
Quolin, Baoyi, dan Annchi menundukkan kepala menghadap Xiahe yang berdiri dengan angkuh di depan ketiga selir tersebut. Dia menatap satu persatu wajah selir di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di dada.
Tubuh Annchi sudah bergetar ketakutan karena berpikir Xiahe akan menyiksa dirinya atau memberikan hukuman yang lebih parah.
"Selir kedua dan selir ketiga, apa kalian sudah selesai menulis dokumen?" ujar Xiahe yang membuat Quolin menggelengkan kepalanya.
"Mohon maaf putri Xiahe, aku belum selesai menulis dokumen itu."
Decakkan kesal keluar begitu saja dari mulut Xiahe. "Lambat sekali kerjamu ini! Cepat selesaikan dokumen itu, aku yang akan memberikannya pada kaisar." perintahnya yang membuat Quolin dan Baoyi mengerutkan dahi bersamaan.
"Bukankah permaisuri berkata akan memberikannya sendiri pada kaisar?" tanya Baoyi dengan kepala tegak menatap Xiahe.
Wajah gadis itu berubah masam. Dia maju mendekati Baoyi dengan tatapan tajamnya. "Aku yang akan memberikannya pada kaisar, apa telingamu tuli, selir ketiga?!" bentaknya dengan keras.
Tidak ada lagi yang membuka suara. Quolin segera menulis dokumen, Annchi mengerjakan laporan, sedangkan Baoyi masih berdiri dengan kepala tertunduk.
Xiahe duduk di hadapan ketiga selir tersebut. Wajahnya tirus, hidung mancung, bibir sedikit tebal berwarna merah terang, serta kedua mata menyorot tajam membuat dirinya bersikap kejam. Sejak dahulu semua orang di istana sudah tahu jika Xiahe adalah putri yang paling kejam terhadap siapa pun. Dia tidak memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua, tidak tahu cara menghargai orang lain, bahkan parahnya dia sangat sering menyiksa pelayan sehingga tak jarang terdengar kabar kematian pelayan dari kediamannya.
Anggota kerajaan tidak ada yang berani menasehati atau menghukumnya karena gadis itu akan bersikap yang tidak wajar. Pernah Nui menghukum Xiahe dengan melarang keluar dari kediamannya, tapi gadis itu melukai lehernya sendiri karena tidak terima dengan hukuman yang di beri Nui.
"Aku sudah selesai, putri." ucap Quolin saat dia selesai menulis dokumen. Dia kemudian memberikan dokumen itu kepada Xiahe.
Terlihat jelas senyum licik di bibirnya. Setelah menerima semua dokumen dari Quolin dan Baoyi, Xiahe segera meninggalkan kediaman selir. Dia memang berencana untuk memberikan dokumen itu kepada Fengying tanpa sepengetahuan Wei.
Saat Xiahe tiba di aula utama, terlihat Wei beserta dayang dan para pelayannya yang baru keluar dari jalan menuju kediaman kaisar dan permaisuri. Pandangan mereka bertemu yang membuat Xiahe segera menyembunyikan dokumen tersebut ke dalam lengan bajunya.
Dengan senyum lebar, Xiahe berjalan menghampiri Wei. "Apa yang membuat permaisuri keluar dari kediaman permaisuri?" tanyanya saat sampai di depan Wei.
"Ah, aku ingin mengambil dokumen di kediaman selir. Bagaimana denganmu, putri?" Wei menatap Xiahe penuh selidik.
__ADS_1
"Untuk apa permaisuri datang ke kediaman selir rendahan? Aku baru saja kesana dan mendapati mereka yang masih menulis dokumen. Mereka sangat lambat, permaisuri. Aku yakin mereka sengaja karena permaisuri berkata akan memberikan dokumen kepada kaisar." ucap Xiahe mulai mengadu-domba antara permaisuri dan selir.
Wei hanya tersenyum sambil mengalihkan pandangannya. Gadis di depannya ini sudah ketahuan tapi masih tetap bersikeras untuk mengadu-domba. Wei meskipun gadis rendahan tapi dia tidak bodoh. Dia sangat peka terhadap ucapan orang di sekitarnya, apa lagi disertai dengan ekspresi wajah.
"Apa semua orang di matamu sangat rendah, putri?" Wei menatap Xiahe dengan tatapan lembut, namun mampu membuat senyum di bibir Xiahe pudar begitu saja.
"Tentu saja tidak, permaisuri. Aku hanya menganggap orang yang berada di bawahku adalah orang rendahan."
