Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 17: Ingin Bunuh Diri


__ADS_3

Sinar matahari menyusup melalui celah-celah jendela kamar. Angin yang berhembus terasa sedikit hangat karena telah menyatu dengan sinar matahari.


Di sudut kamar terlihat Wei yang sedang meringkuk. Ia menenggelamkan kepala di antara kedua paha dengan rambut terurai. Tempat tidurnya benar-benar rapi seperti tidak terjamah oleh gadis itu.


Sejak kembali dari aula tengah semalam, pikiran Wei sangat kacau. Dalam hati kecilnya dia tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Memikirkan Fengying yang dengan mudah membunuh orang rendahan membuat Wei sangat memikirkan nasib kedua orang tuanya dan orang lain yang bekerja di bawahnya.


Saat ini dia ingin kabur tapi kakinya seolah telah di rantai sehingga dirinya tidak bisa pergi kemana-mana.


Dari luar terdengar keriuhan karena para pelayan sibuk menghiasi kediaman permaisuri untuk menyambut kedatangan kaisar nanti malam. Wei yakin yang sibuk bukan hanya di kediaman permaisuri, tapi di aula utama tempat pernikahan dan pelantikan juga pasti lebih sibuk.


Sebentar lagi acara akan di laksanakan, tapi Wei enggan untuk keluar. Terdengar derap langkah menuju kamar. Wei bisa menebak itu adalah Ruyin dan Tzuran yang akan mendandani dirinya.


"Apa calon permaisuri sudah bangun?" seru Ruyin, namun tidak di jawab oleh Wei.


Ruyin dan Tzuran saling pandang. Tidak biasanya Wei diam seperti ini. Biasanya gadis itu bangun lebih awal dari mereka dan sudah selesai mandi. Apa mungkin Wei belum selesai mandi? batin mereka.


"Kami akan masuk ke kamar calon permaisuri!"


Pintu kamar dibuka, baik Ruyin maupun Tzuran terkejut begitu mendapati Wei yang meringkuk di sudut kamar. Mereka segera berlari menghampiri Wei dan memeriksa keadaannya.


Dengan kepala berat, Wei berusaha menatap Ruyin dan Tzuran. "Bagaimana ini? Aku harus bagaimana sekarang?"


Ruyin dan Tzuran lagi-lagi saling pandang. Mereka tidak mengerti kenapa Wei seperti itu. Sejenak mereka berpikir jika Wei seperti itu karena dayang dan pelayan lamanya yang telah meninggal.


"Aku takut... aku ingin keluar dari istana ini..." Wei menggenggam tangan Ruyin dan Tzuran. Tangannya yang dingin itu membuat Ruyin dan Tzuran terkejut lagi.


"Apa calon permaisuri tidak tidur semalam? Tangan permaisuri bahkan sangat dingin." ujar Ruyin yang membuat Wei menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku bisa tidur, dayang? Hari ini adalah awal kehancuran hidupku. Aku berpikir jika aku akan bahagia di istana yang besar ini, ternyata aku salah. Aku telah memilih jalan untuk menghancurkan hidupku sendiri!"


Tzuran menepuk-nepuk bahu Wei. "Tenanglah, calon permaisuri. Hidup calon permaisuri tidak akan hancur begitu saja."


Wei mengusap kasar wajahnya. Dia beranjak berdiri dan terdiam sesaat. Tatapannya kosong ke depan seolah tidak punya harapan hidup sama sekali.


"Apa yang calon permaisuri pikirkan? Upacara pernikahan akan di mulai sebentar lagi tapi... Calon permaisuri!" ucapan Ruyin terpotong saat Wei tiba-tiba berlari keluar kamar. Ia berteriak sambil berlari mengejar Wei yang berlari ke arah paviliun.


"Hentikan calon permaisuri!" teriak Tzuran saat pelayan lainnya hanya menatap dengan bingung.


Entah apa yang ada di pikiran Wei saat ini, tidak ada yang mengerti. Gadis itu tidak bisa mengusir perkataan Fengying semalam dari pikirannya. Perkataan Fengying bagaikan pedang yang selalu menusuk jantungnya tanpa jeda waktu. Wei tidak pernah berharap datang ke ke istana hanya untuk menghancurkan hidupnya, tidak ingin sama sekali.


Sekarang Wei berdiri di tepian jembatan seraya menatap ke arah danau buatan yang sangat luas. "Aku tidak bisa menjadi permaisuri!" tegasnya yang kali ini menatap ke arah langit.


Ruyin, Tzuran, dan para pelayan lainnya segera menarik tangan Wei agar tidak melompat ke danau.


Wei memberontak untuk lepas dari dayang dan para pelayannya. "Aku tidak ingin tinggal di istana dan menjadi permaisuri! Jika aku melakukan hal itu, aku sama saja dengan menghancurkan hidupku sendiri! Lebih baik aku mati daripada harus berada disini!" teriak Wei tak kalah nyaringnya membuat semua yang ada di sana semakin panik.


