
Keesokan harinya para wanita keluarga kerajaan berkumpul di paviliun kediaman permaisuri. Ada Wei, Xiahe, Zhuan, Quolin, Baoyi, dan Annchi. Mereka berkumpul disana untuk membahas masalah rakyat. Saran dari mereka nantinya akan dikirimkan ke kaisar.
Wei duduk di hadapan keempat gadis tersebut dengan menebarkan kesan bijaksana. Dia sebenarnya sangat lelah dan seluruh tubuhnya terasa sakit, tapi karena perintah Fengying kemarin, mau tidak mau dia harus melakukannya.
Dia juga sudah mendengar kabar tentang musuh yang berusaha membunuhnya kemarin. Fengying bahkan berlaku kejam pada mayat seseorang. Tapi pikiran itu di tepis oleh Wei saat mengingat bagaimana cepatnya pria itu menyelamatkan dirinya kemarin.
"Yang terjadi pada rakyat saat ini adalah kekurangan makanan. Aku memberi saran untuk menyalurkan makanan pokok kepada mereka. Termasuk beras dan lima koin emas. Bukankah persediaan di istana sangat banyak?" ujar Wei setelah membaca berita yang dibawakan oleh Tzuran dari rakyat. Dia secara khusus meminta Tzuran untuk pergi ke desa-desa terpencil dan melihat secara langsung kondisi rakyat disana.
Xiahe menghempaskan buku yang tadi dia baca. Hal itu membuat semua perhatian tertuju padanya. "Apa permaisuri ingin membuat para keluarga kerajaan kelaparan dan miskin?" tanyanya memojokkan Wei.
"Yang terjadi pada rakyat saat ini adalah kekurangan benang sutra. Negara Goching sudah lama tidak mengirimkan sutra ke Negeri Taoming. Yang seharusnya kita lakukan adalah mengirim dokumen untuk pertukaran barang ke Negeri Goching!" tegasnya yang di setujui oleh keempat selir tersebut.
Wei memberikan kertas bertuliskan masalah yang melanda rakyat miskin kepada Xiahe. Wei juga tahu yang dimaksud Xiahe adalah masalah di kalangan bangsawan. Di kota para bangsawan mendapatkan apa yang mereka mau. Makanan untuk mereka bahkan sangat berlebih, sedangkan rakyat miskin banyak yang mati kelaparan.
Setelah membaca isi kertas tersebut, Xiahe terkekeh kecil. "Darimana permaisuri mendapatkan berita yang penuh omong kosong ini?" Xiahe menatap Wei dengan jelas menamperlihatkan bahwa dia membenci Wei.
Senyum terukir di bibir Wei yang berwarna kemerahan tersebut. Tenang sekali, terlihat bahwa dia tidak terpengaruh dengan kebencian Xiahe padanya.
"Itu masalah pada rakyat miskin di desa yang berada tidak jauh dari kota. Banyak rakyat mati kelaparan disana. Aku juga tahu masalah tentang benang sutra di kota. Apa benang sutra lebih penting daripada nyawa rakyat?" nadanya lembut, namun cukup untuk membuat Xiahe menggeram kesal.
"Untuk masalah benang sutra, tidak mungkin Negeri Goching berhenti mengirimkannya ke Negeri Taoming. Mungkin mereka juga belum menghasilkan benang sutra di bulan ini, bisa saja benang sutra akan di kirim bulan depan." lanjut Wei.
"Banyak bangsawan di kota yang mengirimkan permintaan benang sutra ke Negeri Meing. Sebagian dari mereka bahkan telah menerima benang sutra. Bagaimana jika Negeri Goching merasa di khianati karena Negeri Taoming mendapatkan benang sutra dari Negeri Meing? Masalah ini bahkan akan menjadi besar jika tidak segera di atasi." seru Zhuan yang sedari tadi diam menyimak.
__ADS_1
Xiahe tersenyum sinis. "Permaisuri memang tidak bisa di andalkan. Lebih baik aku yang mengurusnya seperti yang telah aku lakukan selama posisi permaisuri kosong. Permaisuri masih harus banyak belajar, jangan asal mengambil keputusan." sindirnya yang membuat Wei menghela napas.
"Kenapa kau begitu cepat menyimpulkan, Xiahe? Aku bahkan belum memberikan pendapat tapi kau sudah menawarkan diri untuk mengurusnya sendiri." tegur Wei dengan raut wajah serius.
"Aku hanya ingin mempercepat semuanya, permaisuri." ucap Xiahe tanpa meminta maaf walaupun telah di tegur oleh Wei.
"Coba katakan bagaimana kau akan mengatasi semua masalah rakyat?"
Xiahe menegakkan tubuhnya dengan tatapan meremehkan Wei. Dia merasa bahwa dirinya lebih baik daripada Wei. Mengingat status mereka yang berbeda membuat Xiahe tidak mempunyai rasa hormat sedikitpun pada Wei. Dia bertindak seolah dialah permaisuri disini.
