Gadis Perantau Mungil

Gadis Perantau Mungil
BAB 28- Wanita Ksatria


__ADS_3

Mendengar hal itu Vano langsung bangkit dan duduk dengan tegang penuh kemarahan.


"Apa kamu bilang Gio?" tanya Vano kaget.


"Lagi lagi mereka cari masalah dengan saya, keterlaluan!" ucapnya dengan nada tinggi.


"Kamu tau dari mana Gio? pastikan Infomasi yang kamu kasih ke saya itu Valid, jangan sampai seperti yang sudah sudah,"


"Saya takut mengulangi kesalahan yang sama," lirih Vano yang teringat kesalahannya pada Shasha.


"Iya pak, saya bisa pastikan informasi kita kali ini memang benar, setelah saya telusuri ternyata Pram dan pak Poernomo bekerja sama dengan Budiman untuk menjebak bapak mereka satu komplotan pak." Jelas Gio.


"Kok bisa kamu seyakin itu? apa mungkin kamu ada buktinya?" tanya Vano heran.


"Ini berdasarkan penyelidikan saya pak, saya juga dengar kalau mereka akan mengadakan pertemuan rahasia malam ini," jawabnya.


"Kamu yakin Gio?" tanya Vano lagi.


"Saya yakin pak, saya sarankan untuk kita ikuti mereka dan rekam mereka diam diam siapa tau mereka ngobrol sesuatu yang penting yang bisa kita jadikan bukti di pengadilan," Gio menyarankan.


"Bisa saja kita lakukan itu, tapi apa kamu yakin kita bisa berhasil?" tanya Vano.


Gio pun mengangguk.


"Oke kita coba Gio!" ucap Vano tegas.


"Saya mau pulang, saya mandi dulu, nanti kamu kabarin saya lagi" saut Vano.


Gio mengangguk kembali.


...****************...


Sementara itu Rombongan mobil Raka dan keluarganya telah sampai di Jakarta, kerena cape mereka langsung pulang ke Rumah masing masing.


Sementara itu Shasha ikut pulang ke Rumah Pribadi Raka.


"Ini rumah kamu Kak?" tanya Shasha kaget melihat rumah Raka yang sama mewahnya dengan rumah Vano.


"Rumah kamu juga Bun," jawab Raka menggoda Shasha.


"Ih apaan sih kamu jangan manggil aku gitu Kak," ungkap Shasha kesal.


"Yaudah kita masuk aja Sha, mulai sekarang ini juga Rumah kamu, cuman aku belum punya asisten rumah tangga, dalam waktu dekat aku akan cari kok," sautnya.


"Pokoknya kamu jangan ngapa ngapain Sha, biar aku yang beresin semua pekerjaan rumah, kamu gak boleh kecapean," lanjutnya.


"Ya ampun engga gitu juga kak, kalau gitu kita bagi bagi tugas aja," jawab Shasha.


"Yaudah oke."


Mereka masuk ke dalam dan membereskan barang barang Shasha yang sebelumnya sudah di bawa dari Surabaya.


"Nah kita tidur di kamar ini," ucap Raka lalu masuk kedalam kamar tersebut, lalu di susul Shasha.


"Apa aku siap menjalani kehidupan rumah tangga ini, aku sama sekali gak siap, apalagi kalau harus ... "


"Kak Raka, kamu emang baik tapi perasaan aku ke kamu gak lebih dari sebatas teman, aku masih mencintai Kak Vano kak!" jeritnya dalam hati.


"Kenapa kamu bengong Sha?" tanya Raka heran.


"He, engga kak," jawab Shasha singkat.


"Kamu cape gak? lebih baik kamu mandi dulu Sha" seru Raka.


"Kenapa emang Kak?" tanya balik Shasha sewot.


"Biasa aja kali, bukan itu maksud aku Sha," jawab Raka tersenyum.


"Terus apa?" tanya Shasha penasaran.


"Aku mau ngajak kamu makan malam nanti, lagian cape juga kalau kita masak lebih baik makan di luar," ungkap Raka menjelaskan.


"Oh itu ... yaudah kalau gitu aku mandi dulu Kak," ucap Shasha malu.


"Aku ikut Sha," canda Raka.


"Ih apaan sih enggak," ucap Shasha lalu lari ke kamar mandi.


