Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 6: Sumpahanku Untuk Kaisar


__ADS_3

"Hamba tidak pantas di puji seperti itu oleh kaisar, mohon ampuni hamba." ucap Wei saat tersadar dari lamunannya. Tidak sepantasnya dia hanyut dalam pujian kaisar, dia merasa dirinya sangat rendah untuk di puji seperti itu.


Fengying menurunkan tangannya dari telinga Wei. Gadis di depannya ini menunduk seolah takut padanya.


"Kau takut denganku?" pertanyaan yang di lontarkan Fengying membuat Wei langsung menggelengkan kepalanya.


"Hamba tidak takut dengan kaisar. Orang seperti hamba tidak seharusnya takut pada kaisar."


"Lalu kenapa kau tidak menatap mataku saat aku berbicara denganmu?"


"Hamba sadar dengan status hamba, kaisar."


Fengying mengangkat dagu Wei agar gadis itu menatapnya. "Sepertinya kau masih tidak bisa melepaskan statusmu sebagai anak budak. Kau adalah ibu dari negeri ini, permaisuri dan juga calon istriku." ucapnya sambil menatap iris mata Wei yang berwarna hitam itu.


Mendengar ucapan Kaisar Fengying, Wei tidak mampu menyembunyikan kedua pipinya yang memerah. Dia tersipu malu karena kaisar tampan di depannya ini mau mengakui dirinya.


"Ah, jangan lagi berbicara seperti seorang budak. Angkat kepalamu dengan tegas, perlihatkan pada negeri ini bahwa kau adalah permaisuri."


Wei menganggukkan kepala pertanda dia mengerti. Hatinya kini jauh lebih hangat, kupu-kupu seolah sedang beterbangan di dalam perutnya. Sosok pria tegas yang lembut kepadanya itu membuat Wei seketika merasakan nyaman yang luar biasa. Terlalu lama menikmati kenyamanan itu, Wei tiba-tiba teringat dengan kedua orang tuanya.


"Apa hamba..." Wei menggantung ucapannya saat melihat tatapan mata Fengying yang sedikit menajam. "Apa aku boleh bertanya pada kaisar?" tatapan Fengying melunak, senyum manis kini terukir di bibirnya.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?" ujar Fengying.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kedua orang tuaku, apa mereka sekarang tinggal di tempat yang nyaman?" anggukkan kepala menjadi jawaban atas pertanyaan Wei. Dalam hati gadis itu mengucap syukur. Malam ini dia tidak perlu khawatir tentang kedua orang tuanya. Dia hanya takut kedua orang tuanya akan di perlakukan buruk oleh prajurit Kerajaan Taoming, karena itu dia dengan berani bertanya kepada Kaisar Fengying.


"Mereka akan aman di pusat kota, kau tenang saja." ucap Fengying yang membuat Wei semakin merasa tenang.


Hening sesaat sampai akhirnya angin berhembus sedikit kencang. Udara menjadi semakin dingin membuat Wei menyembunyikan kedua tangannya ke dalam jaket tebal yang masih melekat di tubuhnya. Rambut panjang lurusnya yang tergerai itu beterbangan ke belakang membuat aura cantik wajahnya terpampang jelas.


Fengying benar-benar jujur dengan apa yang di katakannya tadi. Wei adalah berlian yang dia temukan di dalam lumpur. Siapa sangka jika gadis kotor yang dia bawa dari hutan kini telah menjadi gadis cantik seputih salju? Tidak akan ada yang mengira jika dulunya Wei adalah anak dari budak miskin yang tinggal di tengah hutan.


"Jika aku melarangmu keluar dari kediaman permaisuri, apa kau setuju?" tanya Fengying tiba-tiba seraya mengalihkan pandangan ke arah lukisan bunga krisan yang tergantung di dinding.


Dahi Wei berkerut. "Aku setuju, tapi apa aku boleh bertanya tentang alasan kaisar melarangku keluar dari kediaman permaisuri?"


Tatapan lembut penuh kehangatan itu mengalihkan pandangannya ke Wei. Wajah Fengying kini lebih serius. "Sampai statusmu sudah benar-benar menjadi selir. Selama sebulan ini kau akan belajar di kediaman permaisuri, setelah itu kita akan melangsungkan pernikahan. Meskipun aku berkata akan melindungimu, tapi kau juga harus punya pertahanan sendiri. Istana akan menakutkan saat kau tidak punya pertahanan sama sekali, apa lagi jika kau tidak memiliki ilmu."


