
Sudah dua hari Wei mengikuti Fengying. Saat rapat, pertemuan dengan para menteri luar, bahkan dia terus memaksa Fengying untuk sekamar dengannya. Fengying berusaha menahan emosinya mati-matian tapi anehnya dia juga senang saat Wei selalu berada di dekatnya, entah karena apa.
Hari sudah sore dan Wei saat ini sedang berada di area berlatih. Dia sedikit bosan saat memperhatikan Fengying berlatih bersama Xian sejak siang tadi. Dia bahkan belum makan siang sama seperti kedua orang yang bermain pedang di tanah lapang.
"Aku memberi hormat pada permaisuri." ucap Zhuan dari belakang itu membuat Wei terkejut.
"Ah, maaf karena telah membuat permaisuri terkejut."
"Tidak apa-apa. Kenapa kau disini selir pertama?" tanya Wei langsung menusuk. Dia tahu tujuan Zhuan ke area pelatihan dengan membawa nampan berisi air minum.
Zhuan menatap Fengying. "Aku juga istri kaisar, permaisuri. Apa aku tidak boleh menemui kaisar?"
Sungguh, Wei sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zhuan. Wanita di depannya ini meskipun cantik tapi dia tidak terlau pandai dalam berbohong. Terlihat jelas dia menggenggam tangannya dengan erat pertanda dia takut ketahuan. Otak Wei memutar, sepertinya membongkar semuanya saat ini tidaklah terlalu buruk. Apa lagi yang dia dengar waktu itu jika malam ini Ruan akan melakukan pemberontakkan.
"Tentu saja boleh, selir pertama. Apa yang kau bawa?" Wei melirik nampan yang ada di tangan pelayan Zhuan.
"Ini teh bunga mawar yang aku buat sendiri, permaisuri. Teh ini khusus hanya untuk kaisar."
"Ah, sayang sekali. Padahal aku sangat ingin mencobanya." ucap Wei yang membuat Zhuan membulatkan matanya.
Tak berselang lama, Fengying dan Xian menghampiri Wei dan Zhuan.
"Aku memberi hormat pada kaisar." Zhuan menundukkan kepalanya kepada Fengying.
"Ada apa selir pertama? Kenapa kau jauh-jauh datang ke area pelatihan?" tanya Fengying seraya meletakkan pedang ke tempat semula diikuti oleh Xian.
"Aku membuat teh bunga mawar khusus hanya untuk kaisar." pelayan Zhuan memberikan teh tersebut kepada Fengying.
Wei menatap Fengying. "Aku sangat menginginkan teh itu, apa aku boleh mencobanya terlebih dahulu, kaisar?"
"Tidak boleh!" semua mata kini tertuju pada Zhuan yang barusan berteriak.
__ADS_1
"Ah, maafkan aku. Permaisuri, tolong hargai aku yang telah menyiapkan teh itu khusus untuk kaisar." ucapnya dengan sedikit terbata-bata.
"Kaisar..." manja Wei yanh membuat Zhuan sedikit marah.
Fengying memang bingung dengan sikap Wei sejak dua hari yang lalu. Wanita itu bertingkah sangat manis dan manja padanya membuat hati Fengying yang awalnya ingin membenci Wei menjadi luluh tak karuan.
"Baiklah, minumlah lebih dulu permaisuri." Fengying memberikan cangkir itu kepada Wei.
Zhuan menggelengkan kepalanya. Tapi sedetik kemudian dia mengiyakan dalam hati. Teh itu memang telah dia beri racun mematikan, sesuai dengan perintah ayahnya dua hari yang lalu. Karena membenci Wei yang terlalu dekat dengan Fengying, dia jadi senang jika Wei ingin minum teh beracun itu.
"Kenapa? Kau takut ketahuan?" tanya Wei yang membuat Zhuan langsung menatapnya.
"Aku tidak mengerti, permaisuri."
"Kaisar, di minuman ini terdapat racun. Selir pertama ingin melenyapkan kaisar agar ayahnya bisa dengan mudah melakukan pemberontakkan untuk mengambil alih tahta!"
"Itu tidak benar, kaisar. Aku hanya ingin melakukan kebaikan pada kaisar, tapi kenapa sikap permaisuri seperti ini?"
Fengying semakin dibuat bingung. "Kenapa kau menuduh selir pertama seperti itu, permaisuri? Apa kau punya bukti?"
