
Kenyataan itu membuat vano tak menyangka, ia tak dapat berkata kata hanya penyesalan yang ia rasakan
"Andai aku tau dari awal atau setidaknya aku tadi sebelum menyuruh Raka melakukan itu, mungkin kamu gak harus menerima penderitaan itu", ucap nya dalam hati dengan penuh penyesalan
"Vir, apa sebenarnya yang vano maksud?, apa mungkin kamu membohongi papa selama ini?, apa kamu emang bener nyuruh orang buat gantiin kamu temuin vano", tanya Poernomo dengan nada kecewanya
"Pa.. Pa.. Pa..pa, aku bisa jelasin, pa aku terpaksa, papa tau kan aku cuma sayang sama pram, lagian ngapain papa nyuruh aku buat temuin dia", jelas Vira sambil menunjuk ke arah vano
"Lalu siapa wanita yang kamu suruh itu hah", tanya vano dengan nada yang mulai melemah
"Siapa vir?", tanya Poernomo dengan suara yang mulai meninggi
"A.. Aku.. nyu.. nyuruh shasha buat gantiin aku pa", jawab Vira
Vira hanya menunduk ketakutan, vano sesekali melihat ke atas berusaha untuk menahan air matanya
"Shasha? sahabatmu itu?", tanya Poernomo memastikan
"I.. Iya pa", jawab Vira singkat
"Pa.. Papa jangan marah, maafin aku", lanjutnya bicara sambil berusaha memegang tangan Poernomo
Jebredd
Tak di sangka Poernomo marah dan menampar pipi kiri Vira sampai memerah,
Poernomo seketika hilang kendali karena tersulut emosi, ia tak sadar putri yang selalu ia manjakan justru hari itu ia bentak bahkan tampar dengan tangannya sendiri
"Pa.. Papa Tega", ucap Vira sambil menangis tersedu sedu
"Kamu panggil Shasha ke sini, berani beraninya kamu sama dia bohongin papa, kamu bener bener ngecewain papa vir, mungkin papa terlalu manjain kamu, sampai amu berani berbuat seperti itu di belakang papa",
Di tengah percekcokan Vira dan poernomo, justru vano sibuk dengan pikirannya sendiri lagi lagi ia menyesal menghancurkan hidup wanita yang tak seharusnya menerima itu, apalagi ia sempat mencintai Shasha dengan tulus sebelum kebencian menguasai jiwanya
"Pa, papa cari aja Shasha sendiri, ngapain tanya aku, lagian Shasha udah lama tiba tiba ngilang", Jawab vira
"Kamu bilang siapa? shasha? jadi wanita yang selama ini aku temui itu bernama shasha?", saut vano
"Mana dia Vir mana, jangan berani bohongin saya lagi", lanjutnya
"Mana aku tau, dia ngilang tiba tiba", jawab Vira yang masih tersungkur tak berdaya di bawah lantai
"Semua ini gara gara papa kamu dan kamu vir, ngapain juga kamu harus nyuruh dia pura pura hah?", tanya vano semakin memojokkan vira
"Arghh... Kalian ngapain mojokin aku terusss." teriak Vira
"Kenapa yang kalian peduliin malah keberadaan Shasha hah? kenapa aku yang malah terus di pojokan pa Van? kalian cari aja dia sendiri, hiks hiks hiks",
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun vano berlari keluar rumah, menghampiri mobilnya yang terparkir kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan tertinggi
vano sudah tidak dapat berpikir dengan jernih ia bingung harus mencari Shasha kemana, ia bahkan baru mengetahui nama wanita yang selama ini ia cintai
Gebrak...
Vano tiba tiba menghentikan mobilnya di tengah jalan bahkan ia memukul stir mobilnya dengan kencang untuk melampiaskan semua kemarahan dan penyesalannya
namun cara itu sama sekali tak efektif, penyesalannya hanyalah penyesalan kesalahan fatal vano dan Raka tak akan pernah mengubah keadaan , tak akan pernah mengembalikan kehormatan Shasha
Tit.. tit.. tit..
Seketika suara kendaraan bergemuruh di belakang mobil vano, vano tak menyadari bahwa ia menimbulkan kemacetan di jalan raya
Vano pun kembali menginjak gas dengan kecepatan maksimal, mobilnya melaju cepat
...****************...
...Rumah Raka...