"Calon permaisuri tidak boleh seperti ini! Tolong, jangan berpikiran seperti itu!" seru Tzuran yang membuat Wei semakin memberontak untuk lepas.


Sungguh, Wei seolah sedang kehilangan akal sehatnya. Dia yang berkata pada dayang dan pelayan untuk menghargai hidup mereka kini justru dia yang ingin mengakhiri hidup.


"Beri hormat untuk ibu suri!" teriak dayang Nui dengan Nui yang berjalan menghampiri Wei.


Semua pelayan berhenti, begitu juga Wei yang kini menatap Nui.


"Kami memberi hormat untuk ibu suri!"

__ADS_1


Nui tidak memperdulikan para pelayan yang memberi hormat untuknya. Matanya menatap Wei dengan lembut dan penuh kehangatan, kemudian dia menggenggam kedua tangan Wei. "Apa masalahmu, permaisuri? Kenapa kau sampai berpikir untuk melakukan hal bodoh seperti ini?" ujar Nui lembut yang membuat Wei langsung menundukkan kepalanya.


"Mohon maafkan hamba, ibu suri..." lirih Wei dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Helaan napas terdengar dari hidung Nui. Wanita tua itu membawa Wei masuk kembali ke dalam kamarnya diikuti oleh semua dayang dan pelayan. Bak terhipnotis, Wei mengikuti Nui sambil berusaha menyamakan langkah mereka.


Angin seolah menusuk kulit Wei yang hanya dilapisi dengan terusan lengan tipis. Jelas sekali jika gadis itu masih memakai pakaian tidur dan belum bersiap sama sekali untuk acara pernikahan yang akan diadakan sebentar lagi.


Mereka sampai di kamar, Nui langsung mendudukkan Wei di atas ranjangnya. "Kau tahu dengan kebodohan yang kau lakukan hari ini? Kenapa seorang permaisuri memiliki pemikiran bodoh seperti itu?" tanyanya yang menusuk Wei meskipun terdengar lemah lembut.


"Apa kau ingin menentang takdir?" lanjutnya yang membuat Wei semakin menundukkan kepalanya.


"Aku tidak ingin menjadi permaisuri!" tegas Wei seraya menegakkan kepalanya dan menatap dalam kedua mata Nui.


Nui tidak terkejut setelah mendengar ketegasan Wei seolah gadis itu tidak akan berubah pikiran. Wanita tua itu duduk di samping Wei sambil menggenggam kembali tangan Wei.


"Kau sama seperti permaisuri terdahulu yang dibunuh oleh Guinying. Sehari sebelum pernikahan dia juga berusaha bunuh diri karena tahu anakku tidak akan pernah mencintainya. Aku sudah setua ini, tidak pernah menyangka kejadian ini akan terulang pada kau dan kaisar." cerita Nui membuat Wei tertarik untuk mendengar lebih lanjut.


"Saat melihatmu, aku seperti melihat permaisuri terdahulu. Begitu juga saat aku melihat Fengying, dia sama persis seperti anakku. Meskipun sikap kaisar kejam dan dingin, sebenarnya dia mempunyai sisi yang sangat rapuh."


Wei meragukan ucapan Nui. Bagaimana mungkin orang yang telah merenggut nyawa orang lain mempunyai sisi rapuh?


"Aku hanya memintamu untuk bersabar seperti permaisuri terdahulu. Awalnya mungkin akan sangat berat, tapi aku berjanji akan selalu membelamu. Derajatmu tidak boleh diinjak oleh siapa pun, termasuk selir kaisar." Nui menatap mata Wei penuh harapan agar gadis itu tidak berubah pikiran lagi.


"Kaisar telah menjatuhi hukuman mati pada orang yang tidak bersalah, bahkan kaisar tidak merasa bersalah sama sekali. Aku tidak bisa mendampinginya jika selalu seperti itu, ibu suri!" dada Wei naik turun saat membahas masalah ini. Dia begitu benci pada Fengying yang menjatuhi hukuman mati pada dayang dan semua pelayan lamanya.


"Kaisar seperti itu karena dia ingin melindungimu. Di istana ini ada banyak musuh yang mengelilinginya, karena itu kaisar lebih berhati-hati dan melindungi orang-orang di dekatnya. Kau harus bisa mengatasi masalah ini saat mendampingi kaisar. Dia tidak akan berubah jika tidak ada orang yang mengarahkannya. Kau orangnya, permaisuri!"

__ADS_1


Wei menundukkan kepala. Pikirannya berperang satu sama lain sehingga membuat mulutnya bungkam. Dalam hati terus membenarkan ucapan Nui, tapi pikirannya enggan untuk membenarkan.


__ADS_2