Raka hanya geleng geleng kepala dan terus tersenyum tanpa henti.


...****************...


Kring kring kring


Suara handphone Vano terus berbunyi.


Ternyata telpon itu dari Nara, ia sengaja tak mengangkat panggilan tersebut.


Lalu tak lama sebuah pesan masuk ke handphone nya.


"Kak Vano, kondisi Papah udah membaik mungkin besok aku dan mamah nemenin papah pulang. Kak, aku juga udah mengajukan pengunduran diri di Rumah Sakit aku mau kita menikah secepatnya. Nara"


Membaca pesan Nara Vano semakin badmood, bahkan tak membalas satu kata pun.


"Nara Nara kalau bukan karena waktu itu saya patah hati saya gak akan menerima kamu, saya juga gak tau kenapa saya bisa mau," gumamnya pelan.


"Cinta saya hanya untuk Shaha," lirihnya.


Setelah menerima pesan dari Nara handphonenya kembali berbunyi, ternyata pesan itu dari Gio.


"Pak saya Sudah pastikan tempat mereka bertemu, kita janjian saja di Resto biasa."


Selain bersiap siap Vano bergegas pergi menuju Resto yang biasa dia kunjungi bersama Gio jika meeting dengan klain di luar.


...****************...


Sementara itu di lain tempat Raka dan Shasha pun tengah bersiap siap menuju Restoran yang sama dengan Vano tempat mereka akan makan malam.


Entah kebetulan atau apa mereka bisa pergi diwaktu yang sama ke tempat yang sama pula, entah mereka akan bertemu atau tidak.

__ADS_1


"Siap Sha?" tanya Raka.


"Udah kak."


"Yaudah kita pergi," ajak Raka.


Mereka berangkat dengan mobil yang sama, mobil yang di Kendarai Raka ke Surabaya.


Bebepa waktu berlalu Shasha dan Raka hampir tiba di Restoran, namun justru Vano lebih dulu sampai.


"Gio saya tunggu kamu di parkiran aja, kita langsung saja ke tempat yang kamu bilang kita bicara di mobil saja." pesan singkat Vano pada Gio.


Tak lama Shasha dan Raka kemudian sampai di Restoran tersebut namun secara ternyata parkir di tempat yang berjauhan sehingga mereka tak bertemu satu sama lain.


Gebruk


Suara mobil Raka tertutup.


"Ini restoran nya, makanan disini enak enak dan cocok juga untuk bumil," celotehnya.


"Kita langsung ke dalam aja," ucap Raka.


Raka pun meraih tangan Shasha dan menggenggam nya sampai tiba di dalam restoran.


Entah apa yang akan terjadi jika Vano kebetulan melihat kemesraan mereka, tapi untungnya Vano berada jauh dari mereka.


Shasha hanya bisa pasrah, bagaimana pun juga dia kini sadar bahwa dirinya adalah istri seorang Raka.


"Tapi aku mau ke toilet dulu Kak, kamu duluan aja nanti aku nyusul," ucap nya dengan wajah yang seperti tak nyaman kebelet.


"Aku Anter ya, kalau kamu kenapa napa gimana, atau kamu tiba tiba pergi," celotehnya ngarang.


"Enggak akan kak, gak akan lama kok Ka." ucap Shasha lalu pergi buru buru.


Setelah selesai buang air kecil dari toilet Shasha berjalan perlahan, lalu tak sengaja melihat laki laki keluar dari toilet berlari terburu buru hingga handponenya jatuh.


"Mas! handphonenya jatuh!" teriak Shasha.


Langkah kaki laki laki itu seakan cepat sekali, bahkan ia pun tak mendengar teriakan Shasha.


"Aku ambil aja dulu, nanti selesai makan aku kasih ke scurity restoran, siapa tau dia kembali lagi," gumam Shasha pelan.


Lalu Shasha mengambil handphone itu dan menaruhnya di tas, ia pun bergegas pergi menemui Raka.


"Udah Sha?" tanya Raka setelah melihat Shasha kembali menghampirinya.


"Udah kak," jawabnya singkat.


"Kamu mau pesen apa sayang?" tanyanya tiba tiba.


"Apaan sih kak, jangan bilang gitu aku kok kaya geli denger nya," ucap Shasha jujur.


