
Matahari semakin naik, membuat suasana menjadi lebih panas. Di area pelatihan, tepat di tengah lapangan tanah terdapat Fengying dan Wei. Hanya ada mereka berdua disini karena Fengying memerintahkan para prajurit untuk mencari musuhnya.
Sejak tiba di area pelatihan, Fengying langsung membawa Wei ke tengah lapangan tanpa mengatakan maksudnya membawa gadis itu. Wei juga tidak bertanya karena tenggorakannya terasa sakit.
"Bertarung pedang denganku. Jika kau kalah, maka kau harus menandatangani dokumen yang ada disana." Fengying menunjuk tumpukkan beberapa lembar dokumen yang ada di atas meja dekat gudang penyimpanan senjata yang ada di dekat pintu masuk.
Wei mengikuti arah yang di tunjuk Fengying, kemudian dia menghela napas. "Aku tidak bisa memainkan pedang, kaisar." ucap Wei seraya menundukkan kepalanya.
Fengying tidak mendengarkan. Dia mengambil sebuah pedang di gudang penyimpanan senjata, setelah itu dia memberikannya pada Wei. "Sampai kapan kau akan berbohong padaku, gadis rendahan?"
Senyum kecut terukir di bibir Wei. Pria itu sepertinya tidak akan pernah bisa lagi memanggilnya dengan benar. Dia memilih mengikuti permainan yang dibuat oleh Fengying daripada nantinya harus disiksa. Tapi Wei jujur soal dia tidak tahu bermain pedang. Dia tidak pernah punya kesempatan untuk berlatih pedang karena benda itu tidak bisa di pegang oleh orang rendahan.
Mereka memulai pertarungan dan Wei berkali-kali menjatuhkan pedang. Fengying yang melihat itu menganggap jika Wei hanya berpura-pura tidak tahu. Tidak ada lagi kejujuran dari diri Wei, baginya gadis itu adalah pembohong besar.
Saat Wei sudah mengambil pedangnya, Fengying tiba-tiba mengarahkan pedang ke dada Wei. Dia melihat Wei menahan napas yang membuatnya memajukan langkah. Semakin dia maju, semakin Wei memundurkan langkahnya.
"Apa kau akan tetap berpura-pura tidak tahu?" ujar Fengying saat punggung Wei menabrak dinding pembatas antara area pelatihan pedang dan area pelatihan panah.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Bagaimana aku harus memberitahu kaisar jika aku memang tidak bisa bermain pedang?" ujar Wei yang terdengar berani di telinga Fengying.
Wei berdehem sambil mengusap tenggorokannya yang terasa sakit. Tangannya juga sudah mulai memerah. "Mohon maaf, kaisar, aku tidak bisa berlama-lama disini. Apa aku boleh kembali ke kediaman permaisuri?"
Bukannya mengizinkan, Fengying tampak menggeram kesal. Dia melemparkan pedangnya ke samping kiri dan langsung mencengkram dagu Wei.
__ADS_1
"Berani sekali gadis rendahan berbicara seperti itu! Apa kau lebih sibuk daripada kaisar negeri ini?! Semakin hari sikapmu semakin lancang saja, apa kau ingin diberi pelajaran, gadis rendahan?!" tanyanya yang membuat Wei menggelengkan kepalanya.
Dia ingin memberi tahu jika tenggorokannya sakit, tapi Fengying tidak akan mungkin peduli padanya. Karena itu dia meminta izin untuk kembali ke kediamannya. Bukan maksud Wei untuk bersikap seperti orang sibuk, Fengying salah tangkap dengan maksud Wei.
Tidak puas melihat Wei tersiksa, Fengying menarik tusuk konde warna putih yang menyanggul rambut Wei sehingga kini rambut Wei terurai. Fengying menggoreskan tusuk konde tersebut ke leher belakang Wei dalam sekali goresan.
Ringisan terdengar dari mulut Wei bersamaan dengan darah yang menuruni lehernya sampai mengenai gaun bagian belakangnya. Wei menekan luka di leher dengan tangan kanannya untuk menghentikan pendarahan, setelah itu dia menatap Fengying. Tanpa sadar tatapan itu seperti tidak terima yang membuat Fengying merasa dilawan.
"Berani sekali menatapku seperti itu!"
Plakkkkk
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Wei sampai membuat wajahnya tertoleh ke kiri. Rasa perih dan panas menjalar di pipi kirinya. Pipi yang tadinya seputih salju kini memerah, terlihat jelas jika dia telah di tampar.
