Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB -11 Kenyataan Pahit


__ADS_3

Ternyata, laki laki yang berbaring di ranjang yang sama dengan Shasha dan telah melakukan hal keji itu bukalah Vano tapi justru Raka, Orang yang ia kenal dengan baik juga.


Ia bertanya tanya sebenarnya apa yang terjadi.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seperti berjalan menyusuri tangga, Shasha semakin ketakutan bingung harus berbuat apa


orang yang datang itu ternyata tak lain adalah vano, vano sengaja datang kembali untuk menyaksikan sendiri penderitaan dan penyesalan Shasha yang bukanlah Vira yang sebenarnya.


Shasha tak henti-henti nya menangis menerima kenyataan bahwa dirinya sudah gagal menjaga hal yang paling berharga bagi seorang perempuan, ia juga merasa sedih orang yang sangat ia cintai begitu membenci nya sampai tega bersekongkol dengan Raka melakukan hal keji itu.


"Kak, kamu tega, kamu tega", Isak nya tersedu sedu sedu hingga membangunkan Raka yang tertidur disampingnya itu.


Menyadari vano datang kembali dan Shasha (Vira) menangis tersedu sedu iapun berdiri mengenakan pakaian dan kemudian menghampiri vano


Vano yang gelap mata pagi ini juga tak berniat menyesali perbuatannya ia berencana meninggalkan shasha (Vira) seorang diri setelah menjemput Raka, namun sebelum pergi dia mengucapkan kata-kata yang menyakitkan bagi shasha.


"Meskipun kamu wanita pertama yang berhasil membuat saya jatuh cinta, tapi kamu juga wanita pertama yang paling saya benci, jangan pernah menghubungi saya lagi", ucap vano


"Kamu pasti bingung kan, kenapa justru Raka yang melakukan hal itu, itu karena bahkan bahkan saya tak Sudi menyentuh wanita hina seperti kamu", lanjutnya


Memang, malam tadi vano tiba tiba berubah fikiran karena dalam hati kecil ia tak tega melakukan itu dan berusaha membujuk Raka untuk datang hingga terjadilah hal tersebut, berbeda dengan vano justru Raka berani melakukannya ia berfikir bahwa kepicikan Shasha (Vira) harus di balas dengan lebih kejam.


Shasha hanya terus menangis setelah mendengar ucapan vano itu, ia merasa kesalahan nya menipu vano dengan menyamar menjadi vira tak harus di balas dengan hal keji seperti ini, kini ia hanya bisa membenci vano.


Situasi yang terjadi antara Shasha dan vano dan raka menimbulkan kesalahpahaman yang tak terelakan lagi antara ketiganya.


"Aku pernah berangan-angan menjadi istri kamu kak berbulan madu di tempat yang indah, tapi bukan situasi seperti ini yang aku harapkan, kamu bahkan memberikan tubuh aku ke laki laki lain, mungkin aku menyesal mengenal kalian", ucap shasha dalam hati


Setelah mengatakan kata kata menyakitkan itu vano meninggalkan Shasha, namun justru Raka tak langsung pergi dan mengatakan kata kata yang membuat Shasha Tak menyangka


"Vira, aku dan vano ternyata selama ini salah mengira, kamu tau hah bahkan aku sampai memendam perasaan cinta sama kamu, konyol kan hahaha, luar biasa akting mu vir vir", ucap Raka


Raka pun pergi menyusul vano dan meninggalkan Shasha seorang diri.


...****************...


...Mobil...


Vano dan Raka tak menyadari perbuatan mereka, justru akan menghancurkan hidup seorang gadis perantau mungil yang punya cita cita tinggi dan perjuangan yang tak mudah.


"Lo kenapa ka, bengong gak kaya biasanya", tanya Vano sambil sedang menyetir mobil


"Engga Van, gue cuma gak tenang aja, Lo tau gue udah biasa lah gue main cewe, tapi kenapa ya gue gak tega gini sama Vira (Maksudnya adalah shasha), merusak kehormatan dia, mungkin gue selamanya akan di benci dia", jawab Raka dengan jujur.


"Bukannya Lo ya nyaranin gue, Lo kenapa sih ka, jangan jangan Lo punya perasaan juga sama dia", vano mulai curiga


"Engga lah Van", Raka pun mengeles.


