erat. "Aku sangat merindukanmu!"


"Kenapa kaisar bertingkah aneh? Aku hanya mandi sebentar tapi kaisar sudah merindukanku?"


Ia tidak peduli dengan apa yang Wei katakan. Melihat kondisi Wei baik-baik saja sudah membuatnya bisa bernapas dengan lega.


"Ah.."


"Kenapa, apa tubuhmu sakit?" panik Fengying seraya melepaskan pelukannya.


Wei menggelengkan kepala, dia mengelus perutnya yang sedikit besar. "Anak kita barusan menendang. Sepertinya dia tidak sabar untuk segera keluar."


Lengkap sudah kebahagiaan Fengying. Dia terkekeh kecil seraya ikut mengelus perut Wei. "Anakku, jangan menendang ibumu, nanti ibumu akan kesakitan." ucapnya setelah mencium perut Wei.


"Aku ingin tidur, kaisar." Wei berdiri dari duduknya dan berjalan menuju tempat tidur. Namun langkahnya terhenti, dia meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.


"Sakit sekali..." lirihnya yang membuat Fengying segera menghampirinya.


"Kau kenapa permaisuri?!"


"Perutku... Rasanya sakit sekali, kaisar!"


Darah segar mengalir dari paha Wei hingga menodai gaun putih yang sedang ia kenakan. Fengying panik luar biasa saat Wei tiba-tiba kehilangan kesadarannya.


"Tidak, jangan seperti ini lagi, permaisuri!"


"Bangunlah, permaisuri!"


"Permaisuri!"


"Wei!"

__ADS_1


__ADS_2