"Aku akan mengirimkan permintaan benang sutra ke Negeri Goching dan mengirimkan sayur dan buah-buahan dari hasil panen rakyat ke Negeri Meing sebagai balasan karena mereka telah mengirimkan benang sutra ke Negeri Taoming." ucap Xiahe membuat Wei terkekeh kecil.
Xiahe, Zhuan, Quolin, Baoyi, dan Annchi bingung melihat respon Wei. Mereka berpikir jika Wei sudah gila karena di hadapkan dengan masalah rakyat.
"Lihatlah cara berpikirmu ini, Xiahe. Kau sangat memperdulikan masalah kaum bangsawan. Aku pikir kau akan mengatasi masalah lewat cara sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati. Tapi ternyata kau semakin memberatkan masalah." ucap Wei disertai dengan beribu-ribu pedang untuk menyerang Xiahe.
Wei tidak tahan bersikap lembut pada para wanita di depannya. Dia tidak ingin bermuka dua, lebih baik melawan secara terang-terangan daripada harus menahan dan membuat dadanya sesak. Ya, dia seberani itu meskipun baru dua hari menjadi permaisuri. Jika tidak bertindak, Xiahe mungkin akan selalu merasa bahwa dialah yang mampu mengemban tugas permaisuri. Padahal kenyataannya Xiahe hanya membuat hidup rakyat miskin semakin menderita.
"Kalian berpikir jika masalah benang sutra ini harus segera di atasi, kan?"
"Xiahe telah memberikan pendapatnya yang sangat tidak memikirkan rakyat. Mengirimkan permintaan benang sutra ke Negeri Goching lebih baik daripada harus mengirimkan sayur dan buah-buahan hasil panen rakyat kepada Negeri Meing. Kau memuaskan keinginan kaum bangsawan dengan memeras rakyat miskin yang hanya bergantung pada hasil panen! Apa kau masih menganggap dirimu hebat, Xiahe?"
"Cukup memberikan larangan keras kepada kaum bangsawan untuk tidak mengirim permintaan benang sutra ke Negeri Meing!"
__ADS_1
Semua yang ada disana bungkam setelah mendengar penjelasan panjang lebar Wei. Mereka bungkam bukan karena setuju dengan Wei, tapi menggeram kesal karena Wei lebih memperhatikan masalah rakyat miskin yang bagi mereka tidak melakukan apa-apa untuk negeri ini.
"Wah, sungguh pemikiran yang bijak sekali!" puji Nui yang berjalan menaiki tangga paviliun bersama Lienxi. Wajah Nui terlihat bahagia seraya menatap Wei, berbeda dengan wajah Lienxi yang masam menatap Wei.
Mereka semua menundukkan kepala untuk memberi hormat kepada Nui.
"Kami memberi hormat kepada ibu suri!"
Nui berjalan ke arah Wei dan langsung menggenggam kedua tangannya dengan erat. "Kau bijak sekali, permaisuri." ucapnya dengan wajah berbinar yang membuat Wei tersenyum.
"Suatu kehormatan bagiku karena mendapat pujian dari ibu suri."
Lienxi menghampiri Xiahe yang menggeram kesal di belakang Nui. Lienxi mengerti dengan putrinya yang merasa tersaingi dengan kehadiran Wei. Dia sangat membenci Wei sejak pertama kali gadis itu datang ke istana dan mencuri perhatian ibunya. Bagi Lienxi, kehadiran Wei benar-benar mengusik ketenangannya. Dia ingin sekali membuat Wei terusir dari istana dan dipastikan tidak akan diterima lagi.
"Aku setuju dengan saranmu tadi, permaisuri. Apa yang kalian lakukan? Cepat buat dokumen! Apa kalian juga menginginkan permaisuri yang mengerjakannya?" ujar Nui sambil menatap Zhuan, Quolin, Baoyi, dan Annchi yang berdiri dengan kepala tertunduk di belakang Lienxi dan Xiahe.
"Tentu saja tidak, ibu suri! Kami akan membuat dokumen dan menyerahkannya kepada kaisar." sahut Baoyi yang membuat Wei menggelengkan kepalanya.
"Biar aku saja yang menyerahkannya kepada kaisar. Nanti sore serahkan dokumen kepadaku."
Lienxi tidak bisa diam saja. Dia maju selangkah menghadap Wei. "Apa kau ingin mengemban tugas selir, permaisuri?"
Wei menghela napasnya. Anak dan ibu sama saja, batinnya. Dia sangat di pojokkan sehingga membuatnya merasa muak. Wei menatap Lienxi dengan lembut seraya tersenyum penuh ketulusan.
__ADS_1
"Bukan begitu, putri. Aku telah di perintahkan oleh kaisar untuk memberikan dokumen kepadanya. Bukankah permaisuri tidak boleh menolak perintah kaisar?"
"Apa?!"