
Zhuan menyenggol lengan Quolin. "Jangan berkata seperti itu di depan calon permaisuri!"
"Ah, mohon maafkan aku. Aku hanya kesal karena mereka tidak bisa menjaga calon permaisuri dengan baik."
Wei menatap Zhuan dan Quolin bergantian. Dimata mereka tidak ada kebohongan sama sekali. "Apa dayang dan semua pelayan lamaku di hukum mati?" ujarnya yang langsung mendapat jawaban anggukkan kepala dari Zhuan dan Quolin.
"Tentu saja, calon permaisuri! Mereka memang pantas mendapatkannya. Kaisar telah memberi hukuman yang sesuai dengan kesalahan mereka," sahut Quolin.
Wei memejamkan kedua matanya sebentar. Dadanya kini benar-benar sesak, sangat sesak seolah oksigen memenuhi paru-parunya. Meskipun begitu, Wei berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan kedua selir Fengying.
Pikirannya sekarang penuh tentang dayang dan pelayan lamanya. Jika benar mereka semua di hukum mati karena dirinya terjatuh ke kolam ikan, Wei tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Ah, begitu?" gumam Wei yang masih terdengar di telinga Zhuan dan Quolin.
Sebelum Zhuan berkata, datang Tzuran dan dua pelayan di belakangnya. Mereka masing-masing membawa nampan berisi teh dan kue yang berbentuk berbagai macam bunga. Mereka meletakkan nampan tersebut ke meja Wei, Zhuan, dan Quolin. Setelah itu mereka pamit keluar.
"Nikmatilah," ucap Wei.
Zhuan dan Quolin langsung menikmati kudapan yang tersaji di hadapan mereka. Bau teh hijau sangat memanjakan indra perasa mereka. Selain itu kue yang berbentuk berbagai macam bunga yang terbuat dari kacang hijau akan pecah di lidah saat mereka menggigitnya.
"Wah, kudapan ini sangat enak. Terima kasih atas kemurahan hati calon permaisuri yang menyambut kedatangan kami dengan baik." Zhuan menundukkan kepalanya diikuti oleh Quolin. Ya, Wei memang telah menyambut mereka dengan baik terlepas dari apa yang mereka lakukan padanya.
Hanya senyum yang Wei perlihatkan. Dia berusaha bersikap tenang dari tadi, ingin sekali dia segera pergi ke kediaman kaisar. Dia ingin bertanya langsung pada Fengying soal dayang dan pelayan lamanya. Tapi kedua selir di depannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi.
__ADS_1
Kurang lebih sepuluh menit mereka menikmati kudapan, tiba-tiba wajah Zhuan tampak terkejut. Wei yang menyadari itu langsung bertanya pada Zhuan, takut ada masalah yang menimpanya.
"Ada apa selir pertama, kenapa wajahmu tampak terkejut?" ujar Wei tanpa mengalihkan pandangannya dari Zhuan.
"Mohon maaf, calon permaisuri, sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku lupa jika siang ini ada kelas menyulam, guruku pasti sudah menunggu saat ini. Aku pamit undur diri, calon permaisuri!" Zhuan beranjak berdiri, kemudian menundukkan kepala untuk memberi hormat pada Wei. Setelah itu dia segera keluar dari rumah menyisakan Wei dan Quolin yang menatap punggungnya yang semakin menjauh sampai hilang di balik pintu.
Hening sesaat. Quolin menatap Wei dari atas sampai bawah. Dalam hati dia menyangkal jika Wei ditakdirkan menjadi permaisuri negeri ini. Tidak masuk akal jika gadis rendahan mengemban tugas permaisuri.
"Apa calon permaisuri menyukai istana?" tanya Quolin membuka percakapan di antara mereka.
Wei berdehem, kemudian menatap wajah Quolin. "Tidak, terlalu banyak aturan di sini. Tapi aku selama ini selalu berusaha untuk menyukai istana."
Quolin terkekeh kecil. Dia berpikir jawaban Wei adalah sangat menyukai istana. Dia sama sekali tidak menyangka jika Wei akan sangat jujur.
"Kejujuran adalah sifat yang harus di miliki seseorang, selir kedua."
Wajah Quolin berubah serius, dia menopang dagunya dengan tangan kanan yang bertumpu ke atas meja. Sekilas dia menampakkan senyum sinis kepada Wei.
