
"Maaf sebelumnya karena hamba akan terdengar sangat lancang, ibu suri. Seperti yang ibu suri katakan jika hamba telah ditakdirkan menjadi permaisuri negeri ini, maka hamba tidak akan berubah pikiran. Apa yang terjadi di masa lalu bukanlah kesalahan kaisar. Kaisar tidak akan mungkin membunuh hamba melihat besarnya usaha kaisar dalam membawa hamba ke istana. Mohon maaf ibu suri, hamba terlalu lancang." Wei kembali menundukkan kepalanya. Setelah mengatakan itu semua dia menjadi takut akan mendapat masalah yang besar.
Nui mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang terbuka, menampilkan pemandangan gunung yang tidak terlalu jauh dari istana. "Aku tahu jika itu bukan salah kaisar, tapi semua itu bermula dari kelahirannya di istana ini!"
Fengying tidak bisa lagi menahan semuanya. Dia menatap Nui dengan tajam dengan hati yang sudah terbakar oleh api kemarahan.
"Aku mohon ibu suri, hentikan semuanya! Ibuku sudah mendapatkan hukuman di neraka, kaisar, permaisuri, dan putranya juga sudah hidup bahagia di surga. Disini aku hanyalah korban dari ketamakan ibuku, aku juga tidak memilih untuk dilahirkan dari rahim selir pembunuh!" tegas Fengying dengan napas memburu sehingga Wei yang berada di sampingnya kini menatap dengan prihatin.
Wei yang berada di pertengahan itu mulai sedikit mengerti. Ya, sedari awal dia tahu jika Fengying tidak ingin menjalani semuanya. Pria itu pasti sulit menerima takdir yang bagaikan karma dalam hidupnya. Dia kehilangan permaisuri, tidak mendapatkan anak, serta orang-orang penting di istana ingin menurunkannya karena dia adalah anak dari selir pembunuh.
"Saat kau merasakannya sendiri baru kau akan mengerti bahwa merelakan sesuatu yang tidak bisa kau lindungi akan sangat melukai hatimu. Hubungan kita tidak pernah baik karena kau belum merasakan berada di posisiku yang kehilangan anak, menantu, dan cucu pertama." tatapan mata Nui kali ini tidak setajam tadi. Di kedua matanya terpancar kesedihan mendalam yang membuat panas di hati Fengying sedikit mendingin.
"Jika saja saat itu aku tidak memilih Guinying sebagai selir utama, mungkin sekarang aku bisa menyaksikan cucu pertamaku menjadi kaisar dan kau sebagai panglima tingkat pertama." lanjut Nui sambil menatap Fengying.
Bagi Fengying, panglima adalah posisi tidak berkuasa yang setiap detiknya mengancam nyawa. "Ah, ternyata rencana ibu suri memang ingin melihat aku terbunuh? Bagaimana ini? Sayang sekali karena aku bukan panglima perang sehingga keinginan ibu suri tidak akan terpenuhi." sahut Fengying dengan nada sinisnya. Hatinya yang tadi mulai mendingin kini kembali memanas.
"Seharusnya dari awal kau tidak menjadi kaisar. Seharusnya aku mempercepat langkah untuk menggagalkan perbuatan keji ibumu!" Fengying kini hanya bisa terdiam.
Penglihatan Wei mulai berkunang-kunang. Tubuhnya terasa sangat lelah dan ingin segera tidur secepatnya. Kepala Wei saat ini sangat pusing memikirkan perdebatan antara Fengying dan Nui. Sulit baginya untuk mencerna sejarah kelam di masa lalu yang bahkan tidak pernah terdengar di kehidupan rakyat.
__ADS_1
Wei hampir saja tumbang jika Fengying tidak menangkap tubuhnya. Kepanikan itu bertambah di raut wajah Fengying, takut gadis itu sakit lebih parah.
"Mohon maafkan aku, ibu suri. Sepertinya saat ini dia perlu istirahat yang banyak," ucapan Fengying membuat Nui menghela napas kemudian dia segera berjalan menuju pintu.