Bukan hanya Raka, namun dalam hati kecil vano ia pun merasakan hal yang sama meskipun bukan dia langsung yang melakukan hal keji itu pada Shaha (Vira ).


Vano dan Raka hanya menatap ke depan mobil dengan tatapan yang kosong mereka sama sekali tak saling bicara kembali.


...****************...


...Villa...


Tiba-tiba ponsel shasha berbunyi dan pesan tersebut ternyata dari vira.


"Sha kamu kenapa gak pulang?", pesan dari vira.


Shasha hanya terus menangis mengabaikan pesan vira, ia bingung harus menceritakan semua nya yang kini menjadi sangat kacau atau justru harus menutupi ini semua dari vira.


Kecapean menangis dan badan nya terasa sangat lelah shasha tak sengaja ketiduran hingga siang hari, setelah bangun ia langsung bergegas pergi dari vila milik vano di puncak tersebut menuju ibu kota.


Beberapa jam kemudian akhirnya shasha tiba kembali di ibukota, saat berada di taksi ia melewati kantor vano tak tau kenapa ia justru berhenti sebentar dan melihat kantor vano yang sudah sepi itu.


Ia pun berjalan sambil menangis mengingat cinta dan kebencian yang melanda jiwa nya, saat berjalan tiba-tiba ia melihat tong sampah yang terbuka dan ada bingkisan yang familiar bagi nya, dan bingkisan itu adalah bingkisan yang beberapa hari lalu ia berikan pada vano.


Shasha hanya terus sedih juga kecewa melihat hal tersebut, ia pun pergi dengan taksi menuju kosan nya.


...****************...


...Keesokan hari nya...


Walaupun keadaan nya kini sangat berat bagi shasha tapi ia bertekad untuk menjalani hari nya seperti biasa ia tak ingin kuliah dan kerjaan nya yang sudah berjalan hampir tiga tahun ia lalui dengan kesedihan.


Shasha bersiap berusaha semangat untuk menjalankan perkuliahan hari ini, ia pun berangkat dengan tenang.


...****************...


...Kampus...

__ADS_1


"Sha, kamu keliatan gak fresh kamu sakit", tanya nara yang beberapa menit lalu menghampiri shasha di taman dekat kampus.


"Engga ko ra, aku mungkin cuma kurang istirahat aja", jawab shasha dengan senyum untuk menutupi masalah nya itu.


"Kemarin kita gak kumpul-kumpul kaya biasa, kamu kemana sha", tanya nara penasaran.


"Aku ada urusan ra", jawab shasha.


Nara pun mengangguk lalu tiba-tiba ada vira datang menghampiri mereka.


"Hai ra, sha", sapa nya sambil tersenyum,.


"Hai vir", jawab nara


"Hai juga vir", lanjut shasha balik menyapa vira.


Mereka pun seperti biasa becanda dan ngobrol vira tak menyadari bahwa sahabatnya shasha kini menanggung bahaya juga penderitaan yang seharusnya tertuju pada nya.


Setelah beberapa lama, mereka pun pergi ke kelas masing-masing.


...****************...


...Kantor vano...


Meskipun kondisi emosi vano tak stabil terkadang menyesali terkadang juga puas kan pembalasan dendam nya, tapi ia tetap berangkat ke kantor karena pekerjaan yang menumpuk dan jadwal meeting yang padat.


Saat duduk vano menerima pesan


"Selamat pagi vano, saya sudah menyelesaikan masalah bahan baku yang kemarin terkendala kalau ada waktu kamu boleh mampir ke kantor om" pesan dari poernomo.


Setelah menerima pesan itu vano hanya senyum terpaksa ia masih tak menyangka ada orang seperti itu, namun vano merasa heran respon poernomo masih baik pada nya padahal ia mengira sudah melakukan hal kejam pada anak poernomo.


"Apa vira belum cerita soal perbuatan gue sama raka malam tadi", gumam vano dalam hati keheranan.


...****************...


...Satu bulan kemudian...


Setelah kejadian malang yang menimpa nya itu selama satu bulan penuh Shasha menjalani Kegiatan Akademis Kampus yang Wajib ia ikuti, yaitu Kuliah Kerja Nyata, dan terpaksa ia meminta cuti dari pekerjaannya di restoran.