"Tidak juga, calon permaisuri. Dayang dan pelayan terdahulu calon permaisuri seharusnya bisa berbohong untuk menyelamatkan nyawa mereka. Tapi mereka semua mengaku tidak bisa menjaga calon permaisuri dengan baik sehingga mereka semua di jatuhi hukuman mati oleh kaisar." jelas Quolin yang membuat kedua tangan Wei terkepal. Sebisa mungkin saat ini dia ingin terlihat tenang agar Quolin tidak menemukan kelemahannya.
"Sepertinya calon permaisuri tidak mengetahui kabar itu. Aku dan selir pertama datang kesini sebenarnya ingin memberitahukan tentang dayang dan pelayan terdahulu calon permaisuri. Apa calon permaisuri tidak terkejut atau merasa bersalah?" lanjut Quolin karena tidak melihat reaksi apa-apa dari Wei. Gadis itu terlihat tenang meskipun dia sudah memberitahu semuanya.
Wei tersenyum lembut. "Untuk apa aku merasa bersalah? Bukankah istana memang seperti itu untuk mereka yang tidak memiliki kekuasaan? Aku ingat betul saat pertama kali datang ke istana, saat itu statusku masih gadis miskin yang kotor. Aku di perlakukan tidak baik oleh selir kaisar, bukankah kau mengingatnya, selir kedua?" wajah tenangnya itu mampu membuat Quolin seketika bungkam. Dia menegakkan tubuhnya, kemudian segera menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mohon maafkan aku, calon permaisuri."
"Kau sudah selesai mengatakan semuanya, bukan?" ujar Wei yang membuat Quolin langsung menganggukkan kepalanya.
Quolin beranjak berdiri, setelah itu menundukkan kepalanya. "Aku pamit undur diri, calon permaisuri!"
Sepeninggal Quolin, tubuh Wei seketika lemas. Dengan sekuat tenaga dia berusaha bangkit untuk pergi ke kediaman kaisar. Saat dia akan berjalan keluar rumah, Ruyin dan Tzuran datang menghampirinya.
Wajah Ruyin dan Tzuran terlihat sangat tidak enak. Mereka seperti ketahuan telah melakukan kesalahan. Wei yang menyadari itu langsung mengerutkan dahinya.
"Kalian mengetahui hal ini? Kenapa saat aku bertanya kalian berkata jika Kilin meninggalkan istana?!" ujar Wei dengan dada turun naik.
Ruyin dan Tzuran menundukkan kepala mereka dalam.
"Hamba hanya tidak ingin calon permaisuri larut dalam kesedihan yang mendalam. Jika hamba memberitahu calon permaisuri akan percuma saja karena semuanya akan tetap terjadi." ucap Ruyin yang membuat Wei memejamkan kedua matanya sebentar. Kepalanya benar-benar sakit seolah akan pecah.
"Cepat atau lambat aku akan tahu, dayang. Sekarang aku harus bagaimana? Mereka semua meninggal karena kecerobohanku. Aku... aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri." kedua mata Wei mulai berkaca-kaca, tubuhnya juga bergetar. Perasaannya saat ini campur aduk sehingga dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Aku harus menemui kaisar!"
"Jangan, calon permaisuri! Calon permaisuri dan kaisar baru boleh bertemu besok di acara pernikahan dan pelantikan. Pengantin tidak boleh bertemu sehari sebelum pernikahan, jika bertemu, hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pasti akan terjadi."
Wei menangis setelah mendengar ucapan Ruyin. Sekarang dia harus bagaimana? Dia sedih, takut, panik, dan merasa bersalah. Bagaimana dia harus menjalani hidup sekarang? Selama tidak tahu, dia hidup dengan bahagia di istana. Padahal sebenarnya dia bahagia di atas kematian dayang dan para pelayan lamanya. Wei merasa tidak pantas lagi untuk tertawa, dia benar-benar merasa seperti gadis yang jahat.
__ADS_1
Ruyin menggenggam kedua tangan Wei dengan tulus. "Hamba sudah berkata jika lidah bisa menyebabkan kematian seseorang. Kematian Kilin dan pelayan terdahulu harus kita jadikan contoh untuk berhati-hati dalam berkata."