Tempat pertama yang vano tuju setelah mengetahui semua keberanan di rumah poernomo adalah rumah Raka kali ini ia bukan ingin meminta solusi dari sahabatnya itu tapi tak terduga vano malah memukuli Raka yang sedang duduk santai bermain game online andalannya
Dug.. Dug.. Dug.. Gebruk..
"Lo gila ya Van, kenapa loh? Lo kesurupan setan apa?",
"Tiba tiba mukulin gue, salah apa gue sama Lo",
Raka bertanya tanya keheranan vano yang semula baik baik saja justru mendadak menjadi sosok yang garang
"Semua ini gara gara Lo ka, gue nyesel setengah mati, gue harus gimana sekarang ka", tanya vano yang membuat Raka semakin bingung
"Makanya gue tanya salah gue apa Van? Lo mukulin gue gak masalah, tapi Lo tiba tiba nyalahin gue tapi gak ngomong apa alasannya gue gak terima, perbuatan lo ini sama sekali gak masuk di akal gue",
"Bisa gak Lo bicara baik baik, seandainya gue salah Lo bilang dimana salah gue, Lo tenang dong van", ucap raka
"He, tenang Lo bilang? ka tenang lo bilang",
__ADS_1
"Apa Lo masih bisa tenang kalau Lo tau wanita yang gue cintai selama ini, wanita yang Lo renggut kehormatannya bukanlah Vira anak poernomo yang kita benci itu", teriak vano menjelaskan semua kebenaran itu
"Ma.. Maksud Lo apa Van?, Lo jangan bicara omong kosong", tanya Raka yang masih kebingungan
Vano refleks menarik kerah raka lalu memukul wajah Raka kembali sampai raka terjatuh ke lantai kamar
"Kalau bukan karena Lo ka, yang ngusulin ide gila Lo itu, gue gak akan se nyesel ini, gue gak akan se kecewa ini sama diri gue sendiri", ucap vano yang masih dengan nada tingginya itu
"Apa yang gue pikirin saat ini emang bener itu kenyataannya?, apa yang Lo maksud wanita yang bukanlah Vira itu adalah orang lain? kita salah sasaran hah? apa itu Maksud Lo Van",
"Jawab gue van, gue tanya apa itu maksud Lo", tanya Raka membalas dengan nada tinggi
"he, iya itu kenyataannya ka, semua ini gara gara ide gila Lo ka", balasnya sambil menarik kembali kerah baju Raka
"Terus kenapa Lo mau hah? kenapa Lo mau Van? kenapa Lo mau dengerin saran gue? bahkan Lo juga sama Van berniat melakukan itu, Lo yang menyiapkan semua nya Van Lo juga yang ngasih bius keminumannya dia kan",
Percekcokan Raka dan vano tiada habisnya bahkan mereka saling memukul, melampiaskan amarah satu sama lain
...****************...
...Singapura...
Setelah kondisi Shasha membaik, Dr Becca dan Dr Derryl membawa Shasha kerumah yang mereka tinggali selama disana, perjalan dari rumah sakit ke rumah tersebut tak memakan banyak waktu karena jarak yang juga tak terlalu jauh.
"Dok, saya jadinya ngerepotin dokter", ucap Shasha pada Dr Becca
"Engga nak, justru saya senang bantu kamu", jawab Dr Becca sambil memegang dan mengelus tangan mungil Shasha
"Dari tadi saya gak enak denger nya, kamu panggil saya ibu aja gak usah sungkan gitu",
"Oh iya ngomong ngomong kita harus panggil kamu apa Aisha?", tanya nya dengan penuh kasih sayang seperti pada putri kandungnya sendiri.
"Panggil saya Shasha aja Bu", jawab Shasha kemudian tersenyum menatap mata Dr Becca
Sosok seorang ibu memang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun, bahkan kasih sayang seorang ibu tak akan ada yang dapat menandingi nya.
Namun berbeda dengan Shasha ia sama sekali belum pernah merasakan tulusnya kasih seorang ibu, tapi kali ini melalui Dr Becca sosok ibu yang selama ini hilang di hidup Shasha seolah hadir bagai anugrah yang tak henti hentinya Shasha syukuri
Mereka berjalan menyusuri setiap sudut rumah yang terbilang cukup besar, setiap ruangan di yang ada di rumah itu perlihatkan pada shasha tanpa ada yang terlewat, bahkan ia di kenalkan dengan Asisten Rumah tangga Dr Becca
Mereka berjalan menaiki satu per satu anak tangga kemudian sampailah ke kamar yang cukup luas, kamar tersebut nantinya yang akan di tempati Shasha selama tinggal di sana.