"Jika begitu, bagi putri aku termasuk orang rendahan, kan? Karena itu putri berani mempermainkan aku, permaisuri rendahan negeri ini."
Xiahe menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Aku tidak pernah menganggap permaisuri sebagai orang rendahan! Kenapa permaisuri memfitnah aku seperti ini?"
Helaan napas terdengar dari mulut Wei. Dengan gerakan cepat, Wei menarik lengan kanan Xiahe dan mengambil dokumen yang ada di sana. Hal itu membuat Xiahe membulatkan kedua matanya.
"Itu ...."
"Berani sekali kau mempermainkanku! Aku sudah berkata jika akan memberikan dokumen ini kepada kaisar, kan? Jelaskan kenapa dokumen ini ada di lengan bajumu?!" tukas Wei tajam yang membuat Xiahe terkejut.
"Salahkan selir kedua dan selir ketiga! Mereka sengaja menjebakku, permaisuri!" tuduhnya kepada orang yang jelas-jelas tidak bersalah.
"Apa yang kalian lihat? Cepat bawa selir kedua dan selir ketiga kesini!" perintah Xiahe kepada pelayan yang ada di belakangny.
"Baik, putri!"
Wei hanya diam melihat tingkah Xiahe. Dia ingin melihat sejauh mana Xiahe akan bertindak saat kebohongannya telah terbongkar.
Tak lama datang Quolin dan Baoyi. Mereka langsung memberi hormat kepada Wei dengan menundukkan kepala. "Kami memberi hormat kepada permaisuri."
Plakkk
__ADS_1
Plakkk
Xiahe menampar pipi Quolin dan Baoyi secara bergantian. Kedua gadis yang di tampar itu saling tatap karena tidak mengerti dan tidak tahu dengan kesalahan mereka.
"Lancang sekali kalian menjebakku! Dasar selir rendahan!" teriak Xiahe dengan penuh tekanan yang membuat Quolin dan Baoyi segera berlutut di lantai.
"Mohon ampuni kami, putri. Kami tidak menjebak putri sama sekali!"
"Ah, kalian tidak mengakui kesalahan yang telah kalian perbuat?!"
Wei tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan Xiahe. Sudah jelas dia bersalah tapi melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Mendadak emosinya naik saat melihat Xiahe seperti orang kesetanan menampar pipi Quolin dan Baoyi hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Hentikan!" teriak Wei yang membuat Xiahe berhenti.
"Apa yang kau lakukan?" ujar Wei sambil menatap Xiahe yang mengatur napasnya.
Xiahe berjalan mendekati Wei masih dengan angkuhnya. Dia seolah tidak melakukan kesalahan apa-apa padahal telah melakukan keributan besar. "Aku memberikan hukuman pada dua gadia rendahan ini, permaisuri. Mereka telah menjebakku, hukum saja mereka!"
Wei menatap Quolin dan Baoyi yang berlutut di atas jalan bebatuan. Rasanya pasti sakit apa lagi pipi mereka yang di tampar dengan keras oleh Xiahe.
Hening karena Wei belum membuka suara. Dia menatap ke arah langit yang sebentar lagi akan berubah gelap. Memang waktunya untuk membersihkan diri dan mengisi perut yang kosong setengah siang, tapi Wei harus di hadapkan dengan masalah.
"Kau sudah ketahuan berbohong dan kau melemparkan kesalahanmu kepada orang lain. Apa seperti itu caramu yang menjadi panutan bagi orang lain? Ternyata seperti ini sikap putri Negeri Taoming!" tukas Wei dengan sorot mata tajamnya menghujani Xiahe dengan ribuan pedang.
"Apa maksud permaisuri? Kenapa menuduhku seperti itu? Apa begitu sikap permaisuri setelah di lantik menjadi permaisuri Negeri Taoming?!" teriak Xiahe mengikuti cara bicara Wei.
Kedua tangan Wei terkepal, bahkan dokumen yang tadinya rapi sekarang terlihat sedikit robek. "Dayang, cambuk putri Xiahe sebanyak dua puluh kali! Itu adalah hukuman karena dia telah berbohong kepada permaisuri negeri ini!"
Wajah Xiahe berubah merah, dia menatap Wei dengan penuh kebencian. "Kaisar saja tidak pernah menghukum aku seperti itu! Bagaimana kau bisa seberani itu menghukum aku, gadis rendahan?!"
__ADS_1
Plakkk