Kebetulan ini hari minggu shasha hanya berbaring di kasur nya sejak malam tadi ia tak enak badan, merasakan pusing yang tak biasa, kelelahan, juga mual-mual.


Shasha mengira badannya lemah tersebut mungkin karena kelelahan, ketika ia baru tiba kembali beberapa hari yang lalu di ibukota.


Sedangkan raka hanya bisa kembali ke dunia kelamnya, wanita yang sempat merubahnya menjadi lebih baik karena kesalahpahaman itu akhirnya menjerumuskan kembali Raka ke dunianya dulu.


Shasha juga merasa heran kenapa poernomo maupun vira belum mengabari nya soal vano yang sudah mengetahui identitas nya.


Kesalahpahaman antara Shasha, raka, vano masih saja terus berlanjut, kisah mereka bagai drama yang tak pernah usai


...****************...


...Kosan shasha....


"Aku pusing banget, mungkin karena kecapean dan masuk angin kaya nya", gumam shasha pelan.


Shasha terus mual-mual sampai badan nya sangat lemas, ia pun merasa khawatir takut hal yang ia tak pernah harapkan terjadi terlebih lagi beberapa hari ini Shasha telat menstruasi.


Untuk memastikan kekhawatiran itu setelah beberapa jam istirahat dan makan juga minum obat seadanya akhirnya ia agak baikan lalu memaksakan diri ke apotek membeli alat tes kehamilan atau tespek.


Setelah tiba di kosan ia penasaran juga ketakutan apa kekhawatir nya benar-benar akan terjadi atau justru ia hanya over thingking.


"Aku harus yakin, aku gak akan hamil itu gak mungkin", ucap shasha dalam hati menenangkan diri nya.


Saat hendak akan mengecek justru tiba tiba Vira datang ke kosan shasha


"Sha, ya Ampun aku kangen banget sama kamu", ucap Vira sembari memeluk badan Shasha yang kecil itu


"Iya vir aku juga sama kok", jawabnya dengan senyum pucat nya


"Ya ampun sha, loh kamu kenapa kok puct gitu, kamu sakit?", tanya Vira khawatir


"Engga vir, aku kaya nya kecapean doang", jawab Shasha berbohong


"Kamu yakin? aku anterin kamu ke dokter ya sha",


"Gak usah vir, nanti juga pasti baikan kok", Shasha meyakinkan Vira


"Hmm ya udah ya udah, gimana gimana? kegiatan kamu, lancar kan KKN nya?", tanya Vira penasaran


Shasha tersenyum dan kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Vira

__ADS_1


"Emmm.. atau jangan jangan, kamu ketemu cowok gebetan baru di sana?", canda Vira menggoda Shasha


"Jangan dulu dong sha, jangan punya gebetan dulu, kamu harus bantu aku sampai masalah aku tuntas ya", ungkap vira sambil mengedip-ngedip matanya


"Lagian kamu sama vano juga udah saling cinta kan", ucapnya yang sama sekali tak tau hal buruk yang menimpa Shasha sebulan yang lalu.


Shasha keheranan, mengapa vano belum juga memberitahu Poernomo tentang dirinya yang menggantikan Vira selama ini, kesalahpahaman itu tak ada ujungnya terus berlanjut.


"Vir, aku mau nanya deh sama kamu, kak vano sama sekali gak ada hubungin kamu, telpon atau ngirim pesan gitu ke nomor kamu? atau ke papa kamu mungkin?, gak ada masalah?", tanya Shasha penasaran


"emmm.. engga ko Sha, semua baik baik aja, katanya vano juga sering komunikasi sama papa, dia gak chatt aku ya mungkin papa yang ngelarang dia, biar aku fokus kkn", jawab Vira datar tanpa curiga sedikitpun pada pertanyaan shasha


Shasha terdiam dan mengangguk


"terus pacar kamu sekarang gimana vir?", tanya Shasha


"Aku gak tau lah sha, papa cuma bilang nanti Pram pasti balik lagi asalkan aku bantu dia buat vano jatuh cinta, heran aku gak ngerti sama papa",


"Tapi aku aku jauh lebih pinter kan sha, papa mungkin gak tau selama ini aku gak pernah buat vano jatuh cinta, nemuin aja kaga, untung ada kamu sha sha", jawabnya panjang lebar


