Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 28: Tentang Aku


__ADS_3

Suasana menjelang malam itu terasa sangat panas dan menegangkan. Tapi bukankah istana memang tempat yang menegangkan? Lianxi yang tiba-tiba datang dan menampar Wei itu membuat keadaan semakin memanas.


Wei mengusap pipi kanannya, dengan perasaan marah dia melayangkan tatapan tajam pada Lianxi. "Yang seharusnya putri tampar adalah Xiahe, karena dia sudah berani berbohong padaku!" tegasnya yang membuat Lianxi semakin marah.


"Kau benar-benar gadis rendahan yang tidak tahu diri! Seharusnya kau diam saja dan menerima semuanya. Apa kau sudah lupa asalmu darimana, hah?"


"Ya, aku memang gadis miskin rendahan! Tapi serendah apapun statusku, aku tidak akan pernah diam jika merasa tidak adil. Xiahe telah berbohong padaku dan merasa tidak bersalah. Untuk menutupi kesalahannya, dia melemparkan semuanya pada Quolin dan Baoyi. Apa seorang putri bangsawan pantas berlaku seperti itu, hah?" Lianxi terdiam, matanya kini menatap Xiahe yang berdiri di belakangnya dengan napas naik turun.


Wei juga seperti itu. Dia lelah dan ingin meluapkan semua emosinya. Menahan diri sangatlah menyiksa batinnya. Apa lagi fisik dan batinnya tidak akan berhenti di siksa oleh Fengying.


Xiahe tersenyum sinis. "Karena diangkat menjadi permaisuri, kau merasa sudah hebat, kan? Hei, gadis rendahan antah berantah, kau tidak akan pernah bisa menjadi permaisuri seutuhnya. Kau tahu karena apa?" ia berjalan mendekati Wei dengan sorot mata meremehkan. "Karena kau hanya digunakan sebagai umpan oleh kaisar." bisik Xiahe tepat di telinga kanan Wei.


"Kalau begitu, aku akan menjadi umpan yang sangat baik agar kaisar bisa dengan mudah menangkap ikan-ikan seperti kalian." lembut Wei yang membuat Xiahe mengerutkan dahi.


Tangan kanan Wei menepuk-nepuk pundak kiri Xiahe seraya tersenyum. "Putri Xiahe, kau sangat menyukai kaisar, bukan? Tapi sayang, keinginanmu untuk memiliki kaisar seutuhnya tidak bisa kau dapatkan karena kalian adalah keluarga."


Tubuh Xiahe menegang, kedua tangannya terkepal kuat dan sorot mata menusuk tajam ke kedua mata Wei. "Omong kosong darimana itu!"


"Meskipun kaisar hanya menjadikanku umpan, tapi aku bisa memiliki kaisar seutuhnya." setelah mengatakan hal itu, Wei menegakkan tubuhnya.


"Aku akan menemui kaisar sekarang. Lakukan perintahku tadi tentang hukuman putri Xiahe. Untuk selir kedua dan selir ketiga, obati mereka di kediaman selir!" tegasnya sebelum pergi meninggalkan aula utama.


......*****......

__ADS_1


Sebelum memasuki aula tengah, Wei mengehala napas. Jantungnya berdegup kencang setiap kali ingin bertemu dengan Fengying. Dia takut akan disiksa kembali sedangkan luka sebelumnya belum sembuh sepenuhnya.


"Kaisar, permaisuri datang untuk menemui kaisar!" teriak pengawal yang menjaga pintu aula tengah.


Pintu aula dibuka, dengan berbagai pertimbangan akhirnya Wei melangkahkan kaki ke dalam. Aula tengah benar-benar sepi, ya, sepertinya Fengying sengaja mengosongkan aula tengah agar dia dengan mudah menyiksa Wei.


Langkah Wei terhenti saat mendapati Fengying tertidur di kursinya dengan posisi terbaring menghadap ke pintu aula. Wajah yang biasanya kejam itu, saat tertidur berubah 180 derajat. Wajah itu terlihat lelah dan ketakutan. Wei memberanikan diri untuk mendekati Fengying. Dalam momen singkat ini dia ingin memperhatikan wajah Fengying dari dekat.