"Aku akan mengganti dayang dan semua pelayan di kediaman permaisuri. Ingat kataku tadi, kaisar. Jika kali ini kau kehilangan permaisuri lagi, aku akan menurunkanmu!" tegas Nui sebelum keluar dari kamar.
Sepeninggal Nui, Fengying segera membaringkan Wei di ranjangnya. Apa yang terjadi barusan mungkin membuat Wei sangat terkejut, apa lagi posisinya saat itu baru sadar dari pingsan.
Fengying membaringkan Wei ke ranjangnya sambil menaikan selimut di tubuh Wei sampai batas dadanya. Dia duduk di tepian ranjang kemudian mengusap pipi kanan Wei yang sedikit pucat.
"Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan baik," ujar Fengying yang membuat Wei langsung menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Hubungan Nui dan Fengying tidak baik karena itu mereka saling menyalahkan. Sebenarnya tidak ada yang salah antara mereka, Nui dan Fengying sama-sama korban dari kejadian di masa lalu. Dia bertekad ingin membuat hubungan nenek dan cucu itu membaik.
"Apa kau tidak takut denganku?" tanya Fengying saat teringat dengan perkataan Nui tadi yang mengatakan bahwa dia bisa saja membunuh istrinya seperti yang dilakukan Guinying.
Wei kembali menggelengkan kepalanya. "Aku tidak takut dengan kaisar."
"Apa kau lupa dengan perkataan ibu suri tadi? Aku anak selir pembunuh, suatu hari nanti aku bisa saja membunuhmu."
__ADS_1
Kemungkinan itu bisa saja terjadi tapi Wei dengan kerasnya berpikir bahwa Fengying tidak akan mungkin membunuhnya. Pria itu pergi jauh untuk mencarinya dan membawanya ke istana dengan aman, tidak mungkin jika dia dibawa ke istana hanya untuk di bunuh.
"Kaisar tidak akan mungkin bisa membunuhku karena aku melihat kesedihan di mata kaisar. Aku bisa mengerti jika kaisar sebenarnya membenci takdir yang kejam. Aku juga bisa memahami jika suatu hari nanti kaisar akan membenciku. Tapi kaisar harus mengingat satu hal ini, bahwa aku akan selalu berada di samping kaisar apa pun yang terjadi. Seperti sumpahan yang aku ucapkan kemarin malam."
"Mohon maaf jika aku terlalu lancang, kaisar." ucap Wei saat menangkap keterkejutan dari raut wajah Fengying. Setelah mendengar perkataan Wei, Fengying melepaskan tangannya dari pipi Wei.
"Kau..." Fengying menggantung ucapannya membuat Wei tanpa sadar mengerutkan dahinya.
Saat ini Fengying bimbang antara mengucapkan terima kasih atau memarahi Wei. Dia sangat benci saat ada orang lain yang mengerti dengan dirinya saat dirinya sendiri tidak mengerti. Baru pertama kali ini juga ada gadis yang akan memaklumi jika suatu hari nanti dia membencinya. 'Sebenarnya apa maksud dan tujuan Wei berkata seperti itu?' batin Fengying.
"Istitahatlah, aku akan pergi ke area pelatihan." Fengying berdiri dari duduknya membuat Wei beranjak duduk.
"Area pelatihan?" tanyanya yang langsung di angguki kepala oleh Fengying.
"Aku ingin bermain pedang atau memanah disana. Sudah lama aku tidak mengasah kemampuan pedang dan memanah. Kenapa, kau ingin ikut denganku?" ujar Fengying sambil menatap Wei. Dapat dia lihat ketertarikan di wajah Wei.
Beberapa detik kemudian dia langsung menggelengkan kepala seraya menundukkan kepala. "Mohon maaf kaisar, aku hanya bertanya karena tidak tahu dengan area pelatihan."
Pria itu tidak lagi menjawab lagi, hanya tersenyum tipis. "Aku tidak akan bisa mengunjungi kediamanmu karena mulai besok sudah sibuk mengurus pernikahan kita. Selama seminggu ini pergunakan waktumu dengan baik untuk belajar," perintah Fengying.
__ADS_1
Bahu Wei sedikit merosot, dia merasa sedikit kecewa setelah mendengar ucapan Fengying. "Baik, kaisar."