Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 8: Tragedi Buah Pir


__ADS_3

Para pelayan yang masing-masing sibuk membersihkan kediaman permaisuri dan menyiapkan makanan di dapur mendadak terkejut saat mendengar suara air dari kolam ikan yang ada di belakang perpustakaan. Mereka semua segera pergi menuju kolam ikan dengan raut wajah panik, apa lagi saat mendengar teriakan Kilin.


Di dalam kolam ikan terdapat Wei yang baru saja berdiri dengan buah pir di tangan kanannya. Gaunnya basah dan dahinya berdarah karena terbentur ke bebatuan yang ada di dasar kolam ikan.


Menyadari semua orang menatapnya dengan panik dan khawatir, Wei mengembangkan senyum di bibir manisnya. "Aku baik-baik saja."


Mana mungkin dia baik-baik saja. Saat ini dia merasa seluruh tubuhnya benar-benar sakit. Dahi dan tangan kirinya terasa sangat perih karena bertabrakkan dengan batu. Semua karena salahnya yang mengambil buah pir.


"Apa yang kalian lihat, cepat panggil tabib sekarang juga!" teriak Kilin yang baru saja sampai di dekat kolam dan langsung membantu Wei untuk naik.


Para pelayan tersadar, kemudian sebagian dari mereka berlari keluar untuk memanggil tabib, sisanya membantu Wei berdiri.


"Mohon maafkan hamba, calon permaisuri. Karena kelalaian hamba, calon permaisuri menjadi terluka." ucap Kilin dengan penuh rasa bersalah. Dia meringis saat melihat darah mengalir keluar dari dahi Wei.


Melihat wajah Kilin, Wei menjadi tertawa. Dia memang merasakan sakit yang luar biasa tetapi Kilin mewakili dirinya.


"Tenang saja, dayang, luka ini tidak sakit sama sekali. Aku tidak ingin kalian menyalahkan diri karena ini murni kesalahanku." tutur Wei setelah dia puas menertawakan Kilin.


"Tapi tetap saja... calon permaisuri!" Kilin terkejut karena Wei tiba-tiba pingsan. Buah pir terlepas begitu saja dari tangannya. Yang membuat semuanya panik adalah wajah Wei sangat pucat. Mereka takut Wei mengalami luka serius setelah terjatuh ke kolam ikan.


Kilin mengangkat kepala Wei dan menaruhnya ke atas pahanya. "Cepat bawa calon permaisuri ke rumah! Cepat!" teriak Kilin dengan penuh rasa panik.


Mereka semua kemudian membawa Wei masuk ke dalam rumah. Mereka juga mengganti gaun Wei yang basah tadi dengan gaun tidur warna putih polos. Suasana di kediaman permaisuri saat ini benar-benar kacau karena Wei yang belum sampai sehari disana sudah pingsan.


Mereka semua takut kejadian seperti permaisuri terdahulu akan terulah lagi. Permaisuri yang selalu meninggal bahkan sebelum melakukan apa-apa untuk negeri.

__ADS_1


Tak lama para wanita berpakaian serba putih datang ke kediaman permaisuri. Di tangan mereka masing-masing membawa nampan berisi obat-obatan. Mereka semua segera masuk ke dalam rumah dan memeriksa keadaan Wei yang terbaring lemah di ranjang kamarnya.


Luka di dahi dan tangan kiri Wei sudah di perban. Di tangan kirinya sedikit robek sehingga dijahit oleh tabib.


"Sebentar lagi kalian akan mendapatkan masalah yang besar karena tidak menjaga calon permaisuri dengan baik. Kalian ingat, kan dengan para pelayan permaisuri terdahulu?" ujar tabib yang saat ini menusukkan jarum pengobatan ke pergelangan tangan kiri Wei.


Kilin menganggukkan kepala mengerti. "Tidak apa-apa, aku akan menerima semuanya. Calon permaisuri sampai seperti ini juga murni karena kesalahanku, aku berhak mendapat hukuman yang berat." sahutnya yang membuat tabib tersebut mengembuskan napas kasar.


"Kaisar telah tiba, beri hormat pada kaisar!"


Semua yang ada di kamar terkejut, kemudian mereka segera bersujud saat sosok gagah tegas itu menginjakkan kaki ke dalam kamar.


"Kami memberi hormat untuk kaisar!"


