Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 20: Kaisar Yang Kejam


__ADS_3

Wei sendirian di kamarnya karena Jiang dan Yihan dipanggil oleh ibu suri. Lengannya sudah di obati dan yang dilakukannya saat ini adalah membaca buku. Gadis itu yang dulunya membaca di perpustakaan kota dengan diam-diam, sekarang bisa membaca buku sebanyak dan sebebasnya.


Yang paling dia ingat adalah saat ketahuan sehingga di usir dari perpustakaan dengan cara kasar. Sekarang dia telah punya perpustakaan sendiri. Siapa sangka gadis miskin kotor itu akan menjadi permaisuri di masa depan?


Pintu kamar dibuka, menampilkan Ruyin dan Tzuran yang membawa nampan berisi teh dan kudapan. Dia kemudian menyingkirkan buku yang dibaca oleh Wei, kemudian menggantinya dengan secangkir teh dan semangkuk kecil kudapan.


"Permaisuri sudah membaca buku terlalu lama, hamba takut permaisuri akan kelelahan." ucap Tzuran saat menangkap raut bingung di wajah Wei.


Wei menatap Ruyin yang berdiri di dekatnya seperti ingin dibela. "Tzuran benar, permaisuri. Nikmati teh dan kudapan yang telah disajikan terlebih dahulu, setelah itu permaisuri bisa melanjutkan membaca." ucap Ruyin yang membuat bahu Wei merosot turun.


"Sejak kapan kalian kompak seperti ini?" Wei mulai mengambil secangkir teh dan meminumnya.


Perasaannya sangat tenang setelah meminum teh tersebut. Dia kemudian membelah dua kudapan yang terbuat dari tepung beras yang diisi dengan kacang-kacangan. Yang berbentuk bulat diisi dengan kacang hijau dan yang berbentuk bintang diisi dengan kacang tanah.


Wei benar-benar menikmati kudapan tersebut di siang hari ini. Dia bahkan telah selesai makan beberapa waktu yang lalu tapi masih tetap berselera untuk memakan kudapan yang telah di sajikan.


Wei mengambil kue berbentuk bintang dan memberikannya pada Ruyin dan Tzuran. Dia memang menyukai kacang tanah, tapi dia tidak bisa memakannya terlalu banyak karena alergi kacang tanah. Saat Wei berumur 12 tahun, dia mengabaikan Jiang dan Yihan yang melarangnya untuk makan kacang tanah, tapi Wei tetap memakannya. Akhirnya Wei dilarikan ke rumah tabib saat seluruh tubuhnya merah-merah dan terus mengatakan bahwa tenggorokannya sakit.


Saat itu Jiang dan Yihan berpikir Wei akan pergi untuk selamanya, mereka sangat ketakutan. Sejak saat itu mereka tidak pernah memakan kacang tanah atau menanam kacang tanah lagi.


"Aku lupa memberi tahu kalian jika aku alergi kacang tanah. Karena itu aku selalu membelah kue yang disajikan terlebih dahulu untuk melihat isinya." ujar Wei yang membuat Ruyin dan Tzuran terkejut.


"Mohon maafkan kami, permaisuri. Kami akan lebih berhati-hati lagi!" Ruyin dan Tzuran langsung menundukkan kepala mereka.


"Sudahlah, jangan meminta maaf seperti itu. Nikmati saja kudapan ini, aku ingin melanjutkan membaca. Bukankah aku sudah boleh membaca lagi?" Wei mengambil buku yang tadi di bacanya.

__ADS_1


Buku berjudul 'Jadilah Kuat' sangat menarik perhatiannya sejak membaca di perpustakaan. Tapi Wei sama sekali tidak punya waktu untuk membacanya karena yang harus dia pelajari adalah buku tentang kerajaan dan negeri ini.


"Jangan jadi batu yang terlihat kuat tapi dapat terkikis oleh air hujan. Jadilah rumput yang tetap tumbuh meskipun telah di rusak berkali-kali. Ah, aku suka kalimat ini! Bagaimana menurut kalian?" ujar Wei sambil menatap Ruyin dan Tzuran setelah dia membaca apa yang tertulis di halaman buku.


Ruyin dan Tzuran tersenyum kemudian menganggukkan kepala.


"Kalimat itu sangat bagus, permaisuri. Tapi dibandingkan menjadi rumput, lebih baik menjadi batu." tutur Ruyin yang membuat Wei mengerutkan dahinya.


Menangkap kebingungan di wajah Wei membuat Ruyin menghela napasnya. "Batu akan tetap terlihat kuat tanpa diketahui seberapa sulit dia menahan tetesan air hujan yang setiap saat membuatnya retak. Kuat bukan tentang bagaimana harus tumbuh kembali saat di rusak oleh keadaan, tapi tentang bagaimana harus bertahan di saat semua terasa menyulitkan."


