Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 13: Lidah Yang Paling Berbahaya


__ADS_3

Keesokan harinya Wei sudah berdiri di halaman depan rumah dengan memakai gaun warna ungu muda. Di bagian dadanya terdapat sulaman bunga plum, rambutnya disanggul dan ditusuk dengan konde dari giok warna putih yang terdapat ukiran bunga plum. Wajahnya dirias tipis dengan bibir warna merah muda kemerahan. Dia sangat cantik dan anggun seperti seorang putri kaisar.


Di depannya kini berdiri seorang dayang dan pelayan muda, serta 24 pelayan di belakang mereka.


"Kami memberi hormat untuk calon permaisuri!" seru mereka sambil membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Wei.


"Hamba Ruyin, dayang baru kediaman permaisuri. Disamping hamba adalah Tzuran, pelayan pribadi calon permaisuri. Kami di pilih langsung oleh ibu suri untuk melayani calon permaisuri. Mohon untuk menerima kami, calon permaisuri!"


"Baik, lakukanlah pekerjaan kalian. Tapi dimana dayang Kilin dan para pelayan lama? Setidaknya aku ingin bertemu dengan mereka barang sekali," ujar Wei seraya menatap satu persatu pelayan baru yang akan melayaninya di kediaman permaisuri.


Ruyin maju selangkah membuat Wei kini memperhatikannya. "Dayang Kilin sudah meninggalkan istana semalam, calon permaisuri. Dia sangat merasa bersalah karena tidak bisa menjaga calon permaisuri dengan baik."


"Ah, padahal aku sudah mengatakan bahwa itu bukan salahnya." gumam Wei dengan bahu merosot karena kecewa dengan dayangnya yang pergi.


Perhatian Wei beralih ke beberapa keranjang berisi buah pir yang tertata rapi di teras rumah. Senyumnya perlahan mengembang saat sadar Fengying telah menepati ucapannya kemarin.


Wei berjalan mendekati buah pir itu kemudian memakannya. Matanya terpejam saat merasakan manis yang luar biasa dari buah pir tersebut. Dia benar-benar menyukai buah pir.


"Kenapa kalian hanya diam saja? Ambil buah pir ini dan nikmatilah." perintah Wei yang membuat semua pelayan semakin menundukkan kepala.


Wei sudah tahu jika mereka akan menolak karena tidak ada aturan istana yang membolehkan mereka untuk makan bersama anggota keluarga kerajaan. Dia kemudian mengambil sekeranjang buah pir dan membagikan satu persatu buah pir tersebut kepada pelayan dan dayang barunya.

__ADS_1


"Saat berada di kediaman permaisuri, kalian boleh makan apa yang aku makan." ucap Wei setelah dia selesai membagian buah pir tersebut.


Saat dia akan melangkah, tiba-tiba dayang dan pelayannya sujud di tanah. Hal itu membuat Wei mengembuskan napas kasar.


"Mohon maafkan kami, calon permaisuri, kami tidak pantas makan apa yang calon permaisuri makan!"


Wei duduk di teras rumah dengan perasaan kesal. "Aku ingin memperlakukan kalian sama sepertiku. Setidaknya aku akan bisa bertanya pada kalian tentang bagaimana rasa makanan yang aku makan dan kalian makan. Saat bersamaku kita semua setara, tidak ada istilah majikan dan pelayan. Kalian juga boleh membaca di perpustakaan atau bersantai di paviliun setelah menyelesaikan pekerjaan."


Sebelum semua pelayan kembali memohon maaf, Wei terlebih dulu melanjutkan ucapannya.


"Di istana yang besar ini, aku sama sekali tidak mempunyai teman untuk di ajak berbicara. Apa kalian juga tidak ingin berteman denganku? Hanya di kediaman permaisuri saja, apa kalian tidak mau mengabulkan keinginanku?" ujar Wei yang berhasil membuat semua orang yang sujud di hadapannya langsung menggelengkan kepala.


"Kami pantas mati jika menolak mengabulkan keinginan calon permaisuri!" seru Ruyin diikuti oleh 25 pelayan.


"Biar hamba dan Tzuran yang menemani calon permaisuri. Sisanya akan menyelesaikan pekerjaan," ucap Ruyin dan langsung disetujui oleh Wei.


"Baiklah. Setelah pekerjaan kalian selesai, bergabunglah dengan kami di paviliun."


"Baik, calon permaisuri!"


