Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 7: Aku Bisa Membaca dan Menulis


__ADS_3

Fengying dan Wei kini sedang berjalan turun dari paviliun. Fengying dengan gagahnya berjalan di depan, sedangkan Wei berjalan di belakang sambil mengikuti langkah kaki Fengying.


Karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi, Wei segera mengalihkan pembicaraan dan berkata ingin segera tidur. Hal itu langsung ditanggapi oleh Fengying membuat Wei sadar jika pria itu tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Tempat ini sangat indah bukan?" ujar Fengying seraya menatap ke sekeliling.


Ya, kediaman permaisuri memang tempat yang indah. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kediaman permaisuri, Wei sudah menyadari jika tempat ini indah. Dia sangat beruntung karena bisa tinggal di tempat yang indah. Dia bahkan tidak apa-apa di larang keluar, tanpa diminta pun dia juga tidak mau meninggalkan tempat yang indah itu.


"Sangat indah, kaisar." sahut Wei dari belakang Fengying.


Tidak ada sepatah kata lagi yang keluar dari mulut Fengying, pria itu seolah kehabisan kata-katanya. Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah kediaman permaisuri.


"Istirahatlah, aku akan kembali ke kediaman kaisar sekarang." tutur Fengying seraya membalikkan badan menghadap Wei.


Wei membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat pada Fengying sebelum pria itu melangkah keluar dari kediaman permaisuri. "Baik, kaisar."


***


Keesokan harinya saat matahari baru menampakkan cahayanya sedikit dari balik gunung, Wei sudah berada di dalam perpustakaan dengan memakai gaun warna merah muda bermotifkan bunga peony dan krisan putih. Wajahnya terlihat sangat cantik walaupun hanya dirias sedikit saja, rambutnya disanggul dan ditusuk dengan tusuk konde yang terbuat dari giok warna hijau lumut.


Kilin dan 25 pelayan menyiapkan kursi dan meja di dalam perpustakaan, setelah itu mereka membawa banyak buku dan menaruhnya ke atas meja yang tadi mereka siapkan.

__ADS_1


Wei duduk disana sambil memperhatikan tumpukkan buku di depannya. Seketika dia mulai bersemangat saat menemukan sebuah buku bersampul merah muda dengan judul 'Tegakkan Kepalamu, Permaisuri'. Judul buku itu sesuai dengan ucapan Kaisar Fengying kemarin.


"Aku akan membaca ini terlebih dahulu." Wei mengambil buku tersebut yang membuat semua orang di depannya terkejut. Wei sepertinya memang selalu mengejutkan semua orang.


"Mohon maaf jika hamba lancang, apa calon permaisuri bisa membaca?" dengan memberanikan diri, Kilin akhirnya bertanya. Pasalnya dia diperintahkan oleh Kaisar Fengying untuk mengajari Wei membaca dan menulis.


Wei yang tadinya akan membuka buku mendadak menghentikan aktifitasnya setelah mendengar pertanyaan Kilin. "Aku selalu pergi ke perpustakaan kota secara diam-diam dan memperhatikan orang-orang belajar membaca dan menulis. Aku menjadi bisa membaca dan menulis tapi aku masih kurang ilmu." tutur lembutnya dengan rendah hati.


Semua yang mendengar perkataan Wei semakin terkejut. Di kota tidak ada budak yang diizinkan masuk, apa lagi sampai pergi ke perpustakaan kota. Perpustakaan yang paling besar itu terbilang sangat ketat karena hanya orang berstatus tinggi yang bisa memasukinya. Mereka mulai meragukan status Wei sebagai anak dari budak miskin.


Kilin menundukkan kepalanya. "Calon permaisuri benar-benar cerdas." pujinya yang diikuti oleh 25 pelayan.


"Jangan memujiku seperti itu, sungguh ilmuku masih tidak ada untuk dikatakan cerdas." Wei membuka buku di tangannya dan mulai membacanya.


"Hamba akan menunggu di depan perpustakaan, calon permaisuri." Kilin dan 25 pelayan tersebut memberi hormat kepada Wei, setelah itu mereka segera keluar dari perpustakaan.