"Kau berani sekali menuduh selir pertama! Apa ini sikapmu sebagai permaisuri, hah?!"
"Aku tidak menuduhnya, kaisar! Aku mendengar pemberontakkan itu keluar dari mulut menteri politik, ayah selir pertama. Tolong percaya padaku kali ini, kaisar!"
Fengying ingin menampar Wei saat itu juga tapi tangannya terasa berat. Dia mengalihkan pandangan dari Wei dan bersiap untuk meninggalkan area pelatihan. Tapi Wei menahan tangannya, wanita itu kini mengambil cangkir yang lain.
"Jika racun itu tidak bereaksi pada tanaman, berarti racun itu hanya bereaksi pada tubuh manusia. Aku akan memberikan bukti nyata pada kaisar!"
Zhuan akan mengambil cangkir tersebut, tapi Wei terlebih dahulu meneguk teh tersebut sampai habis tak bersisa.
"Permaisuri!" teriak Zhuan saat Wei melepaskan cangkir di tangannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti kaisar, selir pertama. Apa kau pikir aku akan diam saja setelah mengetahui semuanya. Kau dan seluruh keluargamu akan hancur setelah ini!" ancam Wei yang membuat Zhuan ketakutan.
Fengying melayangkan tatapan tajam pada Wei. "Apa yang ingin kau buktikan? Lihatlah, kau bahkan baik-baik saja. Aku akan menghukummu karena telah menuduh selir pertama. Mulai hari ini kau tidak akan bisa keluar dari kediamanmu!" setelah mengatakan hal itu Fengying segera melangkahkan kakinya.
Wei hanya diam seraya memperhatikan Fengying yang semakin tidak jelas dari pandangannya. Dia berjalan sempoyongan hingga menabrak tempat penyimpanan pedang dan menjatuhkannya. Suara gaduh itu mengundang perhatian Fengying.
Pria itu berbalik ke belakang dan mendapati Wei tersungkur di atas lantai. Dia juga melihat Zhuan berlari keluar dari area pelatihan.
"Permaisuri!" Fengying menghampiri Wei dan membawa wanita itu ke atas pahanya. Darah segar mengalir keluar dari mulutnya dan seluruh wajahnya pucat pasi.
Fengying panik dan segera menggendong Wei untuk dibawa ke kediaman permaisuri.
"Malam ini akan terjadi pemberontakkan, kaisar... Aku.. Aku yakin kaisar pasti bisa mengatasinya..."
"Berhenti berbicara, Wei!"
"Maafkan aku, kaisar karena harus memberitahu kaisar dengan cara ini.."
"Aku telah menyiapkan pasukan dari negeri Goching. Mereka pasti sudah menuju istana saat ini..."
Fengying tidak berkata lagi. Dia membaringkan Wei ke atas tempat tidurnya disusul oleh para tabib yang masuk ke kamar Wei.
"Pergilah.." kata terakhir yang diucapkan Wei sebelum ia kehilangan kesadaran.
Fengying mengusap wajahnya dengan kasar saat para tabib mulai mengobati Wei. Kali ini dia sangat takut kehilangan Wei, sangat takut sekali. Dia ingin Wei baik-baik saja. Dia bahkan menyalahkan diri sendiri karena tidak mempercayai perkataannya hingga membuat wanita itu harus mempertaruhkan nyawa demi membuatnya percaya.
Hari berubah gelap dan Fengying masih berdiri disana. Ia ingin memastikan kondisi Wei baik-baik saja agar bisa tenang barang sedikit.
"Kaisar, kami tidak bisa menyelamatkan salah satu janin yang ada di kandungan permaisuri karena janin tersebut menyerap hampir seluruh racun yang ada di tubuh permaisuri." jelas tabib yang membuat jantung Fengying mencelos.
"Janin?"
__ADS_1
"Permaisuri sedang mengandung, kaisar. Ada dua janin di dalam kandungan permaisuri, tapi yang bisa diselamatkan hanya satu, kaisar."
Bodoh sekali. Dia bahkan tidak tahu jika Wei sedang mengandung anak-anaknya. Dia terlambat mengetahui dan harus kehilangan salah satu anaknya. Rasanya benar-benar tidak adil, tapi itu adalah hukuman atas semua perlakuan kejamnya pada Wei.