
Keesokan harinya para keluarga kerajaan berkumpul di paviliun tengah untuk makan siang bersama. Banyak yang tidak Wei ketahui tentang keluarga kerajaan, lebih tepatnya mereka tidak memperkenalkan diri kepada Wei. Dia hanya mengetahui tentang anak kedua ibu suri dan cucu perempuannya. Sejak tiba di paviliun tengah, Wei sudah merasakan jika keluarga kerajaan yang lain tidak menyukai kehadirannya. Kaisar juga melihatnya dengan dingin yang membuat para selir menatap Wei dengan mengejek.
"Suatu kehormatan bagi kami karena ibu suri mengundang kami untuk makan siang bersama. Kami mengucapkan terima kasih pada ibu suri," Zhuan, Quolin, Baoyi, dan Annchi menundukkan kepala mereka menghadap Nui yang duduk di samping kiri Fengying.
Nui tersenyum sinis, jelas sekali jika dia tidak menyukai para selir itu. Dia kemudian melirik Wei yang duduk di samping kanan Fengying. "Aku mengundang kalian karena penyambutan permaisuri baru di istana ini."
Keempat selir itu tersenyum kaku, merasa tidak suka jika di undang hanya untuk itu. Mereka kembali menegakkan badan seraya tersenyum manis.
"Baru sehari menjadi permaisuri sepertinya telah banyak yang terjadi padamu, ya? Bagaimana dahimu bisa terluka?" ujar wanita setengah tua yang duduk di depan para selir dengan memakai gaun warna hijau terang. Dia terlihat cantik dan kulitnya benar-benar sehat meskipun rambutnya sedikit memutih.
Wei menundukkan kepalanya. "Kemarin aku tidak sengaja menabrak rak buku sehingga sisinya mengenai dahiku." alibi Wei yang membuat wanita tersebut berdecak.
Wanita tersebut adalah Lienxi, adik perempuan kaisar terdahulu, anak kedua Nui. Dia menikah dengan anak menteri utama dan memiliki seorang putra bernama Changyi yang sekarang berumur 24 tahun. Putranya sudah 3 tahun belajar di Negeri Meing yang terletak di dekat perbatasan Negeri Goching. Dia juga memiliki putri yang berumur 20 tahun. Putrinya lah yang membantu Fengying mengerjakan tugas permaisuri saat posisi itu kosong. Putrinya bernama Xiahe yang paling di takuti para selir karena kekejamannya dalam memerintah.
"Cih, wanita lemah sepertimu apakah pantas mengemban tugas permaisuri?" Lianxi menatap Wei dengan remeh membuat Xiahe yang berada di sampingnya tersenyum sinis.
"Kaisar, apakah aku boleh mengajari permaisuri dalam menjalani tugasnya? Aku takut dia tidak mampu dan merusak segalanya." Xiahe menundukkan kepalanya menghadap Fengying yang sedari tadi diam.
Nui memukul meja dengan telapak tangannya. Dia menatap Lianxi dan Xiahe dengan tajam. Anak dan cucunya itu benar-benar angkuh dan selalu merasa hebat. "Berani sekali kalian meremehkan permaisuri! Apa aku pernah mengajari kalian seperti itu?!"
__ADS_1
Suasana di paviliun tengah terasa semakin panas. Wei merasa suasana itu ada karena dirinya. Saat dia akan berkata, para pelayan datang sambil membawa nampan berisi makanan.
"Mohon maafkan kelancangan kami, ibu suri." ucap Xiahe dengan kedua tangan menggenggam erat ujung gaunnya.
Nui tidak lagi menyahut sampai akhirnya pelayan selesai menghidangkan makanan di masing-masih meja. Mereka kemudian mulai makan dalam keheningan karena tidak ada yang berani membuka suara.
Wei menatap makanan yang tersaji di hadapannya. Semua makanan itu berbahan dasar kacang tanah, membuat Wei enggan untuk memakannya. Hal itu membuat semua keluarga kerajaan menatapnya dengan heran.