"Sha ini sekarang jadi kamar kamu, kamu jangan sungkan sungkan anggap ini rumah kamu sendiri",
"Inget, jangan banyak pikiran, inget juga sekarang kamu bertahan hidup bukan cuma buat kamu sendiri tapi juga calon anak kamu itu, kamu harus jaga kesehatan, jaga pikiran, jangan sampai kesedihan yang berlarut merusak kesehatan kamu", saut Dr Derryl
"Saya akan berusaha dok, makasih atas semua kebaikan kalian", ucap shasha
"Yaudah kamu baring aja di kamar, biar nanti baju baju kamu di beresin sama si bibi", Shasha pun mengangguk dan istirahat dengan nyaman meskipun ia tak dapat memungkiri pikirannya masih kacau, hatinya masih terluka namun berkat Dr Becca dan Dr Derryl kondisi Shasha jauh lebih baik
...****************...
...Jakarta...
...Rumah Poernomo...
Setelah pertengkaran dan percekcokan yang terjadi beberapa menit yang lalu Vira berlari menuju kamarnya dan terus menangis tak karuan
"Vir, Vira", panggil seorang laki laki di luar kamarnya
"Apa aku yang salah dengar, atau emang itu suara Pram" gumamnya dalam hati
"Vira", suara itu semakin kencang
"Iya itu Pram", ucapnya sambil berlari ke arah pintu
"Pram.. Sayang.. kamu kemana aja? kamu tega ninggalin aku", spontan Vira memeluk Pram yang berdiri di depan pintu kamarnya
Pram justru melepaskan pelukan Vira
"Vir, papa udah cerita semua, aku gak habis pikir, kenapa kamu berani bertindak konyol gjtu, kamu tau betapa kecewa nya papa kamu, termasuk aku juga kecewa vir",
"Apa susahnya turutin kata papa kamu, kamu cuma perlu sabar aku pasti kembali vir"
"apa kamu bilang? aku bertindak konyol? kalian justru yang harusnya berfikir, apa maksud kalian maksa aku nerima perjodohan konyol itu? aku gak tau harus apa Pram, jalan aku seolah buntu, makanya aku nyuruh Shasha gantiin aku, kamu gak sadar pram? aku ngelakuin itu karena demi kamu", sangkal yang mulai emosi
"Kamu gak akan bisa ngerti vir, kamu gak tau sulitnya aku dan papa kamu bertahan di dunia bisnis ini, kamu cuma bisa nikmatin hasilnya kan",
"kaya nya aku bener bener gak bisa bareng kamu lagi vir, pusing aku", ucap Pram dan meninggalkan Vira seorang diri
Air mata Vira tak henti hentinya menetes, ia tak menyangka hanya karena menyuruh Shasha berpura pura menjadi Vira, membuatnya harus di bentak, di salahkan bahkan di benci tiga laki laki sekaligus, bahkan dua dari ketiga laki laki itu adalah orang terpenting dalam hidupnya
"sha, sha, kamu dimana sih, kalau aja kamu gak ngilang tiba tiba, apa mungkin kekacauan ini terjadi, apa mungkin aku akan di benci papa dan Pram", gumam Vira dalam hati
...****************...
__ADS_1
...Rumah Nara...
"Ra, hiks hiks hiks", Vira memanggil Shasha sambil menangis tersedu sedu
"Vira, kamu kenapa ko nangis gitu", tanya Nara khawatir, Vira kemudian memeluk Nara dengan erat
Vira sudah tak kuat berada di rumah ia pun pergi menemui Nara yang sedang belajar di kamarnya.
"Kamu cerita sama aku vir, a.. aku mungkin gak kaya Shasha yang bisa nenangin kamu kalau kamu nangis gini, tapi aku bisa ko jadi pendengar yang baik supaya kamu lebih tenang", ucap nara sambil menepuk-nepuk pundak Vira
"he, kamu jangan ungkit-ungkitnama Shasha lagi di depan aku ra, sebel aku dengernya", ucap Vira sinis
Setelah rahasianya terbongkar dan dia bertengkar dengan papanya dan juga pram, Vira hanya bisa menyalahkan Shasha dan membencinya di hari itu juga
Ia mengira seandainya Shasha tak menghilang mungkin keadaannya tak akan separah itu, namun Vira tak tau justru kepergian Shasha itu karena kehancuran yang seharusnya di terima oleh vira.