"Kau juga harus belajar mencintaiku." Fengying tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Wei. Dia sudah melihat kedua pipi Wei memerah sejak tadi karena perkataannya, tapi kali ini wajahnya juga terlihat kebingungan. Benar-benar gadis polos, batinnya.


"Tidak usah terlalu serius, aku hanya bercanda."


"Aku akan mencintai kaisar selama sisa hidupku." ucap Wei sambil menundukkan kepalanya di hadapan Fengying. "Selama sisa hidupku, aku tidak akan mengkhianati atau meninggalkan kaisar. Aku juga akan mengorbankan hidupku untuk kaisar. Itu adalah sumpahku pada kaisar di kehidupan ini!"


Sumpahan itu keluar begitu saja dari mulut Wei. Wajahnya yang serius dan sungguh-sungguh itu membuat Fengying sedikit tertegun. Baru kali ini dia menyaksikan kesungguh-sungguhan seorang gadis pada sumpahannya.


Lagi, Fengying mengangkat wajah Wei. "Kau harus tahu jika bersumpah di hadapan seorang kaisar adalah hal yang harus kau lakukan dengan sepenuh hati. Kau tahu hukuman saat melanggar sumpahanmu sendiri, kan?" ujar Fengying yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Wei.

__ADS_1


"Aku akan menjalankan semuanya dengan sepenuh hati."


"Aku akan memastikan kau menjalankan sumpahanmu."


Sumpahan yang dilakukan di hadapan kaisar memang tidak boleh di langgar. Beberapa selir terdahulu kerap bersumpah di hadapan kaisar tetapi mereka melanggar sumpahan yang mereka buat. Hukuman yang diberikan adalah hukuman mati. Entah di penggal, gantung diri, atau masuk ke penjara dingin. Karena itu selir kaisar hanya tersisa 4 saja. Sebelumnya kaisar memiliki 10 selir.


"Baik, kaisar," sahut Wei.


Mereka kemudian mengalihkan pandangan satu sama lain. Fengying fokus menatap lukisan di dinding, sedangkan Wei fokus menatap lampu-lampu di danau.


"Apa kau tahu arti bunga krisan di kediaman permaisuri?" tanya Fengying memecah keheningan di antara mereka.


"Aku tidak tahu, kaisar. Sejak aku masuk ke kediaman permaisuri, bunga krisan ada di mana-mana. Bahkan di atap juga terdapat bunga krisan yang di kelilingi oleh lampu." sahut Wei sambil menatap ke arah atap rumah kediaman permaisuri.


Fengying mengikuti arah pandang Wei. "Bunga krisan memiliki simbol kebangsawanan. Krisan merah yang ada di rumah kediaman permaisuri memiliki arti cinta yang dalam. Saat menjadi permaisuri, kau harus memberikan rasa cinta yang dalam kepada rakyat. Krisan putih yang ada di perpustakaan memiliki arti mengabdi. Artinya pada saat kau belajar, kau harus mengabdikan semuanya untuk rakyat. Bunga krisan tidak hanya bersimbol sebagai kebangsawanan. Dari negeri Goching, bunga krisan memiliki simbol untuk memanjangkan umur."


Negeri Goching adalah negeri tetangga Taoming. Kedua negeri ini saling bekerja sama dan saling membantu sama lain.


Mendengar penjelasan Fengying sudah cukup membuat Wei mengerti bahwa posisi permaisuri tidak mudah. Hidupnya bukan lagi untuk dirinya tapi untuk rakyat juga. Dia harus mengabdi kepada rakyat selama sisa hidupnya dan harus mencintai rakyat dengan sepenuh hati.


"Saat semua orang sudah memanggilmu permaisuri artinya pada saat itu hidupmu bukan milikmu seutuhnya lagi. Kau harus berbagi suka pada rakyatmu dan harus menyembunyikan kesedihan. Wajahmu harus bahagia untuk rakyat." Fengying menatap wajah Wei yang terlihat sedang melamun itu. Beberapa detik kemudian Wei menatap dirinya dengan penuh arti.


"Apa posisi kaisar juga mengharuskan untuk bersikap seperti itu?"

__ADS_1


__ADS_2