Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 29: Malam Pertama


__ADS_3

"Diamlah!" teriak Nui menggelegar yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian.


"Meskipun Xiahe sering berlaku kejam, tapi aku tahu betul bagaimana sifat cucu kesayanganku ini. Kau, permaisuri negeri ini tidak sepantasnya seperti itu kepada putri negeri ini!" tekan Nui seraya menunjuk-nunjuk Wei.


Wei menundukkan kepalanya, kedua tangannya terkepal dibalik jubah tebal yang ia kenakan. "Mohon maafkan aku, ibu suri. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi sasaran disini. Tapi aku akan tetap memberikan hukuman kepada putri Xiahe, mohon hargai keputusanku sebagai ibu negeri ini." ujarnya dengan sopan, namun menusuk ke hati orang-orang yang memfitnahnya.


Nui berjalan mendekati Wei. "Begitu? Sejak kapan kau seberani ini, permaisuri? Apa kau terbuai oleh sikap manisku sehingga kau bisa bertindak semaumu?"


"Aku tidak bertindak semauku, ibu suri. Putri Xiahe telah berbohong dengan memperalat para selir, kejadian sebenarnya tidak seperti yang mereka bicarakan. Aku tidak bisa diam saja setelah melihat kebenarannya."


Xiahe semakin terisak. "Ibu suri, aku tidak mungkin berbohong. Aku telah di fitnah oleh permaisuri."


Nui terdiam sambil menatap tajam Wei. Dia merasakan aura permaisuri benar-benar melekat dalam kepribadian Wei. Mendadak dia merasa takut dan berpikir untuk menyingkirkan Wei dari posisinya.


"Apa kau lupa permaisuri? Aku lebih berkuasa daripada kau. Aku membantah hukuman yang kau berikan pada Xiahe, tapi sebaliknya aku akan menghukummu! Masukkan permaisuri ke dalam penjara dingin!" teriak Nui lancang.


Ruyin mengangkat kepalanya. "Tidak, ibu suri! Penjara dingin hanya untuk orang yang telah melakukan kejahatan besar, bagaimana bisa ibu suri menghukum permaisuri seperti itu?"


"Berani sekali kau dayang rendahan! Apa sifat pelawanmu ini diajarkan oleh permaisurimu, hah?!"


"Hamba menentang hukuman yang ibu suri berikan kepada permaisuri. Jika ibu suri masih tetap menjatuhi hukuman penjara dingin kepada permaisuri, aku akan menggantikan permaisuri!" tegas Ruyin yang membuat Wei langsung menatapnya.


"Dayang, apa kau sadar dengan ucapanmu barusan?!"


"Aku tidak akan menyesal mati di atas kebenaran, permaisuri."


Rasanya memang tidak masuk akal, Wei juga menentang hukuman yang diberikan Nui kepadanya. Dia dapat mengetahui keinginan Nui dari hukuman yang dijatuhkan padanya. Semua anggota keluarga kerajaan menginginkan dirinya lengser, padahal sejak awal Nui mendukungnya secara penuh. Xiahe memang bukan lawan yang mudah untuknya.


"Lihatlah, semua orang ingin gadis miskin itu turun dari posisi permaisuri. Dia kira dia pantas, dasar tidak tahu diri!" Annchi berbisik pada Zhuan yang berdiri di sampingnya. Sedari tadi mereka berdiri disana, menyaksikan semuanya sejak awal.


Zhuan menyenggol lengan Annchi. "Jaga bicaramu, selir ketiga. Dia memang miskin tapi memiliki otak yang cerdas, lihatlah dia dan bagaimana caranya berbicara."


"Beri hormat pada kaisar!"


Fengying memasuki aula utama dengan angkuh. Semua orang yang ada disana terdiam dan memberi hormat pada Fengying.


"Kenapa kalian membuat keributan di aula utama?" tanyanya dingin seraya menatap Wei dan Nui bergantian.

__ADS_1


"Permaisuri telah membuat kesalahan dan aku menjatuhi hukuman penjara dingin pada permaisuri." sahut Nui yang membuat Fengying langsung menghampirinya.


"Kesalahan apa yang telah istriku perbuat?"


"Dia menuduh Xiahe telah mengambil dokumen dari kediaman selir untuk diberikan sendiri pada kaisar, tapi pada kenyataannya Xiahe mengambil dokumen itu agar permaisuri tidak perlu repot mengambilnya sendiri."


Fengying terkekeh kecil seraya menatap Xiahe yang sedang menundukkan kepalanya. "Sejak kapan kau sebaik itu, Xiahe?"


"Kaisar! Apa kau lebih mempercayai permaisuri daripada keluargamu sendiri?!" teriak Nui.


"Tentu saja, ibu suri. Pertanyaan ibu suri sangat tidak bernilai. Lalu, keluarga? Sejak kapan kalian adalah keluargaku?" dingin Fengying sambil membawa Wei untuk berdiri di sampingnya.