Wei, Ruyin, dan Tzuran pergi ke paviliun. Tapi sebelum itu mereka ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengambil buku yang akan Wei pelajari. Sampailah mereka kini di paviliun lantai pertama karena disana terdapat banyak meja.

__ADS_1


"Wah, paviliun ini sangat indah. Hamba sangat beruntung karena dipilih langsung oleh ibu suri untuk menjadi pelayan pribadi permaisuri!" heboh Tzuran saat dia memperhatikan ke sekeliling. Dia tersadar saat Ruyin menyenggol lengannya.


Tzuran segera menundukkan kepala saat Wei menatapnya. "Maafkan kelancangan hamba, calon permaisuri."


Wei tersenyum senang. "Tempat ini memang indah, bukan? Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kediaman permaisuri, paviliun ini sangat membuat hatiku puas karena keindahan yang disuguhkan. Paviliun ini akan menjadi tempat yang paling aku sukai di kediaman permaisuri." tutur lembut Wei sambil duduk di lantai dengan meja di hadapannya. Tzuran juga langsung menaruh buku-buku di hadapan Wei.


"Hamba juga menyadari akan keindahan paviliun ini, calon permaisuri. Aku sudah melihat paviliun di semua kediaman dan paviliun kediaman permaisuri adalah yang paling indah." jelas Tzuran yang kembali membuat Ruyin menyenggol lengannya.


"Mohon maafkan kelancangan pelayan ini, calon permaisuri. Dia baru berusia delapan belas tahun sehingga berbicara semaunya tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan." Ruyin menundukkan kepala menghadap Wei dengan tangan kanan menundukkan kepala Tzuran.


Wei merasa tidak masalah dengan hal itu. Dia kini merasa senang karena akhirnya punya teman bicara. "Dayang, berbicaralah denganku juga. Aku tidak masalah jika Tzuran berbicara, dia gadis yang sangat positif."


Tzuran tentu saja senang bukan main. Dia menegakkan tubuhnya, kemudian menatap Ruyin dengan tatapan mengejek. "Dayang Ruyin memang selalu seperti ini, calon permaisuri. Dia sangat mematuhi aturan istana dan selalu serius dalam semua hal. Untung saja aku tidak seperti dayang Ruyin, padahal aku sejak kecil sudah tinggal bersamanya."


"Kau harus sadar dengan posisimu, Tzuran. Aku tidak ingin ada nyawa yang hilang karena kecerobohanmu dalam berbicara!" tegas Ruyin yang membuat Tzuran seketika bungkam.


Ruyin menatap Wei dengan seriusnya. "Calon permaisuri, istana adalah tempat berbahaya. Ada teman baik di depan yang sewaktu-waktu menusuk dari belakang, ada musuh yang langsung menyerang, dan selalu ada kematian setiap harinya. Pelayan bisa menyebabkan kematian tuannya, begitu juga sebaliknya. Karena itu di istana, calon permaisuri tidak boleh mempercayai siapa pun termasuk kami."


Sesaat Wei mengingat perkataan Jiang. Di perkuat dengan ucapan Ruyin membuat Wei percaya jika istana adalah tempat yang menakutkan.


"Setiap hari hamba selalu menyaksikan kematian yang membuat hamba takut. Karena itu hamba akan selalu mematuhi peraturan istana dan menekankan bawahan hamba untuk ikut mematuhi aturan istana. Di antara semuanya yang paling berbahaya adalah lidah." Ruyin menangkap kebingungan di wajah Wei.

__ADS_1


"Lidah adalah yang paling berbahaya. Dari lidah akan keluar kata-kata kebohongan untuk menjatuhkan orang lain. Hamba selalu meminta Tzuran untuk menjaga lidahnya agar tidak menyebabkan kematian orang lain. Gadis muda sepertinya jika di ancam sedikit saja pasti akan ketakutan setengah mati, lidahnya bisa berkata bagai pedang yang membunuh orang lain." lanjut Ruyin menjelaskan kepada Wei.


Wei tersenyum simpul sambil menatap tumpukkan buku di hadapannya. Ya, dia juga sadar jika lidah sangat berbahaya. Jika berhadapan dengan bangsawan, Wei kerap kali di salahkan sehingga membuat hidupnya terancam. Rakyat rendahan sering dijadikan bahan untuk menjatuhkan atau melindungi para bangsawan. Begitulah mereka ditakdirkan dan tidak ada yang bisa melawan. Mereka menang soal hati, tapi kalah soal kekuasaan.


__ADS_2