Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 24: Dukungan Rakyat


__ADS_3

Fengying berjalan memasuki penjara. Langkah tegasnya membuat semua orang yang ada di sana menundukkan kepala dengan takut. Penjara yang kurungannya terbuat dari kayu itu di penuhi oleh pria dan wanita dengan banyak luka di tubuh mereka.


Kaisar Negeri Taoming adalah kaisar yang paling kejam di antara sejarah kaisar terdahulu. Dia bersikap hangat pada Wei hanya tipuan agar gadis itu mau bersamanya. Siapa sangka jika dibalik sikap hangatnya itu dia telah membunuh banyak orang hanya untuk mencari Wei, gadis yang ditakdirkan menjadi permaisuri.


Dia pria yang akan melakukan cara apa pun agar keinginannya terpenuhi. Setuju menikahi Wei juga bukan karena kemauannya sendiri. Dia akan menggunakan Wei sebagai alat untuk membuat rakyat mendukung segala tindakannya dan menjadikan Wei sebagai sasaran rakyat.


Langkahnya terhenti saat berada di depan seorang pria yang duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Pria itu menatap Fengying dengan tajam seolah sangat membencinya.


Fengying tertawa seraya berjalan mendekati pria tersebut. "Apa kau belum mengaku juga?"


Pria tersebut meludah di hadapan Fengying dengan mata tajamnya menyorot Fengying. "Untuk apa aku mengaku pada anak selir pembunuh? Lebih baik aku bunuh diri daripada mengaku!"


Beberapa prajurit mengelilingi pria tersebut dengan mengarahkan pedang ke lehernya. Bukannya takut, pria itu tertawa dengan keras yang membuat Fengying mengepalkan kedua tangannya.


"Seberapa kuat kelompokmu? Apa mampu melawanku?" ujar Fengying.


Pria itu berdecak seraya tersenyum sinis. "Kenapa kau sombong sekali, kaisar? Ah, kau sama persis seperti ibumu. Angkuh, sombong, dan sangat percaya diri." tekannya tajam yang membuat Fengying tidak habis pikir dengan pria di hadapannya.


"Kenapa kalian selalu berusaha membunuh permaisuri? Apa membunuh dua permaisuri tidak cukup bagi kalian?" tanya Fengying sambil memainkan besi panas di dalam tungku bara api. Dia sangat ingin melemparkan besi panas itu ke wajah pria tersebut, tapi dia urungkan karena harus mendengar penjelasannya.


Pria itu tidak menjawab. Hal itu membuat Fengying terkekeh, menyadari betapa kuatnya mulut pria tersebut terkunci.


"Sepertinya kau tidak mau membuka mulut, ya? Sampai kapan kalian akan berhenti, hah?!"


"Setiap hari kami akan datang ke istana untuk membunuh permaisuri. Kau akan kehilangan permaisuri dan tidak akan pernah bisa mendapatkan keturunan dari permaisuri! Ini adalah karma karena perbuatan ibumu, selir pembunuh!" teriaknya bagaikan ribuan pedang yang menusuk tepat ke jantung Fengying.


Fengying mengambil besi panas di dalam tungku yang berisi bara api dan langsung menekankan besi tersebut ke paha pria itu.


"Aaaaaaaa!!!" teriak pria tersebut seraya menggeliat kesakitan. Wajahnya memerah menahan rasa sakit dari panasnya besi tersebut. Celananya sobek, menampakkan daging pahanya yang matang oleh besi panas.

__ADS_1


"Kalian benar-benar sekelompok orang pengecut! Itu adalah perbuatan ibuku, kenapa aku harus menerima karma, hah?! Siapa kau sampai menentukan karma atas perbuatan ibuku?!" kali ini Fengying menekankan besi panas itu ke dada pria tersebut.


Penjara yang tadinya hening itu, kini dipenuhi dengan teriakan dari pria tersebut. Orang-orang di dalam kurungan lain menutup mana, membisukan mulut, dan menulikan telinga. Tidak ada yang berani melihat atau membicarakan pria tersebut melihat bagaimana Fengying turun tangan untuk menyiksanya.


"Apa kelompokmu berpikir bisa menurunkan aku? Kalian bahkan tidak lebih baik daripada aku! Apa yang telah kalian lakukan pada negeri ini selain berusaha membunuh permaisuri? Kalian hanya sampah yang seharusnya di bakar hidup-hidup!" tukas tajam Fengying sambil melemparkan besi panas tersebut ke dalam tungku.


Dada pria tersebut naik turun, dia mulai batuk darah. Tidak ada rasa takut di dalam matanya, dia masih menatap Fengying dengan tajam.


Saat Fengying akan kembali menyiksanya, pria tersebut berkata. "Apa kau tahu kenapa kaisar terdahulu setuju memberikan tahtanya padamu? Padahal saat itu anaknya bukan hanya kau. Ada ramalan lain tentangmu dan sekarang ramalan itu akan menjadi kenyataan."


"Berhenti mengatakan omong kosong!" Fengying mengambil pedang prajurit di sampingnya dan mengarahkannya ke leher pria tersebut.


"Kau tidak akan mendapatkan keturunan dari permaisuri meskipun kau sangat menginginkannya! Di masa depan kau hanya akan mendapatkan anak dari selir, seperti ibumu!"


