Gadis Miskin Menjadi Permaisuri

Gadis Miskin Menjadi Permaisuri
Bab 14: Sehari Sebelum Pernikahan


__ADS_3

Besok adalah hari pernikahan sekaligus pelantikan Wei sebagai permaisuri baru. Dia benar-benar gelisah memikirkan hari esok dimana dia akan berdiri di hadapan semua orang yang ada di istana. Tangannya sudah berkeringat dingin walaupun hanya di bayangkan.


Fengying juga tidak pernah menemuinya lagi sejak dia sadar dari pingsannya. Wei juga mendengar dari Ruyin jika Fengying sangat sibuk mengurus masalah negeri setelah dia mengumumkan pernikahan seminggu yang lalu. Wei bisa mengerti dan memaklumi, saat itu Fengying juga sudah berkata padanya.


Matahari sudah sangat tinggi di langit, saat ini Wei dan semua pelayan sedang duduk di paviliun lantai 1 dengan makanan yang terhidang di setiap meja. Wei memerintahkan semua yang bekerja di kediaman permaisuri untuk makan bersamanya karena besok dia mungkin tidak bisa makan. Jantungnya berdegup kencang setiap kali memikirkan hari pernikahannya.


"Aku ingin makan bersama seperti ini walaupun hanya sekali. Terima kasih karena tidak menolak untuk makan bersamaku," ujar Wei yang membuat Tzuran mengerutkan dahinya.


"Kami yang seharusnya berterima kasih kepada calon permaisuri. Terima kasih atas kemurahan hati calon permaisuri!" ucapan Tzuran langsung diikuti oleh semua pelayan tersebut membuat senyum di bibir Wei mengembang.


"Nikmati makanan kalian."


Mereka makan sambil melemparkan cerita satu sama lain. Perlahan pelayan Wei mulai terbuka padanya. Selama melayani Wei mereka diperlakukan dengan sangat baik, membuat mereka berpikir bahwa orang dengan derajat tinggi yang baik itu ada.


Dari gerbang kediaman permaisuri, Wei mendapati Ruyin berjalan dengan tergesa-gesa dengan membawa sebuah kotak hadiah warna merah di tangannya.


Wei tersenyum bahagia, dia kemudian berdiri karena makanannya juga kebetulan sudah habis. "Nikmati makanan kalian, aku akan mencoba hadiah dari ibu suri."


"Teman-teman, sepertinya mulai hari ini kita harus memanggil calon permaisuri dengan permaisuri."


"Selamat menikmati hadiah dari ibu suri, permaisuri!"


Kedua pipi Wei merah merona saat pelayannya sengaja menggoda dirinya. Tanpa berkata lagi dia langsung berjalan menghampiri Ruyin yang akan masuk ke dalam rumah.


"Ini ga..." ucapan Ruyin terpotong saat Wei tiba-tiba mengambil kotak hadiah dari tangannya. Dengan perasaan senang, Wei segera berlari masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Ruyin yang berteriak melarangnya untuk berlari.

__ADS_1


Ya, Wei setuju dengan Tzuran yang mengatakan bahwa Ruyin sangat mengikuti aturan istana dan dia juga sangat serius dalam semua hal. Wei dipengaruhi oleh Tzuran sehingga gadis itu ikut membuat Ruyin mengomel setiap saat. Pantas saja Tzuran betah karena Ruyin benar-benar peduli dan selalu mengingatkan tentang aturan istana meskipun sikapnya yang sedikit kaku.


Saat sampai di kamar, Wei langsung membuka kotak tersebut. Seketika dia menutup mulut dengan tangan kanan, matanya berbinar seperti menemukan harta karun yang tersembunyi.


"Hamba sudah memberitahu calon permaisuri untuk tidak berlarian. Besok adalah hari pernikahan calon permaisuri, bagaimana jika calon permaisuri terjatuh tadi?" omel Ruyin dengan dada naik turun karena lelah setelah berlari.


"Dayang, apa kau sudah melihat gaun ini? Kenapa gaun ini sangat cantik?" Wei mengeluarkan gaun warna merah yang disulam kain emas membentuk bunga krisan dan burung phoenix. Bagian rok gaun tersebut terbelah dua dengan dalaman warna putih polos. Di bagian kiri terdapat sulaman bunga krisan dan di bagian kanan terdapat sulaman burung phoenix. Tidak hanya ada gaun, di dalam kotak tersebut juga terdapat tusuk konde emas dengan bagian atasnya patung burung phoenix warna merah.


Ruyin tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya pada gaun pilihan ibu suri tersebut. "Benar-benar indah!" pujinya sambil berjalan mendekati Wei.


Saat Wei akan berkata ingin mencobanya, tiba-tiba Tzuran berlari ke arahnya dengan napas memburu. Terlihat jelas jika gadis itu tadi berlari.


"Mohon maafkan hamba karena mengganggu calon permaisuri. Di luar ada selir pertama dan selir kedua, mereka ingin bertemu dengan calon permaisuri." ucap Tzuran dengan kepala tertunduk.


