
Perjalanan Selin dan kekasihnya itu tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di apartemen pria itu.
Apartemen yang digunakannya kemaren untuk berpesta minuman bersama seorang perempuan bernama destin dan temannya
Jastin langsung merangkul pinggang gadis tersebut membawanya masuk kedalam apartemen pribadinya.
" duduklah di sini , aku mau membersihkan diri dulu " ujar jastin berlalu ke kamarnya meninggalkan Selin di duduk ruang tamu sendirian.
Pandangan Selin tertuju menelusuri ruangan , ia tidak akan duduk berdiam saja di ruangan tersebut.
Sedikit kagum Selin melihat tatanan buku yang rapi di sana walaupun dia yakin itu hanya sebuah pajangan jastin sebagai hiasan saja , pria itu tidak akan membaca buku itu
Di sudut ruangan Selin melihat ada ruangan khusus yang berhubungan langsung dengan lapangan basket yang berukuran tidak terlalu besar disana juga terdapat bola basket di tepi lapangan yang berada di sebuah keranjang.
" Dia tinggal sendiri di sini ? Dari tadi aku tidak melihat seseorang atau pelayan tinggal di rumah ini " gumam Selin setelah menyadari memang benar tidak ada orang selain mereka di sana.
Ini merupakan pertama kalinya selin datang ke apartemen jastin setelah setahun lebih mereka memiliki hubungan , hal ini disebabkan sikap posesif Charli yang membatasinya untuk menemui lelaki itu.
Tetesan air shower membasahi tubuh jastin pikirannya selalu tertuju pada bayangan Selin tak selalu luput di benaknya membuatnya cepat-cepat menyelesaikan ritual mandinya untuk bertemu gadis tersebut yang menunggunya di luar.
Begitu selesai membersihkan dirinya , ia lalu mencari keberadaan Selin yang tidak terlihat di ruang tamu.
Setelah menelusuri ruangan akhirnya dia menemukan keberadaan Selin di tepi kolam berenang menjuntaikan kakinya memasuki kolam.
" Lah kamu buat aku terkejut " ujar Selin yang tiba-tiba mendapatkan dekapan dari belakang
Jastin memiringkan wajahnya mencium tengkuk leher gadis tersebut lalu ia juga ikut duduk di belakang tubuh Selin , membuat Selin berada di tengah-tengah kaki jastin.
" Lah geli jastin peluk aja ngak usah aneh-aneh deh "
Bukannya berhenti melakukannya tangan nakal jastin malah menerobos masuk ke ke seragam Selin mencari segumpulan daging yang menggodanya yang membuatnya ingin terus bermain di dalam sana.
Selin mengadakan kepalanya menerima sensasi sentuhan jastin yang selalu membuatnya melayang , memang pemain wanita dia tau caranya membuat gadis tersebut mengeluarkan erangan.
Jastin mengangkat tubuh Selin yang melingkari kakinya di pinggang jastin mereka menaikinya tangga menuju kamar jastin yang berada di atas.
Ia lalu merebahkan tubuh Selin diatas ranjang berukuran king size tersebut , Selin berharap lendra akan cepat datang karena dia tidak ingin menyerahkan keperawanannya saat ini.
" Jastin , lebih baik kita menonton bersama saja . Kita kan belum pernah nonton bersama di dalam kamar seperti ini "
__ADS_1
Jastin menghembuskan nafasnya ia harus menuruti keinginan gadis tersebut untuk mendapatkan keinginannya selama ini.
" Baiklah" balasnya kemudian sebuah ide keluar di otaknya mengenai film yang harus dia tonton di suasana seperti ini.
Tangan jastin cekatan memilih sebuah benda pipih yang berisi pemutaran film hingga dia mengambil satu diantaranya begitu banyak film di sana.
Lampu ruangan tersebut dibuat redup oleh jastin hingga hanya ada pancaran sinar televisi.
" Setidaknya dengan ini aku bisa mengulur waktu sebelum om lendra datang , batas waktu hanya tinggal tiga puluh menit lagi " gumam Selin mengambil sebuah bantal lalu meletakkan di atas pahanya.
Jastin tersenyum puas ketika sudah menekan tombol play , tak berselang dari itu film tersebut dimulai.ia kembali menaiki ranjang duduk bersama Selin
Selin seketika menutup matanya melihat layar televisi yang memperlihatkan pergulatan kedua lawan jenis yang berbeda tersebut di dalam kamar mandi.