Ia duduk di lantai, tepat di depan Fengying. Dia menekuk kedua kakinya dan menjadikan lutut sebagai penopang dagu. "Kaisar salah paham dengan maksud ucapanku waktu itu. Aku tidak pernah meninggalkan kaisar, bahkan jika aku harus mengorbankan nyawa sekalipun. Aku akan tetap ada di sisi kaisar, meskipun suatu hari nanti aku berkata akan meninggalkan kaisar." lirih Wei pelan takut membangunkan Fengying yang masih tertidur.


"Apa kaisar tahu tentang aku? Hm, aku memang gadis miskin rendahan di mata semua orang. Tapi aku bisa membaca, menulis, dan memahami ilmu dengan cepat. Aku juga bisa bela diri karena aku tinggal di hutan, setidaknya aku harus bisa ilmu bela diri untuk melindungi diri dari para bandit. Aku bisa bermain pedang jika belajar, tapi aku tidak mau."


"Jika kaisar bertanya alasannya... Hm, karena aku takut tiba-tiba diminta ikut berperang."


Wei mengembuskan napas, ia kemudian beranjak berdiri dan membereskan dokumen yang berserakan di atas meja. Beberapa menit setelah dia selesai membereskan dokumen, terdengar suara sinis dari belakang.


"Kenapa kau disini?" Wei menoleh ke belakang dan mendapati Fengying yang sudah duduk dengan tatapan tajam.


Wei memberi hormat. "Aku datang kesini untuk memberikan dokumen kepada kaisar." ia kemudian memberikan dokumen kepada Fengying.


Fengying mengambil dokumen dari tangan Wei. "Keluarlah, aku tidak ingin melihat wajahmu disini!" serunya yang bagaikan pisau menusuk tepat ke hati Wei.


Gadis itu menundukkan kepala. "Baik kaisar, aku pamit undur diri."

__ADS_1


Dengan hati teriris Wei pergi meninggalkan aula tengah. Di luar, ia disambut oleh Ruyin dan Tzuran dengan wajah panik. Entah masalah apa lagi yang akan dihadapi Wei sekarang, setelah memasuki istana, hidupnya tidak pernah jauh dari masalah.


"Permaisuri..." Ruyin menggantung ucapannya, sementara Tzuran yang berdiri di belakangnya hanya diam dengan kepala tertunduk.


Gadis itu menghela napas panjang. "Ada apa?"


"Ibu suri memerintahkan permaisuri untuk menemuinya sekarang di aula utama." dahi Wei berkerut setelah mendengar ucapan Ruyin. Tanpa bertanya lagi, dia segera pergi menuju aula utama.


Banyak kebingungan yang merayap di pikirannya saat ini. Apa lagi saat mendengar ibu suri yang memanggilnya.


Langkahnya terhenti saat mendapati aula lebih ramai daripada tadi. Pandangan Wei teralih ke Nui yang menatapnya dengan penuh kemarahan tak jauh darinya berdiri saat ini. Dia juga mendapati Xiahe yang menangis tanpa henti dengan Lianxi yang tidak henti menepuk-nepuk punggungnya. Tak hanya itu, Quolin dan Baoyi terlihat sedang berlutut di hadapan Nui.


"Ada apa ibu suri memanggilku?" ujar Wei setelah sampai di hadapan Nui dan memberi hormat.


Nui mengalihkan pandangan. "Apa yang telah kau perbuat pada cucuku? Kenapa kau berani memberi hukuman cambuk padanya?!" teriaknya menggelegar yang membuat Wei terlonjak kaget.


"Mohon maafkan aku, ibu suri. Aku memberinya hukuman bukan tanpa alasan, tapi karena putri Xiahe bersalah."


"Permaisuri berbohong, ibu suri! Aku hanya mengambil dokumen dari kediaman selir dan berniat untuk memberikannya pada permaisuri. Tapi permaisuri menuduhku tidak menuruti perintahnya." Xiahe membela diri di isakan tangisnya.


Quolin menegakkan tubuhnya. "Benar, ibu suri. Putri Xiahe mengambil dokumen dari kediaman selir untuk memberikannya langsung kepada permaisuri. Putri seperti itu karena takut permaisuri akan kelelahan jika mengambilnya sendiri."


Tzuran yang berada di belakang Ruyin mulai melangkahkan kaki dan berdiri di samping Wei. "Semua yang dikatakan putri Xiahe dan selir kedua tidak benar, ibu suri. Permaisuri di fitnah!"

__ADS_1


__ADS_2