Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 31: Penyamaran


__ADS_3

Malam memberikan suasana dingin ditambah saat itu salju sedang turun. Wei membuka jendela tandu yang saat ini sedang ia naiki. Tangannya menegadah ke luar, menikmati sejuknya salju yang menerpa tangan mungilnya.


"Apa permaisuri memerlukan sesuatu?" tanya Tzuran yang berjalan di samping tandu.


Wei hanya menggelengkan kepala sambil menatap gelapnya langit malam. Mereka baru kembali ke istana setelah menghadiri jamuan dari Kerajaan Xavier siang tadi. Dia hanya datang sendiri karena Fengying sedang menghadiri rapat penting di Kerajaan Goching.


"Kita sudah hampir sampai, permaisuri." ucap Ruyin setelah melihat pintu gerbang kerajaan yang sudah di depan mata.


Wei hanya diam. Dia sebenarnya ingin keluar lebih lama karena kerajaan tempatnya tinggal sangat menyesakkan dada. Ditambah perlakuan kejam Fengying yang tidak henti memberikan luka fisik dan batin untuknya.


"Kita sudah sampai, permaisuri."


Wanita itu keluar dari tandu, kemudian berjalan menuju kediamannya. "Pukul berapa sekarang, dayang?" tanyanya memecah keheningan di antara mereka.


"Sekarang pukul sembilan malam, permaisuri."


Entah apa yang dia pikirkan, senyum terukir begitu saja di bibirnya. Dia kemudian berlari menuju kediamannya membuat semua pengikutnya kaget dan segera mengejarnya.


Ya, Wei tahu jika berlari dilarang bagi seorang permaisuri. Tapi dia tidak ingin terlalu terikat oleh peraturan kerajaan. Dia ingin menjadi diri sendiri dan tidak peduli lagi dengan keadaan di sekitarnya.


"Kenapa permaisuri berlari? Bukankah___"


"Dayang, aku ingin bebas malam ini. Apa kalian mau membantuku?" tanya Wei begitu mereka sampai di kediamannya.


Ruyin mengerutkan dahi. "Apa yang bisa kami lakukan untuk permaisuri?"


"Aku ingin keluar malam ini."


"Maksud permaisuri? Apa permaisuri ingin keluar dengan menyamar?" pertanyaan Tzuran mendapat anggukan kepala dari Wei.


"Bukankah anggota keluarga kerajaan sering melakukan penyamaran? Aku bahkan lebih dari sekali mendapati kaisar keluar dengan penyamaran."


"Kami tidak bisa membiarkan permaisuri menyamar. Bagaimana jika kaisar tahu?"


"Kaisar tahu atau tidak tahu pun aku akan tetap disiksa, bukan? Kalian telah menjadi saksi selama ini."


Ruyin menatap Wei dengan kasihan. Ya, dia sering mengobati luka di tubuh Wei akibat perbuatan Fengying. Bahkan Wei sering dijadikan bahan pelampiasan emosi oleh Fengying.

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan Ruyin, Wei segera mengganti pakaiannya. Dia mengenakan gaun polos warna hijau, rambutnya dia sanggul sehingga memperlihatkan leher putihnya. Terakhir dia mengambil jubah panjang yang senada dengan warna gaunnya.


"Dayang, apakah tidak apa-apa?" tanya Tzuran seraya menatap Ruyin.


Wanita setengah tua itu hanya mengembuskan napas panjang. "Kami akan menunggu permaisuri di pintu belakang. Jika permaisuri melewati pintu belakang dan menyusuri jalan gunung, permaisuri akan tiba di kota."


"Dayang? Bagaimana kau bisa tahu?"


"Aku juga pernah keluar istana diam-diam, karena itu aku bisa tahu jalan terdekat dan aman menuju kota, permaisuri."


Wei tersenyum bangga. "Kau sangat hebat, dayang. Aku pergi dulu, jagalah kediaman selama aku pergi!"


"Baik, permaisuri!"


Jalanan memang gelap, wanita itu sedikit kesulitan dalam melihat jalan. Tapi dia tidak peduli dan tetap melanjutkan perjalanan. Sebenarnya dia tidak tahu ke kota ingin mencari apa, dia hanya ingin keluar dan melihat kota saat malam turun salju.


Wei segera bersembunyi di semak-semak tinggi saat melihat dua orang sedang berjalan dengan membawa lentera. Matanya memicing berusaha memperhatikan dua orang tersebut.


"Ayah! Kau tahu jika aku menginginkan kaisar, tapi kenapa kau memintaku untuk melenyapkannya?!"