Wei berlutut di tanah seraya menundukkan kepalanya. "Aku mohon maaf, kaisar."
"Aku muak melihat wajahmu, cepat tandatangani dokumen itu!" perintahnya tidak ingin di bantah sama sekali.
Wei terkejut setelah membaca dokumen itu. Dokumen itu adalah tentang persetujuan untuk membangun kota baru di area perkebunan rakyat. Tidak hanya kota, dokumen lain memuat tentang persetujuan membangun area pelatihan di desa rakyat dengan status rendah.
"Kenapa ada dokumen seperti ini, apa tidak memikirkan akibatnya? Jika membangun kota baru di area perkebunan rakyat, bagaimana mereka akan melanjutkan hidup? Jika..."
"Tahu apa kau tentang masalah rakyat?!" ucapan Wei terpotong saat Fengying berteriak dengan nyaringnya.
__ADS_1
Fengying jongkok di hadapan Wei dengan tatapan tajamnya yang khas. "Aku tidak ingin mendengarkan ucapan bodohmu yang tidak tahu apa-apa tentang pemerintahan! Jadi, tandatangani saja dokumen itu dengan mulut berjahit!"
"Tidak. Meskipun aku tidak tahu apa-apa tentang pemerintahan, tapi aku tahu dokumen ini akan menyulitkan rakyat. Bukankah yang menjadi sasaran adalah rakyat rendahan? Rakyat rendahan jelas akan di rugikan, sedangkan para bangsawan akan mendapat keuntungan besar." ucap Wei yang membuat Fengying mengerutkan dahinya.
Wei menarik napasnya dalam. "Mohon pertimbangkan lagi isi dokumen ini, kaisar. Rakyat kaisar bukan hanya para bangsawan, tapi juga rakyat rendahan." ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Apa kau ingin menyelamatkan rakyat rendahan?" ujar Fengying sambil menangkup kedua pipi Wei. Anggukan kepala Wei menjadi jawaban atas pertanyaannya.
"Buat dokumen lagi, rundingkan isi dokumen yang kau buat bersama para wanita kerajaan. Aku memberimu waktu sampai besok malam. Temui aku di aula tengah dan jangan terlambat!" tekan Fengying seraya melepaskan tangannya dari pipi Wei. Dia mengambil semua dokumen itu, setelah itu dia segera berjalan keluar.
Wei menatap punggung Fengying yang semakin menjauh. Dia tersenyum miris saat merasakan sakit di leher belakang dan pipinya. "Bahkan punggung kaisar juga terlihat sangat membenciku," gumamnya.
Gadis itu menatap ke arah langit. Disana terdapat banyak gumpalan awan seolah berlomba-lomba untuk terlihat besar. Dia memejamkan mata sambil tersenyum lebar. Entah apa yang dia pikirkan sampai terlihat bahagia seperti itu padahal Fengying telah membuat luka lagi di tubuhnya.
Dia membuka mata saat mendengar derap langkah kaki seseorang. Wei segera berdiri dan menatap ke sekelilingnya dengan was-was. Dia takut jika ada musuh Fengying yang akan membunuhnya.
Tidak ada siapa-siapa selain dirinya disini. Wei terkekeh kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. "Ah, kenapa aku setakut ini?"
Gadis itu memilih untuk meninggalkan area pelatihan. Belum sempat dia melangkahkan kaki, tiba-tiba Fengying berlari masuk ke area pelatihan dan langsung menarik tangannya sehingga kini Wei berada di pelukan Fengying.
Fengying membulatkan mata saat seseorang di atap area pelatihan panah melepaskan anak panahnya. Dengan cepat dia bergerak ke samping sambil membawa Wei yang ada di pelukannya. Mereka terjatuh ke bawah dengan posisi Wei dibawah dan Fengying yang berusaha menahan beban tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Wei.
Jantung Wei berdetak dengan cepat, kedua pipinya mulai merah merona. Dilihat dari dekat saat ini, Wei dapat menangkap raut panik dari wajah Fengying.
__ADS_1
Tak lama para prajurit datang dan langsung mengejar orang yang tadi melepaskan anak panah ke arah Wei. Bersamaan dengan itu, Fengying dan Wei beranjak berdiri, kemudian mereka saling pandang.
"Kau hutang nyawa padaku!"