Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 32: Kehangatan


__ADS_3

Wei mengembuskan napas kasar saat Huanran tertawa terbahak-bahak. Ya, dia paham jika Huanran tidak percaya dengan apa yang dia katakan barusan.


"Berhenti mengucapkan hal yang tidak masuk akal, Wei."


"Itu kenyataannya, kak." wajah Huanran berubah serius.


"Beberapa bulan yang lalu para pengawal Kerajaan Taoming datang ke rumah bersama ayah dan ibu, aku dipaksa ke istana. Waktu ayah mengulur waktu, mereka memintaku untuk kabur. Aku tidak paham, aku berpikir ayah dan ibu telah melakukan kesalahan dan akan dipenggal. Tapi kaisar datang dan mengatakan bahwa takdirku adalah menjadi permaisuri Kerajaan Taoming."


"Aku bodoh, kak, menyetujui hal tersebut untuk menjadi permaisuri."


"Tapi hal baik bisa aku berikan kepada ayah dan ibu. Status budak mereka dihapuskan dan sekarang mereka tinggal di kota dengan rumah terbaik dan dilayani layaknya bangsawan."


"Apa kau serius dengan yang kau katakan?" tanya Huanran yang mendapat anggukan kepala dari Wei.


Huanran sulit untuk percaya, tapi saat melihat keseriusan di wajah Wei membuatnya mau tak mau harus percaya.


"Kau... Apa kau bahagia?"


Wei terdiam. Dia tidak merespon apa-apa. Dia sebenarnya ingin menceritakan semua kekejaman Fengying, tapi Huanran telah jauh-jauh datang dari negeri Goching. Dia tidak tega jika Huanran mengetahui adik kesayangannya disiksa habis-habisan.


"Aku pikir akan menyakitkan, tapi setelah dijalani aku merasa bahagia. Kakak tidak perlu mengkhawatirkanku."


"Kau yakin?"


"Kakak minta maaf karena tidak bisa membawamu pergi jauh-jauh hari. Walaupun kau berusaha keras meyakinkan kakak, tapi matamu tidak bisa membohongi kakak, Wei. Dengan kekuasaan kakak yang sekarang, kakak tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Apa kau ingin pergi dari sini?"


Wei mengalihkan pandangan. Kakaknya selalu saja bisa menebak keadaannya. "Aku tidak bisa, aku telah bersumpah pada kaisar."


Banyak hal yang tidak bisa Wei tinggalkan. Apa lagi setelah mengetahui rencana Ruan untuk melenyapkan Fengying. Sekejam apa pun Fengying padanya, tapi pria itu tetaplah suaminya, dia harus melindungi Fengying dengan sekuat tenaganya.


Sebelum Huanran berbicara lagi, Wei segera berdiri. "Aku akan mengantar kakak ke rumah orang tua kita, ikutlah denganku."


Tanpa menunggu persetujuan Huanran, Wei melangkah keluar dari penginapan. Sepanjang perjalanan mereka saling diam dengan Wei yang berjalan di depan Huanran.


Wei berhenti di belakang gubuk saat mendapati para pengawal sedang berjaga di depan rumah orang tua mereka. "Di depan sana rumah orang tua kita, kak. Beritahu pengawal jika kakak adalah putra sulung dari negeri Goching, mereka akan menyambut kakak."


"Kau mau kemana?" tanya Huanran saat Wei akan melangkahkan kaki.


"Kembali ke istana, sebentar lagi tengah malam."


"Biarkan kakak mengantarmu, Wei. Sekarang sudah larut malam, berbahaya jika kau berjalan sendirian."

__ADS_1


Setelah menimbang-nimbang akhirnya Wei setuju. Benar juga jika berbahaya untuk berjalan sendirian apalagi dia akan melewati jalan gunung.


"Baiklah."


...****************...


Fengying melipat kedua tangannya di dada sambil bersandar di pintu belakang kediaman permaisuri. Di belakangnya terdapat seluruh pelayan Wei yang menundukkan kepala dengan takut.


"Apa kalian yakin permaisuri tidak kabur?" tanya Fengying yang sedari tadi menunggu Wei.


Saat dia kembali ke istana, tempat pertama yang dia tuju adalah kediaman permaisuri. Dia juga tidak tahu kenapa langkahnya mengarah ke kediaman permaisuri. Tapi akhir-akhir ini Wei selalu menghantuinya, karena memang Wei secandu itu baginya.


"Hamba yakin permaisuri akan kembali, kaisar." sahut Ruyin yang membuat Fengying langsung menatapnya.