Refleks Wei menutup mulut dengan kedua tangannya. Itu adalah suara Zhuan, selir pertama.


Wei tidak dapat mempercayai apa yang dia lihat. Bagaimana semuanya bisa kebetulan? Ini adalah rahasia besar yang dia ketahui dari selir pertama kaisar.


"Aku sudah berusaha sebaik mungkin, ayah! Aku bahkan menghabiskan semua uangku untuk membeli ramuan yang bisa membuat kaisar tergila-gila padaku sehingga kami bisa melangsungkan malam pertama. Tapi semua itu gagal!"


"Kau telah kehilangan harga diri, Zhuan. Kau selir pertama dan sudah lama berada di sisi kaisar, tapi kau kalah oleh gadis rendahan yang baru beberapa bulan tinggal di sisi kaisar!"


Zhuan melemparkan lentera ke jalanan. "Berhenti mengatakan hal itu, aku membencinya!"


Ruan mencengkram kedua bahu Zhuan. "Aku sudah mengirimkan racun ke kamarmu. Lenyapkan kaisar dan aku akan mengambil alih tahta. Menjadi putri dari seorang kaisar lebih baik bagimu dibandingkan menjadi selir, apa kau paham?!"


Zhuan menggelengkan kepala, menolak keras perintah ayahnya. "Aku tidak bisa, ayah!"


"Dua hari lagi aku akan mengadakan pemberontakan. Aku tidak ingin kau mengecewakanku, Zhuan. Kau tahu kan jika aku sudah mempersiapkan semuanya dari lama. Lenyapkan kaisar di malam hari sebelum aku melakukan pemberontakan."


"Ayah!"

__ADS_1


Wei menatap kepergian Zhuan dan Ruan dengan jantung berdegup kencang. Dia sulit mempercayai apa yang ia dengar, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Bahkan di istana sekalipun ada musuh yang berkedok pengikut Fengying.


Lama diam disana, Wei akhirnya melanjutkan kembali perjalanannya. Dia tiba di kota yang masih ramai itu.


Brukkk


"Ah, maafkan aku nona."


Wei menatap tangan pria yang barusan menabraknya. Dia menerima uluran tangan pria tersebut yang membantunya untuk berdiri.


"Aku seperti mengenalmu, tuan." Wei memperhatikan wajah pria tersebut dengan seksama.


"Biar aku memperkenalkan diri, nona. Aku Huanran, dari negeri Goching. Aku tadi sedang mencari penginapan di sekitar sini, tapi tanpa sengaja menabrak nona. Ini pertama kalinya aku ke negeri Taoming, sepertinya aku sedikit tersesat." pria tersebut menggaruk kepalanya yang tak gatal pertanda ia sedang kebingungan.


Kedua mata Wei berkaca-kaca. Dia langsung memeluk pria tersebut yang membuat pria tersebut bingung sekaligus terkejut.


"Kakak, ini aku Wei! Apa kau tidak mengenalku?!"


Huanran melepaskan pelukan Wei. "Apa? Kau benar Wei, adikku?"


Wei menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Iya, aku Wei adikmu yang manis! Kenapa kau baru datang sekarang, kak? Aku telah melewati banyak masa sulit selama kau tidak ada, apa kau tahu itu, hah?!"


Huanran menggenggam kedua tangan Wei yang akan memukul dadanya. Dia sudah 15 tahun belajar di negeri Goching dan telah menjadi menteri perhubungan. Dia mengambil cuti tiga hari untuk menemui keluarganya tapi saat kembali ke rumah dia tidak mendapati apa-apa selain tulang rumah sisa terbakar. Dia panik dan mencari keluarganya ke kota, berharap bisa menemukan keluarganya disana.


"Maafkan kakak, Wei. Kakak akan mendengarkan semua ceritamu, tapi sebelum itu bawa dulu kakak ke rumah kita."


Wei menghapus air matanya. Dia tidak membawa Huanran ke rumah kedua orang tua mereka, melainkan ke penginapan. Dia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh ayah mereka jika ketahuan melakukan penyamaran. Atau sebaliknya, dia akan diminta untuk kabur seperti waktu itu.


"Dimana ayah dan ibu? Kenapa kita ke penginapan, Wei?"


Wei duduk di kursi diikuti oleh Huanran. "Aku tidak bisa menemui mereka, kak."


"Kenapa? Apa kau kabur?!" tanyanya sedikit berteriak.


"Tentu saja tidak!"


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku sudah menjadi permaisuri, kak. Permaisuri Kerajaan Taoming."


__ADS_2