Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 16: Sumpahan Kaisar


__ADS_3

Fengying duduk di atas singgasananya yang ada di aula tengah. Hari sudah gelap, aula juga kini hanya di terangi oleh lilin. Sejak selesai rapat sore tadi, dia tidak meninggalkan aula tengah sama sekali. Dia termenung sambil memperhatikan tumpukkan buku di atas mejanya. Pikirannya melayang entah kemana saat ini.


Xian membuka pintu aula, ia hanya menghela napas saat mendapati Fengying masih duduk tanpa beranjak sedikitpun. Xian berjalan mendekat, kemudian menundukkan kepalanya.


"Kaisar, kembalilah ke kediaman kaisar. Besok adalah hari pernikahan kaisar," ucap Xian yang membuat Fengying terkekeh kecil.


"Apa kau tahu, Xian, jika pernikahan adalah hal yang mengganggu pikiranku selama seminggu ini?" tutur Fengying sambil menatap Xian yang masih menundukkan kepalanya.


"Dulu aku menikah dengan tujuan memperkuat kekuasaanku, itu pun dengan gadis dari keluarga bangsawan. Tapi kali ini aku tidak tahu tujuanku menikah untuk apa. Wei hanya anak dari budak miskin yang bahkan tidak berilmu sama sekali. Bisa aku gunakan sebagai apa dia nantinya?" lanjut Fengying yang kali ini membuat Xian langsung menatapnya.


Fengying tertawa saat melihat raut wajah Xian yang seperti terkejut. Fengying mengakui jika dirinya menikah memang untuk memperluas kekuasaannya. Bukankah para bangsawan menikah dengan tujuan seperti itu?


"Wei tidak memiliki kekuasaan sedikit pun. Bagaimana aku harus menggunakannya untuk memperluas kekuasaanku?" ujar Fengying bertanya pada Xian.


Saat Xian akan membuka mulutnya, tiba-tiba kasim di luar aula berteriak.


"Kaisar, calon permaisuri ingin bertemu dengan kaisar!"


Fengying mengerutkan dahi bingung. Untuk apa Wei ingin menemuinya? Sepertinya aturan tentang pernikahan telah sampai di telinga Wei, kenapa kali ini Wei melanggar aturan tersebut?


"Aku akan membawanya kembali ke kediaman permaisuri, kaisar." Xian akan berjalan keluar, namun Fengying menghentikannya.


"Tidak perlu, biarkan saja dia masuk."


"Itu melanggar aturan istana, kaisar. Sehari sebelum pernikahan tidak boleh bertemu sama sekali."

__ADS_1


Ya, Fengying juga tahu begitu juga dengan Wei. Pria itu hanya penasaran dengan hal yang mengganggu pikiran Wei sehingga gadis itu tidak bisa menunggu sampai besok. "Lakukan saja perintahku!"


Xian tidak berkata lagi, dia langsung menjalankan perintah Fengying. Saat dia membuka pintu, Wei masuk begitu saja dengan raut wajah yang sulit di artikan. Xian keluar dari aula tengah, menyisakan Wei dan Fengying berdua.


Wei menundukkan kepalanya untuk memberi hormat pada Kaisar Fengying. "Aku memberi hormat untuk kaisar!" setelah itu Wei segera mengangkat kepalanya, menatap Fengying yang duduk di atas singgasananya.


Fengying turun dari singgasananya untuk menghampiri Wei. "Apa yang membuatmu datang kesini, Wei?"


"Mohon maafkan kelancanganku karena datang menemui kaisar sehari sebelum pernikahan. Ada yang mengganggu pikiranku sehingga aku dengan berani datang kesini." jelas Wei tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Fengying.


"Baiklah, apa yang mengganggu pikiranmu?"


Wei terdiam cukup lama. Sejenak dia memikirkan perkataan Ruyin yang mengatakan jika bertemu sehari sebelum pernikahan maka hal yang tidak diinginkan terjadi pasti akan terjadi. Tapi disisi lain dia tidak bisa tenang sebelum mendengar penjelasan langsung dari mulut Fengying tentang dayang dan pelayan lamanya.


Gadis itu menatap tangannya yang digenggam oleh Fengying. Ada rasa hangat di hatinya seolah Fengying telah menyalurkan kehangatan ke dalam hatinya. Dia kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa benar kaisar telah menjatuhi hukuman mati untuk dayang dan pelayan lamaku?"


Senyum di bibir Fengying memudar setelah mendengar pertanyaan Wei. "Siapa yang memberitahumu?" tanyanya.