Kaisar Fengying tidak memperdulikan semua orang yang sujud untuk memberi hormat padanya. Dia fokus menatap Wei yang terbaring di atas ranjang dengan perban di kepala dan tangan kirinya. Kakinya mulai melangkah mendekati Wei.


"Berani sekali kalian! Aku menyuruh kalian untuk menjaganya dengan baik tapi kenapa sekarang dia terluka seperti ini?!" teriak Fengying dengan penuh amarah.


"Penggal saja kepala hamba, kaisar! Hamba melakukan dosa besar karena tidak bisa menjaga calon permaisuri dengan baik!" seluruh tubuh Kilin bergetar hebat, saat ini dia sangat ketakutan.


"Pengawal, bawa dayang tidak becus ini keluar dari kediaman permaisuri dan segera penggal kepalanya!" perintah Fengying tidak ingin dibantah yang langsung di laksanakan para pengawalnya.


Kilin tidak memberontak sama sekali seolah semua memang kesalahannya. Dia tersenyum tulus saat menatap Wei yang terbaring di atas ranjang. 'Betapa malangnya, calon permaisuri' batinnya.


"Hamba memberi hormat untuk yang terakhir kalinya, kaisar. Mohon maafkan hamba," ucap Kilin sebelum para pengawal menyeretnya keluar dari kediaman permaisuri.

__ADS_1


Tidak ada yang berani mengangkat kepala, badan semua pelayan bergetar ketakutan. Mereka membayangkan jika suatu hari nanti kejadian seperti ini terulang lagi hingga mereka akan di penggal. Sungguh mereka sangat ketakutan saat Kaisar Fengying marah seperti ini. Mereka bertekad untuk bekerja dengan baik agar tidak melakukan kesalahan seperti Kilin. Kejadian hari ini tidak akan pernah bisa mereka lupakan sampai kapanpun bahkan sampai mereka mati.


Fengying kembali menatap Wei yang masih memejamkan kedua matanya dengan rapat. "Bagaimana keadaannya?" tanya Fengying tanpa mengalihkan pandangannya dari Wei.


Tabib yang tadi mengobati Wei terkejut. "Calon permaisuri kelelahan, kaisar."


"Lelah? Apa yang dia lakukan hari ini?"


"Mohon untuk menjawab, kaisar. Sejak pagi tadi calon permaisuri sudah berada di perpustakaan untuk belajar, mungkin karena itu calon permaisuri kelelahan." sahut seorang pelayan yang sujud paling depan di antara yang lainnya.


"Benar-benar tidak berguna! Kenapa kalian membiarkan dia belajar sampai kelelahan?! Aku meminta dayang bodoh itu untuk mengajarinya membaca dan menulis, bukan memaksanya!" lagi, Fengying tidak bisa menahan kesabarannya lagi.


Saat Fengying akan menghampiri pelayan di kediaman permaisuri, Xian, pengawal pribadi Fengying langsung menahannya. Xian menggelengkan kepalanya yang membuat Fengying kesal setengah mati.


"Kalian tidak boleh meninggalkan kediaman permaisuri sampai calon permaisuri sadar dan kembali sehat. Kalian juga tidak boleh makan atau minum sebelum calon permaisuri sadar. Jika aku mendengar kalian melanggar perintahku, aku sendiri yang akan memenggal kepala kalian satu persatu!"


Setelah mengatakan perintah yang membuat pelayan dan tabib itu takut, Fengying beserta pengawalnya langsung meninggalkan kediaman permaisuri. Mereka menuju aula tengah, tempat perkumpulan kaisar dan para menteri untuk membahas masalah yang melanda Negeri Taoming.


"Beri hormat untuk kaisar!" seru kasim saat Fengying memasuki aula tengah.


"Kami memberi hormat untuk kaisar!"


Sepuluh baris yang terdiri dari sepuluh pria berpakaian jubah warna biru tua itu membungkukkan badan untuk memberi hormat kepada Fengying yang kini sudah duduk di atas singgasananya.


Wajahnya yang tegas dengan mata tajam itu menyorot ke semua menteri yang membungkukkan badan di hadapannya. Saat semua menteri sudah menegakkan badan kembali, Fengying langsung melemparkan sebuah buku ke lantai.

__ADS_1


Matanya sangat tajam bak pedang yang siap menebas tubuh seseorang. "Apa ini yang kalian sebut kesetiaan?!"


__ADS_2