Gadis Nakal Om

Gadis Nakal Om
jarak


__ADS_3

Seandainya Charli tidak ada di rumah mungkin Selin tidak akan ke kampus karena dirinya begitu malas , lihatlah gadis itu masih enggan membuka matanya walaupun sinar matahari telah masuk di sela-sela gorden.


"bisa tidakkah aku tak kuliah sehari ini saja.seperti ada yang hilang jika tidak ada om lendra" gumam Selin berbicara sendiri


teriakkan Charli untuk kedua kalinya terdengar memangil Selin yang tak kunjung bangun.mendengar teriakan itu Selin langsung menyauti sebelum ayahnya murka.


dengan gerakan malas dirinya bangun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


berbeda dengan lendra dia begitu semangat karena tidak ada yang akan menganggunya kali ini , dirinya menikmati kesendiriannya di kamar hotel mengisi perutnya sebelum ke lapangan.


" andai saja seperti ini setiap hari berasa tenang,tidak ada gadis kecil yang selalu mengoda"ujar lendra kembali menyeruput kopinya.


satu pesan masuk di kontak Charli membuatnya mengerutkan kening karena nomor yang tak di kenal , selanjutnya dirinya baru teringat pengirim pesan adalah mira_asisten Charli.


dia hanya mengirim file yang telah di minta lendra tempo hari lalu.


tubuh yang berdiri tegap itu sudah terbalut dengan kemeja dan tak lupa jasnya yang menambah kesan wibawanya.merasa sudah waktunya memulai pekerjaan pria itu menampakkan kakinya menuju lantai bawah dimana asisten charli berada.


lendra mengerutkan keningnya, berpikir apakah ada yang aneh dengannya sedari tadi banyak tatapan terhenti kepadanya.


" kenapa semua orang ini ? aku yang salah atau hanya mereka yang aneh" batin lendra


kejadian seperti itu terulang lagi ketika lendra berjalan menuju asisten charli itu,


dia tak mengedipkan matanya ketika pria itu mendekatinya.


lendra berdehem berusaha menyadarkan wanita tersebut.


"yaaa____pak " Mira seketika terbata-bata berbicara setelah kesadarannya penuh, wanita itu kemudian tersenyum canggung."baiklah pak kita akan menuju ke daerah A selanjutnya akan menemui kolega projek dan____" kemudian wanita masih menjelaskan jadwal lendra satu hari ini.


lendra hanya mengangukkan kepala merespon pertanyaan Mia mengenai jadwalnya hari ini seraya mereka berjalan menuju parkiran mobil yang di sediakan Charli untuknya.


wanita itu baru menyadari ternyata direktur cabang pusatnya begitu mempesona hingga dirinya tak berkedip sedari tadi memandang wajah lendra yang di sampingnya.


kenapa aku tidak menyadarinya dari kemaren saja, atau mungkin karena pria itu berpakaian lebih rapi hari ini, pikir Mira.


" apakah ada yang salah ? anda sedari tadi menatap saya " lendra yang merasa di tatap melirik wanita itu sebelum memasuki mobil


Mira bergeming lantas mengelengkan kepala.

__ADS_1


merasa tak ada hal yang perlu di bicarakan lagi lendra terlebih dahulu memasuki mobil.


lendra menepis pikirannya teringat gadis kecil yang selalu menganggunya itu , wajah gadis tersebut seolah berputar di benaknya.


dirinya yang sudah terbiasa mengantarkan gadis tersebut merasa ada yang berbeda pada pagi kali ini


" pak____kenapa mobilnya sedari tadi belum melaju,pak ? "


suara wanita seakan menyadarkan lendra lantas pria itu langsung melakukan mobilnya.


ada apa dengan dirinya seharusnya dia malah senang berjauhan dengan gadis itu bukannya malah begini , ucapan terakhir gadis kecil itu menuntunnya dirinya untuk tidak melirik wanita lain seperti saat ini.


" tck___" pria itu berdecak kesal fokus menatap jalanan. "gadis kecil pengganggu" gumamnya kemudian


" ada apa pak?"


lendra seketika melirik wanita yang di sampingnya yang tengah menatapnya, entahlah lendra tak tau artinya tatapan wanita itu.dirinya terkadang lupa akan keberadaan orang lain.pria tersebut hanya mengelengkan kepalanya berusaha tetap fokus melajukan mobilnya.


apakah dia akan menganggap ku sudah tidak waras berbicara sendiri , semoga saja tidak,batin lendra.