"Selir pertama dan selir kedua. Apa benar?" kedua mata Wei menatap Fengying dengan harapan bahwa yang di katakan Zhuan dan Quolin adalah kebohongan. Dengan begitu dia tidak akan hidup dengan rasa bersalah.


"Iya, aku memang menjatuhi hukuman mati pada mereka. Hukuman itu pantas untuk mereka karena tidak menjagamu dengan baik. Saat itu seandainya mereka menjagamu, kau tidak akan mungkin terluka. Tubuh permaisuri tidak boleh terluka sama sekali, mereka tidak mengerti sehingga membuat luka di tubuh berhargamu ini." jelas Fengying yang membuat Wei melepaskan tangannya dari genggaman tangan Fengying.


Bagi Wei dunia seolah terhenti. Dadanya kembali sesak dengan mata yang berkaca-kaca. Benar, dayang dan pelayan lamanya telah dijatuhi hukuman mati karena kecerobohannya. Hanya karena Wei terjatuh ke kolam ikan dan terluka, dayang dan semua pelayannya yang harus menanggung hukuman.

__ADS_1


"Tapi aku sudah mengatakan jika itu adalah kesalahanku. Kenapa mereka yang dijatuhi hukuman? Mereka sama sekali tidak bersalah, kaisar..." ucapan Wei terpotong karena Fengying tiba-tiba berkata.


"Apa kau masih tidak mengerti? Saat permaisuri terluka, kau pikir karena kesalahan permaisuri itu sendiri? Tidak, Wei! Yang bertanggung jawab menjagalah yang akan di salahkan dan mendapat hukuman. Semua bisa di cegah jika saja mereka menjagamu dengan baik!" tegas Fengying dengan sorot mata menatap mata Wei tajam.


Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Wei. Dia tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Sekarang dia tidak bisa lagi menjalani hidup dengan bahagia setelah dayang dan semua pelayan lamanya mati karena dirinya. Wei juga membenci buah pir setelah menyukai dan memuji buah itu. Tidak selamanya yang manis adalah kebahagiaan.


"Apa nyawa mereka tidak berharga di istana ini? Mereka tidak bersalah tapi mereka menanggung semua hukuman yang diberikan. Mereka bahkan tidak tahu apa-apa, kaisar. Bagaimana mungkin kaisar tega membunuh mereka semua?!" teriak Wei kehabisan kesabarannya. Dadanya turun naik, napasnya memburu yang membuat Fengying tidak suka.


"Karena aku, mereka kehilangan hidup yang berharga. Apa kaisar ingin aku bahagia dengan pernikahan ini? Aku sama sekali tidak bisa bahagia!" lanjut Wei sambil memukul dadanya yang sesak berkali-kali.


Fengying tersenyum sinis. "Jadi, kau menyalahkan aku karena kematian dayang dan pelayan lamamu?"


Angin berhembus dari jendela yang terbuka, membuat suasana di dalam aula tengah menjadi lebih dingin.


"Aku tidak ingin menjadi permaisuri, hukum saja aku."


Sejenak Wei melupakan sumpah yang telah dia ucapkan di hadapan Fengying membuat pria itu tertawa. Fengying berpikir jika Wei sama saja dengan gadis lain yang tidak menjalankan sumpahan mereka. Sayang sekali jika Fengying harus memasukkan Wei ke penjara dingin karena gadis itu jauh-jauh hari sudah di ramalkan menjadi permaisuri negeri ini.


Fengying mencengkram kedua bahu Wei yang membuat gadis itu meringis kesakitan. "Siapa yang mengizinkanmu untuk melanggar sumpahan, hm? Apa kau lupa dengan sumpahan yang telah kau ucapkan di hadapanku?" ujar Fengying dengan dinginnya.


Fengying mendekatkan tubuhnya ke tubuh Wei. "Kau akan tetap menjadi permaisuri negeri ini. Jika kau tidak bisa bahagia, aku akan membuat hidupmu menderita sampai akhir. Bukankah kau merasa bersalah pada dayang dan pelayan lamamu sehingga tidak akan bisa bahagia?"


Wei meneguk salivanya. Fengying saat ini sangat menakutkan baginya. Dari awal Wei berpikir jika Fengying adalah sosok kaisar yang lembut dan hangat, terlihat dari sikapnya dalam memperlakukan Wei. Tapi kali ini yang Wei lihat adalah sosok kaisar yang kejam dan tidak punya perasaan. Ucapan Ruyin memang benar jika tidak seharusnya percaya pada orang di istana. Saat ini hidup Wei di pertaruhkan di hadapan Fengying.


"Aku akan membuat hidupmu menjadi tidak berarti, Wei. Itu sumpahanku di hadapanmu!"

__ADS_1


__ADS_2