
Fengying mendorong tubuh Wei dengan keras sampai tubuhnya menabrak sisi ranjang, kemudian merosot jatuh ke lantai. Pria itu benar-benar tidak punya hati nurani saat menyiksa gadis tersebut.
Wei merasakan sakit yang luar biasa di leher, kepala, dan punggungnya. Ingin sekali dia kabur dari Fengying, tapi percuma karena pria itu pasti akan mengejarnya.
Saat Wei akan berdiri, Fengying melemparkan pedang ke hadapan Wei. "Perlihatkan kemampuanmu yang lain!" perintahnya tidak ingin di bantah.
Wei hanya menggelengkan kepala yang membuat Fengying semakin marah. Dia kemudian berjalan ke arah Wei dan mengambil pedang tersebut.
Wei menahan napas saat Fengying mengarahkan pedang ke lehernya, persis seperti yang di lakukan musuhnya tadi. Kilatan tajam itu membuat Wei di rundung rasa ketakutan yang amat dalam. Dia juga tidak paham kenapa Fengying sangat membencinya sehingga tidak segan untuk menyiksa dirinya. Wei mengakui status rendahnya, tapi apa harus dia di perlakukan dengan kejam oleh suaminya sendiri?
"Mohon maafkan aku jika telah membuat kesalahan, kaisar. Aku tidak bisa memainkan pedang, aku sama sekali tidak bisa..." ucap Wei dengan bibir bergetar. Sedikit lagi pedang itu akan menyayat lehernya, bagaimana mungkin dia tidak ketakutan?
Fengying tertawa dengan keras seraya menjauhkan pedang tersebut dari leher Wei. "Dasar gadis rendahan pembohong!" tukasnya tajam.
Wei hanya diam dan kini mulai menundukkan kepalanya. "Apa kaisar membenciku?" gumamnya yang masih terdengar di telinga Fengying.
Seperti belum puas menyiksa, Fengying kini mencengkram dagu Wei dengan kuat. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam itu menusuk ke kulit Wei yang membuat gadis tersebut meringis kesakitan.
"Apa kau berpikir aku menyukaimu, gadis rendahan? Bodoh sekali! Aku bahkan sangat membencimu karena ditakdirkan menjadi permaisuri negeri ini. Apa kau tidak mendengar pembicaraan para rakyat Taoming?"
__ADS_1
Fengying mendekatkan wajahnya ke telinga Wei dan mulai berbisik. "Mereka merendahkan aku karena menikah dengan gadis rendahan sepertimu! Dan kau dengan seenak hati memprotes aku karena membunuh dayang dan pelayan lamamu!"
Wei menatap wajah Fengying yang baru selesai membisik di telinganya. Wajah itu memang terlihat jelas sangat membenci dirinya. Hatinya teriris setiap kali pria itu melemparkan tatapan tajam kepadanya.
"Mohon maafkan aku, kaisar..." Wei sujud di hadapan Fengying. Dia menahan semua rasa sakit di tubuhnya demi meminta maaf pada pria itu. Dia lebih suka di perlakukan hangat oleh Fengying, daripada di perlakukan seperti ini.
"Aku memang gadis rendahan yang bodoh sehingga memprotes kaisar. Mohon maafkan aku..." ulangnya memperjelas membuat Fengying tersenyum sinis.
Masih belum ada jawaban dari Fengying. Dia memperhatikan Wei yang sujud di hadapannya. Ada sedikit rasa iba dalam hatinya saat memperlakukan Wei seperti itu. Tapi dia sudah terlanjur membenci Wei saat gadis itu berkata tidak ingin menjadi permaisuri. Baginya, Wei telah melanggar sumpahannya sendiri yang dia buat di hadapan seorang kaisar. Fengying sangat membenci orang yang melanggar sumpahan karena itu dia tidak bisa bersikap hangat lagi pada Wei. Sebisa mungkin dia akan berusaha membuat Wei menderita sampai gadis itu berpikir mati lebih baik daripada harus tinggal di sisinya. Sekejam itu Fengying pada orang yang telah melanggar sumpahan mereka.
"Kau tidak hanya memprotes, gadis rendahan! Tapi kau juga melanggar sumpahan yang kau katakan di hadapanku!" Wei terkejut saat mendengar teriakan Fengying.