Fengying terdiam setelah mendengar perkataan pria di hadapannya tersebut. Hatinya memanas, sorot matanya menajam dan kedua tangannya kembali terkepal.


Pria di hadapannya mendekatkan wajahnya ke arah Fengying. "Pertumpahan darah antara selir dan permaisuri akan terjadi kembali. Bukankah lebih baik tidak memiliki permaisuri? Ah, bahkan yang lebih baik adalah turun dari posisi kaisar."


"Kau hanya perlu memersiapkan diri." ujar pria tersebut yang membuat Fengying semakin marah.


Tanpa basa-basi lagi, Fengying langsung menusukkan pedang ke dada pria tersebut. Darah mengalir keluar dari mulut dan dadanya. Fengying tersenyum sinis, kemudian dia menarik pedang dari dada pria tersebut sehingga darahnya mengenai jubah dan wajah Fengying.


"Gantung pria ini di gerbang istana. Beritahu rakyat bahwa pria ini adalah pengkhianat yang berusaha membunuh permaisuri. Katakan pada mereka semua, jika ada yang mengetahui identitas pria ini atau keluarganya, segera laporkan padaku! Aku akan memberikan seribu koin emas pada mereka yang melaporkannya padaku!" teriak Fengying tidak ingin di bantah sama sekali.


"Baik, kaisar!"


Fengying menatap pria tersebut dengan penuh kebencian. "Kau telah salah karena bermain-main denganku. Aku akan segera mengirim seluruh keluargamu ke neraka!"


Dengan wajah kejamnya, Fengying langsung meninggalkan penjara. Dia merutuki dirinya karena telah menghabiskan banyak waktu di penjara yang membuat sesak itu.

__ADS_1


****


Prajurit telah menggantung pria tersebut di gerbang istana. Seluruh rakyat berkumpul di depan istana untuk melihat wajah pria tersebut.


Kebanyakan dari mereka melempari mayat pria tersebut dengan batu. Mereka semua jelas saja tidak terima dengan perbuatan pria itu yang berusaha membunuh permaisuri.


Dari menara atas, di tempat prajurit berjaga untuk melihat keadaan seluruh istana, berdiri Zhuan, Quolin, Baoyi, dan Annchi. Mereka berempat melihat bagaimana kuatnya dukungan rakyat terhadap permaisuri.


Wajah Zhuan berubah masam. "Kenapa gadis rendahan itu harus ditakdirkan menjadi permaisuri? Dia bahkan tidak pantas menduduki posisi itu!"


"Hm, benar. Aku sama sekali tidak menyukai gadis rendahan itu. Dia hanya anak dari budak, tapi dia begitu sombong. Apa kalian berpikiran sama sepertiku?" ujar Annchi yang di angguki kepala oleh Baoyi.


Kedua tangan Baoyi terkepal saat melihat rakyat melempari mayat pria tersebut dengan batu. "Dia bahkan mendapatkan dukungan besar dari rakyat padahal baru sehari menjadi permaisuri. Sedangkan kita selalu di samakan dengan selir terdahulu! Benar-benar tidak adil sekali!"


Quolin menatap wajah Zhuan, Baoyi, dan Annchi. Dia tetap tenang dan tidak terpengaruh sama sekali untuk marah seperti tiga selir lainnya.


"Kalian ini sangat bodoh sekali karena marah seperti itu." tutur Quolin yang membuat tiga selir lainnya menatap dirinya dengan bingung.


"Apa maksudmu, selir kedua?" tanya Baoyi dengan kerutan bingung di dahinya.


Quolin terlihat menghela napasnya. "Apa kalian pikir rakyat akan mendukung permaisuri dalam jangka waktu panjang? Jangan lupakan asal permaisuri, dia hanya anak budak miskin. Kaisar bahkan tidak akan membiarkan rakyat mendukungnya."


"Apa kau tidak ingat di hari pertama gadis rendahan itu datang ke istana? Apa yang dikatakan kaisar kepada kita, apa kau lupa?" ujar Zhuan yang dibenarkan oleh Baoyi dan Annchi.


Senyum terukir di bibir Quolin. Bukan senyum senang, melainkan senyum sinis. "Sepertinya selir pertama tidak mengenal kaisar dengan baik."


"Apa maksudmu, selir kedua?! Aku bahkan lebih dulu tinggal di sisi kaisar, jelas aku mengenal kaisar dengan baik!" tukas tajam Zhuan sambil menatap Quolin dengan kesal.


"Kaisar berkata seperti itu karena dia tidak ingin kita mengganggu permaisuri. Kaisar ingin mencapai tujuannya tanpa ada gangguan dari kita. Aku yakin jika gadis rendahan itu hanya akan di jadikan alat untuk memperluas kekuasaan kaisar. Bodoh sekali jika kalian tidak menyadari hal itu." jelas Quolin yang membuat mulut Zhuan bungkam.

__ADS_1


Keadaan di bawah semakin panas karena semakin banyak rakyat yang datang, termasuk para bangsawan.


"Gadis rendahan itu tidak akan menjadi ancaman bagi kita. Kalian tidak perlu membuang tenaga untuk marah."


__ADS_2