Raka tertawa pelan mendengar ucapan jujur dari Shasha.


"Yaudah kalau gitu kamu mau apa?" tanyanya mulai serius.


"Oke."


Singkat cerita, setelah makanan yang di pesan tiba mereka makan dengan santai sambil berbincang dan terkadang Shasha kesal karena terus di goda terus Raka.


Selesai makan mereka pun bergegas pulang.


Beberapa menit di perjalanan, tiba lah mereka di rumah dan sangat kelelahan.


"Ya ampun aku lupa, aku kan mau ngasih handphone ini ke scurity. Besok aja lah sekalian belanja kebutuhan rumah sama kak Raka," gumamnya dalam hati.


"Kamu pasti cape Sha, kita tidur aja ya," ucapnya.


Shasha mengangguk.


Mereka berjalan ke kamar dan berbaring berdampingan.


"Sha," panggil Raka.


"Kanapa kak?" tanya Shasha dengan nada Khawatir.


"Kamu kenapa sih Sha? kamu gugup?" goda Raka sembari mendekatkan wajahnya ke muka Shasha.


"A ... apa sih kak," ucap Shasha terbata bata lalu memalingkan wajahnya.


"Aku gak akan ngapa ngapain kamu Sha, aku ngerti kamu kok Sha, tapi apa boleh aku tidur di pelukan kamu sambil mendengarkan detak jantung bayi kita?" tanya Raka.


Shasha terdiam lama.


"Bo .. boleh kak," jawabnya singkat.


Raka pun berbaring di pelukan Shasha tepat dekat perutnya, sementara itu tangan kanannya menggenggam tangan mungil Shasha.


Lama kelamaan Raka tertidur pulas, sementara itu Shasha tak bisa tidur sama sekali ia tak nyaman tidur begitu dekat dengan laki laki yang bahkan kini suaminya sendiri.


Tiba tiba handphone yang Shasha temukan tadi terus berbunyi dalam tas yang ia gantungkan di lemari.


Mendengar itu Shasha refleks bangun dan melihat handphone tersebut, namun sayang suara panggilan tersebut berhenti setelah Shasha menggenggam ponsel itu.


Tak lam setelah itu datang sebuah pesan singkat.


"Gapapa kali ya aku buka aja, siapa tau ini pemiliknya," gumamnya pelan.


Shasha pun membuka pesan tersebut yang isinya.


"Mas Gio, target sudah sampai mana, kita sudah siap bos juga sudah sampai"


"Bos bilang Vano sangat hati hati pastikan dia Jangan sampai curiga"


"Kita habisi dia malam ini"


Melihat pesan tersebut sontak Shasha kaget.


"Siapa yang dia maksud Vano? apa mungkin kak Vano? dan siapa Gio itu? tanya nya pelan.

__ADS_1


Refleks Shasha membaca percakapan sebelumnya di handphone tersebut.


"Ini tempat eksekusi kita nanti malam jln Kemboja dekat pom bensin ada rumah kosong No 23, pastikan berhasil nanti pesta besar"


"Apa yang mau mereka lakukan?" tanya Shasha kaget.


Shasa pun melihat percakapan lain di ponsel tersebut, dan ternyata itu adalah handphone Gio asisten Vano.


Mengetahui hal itu Shasha sontak kaget, apa yang harus ia lakukan mengetahui Vano akan di celakai.


"Apa aku bangunin kak Raka aja?" tanyanya sendiri lalu menghampiri Raka.


Melihat Raka yang tertidur pulas ia tak tega, Shasha pun nekat pergi ke alamat yang ia baca tadi lalu meninggalkan pesan untuk Raka yang ditulisnya di kertas.


Shasha bergegas pergi dengan taksi.


...****************...


Sementara itu Vano dan Gio sampai di tempat yang mereka tuju.


"Kamu yakin ini tempatnya Gio?" tanya Vano heran.


"Iya pak, saya juga tak mengerti mengapa mereka bertemu di tempat ini," jawab Gio.


"Yaudah kalau gitu kita masuk kedalam," ajak Vano.


Merekapun berjalan perlahan sampai tiba di ruangan yang luas.


"Gio mana gak ada orang," tanyanya membelkangi Gio.