Annchi yang mengerti suasana itu langsung menyalakan api kembali untuk menggoreng Wei habis-habisan. "Makanan ini disajikan langsung dari kediaman keluarga kerajaan, apa tidak cocok dengan lidah permaisuri?" ujarnya yang membuat Wei tersenyum lembut.
Wei sangat peka saat seseorang dengan sengaja memojokkan dirinya dengan berbagai pertanyaan. Dia tahu para selir, Lienxi, Xiahe, bahkan Fengying sangat tidak menginginkan dirinya berada di posisi permaisuri. Karena itu kesan pertama mereka saat melihat dirinya sangat jelas menunjukkan rasa tidak suka.
"Hmm, bubur ini sangat enak sekali!" wajah Wei tampak bahagia membuat Nui tersenyum senang.
"Bubur kacang tanah adalah makanan yang sangat di sukai permaisuri dan kaisar terdahulu. Aku sengaja meminta pelayan menyajikan bubur kacang tanah agar kita bisa mengingat mereka," ucap Nui.
Mendengar hal itu, Fengying berhenti makan. Dia menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang sulit di artikan. Hal itu di mengerti oleh Wei. Gadis itu tersenyum dengan lembut sambil menatap ke arah Nui.
"Jika bubur kacang tanah ini adalah makanan yang sangat di sukai permaisuri dan kaisar terdahulu, kami sangat terhormat karena dapat merasakannya." ucap Wei yang membuat Nui terkekeh kecil. Kedua matanya berkaca-kaca, terlihat masih tidak rela dengan kepergian anak dan menantunya.
__ADS_1
Saat Nui akan berkata, Wei terlebih dahulu berbicara. Dia tahu apa yang akan dikatakan Nui selanjutnya, yang pasti akan sangat melukai hati Fengying karena itu menyangkut ibunya. Seburuk-buruknya ibu Fengying, pria itu pasti tidak rela jika ada orang lain yang merendahkannya.
"Ibu suri, apa aku boleh bertanya?" ujar Wei yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh Nui.
"Kau bebas bertanya apa saja, permaisuri."
Wei menarik napas dalam. Dia menggunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang kedua orang tuanya yang dipanggil oleh ibu suri kemarin. Sejak itu dia tidak lagi melihat kedua orang tuanya dan tiba-tiba mendengar kabar jika kedua orang tuanya sudah kembali ke rumah mereka.
"Apa aku boleh mengunjungi rumah orang tuaku? Mohon maaf jika aku lancang, tapi aku sangat merindukan mereka."
Setelah mendengar ucapan Wei, Lienxi yang tadi asik makan sendiri tiba-tiba berhenti. Dia menatap Wei dengan kesalnya. "Berani sekali permaisuri meminta hal itu kepada ibu suri? Suamimu siapa, kaisar atau ibu suri?!" tukasnya tajam yang membuat Wei terdiam.
Benar juga. Wei seolah kehilangan akal sehatnya. Seharusnya dia meminta izin pada suaminya, bukan ibu suri. Dia menundukkan kepala seraya menggigit bibirnya dalam. Di hadapan keluarga kerajaan dia seolah telah mempermalukan dirinya sendiri. Dia juga bisa mendengar bisikan para selir yang mengejek dirinya.
"Kenapa kau begitu kesal padanya, Lienxi? Apa salahnya meminta izin kepada neneknya sendiri? Permaisuri sudah aku anggap seperti cucuku." tegas Nui yang berhasil membuat mereka semua bungkam.
Fengying yang sejak tadi diam kini mulai berbicara. "Aku akan ke area pelatihan sekarang bersama permaisuri. Dia berkata ingin melihatku bermain pedang. Kami pamit undur diri!" Fengying berdiri sambil menggenggam tangan kanan Wei dan membuat gadis itu ikut berdiri.
Wei merasa bingung, dia bahkan tidak pernah berkata seperti itu kepada Fengying. Tapi dia juga tidak berani menghentikan langkahnya saat di tarik oleh Fengying.
__ADS_1
Dia mendengar kekesalan para selir di belakangnya dan perkataan dari ibu suri yang mengatakan bahwa dia dan Fengying seperti tidak dapat di pisahkan.