"ayaaahhhhhhhh___"


tak lama kemudian gadis itu memasuki ruang makan sedikit berlarian menghamburkan dirinya mendekap Charli.


" Selin kangen ayah , jangan sering pergi lagi dari Selin.aku kesepian di rumah jadinya " gadis itu menguraikan pelukannya berasa sudah puas memeluk ayahnya.


Charli hanya mengelengkan kepalanya angapannya salah jika putrinya sudah dewasa namun dia juga menyukai sifat kekanakan putrinya itu ,dirinya merasa belum sanggup jika Selin akan meninggalkannya lalu pergi dengan pria lain.


"begini nih kalau udah menerima pemberian ayah , kemaren aja ayahnya ngak di sambut tuh " Charli bersidekap di depan dadanya berlagak marah pasalnya kemaren dia datang Selin begitu sibuk prepare perlengkapan lendra hingga dirinya di lupakan.


" yaaaaa__maaf ayah" Selin menyatukan tangganya meminta maaf." lagian salah ayah juga, barusan datang langsung ke kantor kemaren. tapi Selin suka hadia kalung liontinnya begitu indah "


gadis itu sedikit mengangkat liontin tersebut menunjukkan kepada Charli, liontin dengan satu permata itu begitu kontras dengan warna kulitnya yang cerah.


"syukurlah kamu menyukainya.ya udah yuk, kita sarapan nanti kamu telat lagi kuliahnya" ujar Charli melirik jam di dinding


jika mereka tak kunjung sarapan maka mereka akan terjebak jam sibuknya kota tersebut.


Selin memandang malas handphonenya yang sedari tadi berdering semenjak dirinya memulai sarapan. nama mantan kekasihnya itu tertera di sana.

__ADS_1


oh iya , gadis tersebut melupakan bahwa dirinya masih menyimpan nomor pria brengsek itu.


pria itu sudah menghubungi sebanyak tiga kali entah apa maksudnya.


" ada apa lagi dengan pria itu ? apakah dia tidak cukup menghancurkan semuanya" batin Selin


"siapa ? " tanya Charli sambil mengunyah makanan bukan kebiasaan dirinya berbicara saat makan namun handphone putrinya itu sedikit menganggu


tak ingin membuat ayahnya marah, gadis itu hanya mengelengkan kepalanya mengatakan mungkin salah sambung lalu mematikan suara handphone tersebut yang masih saja pria itu menghubunginya.


menganggu saja , tidak bisakah dia sekali saja tidak menganggu kehidupanku.


setelah beberapa bulan berpisah kenapa pria itu menghubungi lagi.


pertanyaan yang tak tau jawabnya itu menganggu pikiran Selin hingga membuat nafsu makan gadis itu hilang.


ting


(bunyi notifikasi pesan masuk )


" habiskan dulu makananmu Selin " Charli melirik putrinya itu yang sedari tadi melirik handphone hingga tak menghiraukan makanannya.


"jangan bermain handphone saat makan atau ayah akan membuang handphone tersebut "


" baiklah ayah "


Selin segera menjauhkan benda pipih itu dari hadapannya , semua karena mantannya kekasihnya itu hingga pagi ini dirinya harus kena tegur oleh ayahnya.


benar-benar menyebalkan entah kenapa dirinya begitu menyukai pria seperti itu dulunya.


kemudian Selin menghela nafas mencoba mengabaikan pesan itu , sedikit penasaran mengenai isi pesan tersebut namun terkalahkan oleh ketakutannya melihat handphonenya di depan ayahnya.


" bagaimana selin ? "


" Selin pak ? " Mira mengerutkan keningnya bingung mendengar direktur cabang pusat itu bukan menyebut namanya


lendra menggerutuki dirinya kenapa nama gadis itu yang keluar dari mulutnya.


" nama saya Mira pak bukan Selin " wanita itu menekankan penurunan namanya berharap lendra tidak akan salah lagi memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2