Wei membenarkan penjelasan Ruyin. Dayangnya ini sangat bijak dalam menjelaskan sesuatu. "Aku mengerti maksudmu, dayang." Wei melemparkan senyum lebarnya kepada Ruyin.


"Beri hormat untuk kaisar!" teriak kasim dari luar rumah membuat Wei langsung menaruh buku tersebut ke bawah bantalnya.


Dia takut Fengying akan marah saat dirinya membaca buku yang tidak berhubungan dengan kerajaan. Setelah menaruh buku ke bawah bantal, dia segera berdiri menghadap pintu kamar diikuti oleh Ruyin dan Tzuran.


"Aku memberi hormat untuk kaisar." Wei menundukkan kepalanya untuk memberi hormat pada Fengying.


Fengying melirik Ruyin dan Tzuran seperti mengisyaratkan pada mereka untuk keluar. Ruyin dan Tzuran mengerti, kemudian mereka segera keluar dari kamar dengan senyum merekah di bibir mereka. Entah apa yang mereka pikirkan, sepertinya mereka sangat terlihat bahagia.


"Ada apa, kaisar?" ujar Wei sambil menatap Fengying.


Tanpa perasaan iba, Fengying langsung mencekik leher Wei dengan kedua tangannya. Wei sama sekali tidak mengerti kenapa Fengying mencekiknya dengan erat seperti itu sehingga membuatnya sulit untuk bernapas.


Kedua mata Wei sudah berkaca-kaca, dia telah berusaha untuk melepaskan tangan Fengying dari lehernya, tapi pria itu semakin mengeratkan cekikannya di leher Wei. Dia seolah ingin membunuh Wei sekarang juga.

__ADS_1


"Ke...kena...pa..." Wei tidak mampu menyelesaikan perkataannya, dia kesulitan untuk bernapas.


Beberapa detik kemudian Fengying melepaskan kedua tangannya membuat Wei langsung memegang lehernya sambil terbatuk-batuk. Wajahnya yang tadi pucat, perlahan kini telah memerah. Dia kemudian menatap Fengying dengan tatapan bingung.


"Apa yang barusan kaisar lakukan padaku? Apa kaisar ingin membunuhku?" tanya Wei yang membuat Fengying menajamkan tatapannya.


"Kenapa kau tidak melawan? Bukankah kau bisa ilmu bela diri? Perlihatkan caramu melawan musuhku tadi, kenapa kau hanya diam!" bentak Fengying sambil menarik kerah gaun Wei.


Wei tidak bisa berkata-kata. Dia pikir Fengying akan memperlakukannya dengan hangat lagi, tapi pria itu tidak melepas kekejamannya. Pria itu bahkan tidak segan untuk memperlakukan dirinya dengan kasar padahal sekarang dia adalah istri sahnya.


Fengying mencengkram dagu Wei dengan kuat. "Kau hanya pura-pura bodoh saja, kan? Apa lagi yang kau bisa? Kau bisa membaca dan menulis padahal statusmu hanya anak budak miskin dan kau juga bisa ilmu bela diri. Darimana kau belajar? Gadis rendahan sepertimu tidak akan mungkin bisa mempelajarinya!" ucapan Fengying bagaikan pedang yang berkali-kali menusuk hati Wei.


Wei memejamkan matanya sebentar. Dia sadar bahwa statusnya di mata Fengying hanyalah gadis rendahan. Selama ini Fengying bersikap manis padanya hanya untuk mengelabui dirinya agar betah berada di istana. Setelah statusnya kini menjadi permaisuri, Fengying memperlihatkan sifat aslinya.


Tubuh Wei tertarik saat Fengying menariknya untuk mendekat ke arahnya. Matanya yang tajam itu menusuk ke dalam mata Wei.


"Kenapa kau hanya diam?!" teriaknya menggelegar ke seisi kamar yang hening.


Merasa tidak mendapat jawaban dari Wei, Fengying langsung menarik rambut Wei yang terurai lurus. Hal itu membuat Wei meringis kesakitan tapi dia tidak melawan sama sekali. Seolah menerima perlakuan kejam yang diberikan Fengying.


"Lawan aku seperti kau melawan musuhku! Kenapa kau tidak bergerak sama sekali?!"


Dengan sekuat tenaga Wei berusaha menahan rasa sakit di kepala dan lehernya. Kulit kepalanya seperti akan terlepas karena Fengying menariknya dengan kuat.


Wei mengenggam tangan Fengying yang menarik rambutnya. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.

__ADS_1


"Kaisar adalah orang yang tidak ingin aku lawan."


__ADS_2