"Kau dayang yang bertugas untuk menjaga permaisuri dari dekat. Kenapa kau membiarkan permaisuri keluar? Apa kau tidak melihat salju sedang turun?!" teriak Fengying menggelegar.


"Mohon maafkan hamba, kaisar!"


Fengying tidak lagi berkata saat mendengar suara langkah kaki. Dia keluar dan mendapati Wei yang terkejut melihatnya. Dengan cepat dia berjalan ke arah Fengying dan menundukkan kepala untuk memberi hormat.


"Maafkan aku, kaisar."


"Kau!" teriak Fengying setelah menghempaskan tubuh Wei ke atas tempat tidur.


"Siapa yang memberimu izin keluar?! Apa kau ingin kabur dariku?!"


"Tidak, kaisar. Aku hanya ingin mencari udara segar dan melihat kota saat malam turun salju. Selama hidup aku terkurung di hutan dan tidak bisa ke kota saat malam turun salju, setidaknya sekali ini aku ingin merasakannya."


"Apa aku tidak boleh?"


Tatapan Fengying melunak saat Wei menatapnya dengan penuh kesenduan. Dia mengembuskan napas kasar seraya duduk di samping Wei. "Aku tidak akan melarangmu jika kau meminta izin padaku dengan baik. Kali ini aku akan memaafkanmu, tapi jika kau mengulanginya lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"


Wei terkejut mendengar perkataan Fengying barusan. Pria itu benar-benar berubah sesuka hatinya.


"Di luar sana mungkin musuhku sedang berkeliaran. Kau yang keluar sendirian mungkin saja akan dibunuh jika ketahuan." ucapnya dengan lembut yang membuat hati Wei sedikit hangat.


Mendadak Wei teringat dengan percakapan Zhuan dan ayahnya tadi. Dia ingin memberitahu Fengying tapi tidak memiliki bukti apa-apa. Fengying juga tidak akan mungkin mempercayai ucapannya jika tanpa bukti.


"Aku akan kembali ke kediamanku, istirahatlah."


Fengying menatap Wei saat wanita itu menggenggam ujung jubah yang sedang di pakainya. Genggamannya sangat erat yang membuat Fengying mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Tetaplah disini, kaisar." Wei menatap Fengying dengan penuh permohonan.


"Jika kaisar tidak mau, maka aku akan tidur di kediaman kaisar."


"Apa kau sedang mengancamku?"


"Iya! Aku ingin tidur bersama kaisar malam ini."


Fengying menempelkan telapak tangannya di dahi Wei. "Kau tidak demam, tapi kenapa tingkahmu aneh? Ah, apa kau minum di luar sana?!" tuduh Fengying dengan setengah berteriak.


"Tentu saja tidak! Kaisar pikir aku wanita seperti apa yang minum sendirian?!" ucap Wei yang juga setengah berteriak.


"Tidak, aku ingin tidur sendiri."


Wei memeluk kaki Fengying untuk menghentikan langkahnya. Bagaimanapun dia tidak boleh membiarkan Fengying sendirian karena Zhuan bisa datang kapan saja dengan membawa racun.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"


"Aku mohon, tetaplah disini, kaisar.."


"Kau tidak takut jika aku menyiksamu lagi?!"


"Tidak, siksa saja aku sesuka hati kaisar asalkan kaisar tetap berada disini!"


Fengying mengembuskan napas kasar sambil duduk di sisi ranjang. "Baiklah, aku akan tidur disini."


Wei bernapas lega. Dia akan berjaga sepanjang malam untuk memastikan tidak ada orang yang bisa melukai Fengying.


"Apa yang kau lihat? Berbaringlah disampingku!" perintah Fengying setelah dia berbaring.


"Hah, berbaring?"


"Kenapa? Kau yang memintaku tetap disini, kan?"


Dengan cepat Wei berbaring di samping Fengying. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, hal itu membuat Fengying berdecak kesal. Dia menarik pinggang Wei untuk lebih dekat dengannya, kemudian memeluk tubuh Wei dengan erat.


"Tidurlah seperti ini, aku kedinginan." ucap Fengying setengah berbisik.


Jantung Wei sudah berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Walaupun sudah pernah seranjang dengan Fengying, tapi tetap saja dia gugup setengah mati.


"Aku akan berjaga sepanjang malam di samping kaisar. Zhuan, kau tidak akan bisa membunuh kaisar!"

__ADS_1


__ADS_2