Vira tak tau Shasha kini sedang mengandung, bisa saja ia mengugurkan kandungannya itu tapi justru Shasha memilih mengorbankan segalanya termasuk keluarganya di kampung, sahabatnya, pekerjaannya, bahkan kuliah dan cita citanya hanya untuk melahirkan bayi yang di kandungnya saat ini
...****************...
...Rumah Raka...
Setelah lelah beradu mulut, setelah lelah saling pukul Vano dan Raka mulai menyadari saling menyalahkan dan saling menyakiti satu sama lain bukanlah solusi terbaik
Saat ini yang perlu mereka lakukan adalah menemukan Shasha dan berusaha menebus kesalahan
"Ka, Sorry. gue gak seharusnya gitu sama Lo", Ucap vano mendahului
"Gue juga gak seharusnya bales pukulan Lo, sorry Van", jawabnya sambil menepuk pundak vano
Begitulah mereka, setelah saling menyakiti tak peduli seberapa parah babak belur di wajah dan tubuh mereka dengan cepat berbaikan
"Kita cari dia Van", celoteh Raka
"Itu yang mau gue bilang barusan", jawabnya datar
"Bahkan nama nya pun gue gak tau Van, gue cuma tau dia itu adalah Vira mungil",
"Namanya Shasha ka, menggemaskan seperti orangnya",
"Lagi lagi kenapa kita gak sadar, cinta dan kebaikan dia emang tulus", lanjut vano sambil mengenang kisah indahnya bersama Shasa
"Maafin aku nona mungil, tak seharusnya cinta yang sedang tumbuh itu kalah dengan kebencian dan kekecewaan, mungkin saat ini dan bahkan sejak lama kamu emang udah membenci aku dan vano", gumam Raka dalam hati
Mereka bicara perlahan dan memutuskan untuk mencari semua tentang Shasha
"Sha...Sha.. , Dimana kamu? apa yang terjadi setelah kejadian itu, kenapa Vira bilang kamu menghilang"
"Saya harap saya masih bisa ketemu kamu, menebus kesalahan saya"
...****************...
...Rumah Vano...
"Ya ampun sayang, vano itu kenapa muka kamu babak belur gitu, kamu berantem sama siapa na?", tanya monicca khawatir melihat luka memar di wajah putra kebanggaannya itu.
"Loh van kamu berantem?", tanya ayahnya
"Loh mama sama papa kok disini?", tanya vano heran
Prasetya dan monicca memang sudah sekitar satu jam yang lalu sampai di rumah vano, mereka berniat mengajak vano dan shasha yang mereka kira Vira liburan ke kampung halaman papanya.
Papa dan Mamanya memang belum mengetahui yang terjadi antara vano dan shasha mereka mengira semuanya baik baik saja
"Kamu jawab dulu pertanyaan papa sama mama, itu muka kamu kenapa?",
"Gapapa mah, biasa cuma iseng sama Raka",
"Justru aku tanya, mama sama papa tumben ke sini ada apa?",
"Sebenarnya kita gak berniat ke sini, kita udah telponin kamu berkali kali tapi gak di angkat, ya udah kita sekalian mampir aja ke rumah kamu", jelas monicca
"Van, kamu ada waktu kan Minggu ini? udah lama kita gak main ke kampung mendiang kakek kamu, kamu ajak Vira juga sekalian, kita kenalin dia ke kerabat kita di sana Gimana juga kan dia itu calon istri kamu",
"Kaya nya Sha.. Eh maksud aku Vira gak bisa pa, aku juga pasti sibuk", jawab vano singkat
"Ya udah gapapa kalau gak bisa, tapi ngomong ngomong kamu sekarang sibuk apa Van? ada proyek baru perusahaan?", tanya papa nya penasaran
"Ya begitulah pa", jawab vano singkat
"Pa, ma.. Maafin aku gak cerita, kalau papa sampai tau ini semua yang ada penyakit jantung papa bisa kambuh",
"Sha.. Sha.. dimana kamu sekarang",
Bersambung...
__ADS_1