"Oh iya sha, gak lama lagi kita lulus ya, gak kerasa udah tiga taun lebih kita kenal, makasih ya sha kamu udah mau jadi sahabat baik yang selalu ada buat aku", ucap Vira yang kemudian memeluk erat Shasha


"Iya vir, aku juga beruntung sahabatan sama kamu, makasih ya", jawab Shasha yang kemudian membalas pelukan vira


tak lama setelah itu Nara datang ke kosan Shasha dengan membawa sekantong makanan ringan, mereka pun bercanda dan ngobrol ke sana kemari


"Oh iya kamu kan calon dokter Ra, coba tolong dong periksa Shasha kaya nya dia sakit deh", celoteh Vira


"Euh.. gak usah vir , Ra aku gapapa kok",


"Ya ampun sha, kamu sakit? pantesan kamu keliatan gak fresh gitu, aku coba ya periksa kamu", Saut Nara


"Gak usah Ra mending kita ngobrol lagi aja, aku gapapa kok", sangkal Shasha yang ngotot tak ingin di periksa


"Ya udah deh sha", ucap nara singkat


"Oh iya ngomong ngomong udah lulus gimana rencana kalian?", tanya Nara


"Aku dulu ya yang cerita, haha.. kalau udah lulus pastinya aku mau buka butik dong, aku mau ngembangin hobi sama bakat aku, untungnya papa siap bantu aku wujudin impian aku sha ra ", jawab Vira yang tak mau keduluan


"Kalau kamu ra, gimana, mau kuliah lagi atau gimana", tanya Vira dengan mulut penuh makanan ringan yang tadi dibawa nara


"Aku juga belum tau vir, masih bingung, kita liat aja nanti, hehe", jawab Nara cengengesan


"kalau kamu sha gimana?", tanya nara penasaran


"Pasti Jawabannya Kerja di perusahaan besar", ucap Vira dan Nara berbarengan


Shasha hanya tersenyum


"Atau kalau engga kamu boleh tuh magang dulu di perusahaan papa aku", ucap Vira


Shasha tak merespon ucapan, lagi lagi ia hanya tersenyum


"Sha, sha apaan sih kamu senyum aja, atau kalau engga mungkin kamu udah mau langsung jadi nyonya pra..", ucap Vira yang keceplosan dan kemudian Shasha sigap menutup mulut Vira yang tak bisa terkontrol itu


Vira pun tersenyum menyadari bahwa ia keceplosan,


"Nyonya siapa vir, jangan jangan kamu udah punya pacar gak bilang bilang ya sama aku sha", tanya Nara penasaran


"Engga ra, kamu ini Vira di denger", sangkal Shasha


"Intinya gini, bagaimana kita nantinya kita tetap sahabat dan gak boleh terpisahkan", ucap Shasha yang kemudian merangkul kedua sahabatnya itu.


Hari ini adalah hari free mereka, mereka menghabiskan waktu bersama seharian penuh di kosan Shasha.


Setelah Vira dan Nara pulang Shasha pun langsung masuk ke dalam toilet untuk memastikan khawatirnya itu, setelah beberapa menit di dalam ia pun keluar dengan lemas dan setengah sadar.


Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya kini sedang berbadan dua, mengandung anak Raka.


"Ini gak mungkin, gak mungkin gak mungkinnn!..", teriak shasha tak kuasa menerima kenyataan pahit ini.


Shasha seketika itu juga sedih dan sangat bingung harus bagaimana.


"Kak, kalian jahat... kalian jahatttt..!", shasha terus berteriak dan terus menangis.


"Aku harus gimana, apa aku harus minta pertanggung jawaban dari laki-laki macam kamu kak Raka , apa kamu akan mengakui anak ini, apa anak ini sudi punya ayah pecundang seperti kamu itu", gumam shasha seolah-olah kehidupan nya hancur saat ini juga.


Ia pun menangis tak henti-henti nya berharap itu hanya mimpi buruk, namun kenyataan tetap lah kenyataan ia tak dapat memungkiri itu.


"Paman, aku harus gimana",

__ADS_1


"Ibu, bapak, kalian pasti kecewa liat aku maafin aku",


Bersambung....


__ADS_2