Tak menjawab tiba tiba di depan Vano berdatangan tiga preman dengan badan yang tinggi besar lalu datanglah Pram, Poernomo dan Budiman (orang yang menggugat Perusahaan Vano).


"Kalian? hebat ya kalian bersekongkol," ujar Vano marah.


"Bisa bisanya menjebak perusahaan saya, terutama kamu Pram dan Poernomo perbuat kalian sudah keterlaluan, terlalu banyak perbuatan busuk kalian yang menghancurkan hidup saya."


"Tapi saya gak akan diam, saya gak rela kalian menginjak nginjak Saya!" ucapnya marah.


"Gio kita hajar mereka!" teriak Vano.


Gio hanya diam


"Gio!" teriaknya lagi.


"Mana polisinya belum datang? kamu udah hubungi kan?" bisik Vano pelan.


"Hajar dia Gio!" teriak Pram.


Dug


"Kurang ngajar kamu Gio, apa maksud kamu? tanya Vano sambil meringis kesakitan setelah tiba tiba di pipinya di pukul Gio.


"Hahaha, masih belum sadar juga kamu Vano? seorang Vano yang terkenal cerdas ternyata begitu bodoh!" cela Pram.


"Kamu gak sadar bahwa selama ini Gio berada di pihak kita setelah rencana pertama saya dan om Poernomo gagal," sautnya lagi.


"Apa?" tanya Vano syok.


"Apa benar Gio?" tanyanya lirih.


"Benar, bekerja dengan mereka tiga kali lebih menguntungkan" jawab Gio datar.


"Walupun dengan menghianati saya?" tanya dengan nada kecewa.


Gio terdiam.


"Dari sekian banyak karyawan yang saya berhentikan ketika awal saya memimpin perusahaan saya cuma mempertahankan kamu Gio, karena kamu orang kepercayaan papa saya"


"Seharusnya saya curiga sejak awal, bukti tiba tiba dokumen hilang, seharusnya saya sudah bisa menebak kamu orangnya, kamu yang punya akses masuk ke sana,"


"Hebat kamu Gio hebat," lirihnya kecewa.


Gio hanya menatap Vano dalam, entah apa arti dari tatapan itu.


"Rasakan kehancuran kamu Vano, saya sudah muak sejak dulu sama kamu," saut Poernomo.


"Ini malam terakhir kamu Vano, besok kamu gak akan bisa lagi melihat indahnya dunia, besok juga orang orang akan Syok dengan berita gempar bahwa seorang Evano CEO muda bunuh diri di rumah kosong karena stres proyek ilegalnya terekspos," ungkap Pram dengan kejam.


"Gak usah basa basi lagi ikat tangan dia! kasih dia minum racun tadi! ingat jangan sampai meninggal jejak apapun buat dia seolah bunuh diri!" ungkap Pram tegas.


"Kejam kamu Pram, silahkan kalau emang bisa," ungkap Vano menantang.


"Cepat jangan denger ocehan dia!" teriak Pram pada preman tadi.


Tiga preman yang sudah menggunakan sarung tangan maju ke arah Vano, dua memegang kuat tangan Vano sementara satu lainnya sudah siap meminumkan Racun yang mematikan.


Tiba tiba


"Berhenti! berhenti! berhenti!" teriak Shasha dengan suara terengah engah.


"Shasha?" gumam Vano kaget.


"Sha kamu ngapain ke sini, pergi Sha!" teriak Vano.


"Wah wah wah" ucap Pram lalu bertepuk tangan.


"Sang putri berusaha menjadi pahlawan," lanjutnya sinis.


"Hebat juga mentalnya, kecil kecil cabe rawit,"


"Dulu kamu juga yang menggagalkan rencana kita, jangan bilang kamu akan melakukan hal yang sama, saya beri kamu kesempatan pergi dari sini dan tutup mulut!" teriaknya pada Shasha.


"Tega kalian, seandainya Vira tau bagaimana busuknya kalian mungkin dia akan sangat kecewa, om Shasha mohon sadar om," sautnya lirih.


"Jangan bahas Vira Sha, dia membangkang gara gara kamu!" teriakn Poernomo.


"Gak usah basa basi lagi, kebetulan mangsa baru telah datang, kenapa kita gak habisi aja dua duanya!" Saut Pram yang kemudian mendekati ke arah Shasha dan berusaha menarik paksa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2