Kini hanya tersisa Wei sendirian di perpustakaan yang cukup besar itu. Terdapat lima rak yang berjejer rapi dan di penuhi dengan buku. Di sudut kanan dekat lukisan bunga krisan warna putih terdapat anak tangga yang diatasnya menuju ke pintu. Entah apa yang ada di dalam pintu itu, Wei sama sekali belum menyadarinya. Gadis itu benar-benar fokus membaca buku.


Kurang lebih satu jam, Wei sudah selesai membaca buku berjudul 'Tegakkan Kepalamu, Permaisuri'. Dia tersenyum puas saat merasa mendapatkan ilmu berguna untuknya di masa depan.


Apa yang dia tangkap dari buku tersebut adalah bahwa harga diri seorang permaisuri sangat tinggi. Tidak ada seorang pun yang boleh menjatuhkan harga diri seorang permaisuri, apa lagi membuatnya menunduk karena kehilangan harga diri. Derajat seorang permaisuri benar-benar setara dengan kaisar. Jika seorang kaisar berperang menggunakan pasukan dan pedang, maka seorang permaisuri harus berperang menggunakan hati dan akal sehat. Tidak ada hal yang lebih baik daripada hati dan akal sehat.

__ADS_1


"Apa aku benar-benar di takdirkan menjadi permaisuri?" gumamnya seraya mengambil buku lain.


Kali ini dia mengambil buku bersampul merah terang dengan judul 'Tata Krama Permaisuri'. Dia membuka buku tersebut dan membacanya dengan serius.


Isi dalam buku tersebut tak lain adalah adab saat berada di istana dan luar istana. Cara makan, berjalan, duduk, posisi tidur, memakai pakaian, riasan di wajah, riasan rambut, dan berbagai macam lainnya tertulis di buku tersebut. Wei yang sekali baca langsung mengerti, dia mulai mempraktekkan cara berjalan dengan anggun.


Kedua tangannya saling menggenggam di atas perut, bahunya dan kepala di tegakkannya, setelah itu dia mulai berjalan. "Ah, ternyata seperti ini?"


Wei juga mencoba duduk di atas kursi dengan benar. Kedua tangannya masih tetap saling bergenggaman, punggungnya dia tegakkan sehingga terlihatlah aura kebangsawanannya meskipun dia tidak berdarah bangsawan.


Setelah itu Wei kembali membaca satu persatu buku di atas meja. Tak terasa 5 jam telah berlalu dan Wei juga telah selesai membaca semua buku di atas meja. Kedua matanya terasa lelah, punggungnya terasa sangat sakit karena terlalu lama duduk.


Wei berdiri seraya meregangkan otot tangannya. Tiba-tiba matanya fokus ke arah pintu di atas, seketika hal itu menarik perhatiannya. Dia berjalan menaiki satu persatu anak tangga dan membuka pintu.


Gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat menemukan tempat santai terbuka yang di bawahnya terdapat kolam ikan dan pohon buah pir yang tingginya melebihi tempat Wei berpijak.


Kediaman permaisuri seperti surga dunia yang belum pernah Wei temui dimanapun. Akankah kediaman lain juga seindah ini, batinnya?


Wei berjalan mendekati pohon pir. Tempat santai itu tanpa pembatas sehingga bisa duduk di tepian sambil menikmati buah pir. Dia mengambil buah pir yang dekat dekatnya, dahinya berkerut saat buah itu sulit di lepaskan dari dahan. Lantas dia lebih mendekatkan diri ke pohon, jika dia mendekat sedikit lagi maka dia akan terjatuh ke bawah.


Buah pir itu benar-benar susah untuk di ambil. Wei berusaha mati-matian untuk mengambilnya. Tak lama kemudian dia akhirnya bisa mengambil buah pir tersebut, namun Wei kehilangan keseimbangannya.

__ADS_1


Kilin yang baru saja membuka pintu terkejut karena melihat Wei terjatuh. "Calon Permaisuri!"


__ADS_2