Bahu Wei merosot karena dia tidak bisa mencoba gaun tersebut. "Siapkan meja untuk mereka di ruang tengah, aku akan kesana sekarang." perintahnya seraya meletakkan gaun tersebut ke atas ranjang.


"Dayang, apa kau bisa menebak maksud kedatangan selir pertama dan selir kedua?" ujar Wei sambil menatap Ruyin yang masih menatap gaunnya dengan tatapan kagum. Tersadar dengan pertanyaan Wei, Ruyin langsung menundukkan kepala.


"Mungkin selir pertama dan selir kedua datang untuk memberi ucapan selamat. Ibu suri melarang mereka untuk hadir ke pernikahan calon permaisuri dan kaisar."


Wei hanya menganggukkan kepala pertanda dia mengerti. Selama hampir seminggu disini, Wei hanya sekali bertemu dengan selir-selir Fengying. Itu pun saat dirinya baru pertama kali dibawa ke istana dan keempat selir Fengying sangat menghina dirinya. Sampai sekarang pun Wei tidak menerima maaf dari mereka, benar-benar para selir berhati batu.


"Simpan kembali gaun pernikahanku, aku akan menemui selir pertama dan selir kedua sekarang." setelah mengatakan hal itu, Wei segera keluar dari kamar dan menuju ruang tengah.


Dia berjalan dengan anggun untuk memperlihatkan pada selir jika gadis yang dulunya mereka hina kotor itu kini bisa berjalan dengan sangat anggun. Wei seperti itu bukan karena dia sombong, tapi dia ingin mengajarkan jika tidak boleh menghina orang lain meskipun terlihat kotor.

__ADS_1


Berasal dari rakyat rendahan tidak menutup kemungkinan jika hatinya bersih. Yang berasal dari bangsawan juga tidak selalu bersih. Bagi Wei tidak apa-apa hidup sebagai gadis miskin dan kotor setiap harinya, yang terpenting baginya adalah hati. Selama hatinya bersih, maka Wei akan baik-baik saja.


Sampailah Wei kini di ruang tengah. Zhuan dan Quolin yang tadinya duduk segera berdiri begitu melihat Wei datang. Mereka menatap Wei dengan sedikit terkejut. Tidak menyangka gadis yang kotor berubah menjadi cantik seputih salju.


"Kami memberi hormat untuk calon permaisuri!" Zhuan dan Quolin menundukkan kepala mereka dengan hormat.


Wei tidak menjawab, dia masih berdiri sambil memperhatikan Zhuan dan Quolin. Ada rasa benci di hatinya tapi Wei tidak sedendam itu. Dia kemudian duduk di hadapan mereka berdua dengan anggunnya membuat Zhuan dan Quolin sama sekali tidak menyangka.


"Duduklah." perintah Wei yang langsung di turuti oleh Zhuan dan Quolin.


Wei menatap Tzuran di dekat pintu keluar. "Tolong siapkan teh dan kudapan untuk kami,"


"Baik, calon permaisuri!"


Sepeninggal Tzuran, mereka tetap diam. Baik Zhuan maupun Quolin tidak ada yang membuka suara.


Wei tersenyum singkat saat menatap wajah Zhuan dan Quolin yang selalu cantik itu. "Kalian hanya datang berdua, dimana yang lainnya?" ujar Wei yang membuat Zhuan menggelengkan kepala.


"Baoyi berkata sedang tidak enak badan dan Annchi berkata dia sedang sibuk. Karena itu kami hanya datang berdua untuk meminta maaf pada calon permaisuri," sahut Quolin.


"Apa kalian melakukan kesalahan?" wajah Wei sangat tenang sekali, berbeda dengan Zhuan dan Quolin.


Zhuan meskipun cantik tapi dia tidak bisa menyembunyikan kebencian di wajahnya. Sedangkan Quolin yang terlihat tenang itu masih tetap menampakkan rasa tidak suka di wajahnya. Wei mengerti, tidak ada selir yang bisa menerima dirinya dengan baik. Saat ini Wei tahu betul jika Zhuan dan Quolin datang dengan tujuan lain, bukan meminta maaf dengan tulus.


"Saat calon permaisuri terjatuh ke kolam dan terluka, kami tidak bisa datang menjenguk calon permaisuri. Kami sangat merasa bersalah pada calon permaisuri, mohon maafkan kami." Zhuan menundukkan kepalanya diikuti oleh Quolin.

__ADS_1


"Kami tidak menyangka masalahnya sangat besar. Dayang dan pelayan terdahulu calon permaisuri benar-benar tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Mereka semua pantas mendapatkan hukuman mati!" seru Quolin sambil menatap Wei dengan tegas.


Wei terkejut setelah mendengar ucapan Quolin. Dayang dan pelayannya mendapatkan hukuman mati? Tangannya yang ada di atas paha mulai bergetar hebat. Dia tidak ingin mempercayai siapa pun sebelum melihat secara langsung. Tidak mungkin, kan jika dayang dan semua pelayan terdahulunya mati karena kecerobohannya?


__ADS_2