"Jika kejadian seperti ini terulang lagi, aku akan tetap mempercayai permaisuri karena aku lebih mengenal permaisuri dibandingkan kalian. Bukankah tidak adil, ibu suri? Aku baru akan dianggap keluarga ketika ibu suri menginginkan sesuatu. Kenapa, apa ibu suri ingin permaisuri turun dari posisinya?" Nui terdiam setelah mendengar kalimat demi kalimat yang di keluarkan Fengying.


"Lakukan saja semau kalian, terserah lewat cara apa kalian akan membuat permaisuri lengser. Aku sebagai kaisar negeri ini tidak akan diam saja. Jika ada yang berani mengganggu jalan permaisuri, aku sendiri yang akan berhadapan dengan kalian!" tegas Fengying yang membuat Wei langsung menatapnya.


Untuk sejenak hati Wei berdegup kencang. Tapi dia sadar jika semua itu hanyalah sandiwara Fengying.


Fengying membawa Wei ke kediamannya. Sepanjang perjalanan mereka saling diam. Wei hanya mengikuti jalan Fengying dengan tangannya yang ditarik oleh Fengying.


"Kau jangan berbesar hati, aku tidak menyukaimu!"


"Aku ingin minum, kau diamlah disini!"


"Bukankah besok kaisar ada rapat, bagaimana__"


"Aku menyuruhmu diam disini bukan mengoceh, apa kau tidak paham?!" bentak Fengying yang membuat Wei langsung menutup rapat mulutnya.


Fengying mengambil sebotol minuman keras dan langsung meneguknya tanpa tersisa setetes pun dari botol tersebut. Wei yang duduk di hadapan Fengying hanya mengembuskan napas panjang karena tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal besok pagi kaisar akan menghadiri rapat bulanan, tapi saat diberi tahu pria itu tidak peduli dan tetap minum.


Sebotol


Dua botol


Empat botol


Tak terasa malam semakin larut. Fengying tak berhenti meneguk minuman keras sehingga hampir sepuluh botol yang berserakan di atas meja. Wei sudah tidak tahan saat Fengying mengambil sebotol minuman keras lagi.

__ADS_1


"Hentikan, kaisar." Wei mengambil botol yang ada di genggaman Fengying.


"Kaisar sudah minum terlalu banyak, waktunya untuk tidur." lanjut Wei yang membuat Fengying langsung menatapnya.


Pria itu terkekeh kecil seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Wei. "Kau... Kenapa kau sangat mirip seorang permaisuri? Aku memungutmu dari tempat kotor, membersihkanmu dan menjadikanmu permaisuri negeri ini. Tapi kenapa kau memang seperti permaisuri bahkan jika aku tidak memberimu gelar itu?"


Wei terdiam, dia masih ingin mendengar kalimat-kalimat lain dari mulut Fengying. Ucapan seseorang yang sedang mabuk adalah murni dari dalam hatinya sendiri.


"Aku takut jika kecerdasanmu mengalahkan kekuasaanku..."


"Apa kau ingin menurunkan aku dari posisi kaisar? Aku sadar diri jika aku memang tidak layak menjadi seorang kaisar."


"Kaisar," Wei menangkup kedua pipi Fengying membuat mereka kini bertatapan dalam jarak dekat.


"Bertahan sampai sekarang sudah membuat kaisar layak, sangat layak. Aku tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuasaan yang kaisar bangun dengan susah payah."


"Karena aku hanya wanita yang akan menopang kaisar dari belakang, tidak akan pernah bisa berdiri di samping kaisar."


"Kau sangat cantik, permaisuriku."


Kedua pipi Wei bersemu merah. Ia melepaskan kedua tangannya dari pipi Fengying dan sedikit menjauhkan tubuhnya, namun Fengying menarik pinggangnya sehingga kini dia tepat berada di atas kedua paha Fengying.


"Kaisar, apa yang akan kaisar lakukan?" tanya Wei dengan nada bergetar saat Fengying mendekatkan wajahnya.


Fengying tersenyum lembut seraya membelai lembut wajah Wei. "Aku memerlukanmu malam ini, permaisuri."


Jantung Wei berdegup kencang. Dia ingin keluar dari sana tapi tenaga Fengying sangat kuat. Ingin memberontak pun percuma karena pria di hadapannya saat ini sudah dibutakan oleh nafsu.


Srettt


Gaun yang Wei pakai robek begitu saja saat Fengying menariknya. Setengah dada Wei terlihat yang membuat wanita itu bersemu malu dan berusaha menutupi dadanya.


"Kau sangat indah," puji Fengying.


Wei tidak tahu keputusannya saat ini benar atau salah. Dia takut, bingung, dan sedikit senang dan bingung harus mendahulukan perasaan yang mana. Namun, sebuah ciuman mendarat di bibir Wei yang membuat kupu-kupu beterbangan di perutnya. Tangan Fengying juga tak tinggal diam dan menjelajahi seluruh tubuh Wei.


"Ahh, kaisar.." ringis Wei saat tanpa sengaja tangan Fengying menyentuh luka Wei yang masih basah. Luka akibat perbuatan Fengying beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Fengying menghentikan aktivitasnya, ia menatap Wei dengan penuh pertanyaan. Namun, saat melihat Wei menunjukkan lukanya dia menganggukkan kepala pertanda paham.


"Aku akan melakukannya dengan lembut."


__ADS_2