" Jastin emang ngak ada film yang lain ? Kenapa harus ini " Selin menoleh melirik jastin dibalik punggungnya mengusap-usap perutnya
" Kamu tadi yang minta nonton film, aku kan cuma ada film yang seperti ini. liat aja sekarang turunin tangan kamu " jastin mengambil tangan Selin yang menutup matanya itu lalu sedikit memiringkan kepala gadis tersebut agar menatap televisi
Glek!
Selin menelan Salivanya melihat gerakan erotis yang sang wanita itu dan ditambah lagi ia dapat merasakan senjata jastin yang menekan nekan tubuhnya dari belakang.
Deringan ponsel Selin berserta klakson mobil membuat jastin dengan enggan menarik tangannya dari liang Selin yang sudah basah.
" Kamu baik-baik saja" tanya lendra setelah mendengar suara aneh Selin di sebrang telfon
" Baik om "
Selin langsung menutup panggilan tersebut takut seandainya lendra mendengarkan hal aneh lagi.
Jastin menghela nafas pasrah menarik tangannya ketika senjatanya sudah siap menggempur Selin namun nyatanya harus gagal lagi.
" Bangsat! " Umpat jastin di dalam hatinya
Selin kembali memakai ****** ******** yang tergeletak di lantai , setelah menurutnya telah berpakaian rapi dan juga menyisir rambutnya kembali ia memberikan ciuman perpisahan buat kekasihnya yang merajuk itu.
Selin menampaki kakinya pelan-pelan menuruni tangga yang entah kenapa kakinya lemas seperti tidak bertenaga tak jauh dari pintu apartemen di sana sudah terparkir mobil yang ada lendra menunggu gadis tersebut
"Hey om " sapa Selin riang duduk di samping kemudi dengan senyuman yang mengembang di wajahnya
__ADS_1
Selin bernafas lega akhirnya om lendra datang tepat waktu jika tidak ia tidak tau nasibnya bagaimana .
alasan Selin tidak mau sekarang melakukan hal tersebut sebab ia belum yakin atas hubungannya akan bertahan atau tidak bersama pria tersebut.
Sesampainya di rumah Selin berniat langsung membersihkan dirinya kemudian dia mengambil handuk selagi menunggu bath tub penuh , ia mengolesi tubuhnya dengan scrab berharap bekas yang diberikan lendra di dadanya hilang.
" Berapa lama tanda ini akan hilang " gumam Selin melihat bercak merah di sekitar dadanya.
Tubuh Selin serasa lebih rileks berendam di air hangat ia menutup matanya menikmati air yang membalut tubuh indahnya itu.
*****
Dentingan bunyi pesan masuk tidak ada hentinya membuat Selin juga penasaran ia melempar novel yang tengah ia baca lalu mengambil benda pipih yang terus berbunyi sedari tadi.
" Ada apa sih ? Berisik amat malam-malam begini " gumam Selin membuka aplikasi grub tersebut
Kening Selin berkerut membaca berita gosib di kampusnya yang menampilkan foto dirinya yang tengah mendorong dada jastin.
" Kasian jastin ditolak saat ingin meluk kekasihnya"
" Sok jual mahal banget selin ya , kemaren aja pelukannya erat banget "
" Lah orang tampan begitu kenapa di tolak "
Ada begitu banyak lagi komentar siswi yang ditujukan olehnya seakan mereka tidak tau Selin juga bergabung menyelusup di grub tersebut.
Selin menutup notifikasi grub tersebut tidak berniat meladeni mulut siswi yang berani hanya melontarkan komentar melalui media saja , itu hanya membuang waktu dan emosinya yang tersalurkan berbeda jikalau ada yang berani langsung Selin tidak akan tinggal diam menghajar orang tersebut.
"Cuma segerombolan fans siswi yang tidak bisa memiliki jastin " gumam Selin lalu melanjutkan membaca novel yang sempat di buang asal tadi.
Telefon Selin kembali berdering lagi , ia menghela nafas kesal mengambil benda pipih yang bercahaya itu di atas nakas.
" Iya beb "
Begitu mengetahui jastin yang menelfon Selin berteriak kegirangan.
Setelah berbincang dengan Selin lebih tepatnya memberi kabar dirinya terhadap gadis itu, agar tidak terjadi perdebatan nantinya barulah jastin mengakhiri panggilan tersebut.
membuatnya dirinya lebih leluasa pergi ke club malam menuntaskan hasratnya yang tak tersalurkan.
__ADS_1
" Selin ! "
" Iya ayah " saut Selin menjawab panggilan ayahnya lalu langsung turun menuju ruang makan karena ini waktunya sarapan malam