Gadis itu memberanikan diri untuk menatap mata Fengying. Masih, pria itu masih menatapnya dengan tajam.
"Apa yang aku lakukan kepadamu adalah akibat karena kau melanggar sumpahanmu sendiri. Kau akan menderita sepanjang hidup sampai kau berpikir mati lebih baik daripada tinggal di sisiku!" setelah mengatakan itu, Fengying menghempaskan tubuh Wei dengan kuat.
Fengying mengambil pedangnya seraya berdiri. Dia akan berjalan keluar, namun ucapan Wei menghentikan langkahnya.
"Aku tidak pernah melanggar sumpahanku. Selama ini aku sudah berusaha untuk menjalankan sumpahanku terlepas bagaimana perlakuan kaisar terhadapku. Aku tidak akan mundur lagi, sampai sisa napas terakhirku aku akan tetap berada di sisi kaisar walaupun kaisar tidak pernah menginginkan aku." Wei menatap Fengying dengan tulus. Ya, dia memang bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Mulai hari ini aku akan lebih berusaha agar sikap kaisar hangat seperti saat pertama kali kita bertemu. Gadis rendahan ini memang tidak pantas, tapi aku akan memperjuangkan segalanya." lanjutnya dengan tutur lembut yang membuat Fengying sedikit tertegun.
Fengying dengan angkuh dan kejamnya melemparkan tempat lilin yang terbuat dari besi berbentuk bunga krisan ke dahi Wei. Tanpa sempat menghindar, tempat lilin itu tepat mengenai dahi Wei sehingga membuat dahinya terluka.
Wei tersenyum tipis sambil menyeka darah yang mengalir menuruni dahinya. Ini baru awal perjuangannya untuk mendapatkan kehangatan dari Fengying. Dalam hati dia selalu mengatakan tidak apa-apa. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat menatap mata Fengying yang menatap dirinya dengan tajam dan penuh kebencian.
"Mendengarmu berbicara seperti itu membuat kebencianku semakin besar. Aku tidak akan pernah mempercayai semua omong kosong yang keluar dari mulut busukmu itu! Kau pikir aku akan iba dan bersikap hangat kepadamu? Tidak, aku tidak akan seperti itu padamu! Dimataku kau hanyalah gadis rendahan yang merusak citraku di mata rakyat!" tukas tajam Fengying.
Air mata mengalir semakin deras dari pelupuk mata Wei. Sungguh hatinya sangat sakit dan perih. Ibarat terluka tapi diberi perasan jeruk nipis dan garam. Dia sudah tidak bisa menahan isak tangisnya yang tadi sekuat mati dia tahan. Semua yang keluar dari mulut Fengying sangat melukai hatinya.
"Jangan perlihatkan air mata tipuan di hadapanku! Aku tidak akan pernah menarik ucapanku!" tegas Fengying sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar Wei. Tapi lagi-lagi ucapan Wei menghentikan langkahnya.
"Tidak peduli seberapa buruk pikiran kaisar tentangku, aku akan tetap berusaha." lirih Wei yang sama sekali tidak membuat hati Fengying luluh.
Fengying meninggalkan kediaman permaisuri dengan raut wajah merah padam menahan amarah. Dia ingin menyiksa Wei lebih parah lagi tapi tidak ingin gadis itu mati. Akhirnya berendam di kolam pemandian menjadi solusi untuk meredakan amarahnya.
Sepeninggal Fengying, Ruyin dan Tzuran masuk ke kamar. Mereka terkejut mendapati keadaan Wei yang tidak baik-baik saja. Dengan tergesa mereka berlari ke arah Wei dan membantu gadis itu untuk berdiri.
Melihat Ruyin dan Tzuran yang begitu mengkhawatirkannya membuat hati Wei kembali tenang. Lantas dia tersenyum sambil menggenggam tangan Ruyin dan Tzuran.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja.." ucap Wei sebelum pandangannya gelap dan tubuhnya ambruk di lantai.
Ruyin dan Tzuran panik saat Wei tiba-tiba pingsan. Dia berbohong saat berkata baik-baik saja. Bagaimana bisa dia baik saat keadaan memaksanya untuk terluka?